Tisna lebih percaya kepada hantu di kepalanya ketimbang tafsiran orang-orang. Katanya, jauh di dalam tanah rumahnya senantiasa bertabrakan dan menimbulkan getaran. Namun, nyatanya baru kali ini kampungnya diluluhlantakkan. Ya, baru kali ini! Tidak ada kata berulang-ulang seperti yang dikatakan orang-orang. Ah, omongan mereka memang sering kali dijual, dan kalau tak laku akan diobral. Ia selalu curiga kepada manusia. Hanya hantu-hantu di kepalanya yang bisa ia percaya sebesar imannya kepada sang Maha Esa.
***
“Pak, kita sudah dibuatkan rumah sama Pamarentah. Kampung ini akan direlokasi. Kita semua kudu pergi,” ujar Dadan. Ia kesal melihat tingkah bapaknya yang ngotot tetap tinggal di rumah mereka yang roboh. Padahal, telah banyak nyawa hilang tercerabut oleh gempa, longsor, dan reruntuhan bangunan. Apalagi sudah diumumkan bahwa gempa ini akan datang lagi per dua puluh tahun, siklus yang akan terjadi, dan tak akan pernah berhenti. Hanya orang gila yang masih ingin tinggal dan sudi mengulang tragedi mengerikan ini.
“Lewati dulu mayatku,” jawab Tisna tenang sambil menyesap rokok buatannya sendiri hingga meninggalkan jejak warna kuning di gigi-giginya yang mulai ranggas.
Sesungguhnya ia sedih. Hatinya tercabik-cabik saat memandangi kampungnya yang dulu nyaman, tenang, kini berubah berantakan. Kampungnya seperti habis dimasukkan ke dalam sebuah botol raksasa, lalu tangan Tuhan asyik menggoyang-goyangkannya. Mana ada yang bisa melawan Tuhan? Ia menjahit sendiri lukanya atas musibah ini, mencoba menerima dengan caranya sendiri.
“Bapak!” jerit Itoh, istrinya, mangkel. “Bapak mau hidup di sini sendiri?”
Tisna mengibaskan tangannya di antara kepulan asap apak tembakau yang dibakar. “Tanah ini nggak sebanding dengan apa yang diberikan Pemerintah,” pungkas Tisna mengulang kata hantu-hantu di kepalanya sambil menatap nyalang istri dan anaknya. Beberapa bulan setelah bencana, hanya Tisna yang tetap tinggal, sementara warga kampungnya memilih pindah ke rumah baru dari Pamerintah yang katanya lebih aman, walau dekat dengan tempat pembuangan, yang janjinya nyaman, tapi belum tersedia pasokan air bersih, dan jauh dari sekolah, tempat kerja, dan sawah.
Tisna tidak pernah merasa keberatan atau kesepian. Dengan sisa-sisa tenaga, ia mendirikan rumah sederhana dari bekas-bekas material yang bisa dipakai untuk menghindari hujan yang sering datang tak diundang.
Setiap hari Tisna memulung, mencari, dan mengumpulkan besi yang bisa dijual kembali. Kecuali saat hujan, ia hanya akan menyendiri di dalam rumah dengan rokok dan kopi tubruk pahit sebagai kawan. Biasanya pengepul akan datang sore hari meminta pasokan besi yang Tisna kumpulkan. Besi bekas Tisna dibeli pengepul seharga empat ribu rupiah per kilogram, sedangkan plastik dan campuran mendapatkan penawaran dua ribu rupiah saja per kilonya. Setiap hari Tisna bisa mendapatkan uang lima puluh ribu untuknya bertahan hidup, sebelum kembali menggarap sawah milik warga yang masih tertutup tanah longsor.
Keputusan Tisna hidup sendiri memang ganjil dan tak lazim bagi akal sehat orang-orang kampung yang telah lama memutuskan pindah. Namun, bagi Tisna itu tidak ada apa-apanya dibanding beban dan luka yang ia pikul. Pamarentah, bahkan istri, dan anaknya, tidak tahu bagaimana perjuangannya mendapatkan tanah dan rumahnya. Demi satu-satunya hartanya ini, dua nyawa raib. Tisna pun telah berjanji akan tetap menjaga dan mempertahankannya sampai mati.
Tanah dan rumah Tisna adalah peninggalan terakhir ibunya yang mati di penjara, harta warisan yang hampir direbut oleh ayahnya yang ringan tangan dan hobi berjudi tiap malam. Ketika kalah judi, ayahnya seperti kesurupan. Dan sialnya, Tisna kecil tak pernah bisa melawan. Ia selalu ketakutan. Bentakan kata-kata kasar seperti lagu pengiring Tisna dan ibunya setiap malam, itu kalau mereka bisa tidur, karena lebam-lebam bekas luka yang mereka dapatkan selalu saja meronta kencang saat kulit mereka menempel sebentar saja di ranjang.
Malam itu ayah Tisna kalah telak dari bandar. Ia kalap. Pukulan pun dilepaskan makin kerap. Tisna melihat ibunya disiksa dengan mata dan kepalanya sendiri. Tangannya mengepal. Matanya gelap. Dadanya bergetar seperti ada yang memukulnya kencang-kencang dari dalam.
Tisna berjalan lekas ke arah dapur dan mencari senjata tajam. Ia tahu persembunyian pisau yang setiap hari Ibu asah dengan muram. Ujung runcingnya bersinar seperti bintang saat diterpa sinar lampu kamar Ibu yang terang. Tisna siaga. Matanya nyalang seperti singa. Napasnya memburu saat menyaksikan ibunya tergelepar tak berdaya dengan lebam besar.
Tisna memutuskan melawan ketakutannya, menggenggam lebih erat pisau, dan membuat lubang di perut ayahnya hingga mengalir darah segar seperti sungai kecil yang sering ia buat saat bermain air di atas tanah depan rumah. Nyawa ayahnya pun ikut keluar dari tubuhnya, hanyut dalam aliran sungai yang Tisna ciptakan.
Tisna telah berhasil membunuh setan yang menyamar menjadi ayahnya. Ya, seorang ayah tidak akan tega menyiksa anaknya. Andai Ibu tidak merebut pisau itu dan mengakui kejahatannya, Tisna mungkin telah pindah rumah ke penjara. Setahun kemudian, ibunya meninggal di penjara dengan memberikan satu-satunya yang masih dipunya; rumah, dan Tisna janji akan selalu menjaganya sampai ia menyusul ibunya.
Itulah kali pertama Tisna bisa melihat dan mendengar hantu.
Tisna kini dikenal sebagai orang gila yang sendirian di reruntuhan bangunan. Dengan gubuk seadanya, ia terus hidup. Malam demi malam membuatnya semakin matang, dinginnya sepi tak pernah berhasil mengusiknya karena ia tidak pernah merasa sendirian, selalu ditemani kawan-kawan yang silih berganti datang: orang-orang mati.
Besi-besi sudah makin sulit dicari, sisa reruntuhan bangunan pun sudah mulai diratakan kecuali tanah miliknya sendiri. Tisna makan seadanya dari hasil kerja menggarap sawah warga yang untungnya tak direbut juga oleh Pamarentah. Tisna tak berkomentar saat para warga mengeluh dengan relokasi rumah yang jauh dari mana pun, udara yang busuk, dan air yang mahal dan langka. Mereka rindu rumah yang dulu, yang dekat dengan sawah, dan mudah pergi ke mana-mana.
“Daripada pindah besar-besaran gini, harusnya dibekali saja cara penanggulangan gempa?” protes salah satu teman Tisna yang bekerja di sawah.
“Setuju. Misal, pengetahuan tentang bangunan anti-gempa atau aktif memberikan tanda atau apalah buat informasi kalau akan ada bencana. Jadi, kita kan bisa melakukan persiapan,” keluh yang lain ikut buka suara.
Tisna tak menimpali. Ia hanya teringat kepada Itoh dan Dadan yang selama pergi meninggalkannya belum lagi menjenguknya. Mungkin mereka semakin malu karena ia kini dianggap benar-benar gila karena ngamuk seperti kesurupan saat petugas ingin mencoba menggusur gubuknya.
“Datanglah, jangan bikin malu Dadan,” ujar Itoh suatu malam yang lembap sehabis hujan dengan selembar undangan pesta besar-besaran pernikahan Dadan.
“Aku akan datang,” putusnya.
“Bawa juga semua barangmu.”
Bola mata Tisna mendelik sampai ingin keluar. “Ini tanahku. Rumahku. Mereka nggak berhak menjamahnya.“ Itoh pun langsung pergi tanpa berkata-kata lagi.
Tisna datang ke acara pesta besar-besaran pernikahan Dadan tanpa dianggap siapa-siapa bahkan oleh anak dan istrinya. Ia sempat menanyakan apa arti undangan itu jika ia hanya menjadi manusia tak kasat mata dan gila dan mengenaskan dan tak pantas untuk ada di tempat mewah itu? Tisna masih punya harga diri untuk pergi setelah merapal doa tulus untuk kebahagiaan anak dan menantunya.
Saat berjalan menjauhi kerumunan, kawan-kawan hantunya datang. Para hantu korban gempa yang penuh luka ini mengatakan bahwa pesta ini hanyalah jebakan. Tisna pun buru-buru pulang. Ia menyesal telah berusaha percaya dengan orang lain.
Sesampainya di kampung, Tisna melihat gubuknya kini telah rata dengan tanah, pagar-pagar logam ditanam, dipancang tinggi sebagai tanda dikuasai. Mata Tisna seketika merah. Tubuhnya dibungkus ledakan amarah. Tisna melawan seperti kesurupan. Ia menggila dan menyerang siapa saja. Namun, petugas itu membalas makin gila juga. Hingga saat surat kuasa menjual tanah yang dibubuhi tanda tangannya dan sejumlah uang diperlihatkan, Tisna mematung.
Kedua kakinya tiba-tiba lemah. Itoh dan Dadan ternyata telah memalsukan tanda tangan dan mencuri tanahnya. Pesta besar-besaran tadi rupanya hasil dari memeras darah dan air mata tanah warisannya, tanah dari nyawa ibunya. Tisna tak sanggup lagi bergerak. Tangan, kaki, dan napasnya terasa ringan tak bertenaga.
Buat apa lagi hidup jika janji yang ia ucapkan di atas nyawa ibunya gagal ia tunaikan?
Dua puluh tahun gempa yang ditantang Tisna tidak jadi datang, tapi tanah warga terlanjur sudah berbalik tangan kepemilikan. Di tahun emas itu, Dadan menyesal menekuri hidupnya yang jauh dari nyaman: sampah tetap menggunung yang bau bacinnya tak pernah terkalahkan oleh apa pun. Air bersih rebutan, listrik nyala padam gantian, dan ia rindu dengan rumahnya dulu yang telah menjadi rumah hantu.(*)
Cerpen merupakan Juara III Sayembara Pesta Pena 2025.
Tentang Cerpenis
Nara Lahmusi
IG: @naralahmusi
Testimoni Nara Lahmusi
Selama saya menjadi penulis dan mengikuti berbagai lomba, bagi saya kompetisi menulis Pesta Pena ini terasa sangat berbeda. Seperti halnya sebuah kontes, panitia sengaja memisahkan waktu pendaftaran dan waktu khusus menulis, untuk kemudian ditampilkan langsung di website Kompasiana agar bisa dibaca khalayak. Penyelenggara juga tak luput untuk update informasi tentang kompetisi ini setiap hari dalam bentuk video. Seolah mereka siaga untuk menemani para peserta dari awal sampai akhir kompetisi.
Harapan saya, Perjamuan Sastra Cerpen Kompasiana ini bisa terus diadakan tiap tahunnya sebagai media bagi para penulis cerpen untuk mengasah kemampuan dan merayakan pesta literasi bersama-sama.

