Cerpen Sastra

Tidurlah Siang, Sahabatku (Cerpen Endang S. Sulistiya)

Tidurkah kamu siang hari ini, Sahabatku? Kurasa kamu tidak, karena khawatir insomniamu kambuh malam nanti.
***

Lagi, mana ada alokasi waktu untuk tidur siang di tengah kebisingan jadwalmu saat ini. Setibanya di hunian baru, kamu pasti akan langsung disambut dengan rentetan prosesi yang menyibukkanmu. Mister M dan N sebagai CEO alam kubur, tidak perlu diragukan lagi profesionalismenya. Dapat kupastikan, cecaran pertanyaan dari keduanya akan sangat merepotkanmu. Pula kupastikan, kepongahanmu akan serta-merta melumer bagai plastik tersentuh api.

Sahabatku, jangan kaget bila tiba-tiba jerit tangis menggelegar dari segala penjuru area pemakaman. Alih-alih tidur, berdiam pun kamu tidak akan nyaman. Mau bagaimana lagi, inilah konsekuensi atas jalan hidup yang telah kamu pilih selama ini. Ups, hampir terlupa. Aku ingat kamu pernah bercerita bahwasanya sewaktu kecil pernah mendapat trauma. Tidak patut disebut cerita sebenarnya, lebih tepatnya keceplosan. Sebab kamu orang yang pelit bicara. Hanya persoalan bisnis dan laba saja yang dapat memancing tanggapanmu.

Sebagaimana anak kecil lain di hamparan bumi, selepas usia balita, tidur siang menjadi momok bagi mereka. Entah apa yang merasuki para ibu, saban hari akan memaksa buah hatinya untuk tidur siang. Dalihnya biar badan jadi segar. Dalihnya lagi agar tidak mengantuk saat nanti malam belajar. Ada pula yang beralasan unik, supaya anaknya yang sedang di masa aktifnya tidak keluyuran bermain di bawah panas matahari. Khawatir kesayangan menjadi kehitaman kulitnya.

Terus terang aku tidak tahu seperti apa traumamu. Kamu tidak bercerita lebih lanjut. Yang kupahami, apa yang kamu alami hanya sebatas trauma kanak-kanak. Kemungkinan saat kamu tertidur siang hari itu, ibu meninggalkanmu, kamu memanggil-manggilnya, tetapi tidak ada sahutan. Sampai akhirnya kamu menangis dalam kecemasan. Lupakan sejenak traumamu, mari meninjau melalui ajaran agama yang kita anut. Tidur siang ternyata sangat dianjurkan karena banyak manfaatnya. Beda halnya dengan tidur sore yang konon berdampak tidak baik.

Kamu suka baca, pasti kamu juga tahu informasi ini. Konon di Jepang, pekerja dengan syarat serta ketentuan tertentu dibolehkan tidur pada jam kerja. Inemuri sebutannya. Ternyata bangsa Jepang yang kompetitif masih punya kemanusiaan menghadiahi pekerjanya sesuatu yang sederhana, tetapi bernilai.

Oh ya, apakah kamu ingat teman penjahit kita yang bernama Yuni? Meski kamu tidak ingat wajahnya, pasti kamu ingat betul hasil jahitannya yang menawan. Dari kebaya lamaran, siraman hingga akad pernikahanmu, kamu percayakan kepadanya. Eh massa itu, sudah lama sekali berlalu ternyata ya. Kondisi di mana kamu belum bertabur bintang kejayaan seperti beberapa tahun terakhir. Jelas, kamu akan lebih memilih fashion designer ternama untuk sekarang karena kamu sudah ada uang. Sebab bukan rahasia lagi, apabila sebuah pakaian menjadi salah satu personal branding yang tidak terelakkan.

Nah, kembali fokus ke Yuni. Tahukah kamu bahwa Yuni ini hampir tidak pernah melewatkan ritual tidur siang? Pun, gundukan jahitan yang seksi tidak akan sanggup menggodanya. Iming-iming uang berkali-kali lipat juga tak ada sanggup memperdayainya. Bagi Yuni, tidur siang adalah wajib. Melewatkan tidur siang berarti akan memperburuk sisa waktunya pada hari itu. Pernah katanya dahulu dia meninggalkan tidur siang demi tuntutan jahitan. Hasilnya jahitannya malah tidak memuaskan dan di sisa hari itu segalanya berjalan tak beraturan.

Beralih ke Saroh, rekan kerjaku sesama pengasuh tatkala dulu aku mengabdi di sebuah Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini sekaligus penitipan anak. Saroh tega mencekoki bocah-bocah lucu dengan obat tidur di jam tidur siang. Motifnya begitu sepele, dia lelah membuntuti pergerakan batita balita yang seolah energinya tiada batas. Tak perlu mengingat-ingat tentangnya, Sahabatku. Kamu tidak kenal dengan sosok keji itu. Si pelaku pun tampaknya sudah insaf setelah menghabiskan tiga tahun di dalam penjara.

Beranjak kemudian kepada dokter yang kukunjungi rutin sebulan sekali hanya demi angsuran BPJS Kesehatan tidak mubazir. Kata dokter itu, tidur siang memang banyak manfaatnya. Meningkatkan konsentrasi dan kewaspadaan, memperbaiki suasana hati, meningkatkan daya ingat, hingga menurunkan tekanan darah. Kalau keterangan ini dihubungkan dengan kasus Yuni, ternyata berkorelasi erat. Maka sebagai seorang sahabat, sering aku bilang padamu untuk mencoba tidur siang. Trauma itu memang terasa gurih-gurih seram, Sahabatku. Kamu akan selalu merasa dibayangi ketakutan dan kecemasan tak berujung. Padahal sesungguhnya bayang-bayang suram itu, kamu sendiri yang menciptakannya.

Apalah aku di hadapanmu, Sahabatku? Bahkan nasihat yang kuantarkan padamu dengan tulus, tidak lama berselang berbalik arah pulang saking mindernya. Kamu seorang eksekutif muda sukses dengan gaji melimpah ditambah insentif yang tumpah-tumpah sementara aku seorang pendidik yang berjuang mati-matian untuk sebuah tujuan sederhana yaitu kesejahteraan. Pun, selembar sertifikat yang susah payah aku raih, jika dikonversi ke uang maka nilainya tidak lebih banyak dari gaji bulanan buruh pabrik.

Entah sudah berapa kali aku mengatakan ini kepadamu. Tidurlah siang, Sahabatku. Beristirahatlah. Lepaskanlah segala penat. Buat apa terus mengejar dunia yang semakin hari kian lincah saja? Alih-alih melampauinya, menyejajarkan langkah saja begitu mustahil. Padahal yang selalu aku bilang, tidurlah siang. Kutandaskan lagi, tidur siang. Bukan tidur untuk selama-lamanya.

Kamu memang keras kepala, Sahabatku. Jika sudah begini sekarang, kamu bahkan tidak bisa mencibirku lagi. Padahal aku sudah mulai terbiasa dengan ejekan serta sumpah serapahmu. Bahkan kini aku mulai merindukan runcing kalimatmu yang membuat diriku seakan lemah teraniaya. Kenapa? Karena orang teraniaya mustajab doanya. Sederet panjang daftar doa kemudian aku panjatkan usai kau maki-maki aku. Kemudahan mencari nafkah, kesehatanku dan gadis kecilku, dan dipertemukannya aku dengan jodoh keduaku yang lebih-lebih baik segalanya.

Rasa-rasanya tidak ada satu orang pun yang tidak mendamba memiliki keluarga yang harmonis, Sahabatku. Tak dimungkiri aku merindukan belaian suami yang menentramkan dan menggairahkan. Di sisi lain putriku pasti juga membutuhkan sosok seorang ayah. Terlebih sudah dua tahun berlalu sejak kepergian kepala keluarga kami itu.

Seringai darimu yang melecehkan, komentar pedas juga panas, tiap kali kamu mendengar untaian doaku, acap kali mencuat ke permukaan ingatanku. Mengambil laba, kukumpulkan segala sampah yang terserak darimu sebagai penambah keyakinan akan doaku yang semakin berpeluang terkabulkan.

Sahabatku, memujamu sekaligus mengutukmu bukan hal mudah bagiku. Mencintaimu beriringan dengan membencimu merupakan hal yang begitu sulit. Sampai-sampai kerap sakit kepala aku dibuatnya. Maaf seribu maaf, Sahabatku. Tiada maksud dariku membuatmu kehilangan arti. Sebagai perempuan lemah, bisa-bisanya aku sempat memberdayakan diriku ini. Lelah terjajah oleh sikap pongahmu dan rakusmu, mendorongku memungut kesempatan yang ada di depan mata.

“Beruntung ada Yuni. Kita tidak perlu mengotori tangan sendiri,” bisik Has. Embusan napasnya yang mencumbu daun telingaku membuat ngeri-ngeri nikmat. Tengkukku meremang.

Sungguh, Sahabatku. Aku tidak terlibat dalam upaya penghilangan nyawamu. Kendati begitu aku sadar bahwa diamku adalah kesalahan fatal. Aku secara sengaja membiarkanmu meminum jus mangga yang telah dicampur obat tidur oleh Yuni. Pula aku bersegera pulang ke kontrakan supaya tidak melihat kebrutalan dari penjahit yang ternyata bisa berubah jadi penjahat. Melihat luka yang bersarang di mata Yuni saja, sudah membuatku mati berdiri ketakutan.

Bagai terdakwa yang selagi berkesempatan akan terus membela diri, akan selalu kusodorkan alibi dan bukti bahwa aku tidak bersalah. Bukankah sebelum petaka ini menjadi peristiwa, berulang kali aku sudah memperingatkanmu agar dirimu lebih peka pada nasabah yang menjadi korban bangkrutnya perusahaan asuransimu? Namun persis dengan nasihatku, peringatanku pun mudik ke tempat asal.

Depresi berat. Yuni kehilangan segalanya. Bermula dari klaim asuransi pendidikan yang tidak kunjung dibayarkan setelah lima tahun jatuh tempo. Anak-anak Yuni putus sekolah. Suaminya murka lalu berujung perceraian. Berlanjut kepada usaha jahitnya yang bangkrut. Limbung. Tidak ada pegangan. Semua telah terenggut dari Yuni. Agaknya kamu melewatkan soal Yuni yang senantiasa tidur siang, dia punya daya ingat tinggi. Tersimpan betul di memorinya, siapa yang dulu melancarkan bujuk rayu manis agar mendaftar polis asuransi.

Jangan pernah lupa, ribuan Yuni lah yang memanggulmu menuju tangga promosi hingga kemudian kamu dapat bertakhta, Sahabatku. Lantas dengan durhakanya kamu mengabaikan jasa mereka. Yuni memelas melebihi pengemis agar bisa dibantu mendapatkan haknya, tetapi kamu diam seribu bahasa.

Sekali ini saja. Sebelum sore berkunjung sehingga tidur tidak lagi dianjurkan. Kuminta dengan sangat, segeralah tidur siang. Agar kamu tidak menyaksikan tragisnya pengkhianatan. Tatkala Has, suami yang kamu banggakan kesetiaan pula kepatuhannya, mengucap akad atas namaku di hadapan wali dan saksi.(*)

Cerpen merupakan cerpen Minggu, 23 November 2025.

Tentang Cerpenis
Endang S. Sulistiya

Alumnus Administrasi Negara FISIP, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Menulis cerpen bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Cerpen-cerpennya sudah dimuat media lokal dan nasional. Menetap di Nogosari, Boyolali. IG: @endangsrisulistiya

Testimoni Endang S. Sulistiya

Seorang penulis pernah mengeluh kepada saya hal cerpennya yang tidak pernah menjuarai sayembara Cerpen Sastra padahal selalu nominasi. Penulis ini sampai mau menyerah dan berhenti mengirim. Saya juga mengamati beberapa rekan penulis yang sudah kehilangan minat setelah dua-tiga cerpennya gagal masuk nominasi atau tidak juara.

Dengan senang hati, saya buka rahasia sendiri. Dari 3 cerpen saya yang juara, ada puluhan cerpen lain ditolak. “Tidurlah Siang, Sahabatku” adalah naskah ke-39 yang saya kirim. Tentu 3/39 sangat jomplang, tetapi mengapa saya mengotot ikut? Jujur, mengirim cerpen bagi saya sangat menguntungkan, sekalipun tidak juara. Setidaknya naskah sudah dikurasi oleh juri kompeten. Jika hasilnya lolos, berarti naskah boleh dikatakan sudah lumayan. Sebaliknya jika belum lolos nominasi, naskah masih banyak kekurangannya. Menjadi tugas saya untuk bekerja keras merombak dan memperbaikinya. Tetap semangat! Tak akan ada naskah cerpen yang sia-sia selama kita mengusahakannya!

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *