Site icon cerpensastragrup

Terkutuk demi Miao (Cerpen Irfan Hamonangan Tarihoran)

Sumber ilustrasi: Pixabay.com/Beesmurf

“Buaaarrr!” Sudah lebih sepuluh kali suara petir menggelegar. Hantamannya membuat tanah bergetar seperti ada langkah kaki nian(1) yang tengah berjalan. Cahaya di tiap rumah dipadamkan. Hanya api abadi di depan kuil yang masih menyala. Gas alam yang keluar dari perut bumi mengalir lewat bongkahan batu yang berbentuk tungku.
***

Cuaca mendung menjelang hujan turun. Gemuruh petir menyala terang melibas langit gelap. Suasana ceria perayaan Imlek pun mencekam. Peragaan barongsai ikut berhenti seketika. Sambaran api membakar topeng kepala naga saat beradu tinggi dengan tiang penyangga. Semua peserta festival sembunyi di dalam kuil. Sebagian lagi berlari menuju bangunan tua di sekitarnya.

Entah apa yang ditakuti warga. Suara petir saja sudah membuat jantung mereka berdebar. Lupakah jeritan perempuan muda yang mereka siksa 2 tahun yang lalu? Suara memohon ampunan sampai menggetarkan langit malam, pun sama sekali tidak mereka hiraukan.

Aku berjalan tenang di penghujung jalan sempit. Kucoba mengingat tragedi berdarah yang terjadi di simpang jalan itu. Seorang wanita muda diseret dan ditarik dengan seutas tali menuju ladang. Kedua pergelangan tangannya diikat. Saking kuatnya kuda menarik dan menyeret tangannya, kedua tangan itu putus. Darah berceceran mengikuti arah seretan. Wanita hamil 2 bulan itu kemudian digantung di atas pohon. Jeritannya hilang seketika. Dingin malam mendadak bisu.

“Bawa tangan kotor itu keluar dari kampung ini!” teriak Bao Zhang, sang hakim, membuyarkan keheningan.

“Bakar, bakar tangan itu! Jangan sampai iblis masuk ke desa kita lagi!” sahut istrinya.

Beberapa warga pun beramai-ramai menggotong kedua tangan yang masih terikat dan membakarnya di tungku api abadi. Amarahku meluap saat itu. Hanya karena 2 potong hu bing(2) yang tak sengaja dicicipinya dari tempat persembahan, kedua tangan harus dikorbankan. Bahkan nyawa wanita muda itu pun harus ikut menghilang. Tidak tampak rasa kasihan sedikit pun pada wanita malang yang tengah hamil itu.

Hujan deras mengguyur desa di tengah malam. Air sedikit demi sedikit beranjak naik semata kaki. Ini adalah waktu yang pas bagiku untuk membalas dendam. Kulangkahkan kaki menuju rumah Bao, hakim yang dikenal bijaksana oleh Kaisar Tang. Entah kenapa, aku sudah berada saja di hadapannya. Tidur lelaki itu sangat nyenyak bersama istri baru yang paling disayangnya. Suara mendengkur kedua manusia laknat itu tak berhenti walaupun gelas kujatuhkan dari jauh.

Lembaran kertas bertuliskan daftar nama warga tampak di telapak tangan keduanya. Tahun ini akan ada lagi calon wanita muda yang akan dikorbankan untuk sesembahan. Aku protes. Kenapa dia tidak mengorbankan istrinya? Dia nikahi perempuan itu di usia belia karena tidak ingin kehilangan cintanya. Syarat sesembahan adalah gadis perawan suci yang belum pernah disentuh oleh lelaki.  Tetapi apakah itu adil? Hanya karena jabatan sebagai hakim seenaknya saja dia memutuskan siapa yang hendak dikorbankan. Bukanlah karena kerelaan orang yang ingin berserah diri. Pada lembaran kertas itu terpampang jelas nama-nama wanita perawan yang menjadi sesembahan dari sejak dulu. Mereka adalah para leluhurku. Sekali lagi, hakim ini tidak berlaku adil.

Dari sekian nama itu tidak ada garis keturunannya yang menjadi sesembahan. Kenapa harus leluhurku? Kuku jariku meruncing dan semakin panjang seiring geramnya hati pada lelaki tua itu. Mudah saja sebenarnya bagiku untuk mengangkat dan mencampakkan tubuhnya ke tungku abadi. Membakarnya sampai menjadi debu. Seperti yang dia lakukan pada wanita-wanita yang haram untuk menjadi sesembahan. Tapi tidak! Itu terlalu terhormat baginya. Dosanya tak akan pernah termaafkan.

Kuusap bibir wanita muda di sampingnya. Kuakui dia memang cantik. Wajar saja lelaki itu tergila-gila padanya. Dulu juga Bao memujaku sebelum wajahku rusak karena dibakar. Kutampar pipi yang cantik itu. Dia terlempar ke luar ranjang. Memerah dan membekas di pipinya oleh luka cakar kuku panjangku. Kelambu putih seketika terciprat darah.

“Shuin, jangan pernah kau ganggu dia!” Bao terbangun seketika. Dia sadar kalau aku selalu mengincar istrinya itu. Bao mengambil pedang dan mengancamku. Mantera yang dia baca menyelimuti pedang yang tajam.

Mataku silau. Mantera itulah yang membuatku dari dulu terhalang untuk membalas dendam. Tubuhku menggeliat kepanasan. Cahaya dari mantera mengoyak kulit luar tubuh kurusku. Menembus tulang seakan jarum menusuk satu per satu di sekujur tubuh. Aku berteriak kencang. Sekencang suara Miao sebelum digantung di atas pohon 2 tahun yang lalu.

Bagaimana bisa kulupakan kejadian yang memilukan itu. “Miao, maafkan Ibu, Nak. Maaf, Ibu tidak mampu menolongmu…,” ucapku dari jauh. Aku memukul-mukul pundak Bao agar membatalkan hukumannya. Apalagi dia masih belia. Roti panggang yang dicurinya pun tidak seberapa. Aku berusaha memohon dan bersujud di kaki Bao.

“Dia harus lenyap! Sesembahan itu harus suci. Jika tidak, Dewa Langit akan marah dan mengutuk desa kita!”

Aku berdiri menantangnya, “Kenapa dosamu kau limpahkan pada Miao, putriku?!”
“Apa maksudmu!?”

“Miao sebelumnya sudah cerita padaku. Kau telah menghamilinya, Bao! Wanita belia itu mengandung anakmu!”

Bao menyeretku dari keramaian. Mulutku disekap dan ditamparnya. “Kau lancang bicara pada ketua adat!”

Darah menetes dari bibir tak kuhiraukan. Mataku menahan perih tiada tara. Bola mataku masih menatap Miao yang masih menggantung di kaki dengan kedua tangan putus. Aku yang melahirkannya tidak tega melihat pemandangan saat itu. Lebih mengerikan daripada saat aku melahirkannya. Tubuh putriku itu membeku setelah banyak kehilangan darah. 

“Kau diam! Jangan ceritakan ini kepada orang lain! Atau kau akan mati!” ujar Bao dengan raut murka tapi penuh ketakutan. Dia mungkin malu jika aibnya terbongkar.

“Mati katamu?! Kau sudah membunuhku, Bao. Hidupku ada pada wanita muda yang kau gantung. Tidak sadarkah kalau kau sudah membunuhku?”

Tangan Bao masih mencengkeram erat leherku. Aku semakin sulit bernapas. Aku pasrah. Namun aku berusaha menyampaikan kepada semua warga tentang kebiadapan suamiku itu pada anak tirinya. Setidaknya, sebelum dia mencabut nyawaku. Aku tak ingin keluargaku yang lain menjadi korban.

Bao berusaha merayuku. “Aku akan memberikan apa pun yang kau mau asal mulutmu diam! Jangan sesali yang sudah terjadi. Toh, putrimu juga adalah anak haram dari perselingkuhanmu dengan juru tulisku, kan?”

Lelaki itu terus mendalilkan pembenaran atas perbuatannya. Kuludahi wajah bengisnya. Murkanya berkecamuk. Dia seret tubuhku ke tungku api abadi. Dibakarnya separuh kulit wajahku yang putih dan mulus menjadi terkelupas. Aku mendadak si buruk rupa. Aku bersumpah menjadi setan, siluman atau apa pun asalkan bisa membalaskan dendamku. Aku pasrah untuk mati. Kubiarkan api menjilati tengkorak kepalaku sampai rasa sakit tak terasa lagi. Jantungku berhenti setelah darah mendidih dan memecahkan urat nadi. 

“Cepat! Cepatlah cabut nyawaku wahai Dewa pemilik alam semesta! Rohku tidak sabar ingin mengubah diri.” Seketika itu juga datang cahaya terang menyilaukan mataku. Cahaya terang yang menyilaukan itu persis sama dengan cahaya pedang Bao yang sekarang ada di hadapanku. Pedang itu tak lama kemudian berhasil menebas leher. Bukan leherku tapi kepala istri tersayangnya.

Rohku tersenyum puas saat meninggalkan tubuh lunglai wanita cantik itu tanpa kepala. Bao menangis merintih. Pedih tak tertahankan. Dia sudah membunuh wanita yang sangat dicintainya. Melebihi cintanya padaku. Si mantan istri yang dulu dia puja. 

“Dasar setan, kau benar-benar siluman!” teriaknya sambil mengayun-ayunkan pedang ke segala arah. Dia tidak bisa melihatku sedang menggantung di atas kepala rusa yang diawetkan.

“Benar aku telah membunuh keluargamu seperti yang dilakukan oleh buyutku pada buyutmu! Marga Siao adalah kutukan. Pernikahan sedarah leluhur kita harus dihentikan!”

Aku kaget. Namun sampai kapan pun, bagiku pembohong tetaplah pembohong. Terlanjur sudah aku bersumpah untuk menjadi setan seutuhnya. Kubiarkan sejenak mantan suamiku itu meratapi sedihnya. Aku keluar dari pintu rumah. Di depanku seekor kucing hitam sedang menanti. Kucing itu melompat-lompat karena hanya memiliki 2 kaki. Di belakangnya, anaknya mengikuti kami.

“Besok biar aku yang melanjutkan dendam, Bu,” ucap sang kucing hitam.
Hujan mulai reda. Fajar di ufuk timur perlahan menampakkan diri. Rumah warga masih sepi. Api abadi terus menyala. Dia akan menjadi saksi atas korban selanjutnya yang mati di sana. Tangisan Bao mulai didengar warga. Berbondong-bondong mereka menuju rumah sang hakim. Mereka menempelkan kertas merah di setiap pintu rumah khawatir nian akan memangsa mereka.

Hujan di tengah malam perayaan Imlek tahun ini sangat mengesankan. Kuhirup lega udara bercampur amis darah segar. Aku dan Miao pun berpisah di simpang jalan. Bersembunyi dalam gelap sambil menunggu hujan tiba di tengah malam lagi.(*)

(1) Nian = makhluk yang dimitoskan memangsa manusia.
(2) Hu bing = sejenis roti panggang.

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXIV.

Tentang Cerpenis
Irfan Hamonangan Tarihoran
Menulis karya fiksi dan mengkaji fenomena bahasa memunculkan kenikmatan tersendiri apalagi jika tulisan itu mampu berkontribusi pada peningkatan literasi masyarakat. IG: @irfanhamtar.

Testimoni Irfan Hamonangan Tarihoran

Cerita horor bukan hanya sekadar menceritakan hantu, dendam dan kematian semata. Di dalam cerpen ini, saya berusaha keras untuk menggabungkan latar belakang budaya Mandarin dengan penokohan yang kuat lewat dialog penuh dramatis. Memang sulit karena harus belajar lebih banyak lagi perihal budayanya.

Namun saya bersyukur cerpen ini bisa muncul ke permukaan yang sebelumnya hanya berendam di dalam raga kegelisahan. Ya, emosi kegelisahan atas kemunculan berita-berita saat ini. Kegelisahan pada diri sendiri itulah yang lebih horor daripada kisah hantu karena dapat menggiring ketakutan pada diri sendiri.

Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pak Horas sebagai pendiri komunitas Pulpen dan juga keluarga Pulpen di mana pun berada. Terima kasih juga untuk Pak Acek sebagai juri lomba. Ini kali kedua cerpen saya bertema horor Mandarin diapresiasi oleh Pulpen Kompasiana. Dua kali juga mendapatkan novel gratis karya sang juri sekaligus novelis hebat. Salam hormat.

Exit mobile version