Cerpen Sastra

Kidung Sekar Layu (Cerpen Dzikrul Ilahiyyah)

Baginda Raja tua itu tak bisa sepenuhnya berdiri di atas kedua kakinya. Tulang kakinya renta, matanya buta. Ia biasa berjalan dengan bantuan dayang kinasihnya. Kutau namanya Lasmi dan Roro Wuni. Ya, hanya mereka berdua yang sabar menunggu Baginda Raja tua yang menghabiskan waktunya untuk menyenandungkan rindu di pusara Dewi Centhini, garwa padminya yang telah wafat. Bukan syair. Bukan pula tembang. Cuap-cuapnya tak bergatra, tak berwilangan, dan tak berlagu. Senandungnya lebih mirip tangis pilu.
…

Kali ini, Baginda Raja tua itu duduk hanya ditemani Roro Wuni. Sorot mata gadis bersanggul itu tampak kusut. Hari-harinya sama, tetap dipenuhi riwayat tangis Baginda Raja tua. Ia hanya menurut. Seakan telah hilang pandangan hendak ke mana selain menemani Baginda Raja di pusara. Roro Wuni duduk menyandar di pohon sawo yang batangnya sebesar tangkupan pria dewasa. Duduk bersandar tanpa harap-harap segera bangkit karena ia tau Baginda Raja akan menghabiskan waktu berlama-lama di tempat ini.

“Aku tidak pernah berfikir akan melewati hidup seperti ini. Sendirian tanpa ada hadirnya perempuanku, Wuni. Dia nareswariku. Baik budinya, lembut tutur katanya. Tidak sekalipun dia menyisakan duri dalam hidupku. Dia gemar menoreh tinta. Dia gemar menyusun kata. Pandanganku gelap, sinar mataku hilang bersama lenyapnya dia dari dunia. Tak ada lagi yang indah dipandang selain dia. Bagaimana aku bisa melupakannya?”

“Hidupku tak lagi indah tanpa kehadirannya. Jika aku sibuk dengan ekspansi-ekspansi, pandai-pandai dia menjaga kedamaian kerajaanku. Jika aku didekap lelah, dialah penghibur lelahku. Ia penuh kejutan tak terduga. Dia indah lemah gemulai tapi begitu kuat. Katakan Wuni, bagaimana jalanku melupakannya?

“Jika seluruh isi kerajaan ini memiliki tendensi politik terhadapku, maka dialah satu-satunya manusia yang memandangku sebagai kawan hidup. Tak harapkan apa-apa. Cukup bagiku jika harus hidup berdua saja dengannya. Dia benar-benar perempuan besar jiwanya. Dia menghantarkan aku pada kejayaan dalam tahta. Melihat rakyatku tertawa karena hasil panennya melimpah ruah. Melihat nelayan tak lagi berdiri di kapal kecil yang dihempas ombak. Dia yang memberiku kesadaran betapa indahnya menjadi alasan rakyat untuk bahagia. Aku tak ingin melupakannya, Wuni. Dia terlalu jauh merenggut sari-sari kehidupanku.”

Siang ini kicau burung lebih riang dari biasanya. Seakan menyahuti suara parau Baginda Raja tua. Ucapannya sama. Kata-katanya itu-itu saja. Roro Wuni sampai hafal dari akar hingga rantingnya. Lelah sudah menjadi kawan sehari-harinya untuk menghadapi Baginda Raja tua yang kini buta karena menangisi istrinya yang telah mati itu. Meski bosan mendera dadanya, sebagai abdi dia hanya bisa sendika dawuh manut katut.

“Antarkan aku kembali ke dalam,” titah Baginda Raja sembari berusaha meraih tongkatnya.

Roro Wuni menuntun Baginda Raja tua yang jalannya sudah bergetar. Altar menuju Ndalem Tengah masih panjang membujur. Tiada seorang pun tampak berseliweran karena langit mulai menggelap dengan kilat yang beradu dengan petir.

Seluruh dayang telah masuk ke dalam kaputrennya. Di keheningan altar, Roro Wuni dikejutkan oleh tangan kekar yang meraih pinggangnya begitu saja.

“Hai, dayang cantik. Masih mau kau setia mengabdi pada Eyang Kakung yang telah lumpuh taktik politiknya. Karna apa? Karna dia gila pada wanita. Kalau tanpa aku, hancurlah kerajaan ini sekarang juga. Cinta butanya pada Eyang Putri tidak mungkin dapat mempertahankan kerajaan sebesar ini. Cinta saja tak cukup. Cinta hanya lambang kebodohan! Cinta itu perbudakan. Akulah sebenar-benarnya pemegang tahta. Kau akan menyaksikan si tua itu menjadi bangkai. Sebentar lagi. Menyusul istri kinasihnya,” bisik Harya Suman sembari mencubit manja dagu Roro Wuni.

Roro Wuni meringsut. Berusaha melepas tangan Harya Suman. Harya Suman melanjutkan bisikannya, “Gundik! Kau terlalu cantik untuk ditiduri kakekku.”

“Seperti janji kita. Tunggu aku nanti malam.” Harya Suman berlalu.

Roro Wuni terdiam. Takut-takut pada si yuwaraja. Nyalinya kembali terkungkung adat budaya. Ia terlahir dalam jagad sempit yang menghimpit, tanpa tahta tanpa kuasa. Ia hidup di pinggiran laga, hanya sebagai wayang tanpa nama. Dia memiliki jalan hidup hanya satu. Pasrah panggulowentah. Itulah katanya ganjaran tiada hingga. Sembah dan bakti adalah sila-sila penghidupan.

“Wuni, Wuni. Di mana kau?” Panggil Baginda Raja tua yang berdiri beberapa depa di depan Roro Wuni. Roro Wuni menyadari Baginda Raja tua terlepas dari genggamannya. Ia segera bergegas. Menyusul Baginda Raja tua yang berdiri dengan tubuh bergetar memegang tongkat.

Roro Wuni menyelaraskan langkahnya dengan langkah Baginda Raja tua yang kecil-kecil. Ia tatap kulit berkerut dan urat kendur yang menyembul. Kelopak mata bertumpuk-tumpuk dengan mata tua yang selalu tertutup. Yang Roro Wuni tau, Baginda Raja tua tak lagi dapat mendengar dengan jelas. Ia tak lagi bisa melihat dengan pasti. Dan harapannya, Baginda Raja tua tak menyadari kehadiran Harya Suman, si yuwaraja.
***

Gadis manis itu berdiri di ambang pintu. Menunduk dalam, menggigit bibir dengan mata sayu. Kekalutan memenuhi sudut wajahnya sembari tetap mendengar ucapan seorang penuh karisma yang ada di hadapannya. Perlahan, tatapan takutnya berubah menjadi sorotan tajam. Dia mulai mengangguk tanda mengerti.

Gadis itu mulai berjalan gemulai menuju pendopo Harya Suman untuk memenuhi panggilan. Sanggulnya selalu khas bentuk kepang yang ditata rapi. Tak lupa tusuk konde kembang padma warisan dari Simboknya ia sematkan pula.

“Masuklah Roro Wuni. Gadis manisku,” sambutnya.

Roro Wuni tersenyum. Ia menunduk anggun, menghaturkan hormat. Ditutupnya kembali pintu kayu joko keset perlahan. Jemarinya menyentuh ukir-ukiran yang terpahat. Matanya sejenak terpejam, lalu menghela nafas panjang. Ia menatap Harya Suman yang masih bergulat dengan tinta. Roro Wuni memutuskan duduk di pelungguhan alit di sudut ruang, tak ada ingin mengganggunya.

Perlahan ia lepaskan gelungan sanggulnya. Rambut hitam legam itu tergerai. Harumnya merebak ke sudut ruangan. Harya Suman menoleh. Ia begitu terpesona dengan gadis mungil itu. Segera ia mendekat dengan senyum terkembang. Menyingkap separuh dahi Roro Wuni yang tertutup helaian rambut. Ia tatap gadis ayu yang menunduk malu. Ia menarik dagu Roro Wuni hingga kedua manik mata gadis itu menatapnya. Tetap sama, ia seperti camar. Tegas dan berani.

Roro Wuni menatapnya penuh senyum. Matanya bercahaya. Jemari kecilnya mengalung pada bahu kekar Harya Suman. Keduanya tersenyum. Menukar kasih. Hingga perlahan cahaya mata Roro Wuni beralih. Beralih dari senyum manis menuju senyum culas. Kemudian beralih lagi menuju senyum penuh kepuasan. Matanya tegas, kuat, kemudian penuh amarah. Merah padam. Pria kekar di depannya telah terkapar. Lehernya merah penuh darah. Roro Wuni menatap jemari lentiknya yang berlumuran darah. Dia tidak tau, perasaan apa yang menghinggapi hatinya saat ini. Sedih sekaligus bahagia. Ia berjongkok. Mencabut tusuk konde beracun yang masih menancap di leher Harya Suman.

“Aku mencintaimu. Lima tahun sudah janjimu untuk menjadikanku selirmu, tak segera kau tepati. Justru kau katakan, bahwa cinta saja tidak cukup. Cinta itu ladang kebodohan dan perbudakan. Saat itu juga, mati pula rasa cintaku padamu. Tak sudi pula aku berlama-lama menanggung cintaku yang kau anggap tak bernilai,” bisik Roro Wuni sembari membenarkan sanggulnya. Tak lupa ia sematkan kembali tusuk konde kembang padmanya.

Ia berlalu.

“Sudah?” tanya pria renta itu.

Roro Wuni mengangguk pasti. Ia puas rasa sakit hati akan cintanya telah selesai. Hari ini menjadi harinya. Kalau tidak dapat hatinya, maka ia menuntut nyawa si yuwaraja. Pikirnya.

Pria renta itu mulai berdiri. Tanpa tanda terima kasih, dia berlalu. Berjalan pasti dengan mata tua lebar terbuka. Roro Wuni terpaku. Dadanya berdebar hebat. Pria renta itu tampak baik-baik saja. Tidak buta. Jalannya kuat tak bergetar seperti biasanya.

“Kanjeng, kau akan tetap menjamin hidupku bukan?”

Tak ada sahutan. Pria tua renta yang memiliki dendam yang sama dengan Roro Wuni terhadap si yuwaraja itu tetap berjalan tanpa jawaban. Roro Wuni semakin berdebar. Pria renta itu yang memberinya keyakinan untuk menghilangkan nyawa si yuwaraja. Berjanji padanya akan memberikan sepenuh-penuhnya perlindungan seorang tuan pada abdinya. Hingga di ujung altar, pria tua renta itu berbalik. Ia tersenyum di ambang wajahnya yang berkerut. Roro Wuni tersenyum lega. Beberapa tempo dalam semilir angin, tatapan pria tua renta itu berubah.

“Pembunuh akan mati.” Tandas pria renta itu lalu pergi begitu saja.

Roro Wuni sadar, dia bukanlah siapa-siapa. (*)

Cerpen Minggu, 23 Juni 2024.

Tentang Cerpenis

Dzikrul Ilahiyyah
Sarjana Sejarah yang menyukai cerita kolosal, baik film, cerpen, novel, atau bentuk sastra lain. Hobi menulis puisi, cerpen, hingga novel yang masih berusaha diselesaikan.

Penyakit bagi seseorang yang hobi menulis adalah ‘tidak menyelesaikan naskahnya’. Saya ingin membuka tulisan-tulisan yang tidak terselesaikan itu, dan berusaha melengkapinya. IG: @dzikrul_ilahiyyah.

Testimoni Dzikrul Ilahiyyah

Meski bukan seorang sastrawan ulung, hobi saya dalam literasi sastra sejak kecil ternyata tidak hilang hingga saat ini. Saya suka membaca dan sesekali menuliskan ide-ide yang muncul di benak saya. Akun @cerpen_sastra menjadi salah satu platform sastra yang sering saya kunjungi. Sering kali memang, saya membaca karya dari teman-teman penulis, kemudian mulai memahami tipe-tipe cerpen yang menarik.

Selain mudah diakses, saya kira metode yang ditawarkan @cerpen_sastra yaitu meng–upload cerpen-cerpennya di Carousel Instagram membuat saya tertarik. Menurutku, ini cukup menghilangkan kebosanan daripada membaca tulisan panjang di atas latar tanpa warna. Setelah membuka tulisan-tulisan ‘mangkrak‘ saya di laptop, saya berkeinginan mengedit salah satu darinya untuk mencoba mengirimkannya di @cerpen_sastra. Terima kasih banyak kesempatannya. 🙂

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *