Cerpen Sastra

Terdakwa 0.000.001 (Cerpen Muhamad Iqbal Mubarok)

Sejak saat itu, entah di rumah sakit, di pasar, di stasiun, atau di lorong-lorong jembatan yang tonggak-tonggaknya kian didera masa, atau bahkan di mana saja. Orang-orang yang bertemu pandang denganmu akan lekas sadar kalau yang dilihatnya tak lain adalah “Terdakwa 0.000.001”. Dan ketika itu dengan cepat pula kau memahami bahwa murka neraka tidak hanya termaktub di halaman belakang saja.
…

Oleh karena kelengangan yang begitu terasa, suasana pun bertambah mencekam sehingga syaraf-syaraf dari panca indera pendengaranmu itu sanggup menangkap silir-silir suara yang tak tentu pangkalnya. Kau menyadarinya, dalam beberapa waktu lagi kau akan beranjak dari bilik-bilik kegelapan yang meski hanya dipagut oleh leretan kukuh baja, tetap saja mustahil kau tembus dengan tubuhmu yang sudah seperti rangka mayat bernyawa. Kau mendongak, menatap kosong langit-langit tempatmu berada. Membayangkan langit-langit gelap itu segera sirna. Menyambut mega-mega yang berarak dengan kemilap cahaya yang menyembul dan memorak-porandakan watas dari garis hidup yang tak mau kau alami.

Kau hendak sekali bertanya, tetapi sebelum pertanyaan mencuat dari bibir pucatmu, jawaban yang kau cari sudah membiak di dalam kepalamu. Jawaban yang mengeretmu menghadap pertanyaan kembali. Kepada siapa aku akan bertanya?

Memang, beberapa hari setelah tersiarnya kabar jika pandemi akhirnya ditekan, orang-orang di kotamu serupa musafir tersesat di samudra pasir yang melihat telaga dari kejauhan. Dengan niat membasuh rongkong yang kersang, berlarilah mereka menuju telaga itu. Namun, yang mereka temukan tidak lebih dari sebuah fatamorgana. Kepada siapa mereka menuntut tanggung jawab atas pandemi yang terjadi adalah sebab tak terbendungnya kekecewaan mereka sehingga enggan lagi membilah hitam-putihnya putusan.

“Pandemi memang sudah berakhir. Tetapi bagaimana dengan nasib keluarga yang ditinggalkan ibu-bapaknya?” tanya salah seorang dalam kegiatan rapat terbuka yang kau pimpin. “Betul itu!” sahut yang lain bersamaan dengan menggebu-gebu.

“Bagaimana solusi yang akan Pak Pimpinan berikan?”
“Kami menuntut ganti rugi yang setimpal, Pak Pimpinan!”
“Setuju!”
“Jawab, Pak Pimpinan!”
“Bagaimana, Pak Pimpinan?”
Suasana rapat semakin memanas.

“Sabar, Saudara-Saudara, harap tenang. Tentunya kami akan memberikan solusi untuk Saudara-Saudara. Kami akan menampung masukan yang Saudara-Saudara berikan kepada kami, apa pun itu.” Wakil Pimpinan berusaha menengahi. “Sekarang baiknya, jika berkenan, berikan kami waktu untuk bermufakat secara internal terlebih dahulu, Saudara-Saudara.”

Beberapa orang memanut. Beberapa yang lain tetap bersikeras. Sisanya mulai membanting apa-apa saja yang ada di sekitarnya. Pengawal para pimpinan pun ambil sikap. Di tengah kegaduhan, rapat terpaksa dibubarkan. Sementara kau masih tergemap di antara kebisuan.

“Jangan terlalu dipikirkan, Pak Pimpinan. Kita tidak mesti menuruti tuntutan mereka, bukan?” Wakil Pimpinan memecah kekosonganmu. Kau mengangguk pelan tanpa maksud.

“Untuk perkara ini, semua keputusan saya serahkan kepada Anda, Pak Pimpinan. Apa pun selanjutnya, saya pasti mendukung keputusan Anda,” lanjutnya seraya menepak-nepak punggungmu seolah kau adalah seorang anak nakal yang baru saja menerima nasihat dari sang ayah. Tetapi untuk apa? Bukankah perkara ini semestinya dirundingkan bersama-sama? Tidak seperti Wakil Pimpinan yang biasanya, kau membatin.

Jelas kau masih ingat bagaimana kau dan Wakil Pimpinan berkali-kali tak sanggup menyudahi perdebatan lantaran perkara-perkara yang saban hari sampai menyita waktu kalian hingga malam telah larut. Mulai dari perkara jalan mana dahulu yang akan diperbaiki, jembatan mana dahulu yang hendak direnovasi, berapa biaya yang perlu dikeluarkan untuk rekonstruksi kantor pusat, di mana lahan yang tepat untuk menjadi tempat pemakaman umum, dan perkara-perkara lainnya. Lantas sekarang mengapa perkara yang justru lebih genting, yang melibatkan nasib banyak orang di kota, Wakil Pimpinan malah menghindari perdebatan denganmu? Bukankah selama hampir lima tahun ke belakang kau dan Wakil Pimpinan selalu bekerja sama untuk menyejahterakan kota?

Kau pun tenggelam dalam kegamangan yang luar biasa gamang. Yang dalam situasi ini, kelut-melut tak terelakkan lagi di lembaran harimu. Kau turut disalahkan atas pandemi yang menerpa kota. Padahal kau yakin, sebagai Pak Pimpinan, kau sudah bekerja dengan seluruh tenaga serta kemampuanmu. Kau sudah membantu ini-itu, mengulurkan ini-itu, mengorbankan ini-itu, lebih-lebih sudah tak terbilang lagi berapa banyak harta pribadi yang kau gunakan untuk keperluan orang-orang yang terdampak pandemi.

Namun, balasan atas semuanya adalah kau malah menjadi buah bibir di seluruh penjuru kota. Seolah-olah mereka tak lagi mengingat kedermawananmu.

Mula-mula perbincangan hanya terjadi di sekitarmu, di kantor yang menjadi tempatmu bekerja. Kau memaklumi, persaingan untuk menjadi pemimpin adalah hal yang tak perlu jadi soal. Tetapi perbincangan itu bagai aroma bangkai yang menguar memangkung hidung. Menyebar secepat pendar yang melintas ruang dan waktu. Di televisi, di surat kabar, di tembok-tembok jalanan, di mulut bocah-bocah yang baru pandai mengeja, dan di mana saja seperti tak mau tertinggal untuk menjadikanmu pokok dari pembicaraan mereka.

“Eh, sudah dengar belum? Katanya, Pak Pimpinan adalah penyebab adanya pandemi di kota kita.”
“Kurang ajar!”
“Ah, saya juga mendengarnya. Desas-desusnya, sumber penyakitnya itu ternyata dari Pak Pimpinan.”
“Jelmaan iblis!”

“Yang benar? Berarti semuanya adalah rencana busuk yang disusun Pak Pimpinan?”
“Setan!”
“Dengar-dengar, itu dilakukan untuk menguntungkan Pak Pimpinan semata.”

“Bukan main jahanam!”
“Dengar-dengar, kalau seseorang dekat dengannya, maka orang itu akan tertular banyak penyakit yang mematikan.”
“Bahkan andai kata kau hanya melafalkan nama lengkapnya, dalam sejurus, penyakit akan segera mendatangimu.”

“Dengar-dengar sih begitu.”
“Dengar-dengar….”
“Dengar-dengar….”
“Dengar-dengar….”
***

Dengan kain hitam yang menyampul kepala, yang lagi-lagi membuatmu tak terperikan dari kegelapan, kau terus dipaksa berjalan. Selayak kerbau yang dipaksa penggembala bertolak ke ladang. Kendati langkahmu gontai, beberapa petugas yang mengawalmu tetap merasa awas dan beranggapan bisa saja itu adalah trik mengelabui yang kau keluarkan. Karena bagi mereka kau memang seorang yang benar-benar tak mempunyai hati sebagaimana manusia. Seorang yang tak menyimpan makna takut akan maut. Penjahat yang paling jahat. Penjahat yang sempurna.

Persis seperti yang dikatakan Ustaz Anwar beberapa jam yang lalu, ketika Ustaz Anwar mengunjungimu yang entah keberapa kali, yang sudah pasti pula merupakan pertemuan terakhirmu dengannya.

“Sampai saat ini, Ustaz percaya dengan semua tuduhan-tuduhan itu?” Kau bertanya dengan suara yang hampir tidak terdengar sama sekali lantaran parau yang sungguh mencekik.

“.…”
“Kenapa diam saja? Ustaz benar-benar percaya?”

“Saya di sini bukan untuk menghakimi Anda, Pak Pimpinan. Saya di sini karena saya percaya Pak Pimpinan dapat lebih bijak mengambil sikap terhadap apa yang akan terjadi ke depannya,” jawabnya sembari membenarkan sorbannya yang terkulai. “Biarlah pendapat orang lain tentang kita betapa pun buruknya. Yang penting Tuhan mengetahui hati kita, Pak Pimpinan.”

“Tuhan, ya….”

Gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan menyambutmu ketika kau keluar dari lorong kesunyian itu. Borgol yang selama ini mengikat tanganmu sudah dilepaskan. Diganti dengan tali yang melilitmu di suatu tiang. Di tempat inilah kau disaksikan oleh mereka.

Mereka yang menganggap pertunjukan ini akan menjadi pertunjukan penghibur hati mereka, penyembuh sakit mereka. Sebuah pertunjukan yang sudah lama didambakan oleh seluruh orang di kotamu, ialah         eksekusi mati “Terdakwa 0.000.001”.

“Akhirnya kau akan mati juga,” teriak seseorang yang menontonmu.
“Tembak saja kepalanya sampai hancur!” timpal yang lain.
“Tembak sampai otaknya keluar!” Yang lain tak mau kalah.

“Rasakan!”
“Mati!”
“Ha-ha-ha.”

Regu tembak yang dipimpin Komandan Pelaksana sudah berbaris tak jauh di hadapanmu dengan pucuk senjata api laras panjang yang moncongnya sedia membelalak ke titik jantungmu berada. Salah seorang petugas mendekat.

“Adakah hal terakhir yang Anda inginkan?”
“Lepaskan kain yang menutupi kepalaku. Biarkan aku melihat eksekusiku sendiri.”

Penjaga itu terperanjat tak percaya.                         
“Benar-benar penjahat yang tak bermoral!”

Setelah semuanya mengacungkan jempol pertanda siap. Dengan pedangnya, Komandan Pelaksana ambil sikap sempurna. Disusul sikap salvo para prajurit regu tembak. Akhirnya kau bisa melihat segalanya. Segala yang kau cintai. Segala yang sudah kau bangun. Segala yang akan kau tinggalkan jua. Komandan Pelaksana mengacungkan pedang ke depan setinggi dagu sebagai isyarat untuk bersiap menembak. Senjata-senjata telah dikokang, popor-popor sudah disandarkan, timah panas siap dilepehkan.

Melihat regu tembak bersiap, sedemikian riuhnya semangat orang-orang yang menyaksikan pertunjukan ini. Kau menilik setiap mata yang tertuju padamu. Dan dari semua yang menontonmu, kau bertatapan dengannya. Tergambar air mukanya yang berseri-seri. Kau bukan kepalang terperangah.

“Satu.” 
Dia yang sangat kau kenal. Dia yang menjadi wakilmu ketika kau memimpin kota.
“Dua.”
Sekaligus satu-satunya saudara yang berasal dari rahim yang sama denganmu. Ialah adikmu.
“Tembak!”

Kau hendak sekali bertanya. Tetapi sekali lagi, dan untuk yang terakhir kali. Kepada siapa aku akan bertanya? (*)

Banjar, 29 September 2022

Tanggal tayang:
Minggu, 4 Juni 2023

Cerpenis

Muhamad Iqbal Mubarok
Senang berproses di Teater 28 Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Lahir dan besar di Jakarta. Selalu kesulitan membaca saat posisi kayang. Akun IG: @m.labqi.m

Testimoni Muhamad Iqbal Mubarok
Selasa, 6 Juni 2023

Salah satu cara bagaimana sastra bisa berkembang adalah dengan turut serta mengawasi dan mengapresiasi karya-karya sastra yang bisa diciptakan semua orang. Bagi saya, @cerpen_sastra merupakan wadah penting untuk mengapresiasi cerpen dan tentu harus terus dikembangkan karena masih sangat jarang media di Instagram yang benar-benar mengapresiasi cerpen dari banyak kalangan.

Saya mengetahui @cerpen_sastra dari beranda IG saya yang tidak sengaja saya lihat. Ketika saya cermati profilnya, saya sangat tertarik karena ternyata banyak penulis yang bisa dibilang senior mengirimkan cerpennya.

Tentu saja saya merasa tertantang karenanya. Kabar bahagianya, ketika cerpen pertama yang saya kirim terpilih menjadi pemenang sehingga bisa dibaca oleh orang banyak. Suatu kebanggaan bagi saya sebagai penulisnya. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih banyak untuk pendiri @cerpen_sastra karena mewadahi tulisan saya, semoga hal ini bisa berumur panjang dan melahirkan penulis hebat.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *