Cerpen Sastra

Meminjam Wajah (Cerpen Asih Purwanti)

Aku menatap sebuah wajah di depan cermin besar di kamarku, terpantul sesosok wajah yang sangat kukenal, berwajah bulat dengan mata yang lebar, bibir yang penuh, hidung yang tidak terlalu mancung dan kulit sawo matang, sekilas mirip dengan penyanyi Anggun C Sasmi. Wajah itu begitu sederhana, jarang sekali tersapu make up, hanya saja aku sering memakai skincare yang membuat kulit sawo matang itu cerah. Ya, wajah itu adalah milikku.
***
Mataku yang lebar menatap setitik jerawat kecil yang bertengger dengan sok di hidungku. Aku merutuki jerawat tak tahu diri itu, sambil mengambil sedikit kapas yang telah diolesi toner untuk ditempelkan di hidungku yang tertimpa jerawat, sebelum jerawat sialan itu membesar dan beranak-pinak. Minggu ini aku begitu over protective menjaga dan merawat wajahku karena aku akan bertemu dengan teman chatting-ku, Adam yang tinggal di Jakarta. Sudah hampir setahun aku dan Adam melakukan chating di aplikasi whatsapp.

Adam sering sekali menanyakan kenapa aku tidak pernah memajang foto-foto selfie di media sosial seperti yang dilakukan oleh orang pada umumnya. Aku sering beralasan malu, hal itu yang membuat Adam semakin penasaran denganku. Jujur, aku sedikit cemas, aku tidak begitu percaya diri dengan penampilanku, aku takut terlihat biasa atau bahkan jelek di mata Adam. Aku takut kalau Adam malah lari ketika bertemu denganku. Seandainya aku secantik wajah sepupuku, Raline yang indah seperti namanya, tentu aku akan sangat percaya diri.

Wajah Raline yang sebelas dua belas dengan penyanyi Raisa itu begitu populer, baik di keluarga besar maupun teman-temannya, ditambah lagi dia memiliki karir yang cemerlang di perusahaan multinasional. Sangat berbanding terbalik denganku yang memiliki wajah dan karir yang sangat biasa-biasa saja.

Aku membuka-buka sebuah buku tua peninggalan almarhum nenekku di gudang belakang rumah, kebetulan sebelum meninggal, nenekku pernah berpesan padaku tentang buku tua yang dianggapnya ajaib peninggalan dari leluhurnya dulu. Kata nenek, buku tua itu sudah ada sejak zaman kerajaan dan sering dibaca oleh para perempuan pada masa itu.

Entah kenapa aku malah tertarik dengan buku tua pemberian nenek yang sebenarnya sudah aku lupakan, mungkin karena mendengar kata perempuan yang identik dengan kecantikan, apalagi para perempuan zaman dulu memiliki kecantikan yang alami.

Begitu aku menemukan buku itu aku merasa senang, buku itu sudah sangat tua dimakan usia dan berdebu, di sampul bukunya yang kuterka terbuat dari kulit hewan itu tertulis “meminjam wajah” dengan aksara buhun, dan isinya yang juga terbuat dari kulit hewan itu masih terlihat dalam kondisi baik. Dengan hati-hati aku membuka halaman buku itu yang kosakatanya tidak baku dan ada sebagian tulisan yang menggunakan aksara buhun, tapi masih sempat kumengerti karena dulu waktu kecil aku pernah belajar membaca aksara buhun dari nenek.

Lembar demi lembar kubaca dengan susah payah, namun aku tidak menemukan satu pun tulisan tentang resep menjaga kecantikan, justru yang kutemukan adalah hal-hal yang berisi tentang “meminjam wajah” dan tulisan-tulisan buhun yang ambigu seperti abirupa= astadalaastadesaastagunaastamaya, dan aku menerjemahkannya sesuai versiku sendiri, yang berarti kecantikan= delapan helai daun dari delapan penjuru, lipat delapan lakukan pada saat matahari terbenam. Karena tidak mengerti aku segera menutup buku tersebut dan mengembalikannya ke gudang belakang.

Namun begitu aku kembali ke kamar, aku masih penasaran dengan keempat asta tersebut, mungkin itu resep agar bisa memiliki wajah cantik, pikirku, hingga akhirnya aku pun segera mengambil buku tua itu kembali dan mulai mempraktekkan apa yang ada dalam buku tersebut. Aku mulai berfikir kembali dan mencoba menerka-nerka, lalu aku mengambil kesimpulan setelah membaca habis buku tersebut, bahwa setelah keempat asta dilakukan secara berurutan maka kedelapan daun tersebut diletakkan ke seluruh rupa atau wajah. Aku pun mulai mempraktekkannya sambil membayangkan wajah sepupuku Raline yang rupawan, tanpa sadar aku pun tertidur.
***
Pagi harinya, aku terbangun dengan dedaunan yang menutup wajahku, aku hampir lupa bahwa kemarin sore aku melakukan ritual yang ada di buku tua tersebut sambil tersenyum getir karena merasa dibodohi, lagipula aku tidak merasakan perubahan apa pun.

Aku berencana akan menyimpan lagi buku tua tersebut di gudang belakang rumah. Namun betapa kagetnya aku ketika menatap cermin, wajahku berubah seperti Raline. Aku tak percaya hal ini terjadi padaku, aku meraba-raba wajah baruku itu dengan perasaan takjub, aku berubah menjadi cantik. Tapi aku penasaran, kalau wajahku seperti Raline, lalu wajah Raline seperti apa? Kucek ponselku dan kulihat foto Raline yang ternyata memamerkan wajahku, wajah kami ternyata saling tertukar. Aku girang setengah mati.

Aku hendak berangkat kerja menggunakan bus kota, namun ketika tiba di halte bus, aku merasa seolah semua mata orang-orang tertuju padaku, bahkan Ronald, tetanggaku yang terkenal cuek tiba-tiba tersenyum dan mengucapkan selamat pagi padaku.

Aku tiba di kantor 10 menit lebih awal, banyak sekali privilege yang kudapatkan selama perjalananku menuju tempat kerja. Dimulai dari seorang pria muda yang memberikan tempat duduknya padaku saat di bus karena aku tidak mendapatkan kursi, biasanya hal itu tidak mungkin terjadi padaku dengan wajahku yang dulu.

Lalu saat akan berangkat ke kantor sudah ada lima orang pria muda dan tampan yang meminta nomor ponselku atau sekedar akun media sosialku. Tentu saja aku hanya tersenyum malu dan berlalu sok jual mahal padahal aku senang bukan kepalang. Mungkin ini yang dinamakan anugerah jika berwajah rupawan.

Di kantor pun demikian, bosku Pak Robby juga terlihat sangat baik padaku, padahal biasanya dia sering memberiku pekerjaan yang sangat banyak dan sering menyuruhku lembur, bahkan dia susah sekali meng-ACC ketika aku mau cuti, kini semua pekerjaan itu diberikannya pada Siti, dan aku hanya mengerjakan pekerjaan yang ringan-ringan saja bahkan dia sudah meng-ACC lembaran cutiku tanpa diminta. Ah, senang sekali menjadi cantik.
***
Sudah beberapa hari ini aku hidup dengan wajah Raline, aku penasaran apakah hidup Raline menjadi hancur gara-gara wajahnya tidak cantik? Sengaja sepulang dari kantor aku janjian dengan Raline di sebuah kedai kopi favoritku.

Begitu aku sampai di kedai kopi, seperti biasa, orang-orang menatap wajahku dengan takjub, aku sudah mulai terbiasa dengan berbagai tatapan itu meskipun sebenarnya aku sedikit merasa risih. Tidak lama, seorang wanita semampai berkulit sawo matang datang, aku hampir tidak mengenal wajah asliku sendiri yang dipinjam Raline, wajahku terlihat sangat bercahaya dan memukau. Semua mata di kedai kopi tersebut tertuju pada Raline, aku pun sedikit terpesona dengan wajahku sendiri.

“Hai Manda, apa kabar?” tanya Raline sambil mencium pipi kanan dan kiriku, di hadapan Raline aku masih merasa kecil.

“Ah, ya baik,” jawabku gugup, mataku tak henti-hentinya menatap wajahku yang dipakai Raline, kenapa wajahku begitu cantik?

“Oh ya, ada apa kamu ajak aku kemari?” Tanya Raline, aku gelagapan karena ketahuan sedang menatap wajah … ku sendiri.

“Aku hanya ingin ketemu aja sama kamu, kangen, udah lama juga kan kita gak ketemu.” Sergahku sekenanya, sambil memainkan rambutku yang panjang terurai.

Raline hanya tersenyum sambil mengatakan “mee too”, kami pun mengobrol sangat lama hingga tak terasa sudah memasuki waktu petang. Kami pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Di perjalanan aku mencoba memahami semua hal yang terjadi padaku. Aku mulai menyadari bahwa aku hanyalah seseorang yang dipenuhi dengan kedengkian dan iri hati, aku tak ubahnya seperti penjahat yang mencuri wajah orang lain.

Padahal wajahku sendiri juga sangat cantik, namun aku hanya melihat kekurangan yang ada pada diriku saja. Raline meskipun dengan wajah bagaimana pun akan tetap menjadi primadona, aku tidak bisa mengalahkan dia, dia begitu percaya diri dan terlihat memukau di mana pun dia berada. Sedangkan aku hanyalah pecundang bodoh yang tidak pandai bersyukur. Perasaan bersalah pada Raline muncul tiba-tiba, aku merasa malu, Raline begitu baik, dia tidak pernah melihat wajahku tapi dia melihat hatiku.

Aku tengah memegang kedelapan daun di kedua tanganku untuk aku letakkan di sekujur wajahku, aku ingin mengembalikan wajah Raline dan menggunakan wajahku lagi, aku akan belajar untuk mencintai diriku sendiri tanpa harus menjadi orang lain.

Ternyata kecantikan bukanlah segalanya, yang terpenting di dalam hidup ini adalah ketulusan hati. Setelah ritual asta aku lakukan, aku mulai membayangkan wajahku, tiba-tiba aku mulai mengantuk, berharap untuk istirahat dan mencoba mengawali hari yang baru.
***
Aku tengah bersiap-siap hendak bertemu dengan Adam, dia tengah menungguku di kedai kopi favoritku, aku menatap wajahku yang hitam manis di cermin dengan percaya diri, kulihat jerawat kecil yang tiba-tiba muncul di dahi, namun kali ini aku tidak kesal, malah tersenyum. Aku pun siap-siap berangkat ke tempat janjian untuk bertemu dengan Adam.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 18 Januari 2026.

Tentang Cerpenis
Asih Purwanti

Ibu rumah tangga dengan dua balita, tinggal di Kab. Kuningan. Jatuh cinta pada dunia menulis sejak SD. Saat ini, aktif mengirim karya ke media, karya-karyanya berupa cerpen dan resensi buku sering dimuat di media daring seperti magrib.id, idntimes, dan yoursay.id. IG: @asih_cinta

Testimoni Asih Purwanti

Pertama-tama saya ucapkan Alhamdulilah, akhirnya cerpen saya yang berjudul Meminjam Wajah menemukan tempatnya. Terima kasih juga pada Pak Horas yang sudah memilih cerpen saya yang sederhana untuk terbit di Cerpen Sastra.

Awal mula lahirnya cerpen ini adalah karena rasa insecure saya terhadap banyak hal, apalagi setelah menjadi ibu. Menjadi cantik adalah idaman setiap perempuan, tetapi cantik bagi kebanyakan orang itu identik dengan kulit putih, tinggi, dan bentuk tubuh ideal. Ibarat kata “kamu cantik, kamu aman”. Namun, ada satu hal yang terlewati dan jarang sekali disadari yaitu keberhargaan diri, hal itulah yang ingin saya sisipkan dalam cerpen Meminjam Wajah. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, semoga sayembara Cerpen Sastra semakin berjaya.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *