Cerpen Sastra

Ayam Jago Mat Atep (Cerpen Gandi Sugandi)

Mat Atep residivis, baru saja usai menjalani hukuman satu tahun penjara karena kasus pencurian kambing. Wajahnya berseri-seri. Yang pertama kali akan dilakukannya adalah pergi ke pasar tradisional, ingin minum kopi pahit sebagai perayaan hari kebebasan pada suasana yang baru — meskipun sendirian saja.
…

Hanya dengan satu kali naik angkutan kota berwarna hijau daun dengan ongkos lima ribu rupiah, tibalah pula Mat Atep di tempat tujuan. Di muka pasar, suasana sedang cukup ramai, orang-orang berseliweran. Saat memasuki selasar-selasar, bersikap acuh tak acuh, berjalan pun lenggang kangkung, dengan baju kemejanya tidak dikancingkan, sehingga t-shirt oranyenya jelas terlihat. Sebagian calon pembeli dan beberapa pemilik jongko yang tahu arti warna oranye itu, menatap dengan rasa was-was.

Tak lama kemudian, di depan kios sembako, Mat Atep hampir bertubrukan dengan seorang pedagang asong remote control tv bertas besar yang diselempangkan. Mat Atep tetap berhenti. Pedagang asong menawarkan barangnya, “Remote control tv, Kang? Murah, awet.”

Mat Atep menggelengkan kepala, malah bertanya, “Kalau warung kopi, di sebelah mana?” Pedagang asong refleks menunjuk ke arah ujung barat kanan pasar. Setelah melewati berbelas-belas kios, tempat yang dituju dapat ditemukan. Segeralah dipesan secangkir kopi hitam sasetan dari satu merek beserta satu bungkus rokok kretek kesukaan. Pak Ustaz, pemilik warung kopi ramah melayani. Duduk di bangku panjang, hanya Mat Atep, terus berdiam, melamun, dan ini menarik perhatian Pak Ustaz, hingga mengajak mengobrol.

“Mau ke mana Kang? Juga, habis dari mana?”
Mat Atep sedikit ragu, agak malu, meskipun akhirnya menjawab, “Aku baru pulang, sekarang bisa menghirup udara bebas.”

Pak Ustaz mengernyitkan kening.
“Baru..? Oh iya, aku mengerti.”
“Aku ingin benar-benar bisa bertobat, Kang. Punya saran?”

“Ya saran ada, tetapi aku takut, kau nanti malah jadi tersinggung.”
“Tidak apa-apa. Katakan saja.”
“Sebelumnya mohon maaf. Yang pertama, Akang harus punya niat dan tekad yang kuat dahulu untuk bertobat. Sudah punya niat dan tekad yang kuat, kan?”

“Ya sudah. Kemudian?”
Mat Atep mengepulkan asap, kopi diseruput.
“Bagaimana kalau Akang memelihara ayam jago, tetapi bukan untuk diadu.”
“Aku belum mengerti. Bagaimana maksudnya?”

“Manfaatkanlah lengkingan kokokkannya setiap subuh yang akan membangunkanmu. Kemudian pergilah ke masjid. Lagi pula, bukankah awal mula rezeki adalah waktu subuh? Aku kira, begitu Kang.”

Mat Atep terkesima, merasa diingatkan kembali yang pernah diketahuinya waktu kecil saat rutin mengaji di masjid desa.

“Baiklah, aku akan menuruti saran ini.”
Maka, meskipun air kopi belum habis, Mat Atep bergegas membayar segelas kopi berikut rokok, kemudian berjalan beberapa belas langkah mendekati penjual ayam hidup. 

“Masih ada ayam jagonya?”
“Sudah habis Kang, sedari pagi. Harus pesan dahulu.”

Mat Atep kecewa. Penjual ayam menganjurkan agar pergi ke Kampung Suka Maju saja untuk menemui Pak Dulloh, spesialis penjual ayam jago. Mat Atep mengiyakan. 

