Cerpen Sastra

Yang Mengintip dari Tubuh Luh Ninggar (Cerpen Anggi Gayatri Purba) 

Luh Ninggar menusuk-nusuk bekas operasi di kedua pipinya. Dia yakin, dua kawah kecil buatan di pipi akan mampu melunakkan Pramesi yang telah lama menjelma jadi arca Roro Jonggrang. Batu yang memikat Bandung Bondowoso ribuan tahun lalu.
***
Perempuan berperut kotak-kotak itu lalu membayangkan tak lama wajahnya akan ditumbuhi kumis dan jenggot. Lalu ia akan mencari istri dan memiliki anak. Tapi jadi perempuan saja ia tak laku. Apalagi jadi laki-laki. Dengan rupa yang sama, hidung pesek yang sama, hanya ditambahi bulu-bulu saja. Perempuan itu langsung bergidik. Namun ada sejumput geli yang membuatnya tersenyum tipis ketika membayangkan Pramesi yang jadi istrinya.

Entah mengapa sejak kembali ke Dusun Sesetan, tubuhnya terasa janggal. Suaranya lebih berat dan sejak bangun pagi mulutnya terasa masam. Lalu tiba-tiba saja ia kecanduan rokok. Padahal dulu dia selalu bersembunyi di balik punggung ramping Pramesi. Gadis kuning langsat berlekuk pinggang biola itulah satu-satunya yang menganggap Luh Ninggar sebagai manusia di sekolah. Sebab Luh Ninggar pernah menolongnya sekali. Pertolongan yang tak akan pernah mungkin bisa dilupakan seumur hidup. Sejak itu mereka jadi selengket lem setan.

“Kau lihat pemuda yang di sana itu?” tanyanya suatu ketika. Luh Ninggar mengangguk. Alisnya terangkat sebelah, seolah bertanya kenapa.

“Dia kurus dan tinggi. Aku yakin hampir 30 senti, kami akan punya banyak anak bersama.“

“Kau mengatakan hal yang serupa setiap bertemu lelaki yang kurus dan tinggi. Mau bangun perkampungankah?” Luh Ninggar mencibir. Pramesi tergelak.

“Bagaimana denganmu? Laki-laki seperti apa yang kau mau?”

Luh Ninggar terdiam. Ia tak tahu bagaimana menjawab. Dia belum pernah jatuh cinta sekali pun.

“A-aku tidak tahu,” jawab Luh Ninggar singkat.

“Ah, masa kau tak suka terong? Bagaimana dengan Putu Arga, tetanggamu itu lumayan manis, kalian juga sudah lama kenal,” saran Pramesi.

“Nggak ah, pacarnya di mana-mana. Laki-laki zaman sekarang tak ada yang beres.“

“Nggak apa-apa Luh, lebih baik jadi selir daripada sendiri seumur hidup.” Pramesi masih menggoda sambil berkedip. Tingkah centilnya mampu memukau setiap orang, tak terkecuali Luh Ninggar.

“Kalau begitu aku mau yang sepertimu saja,” jawabnya Luh Ninggar lagi.

“Sayang sekali, aku anak satu-satunya.” Pramesi menjulurkan lidah merah jambunya.

Luh Ninggar tak menyangka itu adalah hari terakhir di mana dia bisa selengket itu dengan Pramesi. Sebab selang berapa lama, Pramesi lebih sering tampak berdua-duaan di rumah Putu Arga daripada di rumahnya. Konon hendak menjodohkannya dengan Putu Arga katanya. Tapi yang Luh Ninggar lihat justru merekalah yang berjodoh. Sampai-sampai Pramesi menghilang di tahun akhir semester, tersebab bunting anak Putu Arga, katanya.

“Tidak apa, ke sekolah saja, jangan malu. Aku yang bakal lawan mereka demi kamu, Pram,” bujuk Luh Ninggar kala itu.

“Memangnya kamu bisa?” Bibir Pramesi bergetar.

Luh Ninggar mengangguk-angguk dengan mantap.

“Memangnya kamu bisa jadi bapak buat anak ini? Hah? Bisa? Ngomong doang!” pekik Pramesi frustrasi, “aku sudah hancur, Luh. Putu Arga menghilang.“
***
Mengingat hari-hari bersama Pramesi dulu membuat Luh Ninggar semakin ingin melepas rindu. Bahkan setelah bertahun merantau ke luar kota, Pramesi masih tetap tujuan utamanya setelah biangnya memaksa pulang karena sakit-sakitan. Namun mau ditelepon berapa kali pun Pramesi tak kunjung mengangkat. Di malam Nyepi tanpa suara binatang, biang tiba-tiba mengutarakan sesuatu dengan mimik yang serius.

“Tahun ini kamu harus ikut omed-omedan,” suara biang pelan dan berat seperti gesekan gilingan batu.

“Tapi biang ….”

Belum sempat menyanggah, Luh Ninggar langsung tertegun mendengar kalimat selanjutnya.

“Biang rasa sudah waktunya. Biang tak akan sempat melihatmu melahirkan. Setidaknya biarkan biang melihat siapa calon menantu biang.”

“Tapi biang ….”

“Kalau mau nyerod(1) ya tidak apa-apa, yang penting ada suaminya, pawiwahannya(2) juga sederhana saja,” sambung biang lagi dengan mata pasrah.

Ada getir yang terselip di hati Luh Ninggar mendengar kata-kata itu. Rasa getir itu menyebar dengan begitu cepat, seperti bisa ular yang membuat dadanya sesak. Seolah siapa pun yang mengawininya harus diterima begitu saja. Asal jangan jadi perawan tua.

Esoknya menjelang tengah hari, Luh Ninggar ikut sembahyang di Pura Banjar bersama para taruni(3). Mudi-mudi itu tersenyum, tapi tatapan mereka penuh pertanyaan. Apa benar dia 30 tahun? Apa benar dia belum menikah? Ssshh wajahnya serupa banci! Kok tidak malu ya masih ikut omed-omedan? Luh Ninggar mampu membaca semua pertanyaan itu dari wajah kenyal dan pipi merah muda mereka. Tapi dia diam saja.

Setelah diciprati air tirta oleh jero Pura Banjar, Luh Ninggar dan rombongan muda-mudi tadi melihat pertunjukan Tari Barong Bangkung(4). Dulu katanya, di Desa Banjar Sesetan ini sempat tidak diadakan omed-omedan. Akibatnya muncul dua babi yang saling berkelahi. Orang-orang Sesetan menganggapnya sebagai pertanda buruk. Untuk itulah omed-omedan dihidupkan kembali. Luh Ninggar berpikir betapa beruntungnya babi-babi itu sampai dibikinkan tarian untuk dikenang. Betapa lebih perhatian manusia pada babi daripada manusia. Luh Ninggar teringat ia juga pernah berkelahi karena membela Pramesi yang dilabrak pacar orang. Tapi tak ada yang sudi menari untuknya, apalagi mengenangnya.
***
Luh Ninggar masih setia melirik ponselnya yang hening. Tak ada notifikasi apa pun setelah telah beratus kali mengabari Pramesi. Padahal saat ini dia benar-benar butuh Pramesi untuk menghadapi dunia. Omed-omedan pun kemudian dimulai. Banyak pemuda yang turun dari arak-arakan saat dipasangkan dengannya. Lagi-lagi Luh Ninggar membaca mimik mereka lagi.

Lihat! Betapa memalukannya dia! Laki-laki mana yang mau berpelukan dengan wanita kekar seperti itu!

Mau tak mau Luh Ninggar pun turun dengan senyum kecutnya. Setelah berada di tengah kerumunan, ia melihat sosok laki-laki hitam manis yang pipinya berlubang. Ia yakin sekali mengenalnya. Tak mungkin ia lupa pada tetangga yang telah melukai sahabatnya dulu. Luh Ninggar buru-buru mengejar, tapi sosok itu menghilang di belokan gang. Luh Ninggar pun pulang dengan putus asa.
***
Ketika kokok ayam baru mencubit telinga orang-orang, Luh Ninggar sudah siap-siap. Ia yakin akan bertemu Putu Arga di Pasar Rakyat Phula Kerti. Sebab dulu keluarganya membuka usaha babi guling di dekat Pantai Serangan. Dan Putu Arga yang sering belanja keperluan masak bersama biangnya. Setelah berkeliling tanpa membeli apa pun, Luh Ninggar berhenti di warung bumbu. Di sana ia seakan menekan tombol pause ketika melihat punggung ramping seorang perempuan yang begitu dikenalnya. Punggung itu masih ramping, hanya pinggulnya bertambah lebar.

“Kenapa semalam tak datang? Aku menunggumu sampai malam! Kamu ndak rindu ya samaku?“

“Ampura, nyenragane(5)?” tanya perempuan berkebaya putih itu heran.

“Aku Luh Ninggar loh, Luh Ninggar, kamu lupa?” Luh Ninggar tersenyum lebar pamer lesung pipit barunya.

“Tunggu. Luh Ninggar … Kamu Luh Ninggar yang itu? Sinting!” Perempuan itu mengempas tangan Luh Ninggar yang sedari tadi mencengkeram pundaknya. Mata sayunya melotot dan wajahnya berangsur merah kepiting rebus.

“Kamu kok tega sama aku, Pram.” Mata Luh Ninggar mendung. Hujan perlahan turun dari sana. Dadanya mulai naik turun menahan emosi yang tak bisa dia bendung. “Aku sudah jadi laki-laki demi kamu loh, Pram! Kenapa kamu masih tidak mau menerimaku?“

“Kamu ngomong apa sih, Luh! Kamu yang nggak laku-laku sampai jadi laki-laki kok nyalahin aku?”

“Dulu kamu sendiri yang bilang mau bersamaku kalau aku jadi laki-laki, jadi bapak anakmu! Mana buktinya Pram! Mana?“

“Wong bengang(6)!” maki Pramesi lagi. “Gila ya! Kamu pikir aku kelainan! Sekotor-kotornya aku masih normal, Luh! Masih suka terong, bukan tempe!“

Hati Luh Ninggar seperti tersengat belut listrik. Berbekal ingatan masa lalu, ditembusnya angin kutub utara hanya untuk mencari Pramesi. Dewi pujaannya. Selalunya di mana ada Putu Arga di situ ada Pramesi. Luh Ninggar pikir Putu Arga adalah penghalang satu-satunya menuju cintanya sejatinya. Tapi ternyata Pramesi sendiri bahkan melihatnya seperti sampah.

Seketika bayangan persahabatannya dengan Pramesi pun luntur dibasuh kenyataan. Luh Ninggar hanya bisa menatap ke arah dadanya yang telah datar, meneteskan air mata.(*)

(1) Perkawinan turun kasta dari perempuan kasta tinggi dengan laki-laki kasta rendah dengan cara kawin lari.
(2) Upacara adat perkawinan.
(3) Peserta perempuan muda dalam ritual omed-omedan.

(4) Tarian untuk mengenang peristiwa mistik di desa Banjar Sesetan ketika tidak menggelar omed-omedan.
(5) Maaf, kamu siapa? (Dalam bahasa Bali).
(6) Tidak waras (Dalam bahasa Bali).

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 21 Desember 2025.

Tentang Cerpenis
Anggi Gayatri Purba

Karyawan swasta yang masih sering menulis. Berdomisili di Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara. IG: @anggie.gayatrii

Testimoni Anggi Gayatri Purba

Pertama saya sangat bersyukur dan berterima kasih pada Pak Horas karena memilih cerpen saya di antara kandidat-kandidat lain yang juga tak kalah bagus. Cerpen ini dua kali saya bongkar pasang, korek-korek terus kekurangannya di mana, tambal lubang-lubangnya, kirim ke mana-mana tak dapat tempat dan akhirnya mendapat yang paling layak di Cerpen Sastra. Saya hampir frustrasi karena berpikir tidak berbakat lagi dalam menulis, tapi kemenangan kali ini sangat berarti, sebab Cerpen Sastra meyakinkan saya kalau setiap tulisan itu pasti ada wadahnya, ada peminatnya, ada kesempatannya.

Kedua, sekarang banyak lomba menulis yang menampilkan juri-juri kompeten sebagai juri, tapi menurut saya tidak bekerja, karena pemenangnya seperti asal comot saja. Saya rasa harus berkaca pada Cerpen Sastra yang mengedepankan kredibilitas dalam penilaian. Saya sangat berharap Cerpen Sastra tetap bertahan dan semakin maju dalam menelurkan penulis-penulis baru yang tidak itu-itu saja dalam dunia sastra. Terima kasih banyak.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *