Pak Ngademin buru-buru mengayuh sepedanya menuju kantor paroki persis di samping gereja, tempat Romo Paulus bertugas. Setibanya di sana ia disuruh menunggu karena Romo masih ada konseling dengan umat. Pak Ngademin duduk dengan gelisah, mengamati lukisan di dinding ruangan yang bertuliskan: Gembala yang Baik Memberikan Nyawanya Pada Domba-Dombanya.
***
Cukup lama menunggu, Romo Paulus akhirnya datang. Lelaki berusia 60 tahun yang sudah mengabdi di stasi kecil ini selama puluhan tahun.
“Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanyanya lembut. Ia sudah mengenal Pak Ngademin dengan sangat baik. Pak Ngademin adalah salah umat yang sangat aktif di komunitas.
“Nganu lo, Romo…”
Pak Ngademin ragu mengutarakan isi kepalanya. Ia pandangi lagi lukisan di dinding. Lukisan Yesus yang sedang memegang tongkat gembala sambil tersenyum. Pak Ngademin serasa mendapat dukungan.
“Nganu lo, Romo, sebentar lagi Natal to?”
“Iya,” Romo belum mengerti arah pembicaraan ini.
“Begini. Keadaan para peternak di sini sedang sulit, nyaris bangkrut. Dampak susu impor bikin kita sekarat.”
Romo mendengarkan dengan serius.
“Jadi … bagaimana kalau untuk menolong warga, anggur perjamuan diganti susu lokal saja? Itung-itung gereja membeli dari para peternak.”
“Apa??” Romo Paulus terkejut, setengah melompat dari kursinya. Kepalanya hampir saja membentur salib di dinding.
“Maaf lancang Romo, saya tidak bermaksud kurang ajar,” Pak Ngademin gelisah.
Romo Paulus mengatur napas, menahan banyak kata-kata yang ingin terlontar.
“Pak, saya mengerti niat baik Bapak. Tapi kita tidak bisa sembarangan mengganti tradisi gereja yang usianya sudah ratusan tahun. Anggur itu simbol perjanjian baru, kasih, dan penderitaan ….”
“Susu juga simbol penderitaaan to, Romo? Penderitaan kami. Sama saja, kan?” Pak Ngademin masih berusaha menego.
Romo Paulus mengelus dada. “Sekali lagi saya sangat mengerti penderitaan para peternak, tapi mengganti anggur jadi susu tidak sesederhana itu.”
“Baik, Romo. Tapi sebelum pergi, saya hanya ingin mengingatkan, Natal adalah soal kelahiran bayi Yesus. Dan bayi akan lebih suka susu daripada anggur. Selamat siang.”
Romo Paulus melihat kepergian Pak Ngademin dengan perasaan kacau. Segera ia menuju ruang doa dan mengadu: Bagaimana ini Tuhan? Apa yang dapat aku lakukan untuk menolong anak-anak-Mu ini? Keberatankah Engkau jika untuk sementara anggur diganti susu?
***
Setelah pulang dari kantor paroki, Ratih Manasin melihat suaminya bengong sepanjang hari. Ingin hatinya bertanya, tapi takut salah bicara. Namun ketika malam tiba dan Pak Ngademin belum beranjak dari kursinya, Ratih Manasin memberanikan diri.
“Pak, sudah malam, nanti masuk angin.”
Pak Ngademin masih tak menjawab.
“Nanti juga ada solusinya, jangan terlalu dipikirkan.” Ratih Manasin berusaha menenangkan.
“Tadi Bapak mengusulkan solusi pada Romo Paulus, eh, ditolak, Bu.” Pak Ngademin mulai bercerita.
“Memangnya Bapak memberi usul apa?” Ratih Manasin penasaran.
“Sesuai usul Ibu, kalau susunya dikembalikan ke Gusti Allah.”
“Maksudnya?”
“Bapak bilang ke Romo, bagaimana kalau anggur perjamuan buat sementara diganti susu lokal. Hitung-hitung gereja membeli dari umat. Eh, Romo sewot.”
“Apa?? Bapak mau mengganti anggur perjamuan dengan susu? Gustiii, Bapak ini gila? Sadar Pak. Sadar. Maksud Ibu dikembalikan ke Gusti Allah itu maksudnya ikhlas, bukan bikin ajaran baru,” Manasin seketika berdiri.
“Lo, Ibu ikut marah? Maksud Bapak kan baik, ini hanya untuk sementara sampai keadaan membaik. Ya, mosok Tuhan kaku ndak ngerti umatnya lagi susah, mesti ngerti, to? Wong katanya kasih-Nya tak bersyarat.”
“Ya, tapi nggak gitu juga, Pak. Aneh Bapak iki, sesat.”
“Maksud Bapak baik lo, Bu. Coba dipikirkan dulu.”
“Emoh, Bapak sesat. Pengikut Farisi!”
Ratih Manasin meninggalkan suaminya dengan emosi, pintu ruangan dibanting.
“Ibu mau ke mana??” teriak Pak Ngademin.
“Mau doa malam biar Bapak tobat. Ibu ogah masuk neraka.”
Pak Ngademin memukul kepalanya, mumet. Dengan kesal ia melanjutkan sebatang rokok yang tadi sempat terhenti. Saat itulah di bawah remang-remang cahaya lampu jalan ia melihat seorang pria gondrong memasuki halamannya. Waduh, iku kok kaya Yesus? Gawat, cepat tenan hari penghakiman datang. Mati aku! Goro-goro susu impor.
“Buk, Yesus datang, Buk,” Pak Ngademin bersembunyi di balik pintu tapi kepalanya mengintip ke halaman yang remang-remang. Semakin dekat ke cahaya lampu, wajah itu semakin jelas. Ternyata Romo Paulus.
“Pak Ngademin kok kaget begitu?” kata Romo memarkir sepedanya.
“Saya kira Yesus yang datang, Romo, jubahnya mirip,” kata Pak Ngademin salah tingkah. Romo Paulus tertawa.
“Eh, saya kepikiran atas usul Pak Ngademin tadi siang,” Romo mengambil posisi duduk dekat Pak Ngademin.
Pak Ngademin kembali merasa tak enak. “Maaf Romo, mungkin tadi siang saya khilaf, linglung karena sudah sebulan tak ada pemasukan, pekerja mesti dibayar. Maafkan saya, Romo,” Pak Ngademin bersungguh-sungguh.
“Nggak, setelah saya pikir-pikir dan doakan, kok ya rasanya kamu benar. Tuhan juga setuju dengan usul itu.”
“Ha? Yesus setuju?” suara Pak Ngademin tinggi sekali di tengah malam yang mulai hening itu.
“Kadang-kadang menyelamatkan yang terdekat tak kalah penting dengan menghormati jamuan surgawi,“ kata Romo Paulus yakin.
Pak Ngademin masih tak percaya, begini rasanya mendengar wahyu.
Pada malam Natal, Romo Paulus diam-diam mengganti anggur dengan susu lokal. Saat perjamuan kudus tiba, seluruh umat histeris. Sebagian berteriak, “Ini mukjizat. Anggur berubah jadi susu.”
Sebagian lagi mengutuk, “Ini sesat. Ini sesat.”
Setengah umat yang hadir langsung meninggalkan gereja. Suasana kacau balau di malam Natal itu.
Malam itu juga polisi segera mengamankan Romo Paulus sebelum umat jadi terpecah dan lebih kacau lagi. Sebagian umat marah dan mengutuk Romo Paulus bahkan menyiram susu ketika polisi membawanya. Sebagian lagi berkumpul di kandang domba buatan di dekat pohon Natal, diam-diam mengadakan rapat untuk membicarakan pertolongan apa yang bisa diberikan. Gereja dikunci dari dalam, takut ada umat lain yang menguping. Pemimpin rapat adalah Pak Ngademin.
“Ada yang punya ide untuk membantu Romo Paulus?” katanya membuka rapat.
“Mau usul,” kata salah satu bocah remaja yang ikut. Dia sendirian karena orang tuanya berada di pihak yang membenci Romo Paulus.
“Bagaimana kalau kita mengadakan demo berbentuk drama Natal,” katanya tenang. Suasana hening tapi tampak dari wajah mereka kalau ide bocah ini cukup aneh.
“Kowe iso jelasin lebih detail, Nduk?” kata Pak Ngademin berusaha tenang agar yang lain tidak langsung mematahkan ide itu.
“Iya, kita bikin drama Natal di depan kantor walikota. Drama bayi Yesus yang minta susu. Mungkin Yesus butuh kalsium untuk pertumbuhan, misalnya. Lagipula Ibu Maria dan Santo Yosef juga bisa lebih tenang jika minum susu setelah perjalanan jauh.”
Awalnya semuanya diam dan menatap anak kecil itu. Beberapa saat kemudian seseorang bertepuk tangan diikuti yang lain. Semuanya sepakat dengan usul itu. Keesokan harinya mereka berdiri dan memainkan drama di depan kantor walikota. Terdengar bayi Yesus menangis dan menginginkan susu.
“Ibu, di mana dotku?”
“Tapi, Nak, kita hanya punya anggur,” kata Ibu Maria resah.
“Aku mau susu, aku mau susu dari sapi terdekat. Aku butuh kalsium dan tulang yang kuat agar saat dewasa nanti, aku kuat membawa salib.”
Ibu Maria dan Santo Yosef garuk-garuk kepala.
“Siapa yang berjalan bersamaku, haruslah ia memiliki tulang yang kuat, Ibu,” seru bayi Yesus lagi.
Para wartawan yang awalnya tegang mulai menahan senyum menyaksikan drama itu. Dari masa yang berkerumun samar-samar muncul suara pembelaan yang makin lama makin terdengar.
“Bebaskan Romo Paulus. Bebaskan Romo Paulus!“
Walikota yang awalnya kesal dengan demo berubah terharu dengan drama itu. Esok harinya headline berita di koran-koran jadi berubah: Bayi Yesus Meminta Susu Lokal, Begini Tanggapan Pemerintah.(*)
Cerpen merupakan Juara II Sayembara Pesta Pena 2025.
Tentang cerpenis
Yessy Sinubulan
IG: @yessysinubulan
Testimoni Yessy Sinubulan
Keluarga saya adalah keluarga petani dan peternak, jadi naskah ini cukup relate dengan terpuruknya bisnis keluarga karena susu impor. Tapi karena menyukai genre humor, saya sangat ingin mengolahnya menjadi sesuatu yang patut ditertawakan, tidak berhenti sebagai tragedi. Dunia nyata sudah penuh tragedi, di mana lagi kita bisa tertawa kalau bukan di dunia fiksi? Lahirlah ide saat melihat jutaan umat merayakan perjamuan di malam Natal. Lo, lo, anggur kan impor? Bagaimana kalau jutaan umat ini minum susu lokal saja? Pasti para umat lebih kuat tulangnya memanggul salib dunia. Ampun Romo, ini cuma ada di kepala saya!
Terima kasih Pesta Pena 2025 sudah memberi rumah untuk cerpen aneh ini tanpa takut dieksekusi. Saya tunggu undangan perjamuannya, jangan lupa sediakan susu lokal bukan yang lain. Salam.
