“Mas, bangun, Mas!” teriak wanita berambut panjang yang tergulung acak.
***
Suara komputer di sebelahnya terus mengumumkan berita buruk yang tak ingin didengar semua orang. Ia meraung-raung, memohon pada Tuhan untuk memberi belas kasih-Nya, menangkis segala omongan dari pria berjas putih. Lututnya memerah, urat mata mulai bermunculan, tangannya terus menggenggam tangan dingin itu. Hatinya terus bertanya-tanya pasal masa depan.
Satu jam sudah berlalu, komputer itu telah dibungkam. Tak ada alat lagi yang mengganggu di tubuh yang kaku. Wanita itu berdiri dengan tenaga yang tersisa. Meraih ponselnya, mengabarkan pada orang-orang di seberang sana. Komando yang bergantung dengan internet ini dikerahkan. Peti paling mahal disiapkan. Banyak pesan tak masuk akal memintanya kuat mulai berdatangan. Ia melangkah bersandingan dengan cintanya yang sudah rapi berjas hitam, dasi kupu-kupu merah, dan riasan yang memaksanya segar. Matanya menatap peti itu berjalan, pikiran yang makin kosong, tangannya lemah digenggam kuat oleh orang asing yang lebih bersimpati.
***
Matahari sudah di atas kepala. Birunya langit menusuk mata. Sekumpulan orang dengan baju putih sudah bersiap berangkat pawai mengikuti ambulans. Adat penutupan peti sudah dilakoni dengan napas berat. Romo menutup doa dengan cakap. Aroma dupa bercampur dengan minyak urapan telah dihidupkan seperti ingin menutupi bau kematian yang samar. Ada yang menggontong sekantong bunga sambil tersenyum getir menyaksikan peti putih masuk ke mobil. Tiga gadis mengekorinya, duduk di samping dengan pandangan yang cukup kosong. Bibir pucat bergetar mencoba berbincang memecahkan keheningan.
Di antara rumah dan tanah duka, ada tangisan yang tiada henti. Tak rela melepas begitu saja, padahal kitabnya sudah berkata bahwa “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan”.
Sementara manusia hanyalah makhluk paling lemah soal rasa. “Tidak ada yang siap kehilangan karena mati,” katanya. Jadi, biarkan air mata membanjiri perjalanan mengantar seorang umat kepada Sang Pencipta.
Biarkan mereka mendalami rasa sakitnya agar waktunya dimahalkan lagi. Biarkan mereka mengenang banyak momen. Biarkan mereka menyimpan suara umat yang mati. Biar nantinya sakit itu dibekukan di pojok ruangan. Biar mereka bisa berangkat kerja lagi, menyibukkan diri lagi. Inilah akhir dari sebuah kehidupan seseorang.
Air mata sukses menguras energi. Tak sampai lima menit, pintu terbuka lebar. Sudah 75 persen penuh oleh para penghuni alam sebelah. Pagar tua berlapis karat mengelilingi pusara-pusara yang dihiasi ornamen naga dan bunga teratai, simbol kehidupan dan keabadian. Nisan yang sebagian besar dituliskan dengan huruf Mandarin. Tempat ini menjadi saksi bisu tentang penghormatan terakhir, sebuah ruang fana yang bertemu dengan keabadian.
Angin berhembus pelan, membawa aroma urapan yang menyatu dengan bau tanah. Burung-burung kecil berkicau seolah sedang menghibur, sementara matahari masih berbaik hati memberi kehidupan di tengah pemukiman orang mati. Di tengah megahnya pusara peti itu lewat mencari rumahnya untuk melanjutkan doa.
Ia sudah tepat di atas lubang yang digali sejak pagi tadi. Napas sekelompok baju putih makin berat di sana. Mulut boleh bilang rela, tapi duka tak seindah di novel. Salam Maria mulai dibunyikan, pertanda raga tercinta tak lagi bisa disawang mata. Tangisan mulai memenuhi ruang terbuka itu.
“Kasihan, ya,” samar terdengar di tengah isakan ingus. “Figur dia kurang untuk keluarga, air mata itu pasti formalitas,” lanjut orang berkemeja hitam.
Salam Maria masih terus berlangsung mengiringi penghuni barunya. Belum juga sempurna sampai dasar, omongan segerumbulan jubah hitam sudah bergerilya. Sekelompok lainnya mengeraskan doa seakan menutup telinga jasad yang sudah hampir masuk. Hati sudah jengkel, tapi ada usaha untuk tetap khusuk. Jari-jari menggenggam kuat kitab mereka. Lilin belum dimatikan, bunga belum ditabur.
“Hidup dia dulu enak, suka mabuk-mabukkan,” kata seberangnya. Gosip itu bersahutan dengan doa jemaat gereja.
Awan hitam mulai menutup jalannya cahaya sang mentari. Para pelayat mendongak ke atas memastikan datangnya hujan. Gemuruh mulai terdengar meski dari jauh. Tuhan sepertinya ingin menampar mulut-mulut itu atau malah membubarkannya. Semua menjabarkan payung hitamnya. Rencana-Nya gagal untuk menggebrak segerombolan tadi, tak ada satu pun yang beranjak. Tetesan air jatuh lembut di atas batu nisan yang dingin seolah-olah sedang membersihkan busuknya hati. Aroma tanah basah bercampur dengan sisa-sisa minyak urapan yang tercium. Ranting tua bergoyang perlahan bersama doa yang tetap kuat mengalir. Payung-payung hitam milik rombongan itu bergerak pelan. Wajah-wajah mereka tunduk, tertutup oleh hawa dingin yang merambat ke kulit. Untungnya di atas liang kubur berdiri tenda yang kokoh.
“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah Engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus,” pasukan suci menghangatkan hati.
“Ada yang bilang, waktu mudanya dia itu suka berurusan sama orang-orang nggak jelas. Katanya sih ada hutang yang belum lunas juga,” kalimat itu makin mengotori suasana.
“Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.”
Sambaran petir hadir di antara Salam Maria dan bisikan-bisikan itu. Suara gemuruh mencekam setiap lengan. Cahayanya menakuti mata-mata di sana. Mereka melirik satu sama lain. Raut wajah mulai menciut. Embun turun menutupi jemaat. JEDERRR… Orang-orang mulai merapatkan barisan, hampir tak ada celah.
“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah Engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.”
JEDERRR
Doa jemaat tak putus meskipun pikiran mereka ingin lari. Gemetar kaki terkalahkan pada keyakinan hati. Tuhan lindungi, Tuhan berkati. Begitu kira-kira ucapannya untuk meyakinkan diri. Kilat pun lurus turun di tengah mereka. Doa seketika berhenti. Semua terpaku pada amarah Tuhan. Rama meminta melanjutkan. Salam Maria kembali terdengar. Peti telah sempurna di dasarnya, tapi Salam Maria tetap berkumandang. Keluarga dipanggil untuk tabur bunga.
Satu per satu digandeng menyeimbangkan tubuh di bawah tenda yang dipasang. Mata mengintip ke bawah melempar segenggam bunga. Suara lembut butiran bunga yang jatuh ke peti dan lantunan doa yang berterbangan ke udara. Wajah-wajah menunduk, menyimpan luka yang terlalu dalam untuk diungkapkan sekarang. Tangis ditahan, meski mata-mata itu sudah menggembung.
Seorang anak perempuan, yang tangannya digandeng erat oleh sang ibu, tampak ragu-ragu saat tiba gilirannya. Ia memandangi campuran bunga sedap malam dan mawar di telapak tangannya, seakan berharap bunga itu mampu menyampaikan perasaan yang sulit ia mengerti. Akhirnya, ia melemparnya dengan gerakan cepat, lalu bersembunyi di balik pelukan ibunya. Suara Salam Maria perlahan menghilang, berganti dengan kesedihan yang tak bisa didefinisikan. Suara gemuruh masih membungkam mulut-mulut asing yang bergerombol.
Saat bunga terakhir jatuh, pemandu upacara memberi tanda. Pekerja mulai menurunkan gundukan tanah, perlahan menutupi peti yang kini tersembunyi dalam pelukan bumi.
Hujan semakin deras, seolah melarutkan segala yang tersisa, tangis, doa, dan kenangan yang tak akan pernah hilang. Setelah ini, hidup melanjutkan langkahnya, sementara kematian kembali menyimpan rahasia-rahasianya.
Gundukan itu sudah bisa disebut makam dengan papan salib yang terukir nama sang pemilik. Bunga kembali ditaburkan. Masing-masing memilih doa terbaiknya. Sebagian terdiam sampai akhir. Pandangannya menatap nisan putih, membaca nama berulang kali. Entah apa di pikirannya, mungkin serenteng film hitam putih. Adegan demi adegan kembali terputar mengisi relung hati. Mungkin juga pertanyaan-pertanyaan yang belum diajukan atau dijawab. Mungkin lagi menerka pertanyaan malaikat yang sudah bersiap menunggu sepi. Kebingungan yang tak tertahankan. Di kepalanya, dialog-dialog tak selesai berulang. Kata-kata yang pernah disimpan, harapan yang tak pernah sempat disampaikan, dan perpisahan yang terasa begitu cepat.
“Silakan pergi. Proses pemakaman sudah selesai,” sarkas seseorang yang amarahnya sudah di ujung lidah.
Diharapkan untuk tidak ada keributan di atas tanah yang basah bekas hujan. Meski rasanya sudah ingin menyeretnya ke luar, tetapi tempat duduk perkara ini terlalu damai untuk dicecar amarah. Semua berakting tak peduli, namun para tetangga siap menyimpannya untuk bahan bakar di tukang sayur.
Yang terusir, yang tak mengucap Salam Maria dan menabur bunga, berbalik. Usai menyetorkan muka, mereka memilih pulang. Kiranya sudah tidak ada momen yang bisa dimuseumkan. Begitu satu langkah di depan gerbang utama, detik jam mulai berputar kembali, rutinitas mulai dilakoni lebih lanjut. Yang tadi sibuk berswafoto dengan senyuman paling lebar dan riasan paling menarik siap mengunggahnya dengan judul ‘reuni di makam sahabat’. Salam Maria berganti dengan ributnya pertanyaan ‘nanti malam makan apa?’(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 12 Oktober 2025.
Tentang Cerpenis
Auranita Gibrani DarmawanBerkuliah di prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM). Telah menghasilkan beberapa karya yang terbit di berbagai media. Bisa dipanggil dengan nama Aura. Lahir di Malang. IG: @auragib
Testimoni Auranita Gibrani Darmawan
Cerpen “Salam Maria“ ditulis berdasarkan fenomena sosial di Indonesia. Lahir karena keresahan terhadap kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang kerap menggunjing, bahkan di tengah pemakaman. Masyarakat kita masih suka ikut campur urusan orang lain, sok tahu, dan sok khawatir. Tak jarang orang datang ke pemakaman hanya untuk mengisi daftar hadir sebagai “teman“. Mereka justru lebih asyik “life update”, berujung kepo kehidupan orang lain, bertanya kabar, lalu diakhiri dengan foto bersama. Keluarga sibuk menghabiskan tisu, tetapi mereka sibuk basa-basi.
Sebagai tambahan informasi, latar Katolik diambil untuk memperkenalkan keindahan mereka dalam mengasihi sesama manusia; cara mereka mengantarkan umat yang berpulang ke Tuhan; serta cara mereka tetap berdoa meski banyak cibiran di sela-selanya. Dengan lahirnya karya baru di sini, saya harap saya bisa sampaikan makna yang baru juga kepada para pembaca setia Cerpen Sastra. Salam hormat untuk Cerpen Sastra. Terima kasih sudah menjadi tempat berlabuh “Salam Maria”.
