Sejak kecil saya sudah bilang: saya berjanji jika saya sudah dewasa nanti, saya tak pernah ingin menjadi seperti ayah saya. Melihat ayah saya mengamuk adalah pemandangan biasa yang kerap kali saya saksikan. Ayah akan marah jika ada sedikit saja yang tidak mengenakkan di mata dan hatinya. Jika lupa di mana meletakkan barangnya yang jelas-jelas ia letakkan sendiri, ia akan berteriak dan bertanya pada mama apakah ia melihat barangnya sambil emosi dan menuduh mama tak becus dan tidak memuliakannya karena sama sekali tidak memerhatikan di mana ia meletakkan barangnya.
***
Jika sudah begitu, ia akan membanting barang lain sambil memaki-maki, membanting pintu, dan pergi meninggalkan rumah. Saya sendiri di kamar, menutup telinga, mencoba menghalang suara-suara berisik masuk ke dalam telinga saya. Ketika kekacauan berubah menjadi keheningan, saya keluar dari kamar dan melihat mama merapikan kekacauan yang baru saja terjadi sambil mengusap air mata yang tidak tertahan di matanya.
Saya sambil menahan air mata berkata, “Saya berjanji jika saya sudah dewasa nanti, saya tak pernah ingin menjadi seperti ayah saya.”
Sejak kecil ia sudah bilang: saya berjanji jika saya sudah dewasa nanti, saya tak pernah ingin menjadi seperti ayah saya. Melihat ayah saya mengamuk adalah pemandangan biasa yang kerap kali saya saksikan. Ayah akan marah jika ada sedikit saja yang tidak mengenakkan di mata dan hatinya. Jika lupa di mana meletakkan barangnya yang jelas-jelas ia letakkan sendiri, ia akan berteriak dan bertanya pada mama apakah ia melihat barangnya sambil emosi dan menuduh mama tak becus dan tidak memuliakannya karena sama sekali tidak memerhatikan di mana ia meletakkan barangnya. Jika sudah begitu ia akan membanting barang lain sambil memaki-maki, membanting pintu, dan pergi meninggalkan rumah. Ia sendiri di kamar, menutup telinga, mencoba menghalang suara-suara berisik masuk ke dalam telinganya. Ketika kekacauan berubah menjadi keheningan, ia keluar dari kamar dan melihat mama merapikan kekacauan yang baru saja terjadi sambil mengusap air mata yang tidak tertahan di matanya.
Sambil menahan air mata, ia berkata, “Saya berjanji jika saya sudah dewasa nanti, saya tak pernah ingin menjadi seperti ayah saya.” Itulah yang ia katakan pada saya.
Sejak kecil ia sudah bilang: saya berjanji jika saya sudah dewasa nanti, saya tak pernah ingin menjadi seperti ayah saya. Melihat ayah saya mengamuk adalah pemandangan biasa yang kerap kali saya saksikan. Ayah akan marah jika ada sedikit saja yang tidak mengenakkan di mata dan hatinya. Jika lupa di mana meletakkan barangnya yang jelas-jelas ia letakkan sendiri, ia akan berteriak dan bertanya pada mama apakah ia melihat barangnya sambil emosi dan menuduh mama tak becus dan tidak memuliakannya karena sama sekali tidak memerhatikan di mana ia meletakkan barangnya. Jika sudah begitu ia akan membanting barang lain sambil memaki-maki, membanting pintu, dan pergi meninggalkan rumah. Ia sendiri di kamar, menutup telinga, mencoba menghalang suara-suara berisik masuk ke dalam telinganya. Ketika kekacauan berubah menjadi keheningan, ia keluar dari kamar dan melihat mama merapikan kekacauan yang baru saja terjadi sambil mengusap air mata yang tidak tertahan di matanya.
Sambil menahan air mata, ia berkata, “Saya berjanji jika saya sudah dewasa nanti, saya tak pernah ingin menjadi seperti ayah saya.” Itulah yang ia katakan ketika saya mendengar cerita mereka.
***
Saat tulang saya semakin bertumbuh, tumbuhnya terasa sakit luar biasa. Ayah masih sama seperti dulu: Ayah akan marah jika ada sedikit saja yang tidak mengenakkan di mata dan hatinya. Membantu ayah mengerjakan sesuatu adalah kengerian serupa dimasukkan ke dalam neraka. Jika bekerja dengannya, kesalahan kecil sama mengerikannya dengan hukuman mati. Kamus bahasa binatang, tangannya yang melesat kuat ke wajah saya, umpatan-umpatan maha menyakitkan adalah makanan yang harus ditelan. Maka setelahnya, saya akan menangis di kamar sambil berkata, “Lihat saja ketika dewasa nanti, saya tidak akan pernah menjadi sepertinya.”
Saat tulangnya semakin bertumbuh, tumbuhnya terasa sakit luar biasa. Keluhannya masih sama seperti dulu: Ayah akan marah jika ada sedikit saja yang tidak mengenakkan di mata dan hatinya. Saya paham betul rasa sakitnya. Baginya, membantu ayah mengerjakan sesuatu adalah kengerian serupa dimasukkan ke dalam neraka. Jika bekerja dengannya, kesalahan kecil sama mengerikannya dengan hukuman mati. Kamus bahasa binatang, tangan yang melesat kuat ke wajahnya, umpatan-umpatan maha menyakitkan adalah makanan yang harus ditelan. Maka setelahnya, ia akan menangis di kamar sambil berkata, “Lihat saja ketika dewasa nanti, saya tidak akan pernah menjadi sepertinya.” Itulah yang ia ceritakan pada saya.
Saat tulangnya semakin bertumbuh, tumbuhnya terasa sakit luar biasa. Dari yang saya dengar, keluhannya masih sama: Ayah akan marah jika ada sedikit saja yang tidak mengenakkan di mata dan hatinya. Saya tak paham apa tak terlalu berlebihan baginya mengatakan jika membantu ayah mengerjakan sesuatu adalah kengerian serupa dimasukkan ke dalam neraka, jika bekerja dengannya kesalahan kecil sama mengerikannya dengan hukuman mati. Kamus bahasa binatang, tangan yang melesat kuat, umpatan-umpatan maha menyakitkan adalah makanan yang harus ditelannya. Maka setelahnya, ia akan menangis di kamar sambil berkata, “Lihat saja ketika dewasa nanti, saya tidak akan pernah menjadi sepertinya.” Itulah yang saya dengar dari pembicaraan mereka.
***
Awalnya, saya sudah berjanji untuk tidak pernah ingin menjadi sepertinya. Tapi semakin saya lihat-lihat dan saya rasa-rasa, kini saya sama monster dan sama gilanya sepertinya. Tubuh saya bereaksi tak terkendali ketika ada sesuatu yang tidak mengenakkan di mata dan hati saya. Barang-barang hancur, kamus bahasa binatang menguar, umpatan-umpatan yang berasal dari neraka terucap, urat-urat menegang di kepala saya. Saya pergi menatap kaca, sambil berteriak dan menangis saya bertanya, “Saya sudah berjanji dulu, namun mengapa kini saya tumbuh sama mengerikannya sepertinya?”
Awalnya, ia sudah berjanji untuk tidak pernah ingin menjadi seperti ayahnya. Tapi semakin ia lihat dan ia rasa-rasa, kini ia merasa sudah sama monster dan sama gilanya seperti ayahnya. Tubuhnya bereaksi tak terkendali ketika ada sesuatu yang tidak mengenakkan di mata dan hatinya. Barang-barang hancur, kamus bahasa binatang menguar, umpatan-umpatan yang berasal dari neraka terucap, urat-urat menegang di kepalanya. Ia pergi menatap kaca, sambil berteriak dan menangis bertanya, “Saya sudah berjanji dulu, namun mengapa kini saya tumbuh sama mengerikannya sepertinya?” Itulah yang ia tanyakan pada saya.
Awalnya, ia sudah berjanji untuk tidak pernah ingin menjadi seperti ayahnya. Itulah mengapa saya tanyakan sebelumnya, apakah tidak berlebihan mengatakan hal itu kepada ayahnya. Kini setelah ia lihat dan ia rasa-rasa, ia merasa sudah sama monster dan sama gilanya seperti ayahnya. Tubuhnya bereaksi tak terkendali ketika ada sesuatu yang tidak mengenakkan di mata dan hatinya. Barang-barang hancur, kamus bahasa binatang menguar, umpatan-umpatan yang berasal dari neraka terucap, urat-urat menegang di kepalanya. Ia pergi menatap kaca, sambil berteriak dan menangis bertanya, “Saya sudah berjanji dulu, namun mengapa kini saya tumbuh sama mengerikannya sepertinya?” Itulah yang ia tanyakan ketika saya mendengar perbincangan mereka.
***
“Tubuh ini adalah milik saya.”
“Katakan apa pun pada saya. Apa pun itu, saya mendengarnya.”
“Ketika saya tiba, kamu tak bisa mengelak. Saya bagian darimu, dan monster itu benar-benar nyata.”(*)
Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXVIII.
Tentang Cerpenis
Rifky Alfarisyi Al Ikhsan
Suka menulis ketika terjatuh dalam kegelapan. IG: @jerifky_
Testimoni Rifky Alfarisyi Al Ikhsan
Tulisan ini saya buat di salah satu warung kopi. Dengan segelas kopi sanger. Dengan musik yang sesekali rock, sesekali pop, sesekali blues, sesekali musik yang tak kuketahui genrenya, serta iklan yang senantiasa muncul ketika pertukaran lagu karena tak menggunakan YouTube premium.
Tulisan ini bukan tentang dedemit, makhluk jadi-jadian, atau sejenisnya. Tulisan ini tentang ketakutan yang nyata. Yang terendus langsung oleh hidung, yang tertangkap langsung oleh bola mata, yang punya tempat langsung di singgasana kepala, yang langsung tertancap perih ke jantung hati. Ketakutan seperti itulah yang rasanya terasa lebih nyata. Setidaknya, begitulah menurutku.
