Cerpen Sastra

Kisah Sang Penjudi, Ikarus—Suami Sisifus (Cerpen Muhammad Faran Aiki)

“P-pak, mohon! Sekali lagi, terakhir …. Seratus ribu! Demi Tuhan, besok saya akan bayar dua kali lipat!” ucap seseorang yang memukuli pintu depan rumah itu dengan sangat keras. Dor, dor, dor! Itu bukanlah suara gedoran selanjutnya, melainkan tembakan tepat tiga kali di arah kepala orang tersebut dari seorang mafia karena ia mencuri lima juta darinya. Semua warga menyaksikannya, tetapi tiada mau menangisinya sebab mereka—baik bapak-bapak maupun ibu-ibu—tahu, orang tersebut memang tak pantas untuk digeletakkan di perkuburan. Pemilik pintu rumah itu pun tak membuka pintu depannya karena dialah penyumbang terbesar orang tersebut dan merasa bosan meminjamkan uang yang tak berpenghasilan.
,,, 
Pada hari selanjutnya, terjadi interaksi kecil antara seorang anak polos dan ayah yang berharta. “Pah, lihat, aku mendapatkan banyak duit dari game ini!” Seorang bocah yang pertama kali mencicipi kemenangan judi daring, kendati hanya lima puluh ribu, dengan cepat berlari ke pangkuan ayahnya yang sedang membaca koran di bangku depan rumah.

“Astaga! Lain kali jangan lagi ya, Nak.” Ayah itu menutup korannya dan segera memperhatikan anaknya yang polos itu dan mengambil ponselnya dengan segera.

“Yah, kenapa, Pah? Padahal seru loh itu!” Ia memasang muka cemberut dan mencoba mengambil ponselnya kembali dengan sekuat tenaga.

“Kamu dapat game itu dari mana? Temanmu, situs aneh, YouTube, Tiktok?” tanyanya dengan emosi sedikit marah, “jangan lagi ya main yang seperti ini!”

Anak itu terdiam dan sepertinya ingin merengek karena tak tahu apa kesalahannya sampai dibentak seperti itu. Ayahnya yang melihat raut wajah anaknya merasa bersalah sebab apa yang ingin disampaikannya bukanlah sebuah kemarahan, melainkan kekhawatiran.

“Jadi, begini, Ayah akan menceritakan sebuah kisah tragedi pada zaman dahulu,” ucap beliau sembari mengusap kepala anak tersayangnya dengan lembut untuk menenangkan kegelisahan hati bocah tersebut.
,,, 
Alkisah ada sepasang suami istri, sebut saja mereka Ikarus, si suami yang bertubuh cukup besar, dan Sisifus, sang istri yang cantik dengan kulit putih mulus dan tubuh nan langsing.

Pada awal rumah tangga mereka, tidak ada yang menyangka bahwa kejahilan kecil Ikarus untuk mencoba perjudian dengan modal yang sedikit dapat menghancurkan rumah tangga yang telah mereka buat selama enam bulan lamanya. Akan tetapi, modal kecil itulah yang membengkak—membentuk sayap semu—yang Ikarus haus untuk menerbangkannya untuk mencapai matahari kejayaan dan kekayaan demi memuaskan egonya.

Semua itu akibat tongkrongan malam Ikarus yang membawanya terhanyut ke dalam dunia perjudian. Tiap malam, Ikarus ke luar membawa sejumlah uang, dari sekadar sepuluh ribu hingga sejuta, untuk ditaruhkan; kalbu istri Ikarus, Sisifus, buncah melihat aksi itu. Dilakukannya selama beberapa minggu hingga Sisifus resah, tak tahan, dan menyuruhnya berhenti.

“Mas, seharusnya Mas berhenti dari perjudian konyol ini.” Sisifus yang berwajah layu memelas seraya memegang lengan Ikarus, yang membawa segudang uang, dengan halus.

“Aku tidak mau!” Ia membentaknya dan melepaskan genggaman istrinya secara kasar dan lanjut pergi keluar tanpa menutup pintu dan tanpa menoleh ke arahnya.

Sepulang Ikarus dari permainan bodohnya, ia memukul meja makan di mana istrinya sedang duduk, “Apa-apaan itu! Curang sekali. Hilang sudah uang untuk bulan ini!”

Sisifus terkejut dan terheran, “B-bulan ini, Mas? Ya Allah, apa yang engkau pikirkan?”
“Diam kamu!” Matanya melotot, menatap istrinya seperti bukan lagi istrinya.

Besoknya, mereka hanya bersarapan apa yang ada di kulkas. Sisifus benar-benar gemetar, mencoba untuk menangis, tetapi takut suaminya akan marah lagi. Suaminya itu agaknya tak peduli dan hanya memikirkan perasaan hedon kemenangan judi. Hal tersebut berlangsung hingga mereka berdua merasakan kelaparan dua hari berturut-turut.

“Aku akan meminjam uang,” ucap Ikarus kepada sang istri dengan mata yang memandang dengan serius, “aku yakin bakal menang banyak dan kita tak perlu memikirkan uang untuk sebulan—tidak—bahkan setahun lamanya!”

Sisifus yang telah pasrah itu hanya bisa berdiam diri dan mengiyakan ucapan suaminya. Dia tak mau berdebat dengan suaminya lagi sebab takut apa pukulan yang ia akan lontarkan kepadanya. Namun, dia harus memikirkan apa yang akan terjadi apabila perutnya tak bisa diisi lagi. Pikirannya dikabuti oleh perasaan resah dan insting untuk bertahan hidup.

Malam besok, Ikarus mengunjungi tongkrongannya kembali dan lagi-lagi sedu sedan istrinya tak mampu mengikatnya untuk berdiam di rumah. Kemudian, ia menghampiri meja permainan dengan muka sombong dan tersenyum. Ia dengan gegabah dan bangga bertaruh uang banyak—sekitar dua puluh juta hasil pinjamannya—“Ini … saya bertaruh semuanya!”

Alhasil, ia kalah dengan mengenaskan karena kenaifannya. Ia bergeming dan berpikiran untuk mencuri uang kalahnya itu, tetapi ia tahu betul bahwa mafia di sini lebih menghargai uang daripada nyawa. Oleh karenanya, ia bersujud dan memohon untuk membatalkan hasil permainannya itu. Akan tetapi, tentu ia ditertawakan oleh orang-orang sekitarnya karena kebodohannya dan ketiadaan rasa malunya. Ikarus yang putus asa itu menekuk lututnya dan meminjam uang dua puluh juta untuk mengembalikan apa yang telah ia hilangkan. Sayangnya, keluguan Ikarus menerima uang jebakan tersebut membuatnya menutup lubang dengan menggali lubang.

Seusai kekalahannya, Ikarus pulang ke rumah dengan wajah yang merah. Sisifus yang menyahut dingin kedatangannya dengan ekspresi hampa pun bertanya, “A-apakah Mas menang sehingga kita tidak perlu khawatir lagi?”

“Empat puluh juta …,” lanjutnya dengan mata yang mengerling.

Sisifus sempat senang di dalam lubuk hatinya, tetapi dia sangsi mengapa suaminya tetap murung, “M-mengapa bersedih hati jika demikian, Mas?”

“Kita … hutang empat puluh juta.”

Paras Sisifus benar-benar menjadi jelek mendengar perkataan itu. Pada akhirnya dia menemukan alasan yang amat kuat untuk menjual tubuhnya demi menjaga kelangsungan hidupnya. Kebulatan tekad itu dia realisasikan besok malamnya bersama beberapa orang kaya dan salah satu mafia yang ternyata satu tongkrongan dengan suaminya. Sepulangnya dari “pekerjaannya”, ia lupa untuk menaruh uang yang banyak tersebut di dalam kamarnya. Kelupaan tersebut membuat banyak uang seratus ribuan menumpuk di ruang tamu karena itu tak sempat dipindahkan.

Besoknya, bergembiralah Ikarus karena melihat ada uang lima juta dan berkata sembari bergembira, “Ini pasti dari Tuhan; Tuhan menginginkanku untuk menang!”

Padahal, itu adalah uang yang dikumpulkan oleh Sisifus dengan keringat tubuhnya, melayani lima orang dalam satu malam. Sisifus bergegas mengambil uang yang ada di tangan Ikarus, tetapi Ikarus mengelaknya dan berkata, “Ini adalah uang kita dan dengan ini kita bisa jadi kaya raya! Jangan kau sentuh-sentuh barang berharga ini!”

Sisifus terjatuh; didorong oleh Ikarus ke lantai dan terluka. Ikarus kemudian pergi ke luar dan mencari tongkrongannya lagi dan menantangnya kembali. Lagi-lagi, ia kalah dan malah melipatgandakan hutangnya yang belum ia bayar itu. Setelahnya, ia kembali ke rumah dengan amarah yang ia lemparkan kepada Sisifus karena tahu ia tak bisa memproyeksikan amarahnya kepada tongkrongannya.

Sudah sebulan Sisifus dan Ikarus berusaha, tetapi mereka tetap tidak kaya raya, bahkan malah jatuh ke jurang kemiskinan yang makin menyengsara. Sisifus pun kewalahan dan benar-benar muak dengan segalanya. Dia ingin mendapatkan empati dari suaminya.

“Mas, tolong berhenti!” mohon Sisifus kepada Ikarus, “saya sudah capek bekerja demi kelangsungan hidup kita.”

“Mana mungkin kau dapat uang begitu banyak! Memang kau melakukan apa, mencuri?”

Sisifus menceritakan dengan lara apa yang sudah ia lakukan demi uang-uang tersebut.

“Kau lacur!” Ikarus menampar Sisifus sekencang-kencangnya, “mungkin karena perbuatan kejimu itu, Tuhan menunda kemenangan aku! Kalau tahu begini, aku takkan menikahimu!” Ikarus sudah tak peduli dengan apa pun, ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Besoknya, ia mencoba mencuri dari mafia-mafia itu, berpikir bahwa “sedikit” kehilangan uang tak akan menyadarkan mereka. Nahasnya, malah ia yang kehilangan nyawanya.

Begitulah cerita akhir dari tragedi ini; yang satu seperti orang yang berusaha mendorong batu berat, tetapi kian batunya terjatuh, sementara yang satu lagi bagai orang yang mencoba terbang setinggi-tingginya karena nafsunya, tetapi terjatuh jua karena sayapnya meleleh.
,,, 
“Ah, mungkin kamu masih belum mengerti apa yang Papa ceritakan,” ujarnya kepada anak itu yang bingung mendengarkan cerita ayahnya karena belum paham kata-kata yang rumit. Anak tersebut mengangguk dan bertanya, “Iya sih, tapi Pah … kok Papa bisa tahu dengan detail ceritanya?” tanyanya sambil menatap mata ayahnya, penasaran.

“Sebenarnya bukan cerita masa lampau sih, Nak; si Ikarus itu teman tongkrongan Ayah dan kami sering bermain. Jadi, Papa tahu persis dan bersimpati pada apa yang ia alami.”

“Oh begitu … kalau si Sisifus bagaimana, Pah, apakah teman Papa juga?”
“Iya, Nak, dan dia ‘sering bermain’ dengan Papa juga.”(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 2 Februari 2025.

Tentang Cerpenis
Muhammad Faran Aiki
Gemar dalam menulis cerpen dan suka membuat puisi serta musik. Karya yang sudah di-publish terdapat di antologi Laras Asa, The Invalid Train, dan Pion yang Bermimpi Menjadi Menteri. Musik saya dapat didengar di Spotify, misalnya “Bangkit untuk Era Baru”, lagu hasil kolaborasi dengan teman saya dan “Disastria Asmara” yang akan rilis pada 14 Februari 2025. IG: @psvfrai 

Testimoni Muhammad Faran Aiki

Alhamdulillah, cerpen saya yang kedua kali tembus jadi pemenang pada 2 Februari. Awalnya, cerpen ingin saya kirim dua minggu lalu. Tetapi, kelupaan waktu karena sibuk mempelajari UTBK dan menyelesaikan musik yang rilis pada 14 Februari membuat karya ini tertunda sehingga saya mengirim sekarang. Untungnya, “kesalahan” tersebut merupakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu disesali.

Cerpen terinspirasi dari musik permainan papan, “Bullet”, yang berjudul “Fantastic Flight – Icarus Rises”. Mengapa ada relevansi antara musik dengan menulis? Ini karena kemampuan ‘kebisaan’ mengaitkan beberapa konsep seperti mitologi Yunani dan filosofi Albert Camus, menjadi wacana yang utuh. Kasus judi daring masih beredar di Indonesia dan hal itu sangat cocok dengan cerita Ikarus yang haus untuk “menjadi”. Oleh sebab itu, dengan mengumpulkan gagasan, jadilah karya ini yang dikemas dengan cerita anak dan ayah untuk “memperhalus” tragedi. Saya bersyukur ada acara ini karena memajukan kemampuan membaca dan menulis pemuda-pemudi Indonesia. Alah bisa karena biasa; alah biasa karena ada rasa (cinta), yaitu cinta menulis, membaca, dan menumpahkan gagasan.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *