Cerpen Sastra

Merah Api Batu Delima (Cerpen Satria Al-Fauzi Ramadhan)

Pukulan-pukulan kecil itu terus menjurus pada bagian-bagian wajah Hamzah. Hampir semua pedagang di Pasar Legi menyaksikan bagaimana preman pasar itu hampir mati. Mereka rela meninggalkan barang dagangannya demi menyaksikan kejadian yang mengesankan itu. Hamzah tersungkur. Para penonton mengernyitkan dahi.

“Ayo bangun! Lawan aku!”
Hamzah tetap terkapar. Matanya sedikit terbuka.
…

Seminggu sejak kematian ayahnya, Hamzah menemukan benda aneh di lemari sang ayah. Benda itu sebesar bola kelereng dan berwarna merah. Hamzah yang saat itu masih berusia lima belas tahun, menanyakan tentang benda tersebut pada teman-temannya.

“Itu batu delima,” ucap Parja—teman sekampungnya, “kata kakekku, benda itu bisa membuat pemiliknya kebal dari serangan apa pun. Dengan syarat kau tidak boleh menikah. Kekuatan batu itu akan hilang jika kau sampai menikah.”

Hamzah tidak puas dengan jawaban itu. Dia menanyakan kembali tentang seluk-beluk benda tersebut pada pedagang pecel langganan ibunya di depan Pasar Legi. Hamzah mendapatkan jawaban yang hampir sama. Jawaban-jawaban itu sama sekali tidak membuat Hamzah puas. Namun untuk sementara waktu, dia harus percaya. Hingga suatu hari dia membuktikannya sendiri. Hamzah menyuruh Parja melempar batu sebesar kepalan tangan ke arah kepalanya. Parja menolak keras. Hal itu membuat hati Hamzah kecewa.

“Sesekali kita boleh untuk tidak percaya pada ucapan orang tua kita, Zah,” ucap Parja seraya merayu Hamzah agar tidak melakukan hal gila itu. Mereka sedang duduk di pendopo di depan rumah Parja.

Hamzah tidak mengacuhkan perkataan Parja. Pandangannya jauh ke arah langit. Dia sedang memikirkan sesuatu.

“Bagaimana kalau kita berkelahi?” cetus Hamzah tiba-tiba. Parja terbelalak. Lagi-lagi dia menolak permintaan Hamzah.

“Sudah tentu aku akan kalah melawanmu, Zah. Kau tahu sendiri kan ….”

Kepalan tangan sudah menempel di wajah Parja. Naluri seorang lelaki seakan menyuruh Parja untuk membalas pukulan tersebut. Kini dua remaja itu saling balas pukul di depan pendopo. Masing-masing mengadu kekuatan seorang lelaki. Parja berkali-kali tersungkur, tapi berkali-kali juga bangkit. Dan Hamzah benar-benar menguasai pertempuran.

Pertarungan itu berakhir ketika Hamzah sadar, dirinya telah berbuat di luar batas. Dia melihat lawannya yang sudah tidak berdaya. Maka dari itu, Hamzah menghentikan pukulannya kepada Parja. Parja yang menerima sinyal tersebut, juga menghentikan pukulannya. Tenaga Parja sudah terkuras habis. Sementara Hamzah, merasa sakit pun tidak.

Kini Hamzah percaya dengan kekuatan batu itu. Dia tersenyum sembari memandangi kepalan tangannya sendiri. Dan Parja meninggalkan Hamzah ke dalam rumah tanpa basa-basi.
“Ja! Tunggu dulu!”
…
Dan ini lima belas tahun kemudian.

“Satu-satunya orang yang bisa mengalahkanmu adalah seseorang yang memiliki keris naga sosro,” ucap Ki Bedot. Sejak Hamzah dinyatakan sebagai preman pasar, atau lebih tepatnya sejak dia mengalahkan Paiman—preman pasar sebelumnya, Hamzah mendatangi Ki Bedot di kaki Gunung Arjuna. Konon, Ki Bedot telah berusia lebih dari seratus tahun. Selain untuk menjaga dan menambah kesaktiannya, Hamzah datang padanya untuk payung spiritual.

“Tapi kau sungguh beruntung,” lanjut Ki Bedot, “keris naga sosro telah dikubur oleh seorang mahapatih demi perdamaian. Tempatnya tidak ada yang tahu.”

Setiap hari Hamzah menagih uang keamanan pada semua pedagang di Pasar Legi, kecuali pada Parja. Meskipun sejak perkelahian itu Hamzah tidak pernah berbicara sama sekali dengan Parja, Hamzah tetap menjunjung tinggi harga dari sebuah pertemanan.

Parja kini bekerja sebagai pedagang sayur di Pasar Legi. Setiap hari dia berdagang sayur bersama istrinya. Anak lelakinya yang berusia empat belas tahun, menemani mereka berdagang selepas pulang sekolah.

Siang ini Hamzah duduk di warung pecel di depan Pasar Legi. Tugas menagih uang keamanan sudah rampung. Seporsi pecel dan secangkir kopi hitam sudah tersedia di atas meja. Hamzah melahapnya tuntas. Sementara kopi hitamnya sisa setengah gelas. Si penjual pecel tidak pernah meminta bayaran pada Hamzah. Dia tahu siapa sosok Hamzah dan apa kedudukannya di pasar ini.

Kopi hitam diseruput sampai habis. Lantas Hamzah memasuki pasar untuk melihat keadaan. Dia tahu, tugas preman pasar tidak semata-mata sebagai pemalak. Keamanan pasar adalah tanggung jawabnya. Hari ini tidak ada yang janggal. Semua aman. Hamzah pulang ke rumahnya di Singowangi.

Keesokan harinya, ketika Hamzah bersama anak buahnya menagih uang keamanan, seorang pedagang tape menolak membayar. Hamzah berkali-kali mengancam. Namun, si Pedagang Tape tetap bebal.

“Sungguh, aku belum ada uang, Mas Zah.”

Lagi-lagi Hamzah harus menggunakan kepalan tangannya. Jika tidak bisa diatur, ya di-awur, pikir Hamzah. Pedagang tape itu tersungkur.

Ketika hendak bangkit, kepalan tangan Jono–anak buah Hamzah–sudah menempel kembali di wajah si Penjual Tape. Sontak para pedagang lain menyaksikan kejadian itu. Mereka hanya bisa menyaksikan. Sebab mereka tahu, melawan Hamzah dan anak buahnya adalah keputusan paling gegabah. Hamzah berhenti memberi pukulan. Si Pedagang Tape terkapar di depan barang dagangannya.

“Kuberi kesempatan sampai besok, besok harus sudah ada, jika tidak, kau tahu sendiri akibatnya,” Hamzah meraung. Lantas dia meninggalkan si Pedagang Tape dan melanjutkan menagih ke pedagang-pedagang lain.

Ketika Hamzah sudah benar-benar meninggalkan pasar, para pedagang berkerumun ke tempat di mana penjual tape terkapar. Termasuk Parja. Mereka segera menanyakan keadaan si Pedagang Tape. Dan Parja membantu mengobati lebam di wajah si Pedagang Tape.
…

“Dasar! Tidak tahu diampun!”
Setelah Jono mengacak-acak barang dagangan, kini Hamzah melemparkan pukulan tepat pada wajah si Pedagang Tape. Bekas luka yang kemarin kini terasa berdenyut setelah kembali menerima pukulan.

Lebih perih. Lebih perih. Si Pedagang Tape sudah tidak berdaya. Sementara Hamzah terus memberi pukulan. Para pedagang lain menyaksikan kejadian itu dengan ngeri. Tak ada yang berani berbuat sesuatu. Namun, ada satu pedagang dengan sikap heroiknya menepuk pundak Hamzah.

“Beri dia kesempatan!” ucap Parja. Tangannya masih berada di atas pundak preman pasar itu. Hamzah berhenti memberi pukulan. Hamzah bertatapan dengan Parja. Bagaimana pun, mereka adalah sahabat. Beberapa saat kemudian, Hamzah pergi meninggalkan pasar diikuti dengan Jono di belakangnya. Keesokan harinya, si Penjual Tape melihat Hamzah berjalan mendekat, dia segera lari ke tempat Parja seraya mencari perlindungan. Hari ini Hamzah datang sendirian. Jono sedang sakit.

“Mana si brengsek itu!” Hamzah meraung.

Parja sudah membaca suasana. Dia pasang badan untuk melindungi si Penjual Tape. Melindungi sesama pedagang di Pasar Legi.

“Minggir!” Hamzah kembali meraung. Parja tetap bersikukuh.
“Kali ini jangan halangi aku!”

Sedikit pun Parja tidak berpindah dari tempatnya. Hamzah merasa harus menggunakan tenaganya. Tangannya mengibas tubuh ringkih itu. Sontak Parja terhempas. Kini Hamzah leluasa memangsa lawan utamanya: si Pedagang Tape.

“Hei! Ayo lawan aku!”

Suara itu berasal dari kejauhan. Sontak para pedagang yang sedang menyaksikan kejadian itu terbelalak. Dan yang lebih membuat mereka terbelalak adalah suara itu berasal dari seorang anak lelaki. Dan mereka tahu siapa anak tersebut. Anak berusia empat belas tahun, anak dari seorang pedagang sayur, anak yang setiap menjelang siang menemani orang tuanya berdagang. Ya, dia adalah Jaiz, anak semata wayang Parja.

Hamzah menghentikan pukulannya pada si Pedagang Tape. Dia mencari asal suara tersebut. Hamzah menatap anak lelaki itu.

“Coba ulangi perkataanmu!” ucap Hamzah.
“Ayo lawan aku! Ayo berkelahi denganku!” tantang Jaiz. Suaranya lantang dan tegas. Hamzah selalu benci dengan tantangan.

Dia segera meluncurkan pukulan. Pukulan pertama Hamzah berhasil ditangkis. Pukulan kedua, ketiga, dan keempat, tidak ada yang kena. Kini giliran Jaiz yang memberi pukulan. Kepalan tangannya mendarat tepat di permukaan wajah Hamzah. Para penonton mengernyitkan dahi. Jaiz memberi pukulan kedua, ketiga, dan yang keempat. Hamzah tersungkur.

“Ayo bangun! Bangun!”
Hamzah tetap terkapar. Matanya melihat ribuan gemerlap bintang.
…

Angin berembus kencang. Daun pohon jati berguguran. Pintu sebuah gubuk di kaki Gunung Arjuna sontak terbuka. Ki Bedot melihat bayangan pada permukaan air di cangkir. Sontak dia terkekeh. Dia terus terkekeh.

“Memang sudah waktunya kau menggunakan keris itu, Cucuku.”

Ki Bedot lanjut terkekeh.(*)
Surabaya, 2024

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 18 Agustus 2024.

Tentang Cerpenis

Satria Al-Fauzi Ramadhan
Sedang menempuh Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surabaya. Tulisan-tulisannya, baik fiksi maupun non-fiksi, telah tersebar di berbagai media. Bergiat di Komunitas Rabo Sore dan sedang merancang manuskrip kumpulan puisi pertamanya. IG: @_mekorama

Testimoni Satria Al-Fauzi Ramadhan

Saya sangat berterima kasih pada pendiri Cerpen Sastra. Cerpen Sastra merupakan ruang bagi para penulis muda yang masih mencari jati dirinya, termasuk saya. Dengan demikian, saya sangat terbantu, setidaknya satu langkah menemukan jati diri saya. Di saat media-media besar masih bersikap apriori terhadap karya sastra yang akan dimuat, tapi tidak dengan Cerpen Sastra.

Tuan Redaktur menutup mata pada nama dan latar belakang penulis. Beliau lebih memprioritaskan kualitas. Sekali lagi, saya sangat berterima kasih. Semoga media ini akan semakin besar, sehingga lebih banyak lagi penulis muda yang terbantu seperti saya.
Mojokerto, 2024.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *