Aku masih ingat tragedi di malam jahanam itu, suara rentetan tembakan disertai dengan jeritan pedih orang-orang yang dibariskan di atas tubuhku berpuluh-puluh tahun yang lalu. Kepala mereka dibungkus dengan kain atau plastik hitam, atau kosongan sama sekali, kemudian tubuh mereka ditembaki satu per satu. Mayat-mayat mereka kemudian dibuang ke sungai yang mengalir di bawah tubuhku, lalu hanyut terbawa arus sungai hingga ke laut. Aku masih mengingat bagaimana bau mesiu yang menempel di tiang tanganku, darah orang-orang yang dibantai itu muncrat, bau amis yang menguar, dan bercak darah yang membekas pada jalan-jalan di tubuhku. Sebelum kemudian hujan dan waktu menghapusnya sama sekali. Apakah terhapus dari jalan di atas tubuhku, atau malah terhapus dari ingatan orang-orang. Tapi entah mengapa peristiwa itu selalu terekam dan teringat jelas olehku.
…
Selama bertahun-tahun, tubuhku digilas oleh roda-roda kendaraan kecil maupun besar, berkali-kali tubuhku dilapisi dengan cor-coran dan aspal guna menambal jalan-jalan yang berlubang.
Berkali-kali pula aku menyaksikan kecelakaan di atas tubuhku sendiri, kemudian melihat para polisi melakukan apa yang mereka sebut sebagai rekonstruksi TKP. Keluarga orang-orang yang ditinggal mati, mereka bersama-sama menaruh kembang di pojokkan kakiku, berharap arwah saudara dan keluarga yang meninggal dalam kecelakaan itu bisa tenang.
Tapi entah mengapa peristiwa pembantaian keji dan mengerikan berpuluh-puluh tahun lalu itu perlahan dilupakan oleh orang-orang, padahal bagiku peristiwa pada malam jahanam itulah yang paling membekas dan paling aku ingat hingga sekarang.
Bertahun-tahun kemudian aku tak pernah melihat kekejian itu lagi, tahun-tahun di mana orang-orang dibariskan ditutup matanya dan kemudian ditembaki satu per satu, pembantaian. Aku tak pernah melihat keluarga korban pembantaian itu menyebar bunga tujuh rupa ke tubuhku, atau menghanyutkannya di sungai yang mengalir di bawah tubuhku.
Pernah sekali waktu, aku menyaksikan dua orang bertopeng membuang mayat yang tubuhnya penuh dengan tato ke sungai di bawah tubuhku, lalu keesokan harinya mayat itu ditemukan tersangkut di batu-batu pinggir sungai. Aku tak tahu mengapa orang-orang itu gemar sekali membuang mayat ke sungai yang mengalir di bawah tubuhku. Apakah mereka mengira jika tubuhku akan mampu menyembunyikan kejahatan yang mereka lakukan.
Aku juga tak tahu mengapa manusia begitu mudah sekali menghabisi nyawa sesamanya. Aku tak pernah tahu jalan pikiran manusia. Selama bertahun-tahun aku menjadi saksi kunci atas kejadian itu, tanpa bisa memberikan semacam pengaduan dan kesaksian, aku juga tak tahu kepada siapa aku harusnya mengadu. Jadi untuk meringankan beban ingatan itu, aku hanya bisa berbicara dengan sungai dan daun-daun bambu yang berguguran di sekitarku. Kadang-kadang aku juga berbicara pada burung yang bertengger di atas kepalaku, atau berbicara dengan ikan yang berada di sungai tepat di bawah kakiku.
Orang-orang begitu percaya bahwa tubuhku ini menyimpan semacam keangkeran, kesialan, dan
nasib buruk. Karena menjadi tempat peristiwa pembantaian itu, mereka bilang, aku adalah tempat terbaik untuk menghilangkan jejak seseorang. Atau kalau menemukan orang-orang putus asa, aku akan dianggap oleh mereka sebagai tempat terbaik untuk mati. Tapi kutegaskan sekali lagi, aku hanyalah sebuah jembatan, sebagaimana jembatan yang lain.
Aku jadi terlihat luar biasa mungkin karena orang yang merancangku, atau orang-orang menamaiku dengan nama-nama yang mungkin dianggap luar biasa. Ada yang menamaiku jembatan merah, ada yang menamaiku jembatan darah. Tapi sebetulnya aku hanyalah jembatan biasa yang menghubungkan orang dari satu daerah ke daerah lain, menghubungkan rindu orang-orang kepada keluarga dan kampung halamannya. Hanya saja kebetulan aku dijadikan tempat pembantaian itu, dan kebetulan juga aku menyaksikan malam berdarah itu. Ah iya, aku sampai lupa, aku akan menceritakan kepadamu tentang kejadian yang tak bisa kulupakan itu, aku melakukannya karena semenjak aku dibuat pada 1928 oleh seorang lelaki yang kemudian pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini, aku belum pernah benar-benar menceritakannya. Ditambah lagi tubuhku sekarang perlahan sudah keropos dimakan umur, dan bencana alam.
Aku tak mau menyimpan cerita dan kengerian ini seorang diri. Maka dengan segala hormat, setidaknya izinkan aku menceritakannya kepadamu, entah kau mau mendengarnya atau tidak, mau mengerti atau tidak, mau mempercayainya atau tidak, atau menganggapnya penting atau tidak. Itu menjadi urusanmu. Urusanku adalah menceritakan cerita ini sepelan dan sejelas mungkin kepadamu. Ya, urusanku adalah menyampaikan cerita ini yang tentu saja dari sudut pandangku sendiri, saksi bisu dalam malam pembantaian itu, kesaksian sebuah jembatan. Ah iya, mungkin karena aku adalah saksi bisu, maka kesaksianku boleh jadi tidak dianggap sama sekali oleh mereka yang bertanggung jawab dalam menguak peristiwa tragis yang terjadi di atas tubuhku berpuluh-puluh tahun yang lalu itu. Ya, mungkin kesaksianku tak akan pernah dijadikan sebagai alat bukti pembantaian itu.
Maka dengan ini, kumulai cerita tragedi berdarah itu. Inilah kesaksianku.
***
Malam itu, aku masih mengingatnya di pertengahan Desember ‘65. Setelah desas-desus penculikan para jenderal menyebar ke daerah-daerah, tiba-tiba saja suasana menjadi tegang dan gempar, sebenarnya tidak semua daerah mengalami ketegangan yang sama seperti di pusat, tapi memang hari-hari itu menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah negeri ini. Geger gestok itu dikatakan oleh orang-orang, dan gestapu istilah bagi sebagian yang lain. Kemudian pada awal November di tahun yang sama, pada malam harinya puluhan truk berjejer di sepanjang jalan di tubuhku, truk-truk itu beriringan entah datang dari mana.
Truk-truk itu kemudian menurunkan orang-orang dengan wajah ketakutan dipenuhi debu, daki, keringat, dan bekas air mata di pipinya. Mereka kemudian diseret paksa, lalu dibariskan di atas tubuhku, seperti yang aku katakan di awal. Ah iya, jauh di bawah sana, di bawah tubuhku, sebenarnya ada beberapa pasang mata yang ikut menyaksikannya, tapi aku tahu mereka juga sama takutnya dengan orang-orang yang baru diturunkan dari truk berwarna loreng itu.
Mereka yang baru saja turun dari truk kemudian dibariskan di atas tubuhku, berjejer, dan sedetik kemudian terdengarlah kengerian itu; jeritan dan letusan senjata. Entah aku tak tahu apakah itu dari jenis revolver, bren, atau shotgun, yang jelas setelah letusan senjata terdengar, satu tubuh kemudian terhuyung, lalu jatuh ke sungai. Jarak sungai dengan tubuhku sekira 15 meter, maka bunyi debaman tubuh yang terjatuh dan menyentuh air langsung terdengar, ketika satu mayat terhuyung dan jatuh ditelan sungai di malam yang kelam itu.
Lalu coba kalian bayangkan setelah itu apa yang kemudian terjadi, rentetan tembakan ditembakkan dengan cara membabi buta, tubuh-tubuh yang penuh dengan kepasrahan itu jatuh satu per satu ke dalam sungai. Beberapa orang yang kusaksikan di bawahku tadi seperti sedang berdebat tentang sesuatu, dan lamat-lamat aku mendengarkan percakapan mereka.
“Diam, tahan, jangan gegabah, kita tunggu sampai para pembantai itu pergi!!!”
“Gegabah matamu, di antara orang-orang yang dijejer dan kemudian ditembaki itu ada salah satu anggota keluargamu yang tak tahu apa-apa tentang politik apalagi geger-gegeran itu, dan kau memintaku untuk diam? Tolol!!! Jika aku tidak bisa menyelamatkan mereka, setidaknya aku bisa menyelamatkan mayat-mayat yang terhanyut itu lalu menguburkannya dengan layak,” kata seorang yang lain.
Aku tak tahu mereka yang terbunuh itu terlibat tragedi macam apa, yang aku dengar setiap orang yang berkaitan atau hanya bersenggolan dengan PKI kemudian akan dibunuh dengan cara semacam itu, atau kalau boleh ini dinamakan keberuntungan, mereka akan dibuang ke pulau Nusa Kambangan atau Pulau Buru untuk kemudian dibiarkan mati dan membusuk di sana.
Pada tembakan terakhir dan asap mesiu yang perlahan menghilang, dan deru truk mulai menjauh dan menjauh meninggalkan tempat pembantaian tepat di atas tubuhku, semenjak saat itulah aku tahu, aku tak akan bisa menghilangkan bercak darah yang terciprat di atas tubuhku, aku tak akan bisa melupakan salah satu tragedi paling mengerikan dalam sejarah negara ini untuk selama-lamanya, meskipun hujan, badai, atau waktu sekalipun mencoba untuk menghapusnya.
Dan inilah kesaksianku, aku tak tahu berapa mayat yang ditembaki dan mati lalu jatuh ke dalam sungai pada malam jahanam itu, tapi kukatakan sekali lagi, kejadian itu pernah ada, nyata. Dan aku dikutuk untuk tidak pernah melupakannya.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 4 Agustus 2024.
Tentang Cerpenis
Juli Prasetya
Seorang penulis muda asal Banyumas. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung. FB: Juli Prasetya Alkamzy, IG: juliprasety4
Testimoni Juli Prasetya
Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada para nominator yang lain, karena ternyata cerpen saya yang akhirnya keluar sebagai pemenang lagi, wkwkwk. Sebenarnya hanya kalimat di atas itulah yang ingin saya sampaikan untuk testimoni. Tapi Si Founder protes, “Panjanginlah sikit,” katanya. Lalu saya jawab, “Kemarin katanya kepanjangan.”Yah, saya sebenarnya tak ingin berkomentar dan memberikan semacam kata pengantar, atau testimoni atas karya saya yang terpilih lagi sebagai juara itu. Tapi mau bagaimana lagi, testimoni ternyata menjadi semacam kewajiban, dan saya harus membuatnya, entah panjang ataupun pendek (awas saja kalau tetap diprotes kepanjangan atau kependekan lagi). Tapi saya tetap tak akan berkomentar terkait karya saya itu, biar para pembaca yang kemudian nanti melakukan pembacaan terhadap karya itu. Syukur-syukur pembacaan kritis. Karena saya meyakini bahwa peran pembaca sama kerennya dengan peran penulis.
Dan yang ingin saya katakan adalah, saya hanya merasa tak enak saja kepada mereka yang sudah mengirim dan karyanya ternyata belum masuk kriteria pemenang menurut juri. Tapi tetap saja, karya bagus adalah bagus. Jadi saya mau minta maaf sekaligus menyemangati mereka yang belum tembus agar terus membaca dan menulis, serta kalau sudah tembus, semoga mereka bisa menulis seenaknya dan sekenanya di testimoni yang mereka buat nanti. Saya sangat berharap dan menantikan itu.
Karena bagi saya, testimoni ini harusnya tidak hanya ingin menyampaikan, “Yey, cerpen saya dimuat. Ayo semangat ya. Atau hal-hal semacam itu, tapi harus ditingkatkan lagi, harus ada kritik di sana, ada semacam pembacaan. Sehingga tidak hanya berhenti di tataran puja-puji yang artifisial itu, tapi juga kritik keras sekalipun (yang dipenuhi canda tentu saja). Mungkin nanti Founder akan memikirkan testimoni yang seperti itu, dan mengubah testimoni menjadi semacam arena dialog antara pembaca dan penulis (yah, meskipun di kolom komentar juga bisa sih). Wah membayangkannya saja saya sudah cukup bahagia. Membayangkan kemesraan antara pembaca dan penulis.
Ketika saya tanya lagi kenapa karya saya yang juara, si Founder kemudian menjawab, “Kan udah kubilang rahasia, nanti kalau aku kasih tahu, tembus lagi cerpenmu,” katanya. Kemudian ia melanjutkan bahwa Cerpen Sastra tidak melihat siapa penulisnya, tapi murni melihat dari kualitas karya. Okelah, saya salut dan hormat dengan pandangan seperti itu. Tapi coba saja ia mengatakan itu di depan Seno Gumira Ajidarma, Sang Pendekar Tanpa Nama misalnya. Apakah masih bisa ia berkata seperti itu. “Cerpen sastra tidak pernah melihat siapa penulisnya”. Wkwkwk…