Untuk sampai di Kampung Suka Maju, harus naik angkutan kota sekali, dan juga naik ojek kampung sekali. Mat Atep tak lama menunggu di tepi jalan raya, mobil yang dituju berwarna kuning, datang pula. Mat Atep duduk di kabin depan. Rupanya sopir angkot masih teman, juga masih ingat dengan kasus-kasus Mat Atep dulu. Keduanya lalu berjabat tangan, lalu tertawa, para penumpang di belakang menjadi terdiam.

“Kapan mulai menghirup udara segar?”
“Tadi pagi.”
“Mau ke mana sekarang?” 
“Aku mau ke Kampung Suka Maju, ke Pak Dulloh.” 

Teman Mat Atep tersenyum, sudah tahu siapa yang dimaksud, juga sudah tahu di mana letak pastinya kampung itu berada.

“Baru saja bebas, untuk apa ayam jago?”
Mat Atep spontan menerangkan dengan detail hubungan antara ayam jago dan tobat. Teman Mat Atep manggut-manggut. Tak lama kemudian, angkot berhenti di satu perempatan jalan kecil.

“Kau nggak usah bayar ongkos. Semoga ke depannya, kau dapat menjadi orang baik-baik.”
Mat Atep pun naik ojek, hingga sampailah pula. Telah tampak Pak Dulloh di halaman depan sedang jongkok bersarung, menggigit rokok filter, mengelus-elus punggung ayam yang berbulu merah-hitam. Pak Dulloh menyambut, “Ada tamu, silakan. Mau ngobrol seraya begini agar bisa lebih leluasa, atau mau masuk ke dalam rumah sambil minum dulu?”

“Aku memilih di sini saja. Lagi pula takkan lama, ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Aku menginginkan ayam jago yang tak pernah lupa berkokok saat subuh.”  

Pak Dulloh mengerutkan kening dengan permintaan tamunya. “Yang namanya ayam jago, kalau sudah diadu, terluka, saat malam akan kecapaian bisa ketiduran, jadi ada kalanya tidak berkokok saat subuh.”

Tapi nyatanya Mat Atep kukuh meminta ayam jago dengan kriteria itu, hingga Pak Dulloh menggelengkan kepala, tetapi tak mau tamunya kecewa, memberi usul.

“Bagaimana kalau ayam jago yang masih kecil saja, perjaka tongtong yang baru belajar berkokok, belum pernah diadu. Dijamin tidak akan mengecewakanmu.”

“Ya baiklah.” 
“Eh, memangnya kenapa dengan suara ayam jago?”
“Apa ya …. Aku takut Akang tersinggung kalau aku menjelaskannya.” 
“Tak apa-apa, katakan saja.”

Mat Atep menjelaskan. Pak Dulloh malah menjadi terdiam. Mat Atep pun tak ingin berlama-lama di sini, gegas merogoh saku mengambil uang — pemberian teman SMA-nya ketika di lapas tadi malam untuk membayar ayam. Tetapi tanpa diduga, Pak Dulloh menolak, “Kalau mencari ayam dengan tujuan itu, sudah ambil saja, tidak usah membeli. Semoga kau dapat kembali ke jalan yang benar.”
***

Bagi Mat Atep, kokokkan di subuh pertama terdengar lucu di telinga. Ayam yang masih kecil itu memang masih belajar berkokok, terdengar malu-malu, “Ko-kok-ko-kok..!” tak lama, tak begitu nyaring dan hanya sekali. Mat Atep pun menggoyangkan tubuh istrinya dan berbisik lembut di telinganya. “Bangun…”

Usai istrinya bangun, bergegaslah Mat Atep mandi, berganti pakaian, menuju masjid. Di masjid, para        jamaah menatapnya kurang ramah. Semuanya masih saja ingat masa lalu. Bahkan sampai bubar jamaah, hanya dengan imam bertegur sapa, itu pun hanya sepatah dua patah kata, yang sudah basi pula, bahkan nyaris melemahkan semangat Mat Atep untuk bertobat — padahal inilah saat kali pertamanya ikut lagi salat subuh berjamaah di desanya.
***

Pada subuh kedua, istri Mat Atep yang pertama mendengar kokok ayam. Mat Atep dibangunkan. Sejenak, kembali teringat saat masih berada di kamar yang sempit itu di sana. Saat memandangi lekat-lekat wajah istrinya, begitu bersyukur karena kini bisa kembali bersama di rumah.

Ketika di masjid, rombongan jamaah tak berubah pandangan mata, masih penuh curiga. Mereka terlihat kukuh belum mau melupakan yang pernah dilakukan Mat Atep dulu.
*** 

Pada subuh-subuh selanjutnya, Mat Atep mendahului muazin tiba di masjid. Bahkan pada satu subuh, yang pertama datang, namun tidak mengumandangkan azan, memilih menunggu muazin tiba sebagai bentuk menghargai. 
*** 

Lambat laun, sejalan dengan pergantian hari, jamaah akhirnya bisa menerima.
***

Mat Atep memelihara ayam jagonya dengan telaten. Tak pernah lupa memberi makan ayamnya. Setiap tiga hari sekali memandikan, menjemur, malah tak lupa memberi vitamin.

Mat Atep setiap hari bangun subuh oleh kokok ayam, setelah sarapan, kemudian menjalankan kewajiban sebagai seorang bapak sekaligus suami dengan mencari ijuk ke kebun-kebun atau hutan-hutan mencari pohon enau. Ijuk-ijuk itu dibuat sapu, yang sebulan sekali dikirimkannya ke pasar-pasar, atau menunggu pembeli borongan dari kota lain.

Bulan-bulan terus berlompatan, ayam jago Mat Atep bertambah besar, berbulu cemerlang. Saat berkokok begitu nyaring dan kencang, lehernya terjungkit ke atas, ke bawah, “Ko-kok-ko-kook..!” berkali-kali.
Semenjak memiliki ayam jago ini, hidup Mat Atep menjadi berubah, lebih bertanggung jawab pada keluarga, juga tidak lagi berkata kasar.

Tak dinyana, beberapa tetangga penggemar ayam kesengsem suara kokokan, ingin memiliki ayam jago itu. Tetangga jauh-jauh juga ada yang datang, akan membayar ayam ini meskipun dengan harga tinggi. Tetapi, Mat Atep bergeming, begitu sayang pada ayam jagonya. 

Ayam jago kesayangannya semakin lama semakin berumur, menjadi tua — yang tak dapat dihindari semua makhluk —berakibat saat subuh lebih seringnya tidak berkokok lagi. Hal yang ditakuti Mat Atep tiba pula, pada satu siang ayamnya mati karena umur. Saat menguburkannya di belakang rumah, Mat Atep sedih namun berterima kasih karena ayam jagonya telah membiasakannya bangun setiap subuh. (*)

Bandung, Mei 2023

Tanggal tayang:
Minggu, 11 Juni 2023

Cerpenis

Gandi Sugandi
Bekerja di Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit: Keluarga Seni. Alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Akun IG: @gandi.sugandi.7564

Testimoni Gandi Sugandi
Selasa, 13 Juni 2023

Setiap orang dalam masing-masing fase beraktivitas sehari-hari. Semisal remaja dengan dunianya. Kemudian menjelang dewasa memasuki dunia baru, dunia mencari pekerjaan.

Berlanjut, pria dewasa beraktivitas lebih kompleks, antara lain berumah tangga. Masing-masing fase itu dengan semua likunya adalah cerita, menjadi bahan tulisan.

Namun, untuk dapat menulis cerita yang enak dibaca narasinya dan isinya menyampaikan pesan, ada proses dan waktu tidak sebentar. Sebelumnya mesti rajin membaca cerpen bermutu dan sekaligus rajin menulis cerpen. Tak lupa harus bermental dewa.

Yang dialami selama ini oleh diri sendiri atau oleh orang lain adalah cerita.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *