Site icon cerpensastragrup

Sujang (Cerpen Dali Budaya)

Sumber: ilustrasi pribadi (inspirasi @prabowo.sa).

Sujang jongkok di bawah selangkangan Ma Ciwis: seorang perempuan yang tengah berdiri menghadapi penjual kerang. Sujang memainkan cangkang kerang yang berjatuhan, menyadari salah satunya masih berdaging. Dari sebalik daster Ma Ciwis, Sujang meraihnya. Sujang menyedot isi kerang. Menjilatinya. Menggeliat lidahnya. Ke kanan, ke kiri. “Hmm… Masin…“
***
 
Tapi kemudian ia terpekik. Ia baru menyadari kerang itu masih hidup. Daging kerang menggeliat lincah serupa lidah Sujang yang menari di belakang karang gigi. Meliuk-liuk jijiklah mereka berdua. Kerang itu meronta dan nyaris menggigit lidah Sujang. Untungnya si kerang tak begitu lama meronta sebab Sujang segera membantingnya ke sebuah batu.

Pecah. Si kerang telanjang tak bercangkang, pun tak bernyawa. Sujang berhenti bergidik ketika kaki Ma Ciwis menyenggolnya dengan sengaja.

Perempuan itu masih bercakak mulut dengan penjual kerang. Si penjual kerang, Pa Pandi, begitu heran sebab kerang itu dijual dengan harga wajar. Seandainya si mama ceriwis berasal dari suatu kampung antah berantah dengan kerang terserak percuma di sana, Pa Pandi pastilah boleh paham. Masalahnya, si mama ceriwis adalah Ma Ciwis: bini Pak Kades yang telah menjabat selama dua dekade. Sebagai seorang bini pejabat, terlebih dengan gelang dan kalung emas yang bergelung di lipatan tubuhnya itu, masuk akalkah kiranya ia menawar seorang penjual kerang miskin (yang juga merupakan tetangganya) dengan harga yang tidak ngotak?

Pa Pandi memerah. Ia tak tahan dengan muncung Ma Ciwis yang hanya tahu menyerocos. Tepat sebelum ia melayangkan hujatan balik, seorang penjual ikan tongkol di sebelah mereka duluan berteriak.

“Duitku! Ada tuyuuuul!”

Ma Timbe melengking begitu menyadari seluruh duitnya lenyap. Padahal kantung kresek berisi duit itu terpaku pas di kaki meja. Dan tidak mungkinlah jika seorang dewasa yang memalingnya. Seorang bocah juga terlalu ceroboh untuk menyambar duit di depan pemilik duit itu sendiri. Mutlak sudah, pelakunya adalah tuyul!

Lengkingannya mencuri perhatian. Orang-orang pasar menjadi gempar akan tuyul yang kembali muncul di Talambani. Heboh nian. Itulah ketika Ma Ciwis mundur perlahan, mengendap ke luar dari kawasan ikan, dan berjalan cepat dengan langkah maruk. Sujang yang berada di bawah selangkangannya, tampak kewalahan mengimbangi jalan Ma Ciwis yang mengangkang. Ia mesti berlari kecil-kecil sambil berjongkok. Sujang mengeluh linu. Terlebih, tubuhnya yang kecil itu mesti membopong setompok duit. Aih, linu sekujur tubuh!
***
“Mak Lampir!” Sujang memekik pedas. Kakinya serasa lumpuh sebab kebas, sementara Ma Ciwis sibuk bersilat tangan dengan duit. Merasa tak didengarkan, Sujang mengamuk. Diaduknya semua barang di atas meja. Tetap saja Ma Ciwis tak menghiraukan. Jari-jarinya justru semakin lincah menyisir duit.

Sebuah piring cantik jatuh pecah berderai. Secepat kilat, Sujang mengunyah beling itu dan menyemburkannya ke muka Ma Ciwis. Sssrrr… Luka menganga di wajah Ma Ciwis. Darah mengalir di wajahnya. Kali ini perempuan itu terpancing. Matanya menusuk mata Sujang, membuat tuyul itu sedikit bergidik ngeri. Hening. Ia was-was akan mata majikan barunya ini. Untuk pertama kalinya, Sujang mengenal rasa takut.

Tangan Ma Ciwis bergerak, membuat tuyul itu tersentak dan melangkah mundur. Ma Ciwis rupanya hanya mengelap darah di wajahnya dan lanjut menyisir duit. Tai, gumam Sujang.

“Kau ini bini pejabat, kenapa pelihara tuyul? Bukankah lakimu itu banyak duitnya.”

Tampaknya perempuan ini hanya bisa mengerti bahasa duit, sebab telinganya pun tak berdenging menangkap suara si tuyul. Itu membuat Sujang semakin berhasrat untuk mengacak-ngacak meja, mengacak-ngacak rumah besar ini, atau sekalian saja mengacak-ngacak nyawa si majikan, tapi seperti tak ada gunanya.

Ma Ciwis sama sekali tak menghiraukan dan itu membuat Sujang merajuk. Untuk pertama kalinya, Sujang berusaha bersikap tenang (selama dua menit).

Ma Ciwis selesai menghitung duit. Sujang meliriknya. Ma Ciwis membuka laci meja, mengambil kresek hitam yang ternyata berisi duit, dan mulai menghitung duit lagi. Sujang menghela napas. Dua menit berikutnya, Ma Ciwis kembali membuka laci meja, mengambil kresek hitam yang lain, dan menghitung duit lagi dan lagi. Untuk pertama kalinya, Sujang muak melihat duit.

Semalaman itu, Ma Ciwis hanya menghitung duit. Buka laci, ambil kresek, hitung duit. Buka laci lagi, ambil kresek lagi, hitung duit lagi. Dan itu dilakukan dengan mulut terkunci. Sujang merasa perangai majikannya ini beda sekali dengan di pasar tadi. “Enggak ceriwis.”

“Hmm?” Ma Ciwis melirik. Sujang tersedak mendengar majikannya bersuara. Ia baru menyadari semua kresek di laci telah diikat. Melihat kesempatan itu, Sujang kembali bertanya.

“Kau ini bini pejabat, kenapa pelihara tuyul? Bukankah lakimu itu banyak duitnya.”

“Sujang pikir, kami memeliharamu karena duit?”

Kening Sujang berkerut keras. Ia bahkan terlalu bingung untuk bertanya, “Terus apa gunanya kau menghitung duit yang kucuri? Apa gunanya aku mencuri?” Maka, disimpannya saja pertanyaan itu di kepala. Ma Ciwis tersenyum, tahu betul isi dari awan yang mengambang di atas kepala si tuyul.

“Lambat laun Sujang akan mengerti.”
***
Pa Punet, si dukun penjual jin telah mengingatkan perempuan itu sembilan puluh delapan kali.

“Ee mama, ada sebab kenapa ini tuyul kujual murah. Aku cuma boleh jual buat sesama dukun saja. Itu pun sudah habis nyawa mereka dia buat. Ngerilah. Dia punya perangai macam anjing iblis. Tak ngerikah engkau, Ma? Janganlah, Ma,” keluhnya setelah sembilan puluh sembilan kali menasihati si pembeli. Kocak. Seharusnya Pa Punet tahu bahwa tiada barang di muka bumi ini yang lebih keras daripada kepala perempuan ini.

“Dua puluh juta,” tawar si perempuan tanpa pikir. Pa Punet menepuk jidat. Ia tak akan sanggup bila harus menasihatinya untuk keseratus kali. Maka, ia hanya bisa bertanya untuk terakhir kali.

“Sebetulnya ada apa, Ma? Kenapa harus sekali tuyul ini? Aku punya seribu, semua bisa kasih jamin Mama kaya. Tapi anjing iblis ini? Cuma bisa kasih Mama perkara hidup!”

Perempuan itu tersenyum, “Itu dia. Aku memang mau mencari beban hidup.”

Pa Punet menghela napas. Tangannya meraba botol-botol di rak, meraih sebuah botol hitam di antara botol-botol jin yang bening.

“Noh,” ia menyerahkan tuyul itu pada si pembeli. Ia menyerah. Tak peduli seberapa keras Pa Punet memperingatkannya, nyatanya perempuan itu lebih keras. Perempuan itu mengeluarkan sekantong kresek hitam besar. Benar-benar dua puluh juta. Ketika menerima plastik itu, Pa Punet menyadari gelang emas yang bergelung di tangan si perempuan, sebuah perhiasan yang tentunya tak seorang pun di Talambani mampu membeli.

Pa Punet baru menanyakan hal yang seharusnya ia tanyakan sejak awal. “Kau ini siapa?”

Tak perlu dijawab, Pa Punet segera tersadar.

“Anjing iblis!” Pa Punet memerah. Bisa-bisanya ia baru menyadari perempuan ini adalah Ma Ciwis, bini si kepala desa.  Ia berang pada dirinya yang tolol, memberikan seekor tuyul ajaib pada sepasang iblis. Oh, tentu saja perempuan ini begitu keras kepala. Ia bahkan lebih keras dari suaminya sendiri. Lebih keras daripada batang pohon yang ditebang suaminya sendiri. Lebih keras daripada hutan yang kemudian berganti batang sawit oleh suaminya sendiri. Lebih keras daripada suara jeritan rakyat yang diperuntukkan suaminya sendiri. Ia lebih keras daripada burung suaminya sendiri. Itulah mengapa mereka tidak subur dan malah memelihara tuyul. Yang dibesarkan tuk mencuri duit rakyat!

Sebelum Ma Ciwis sempat mencerna apa yang tengah terjadi, Pa Punet memukul kepalanya sendiri dengan botol hitam itu. Pecah. Pecah botolnya, pecah kepala Pa Punet, pecah pula ketuban yang melindungi tuyul.

Pa Punet teroyong-oyong. Darah mengucur deras dari kepala lonjongnya. Tak sengaja ia memijak kulit ketuban yang licin. Brak! Pecah kepala menghantam meja. Suara kriuk remah-remah kepala bersatu padu dengan tangisan bayi.

Ma Ciwis mengangkat tubuh kecil itu dengan penuh kehati-hatian. Oh, bayi ini sama sekali tak tampak macam anjing iblis. Betapa teganya Pa Punet mengurung jiwa tak berdosa ini di dalam botol sempit yang berbeda dengan tuyul lain. Bahkan di dunia jin pun, diskriminasi tetap berlaku. Andai putingnya bisa mengeluarkan asi, ia akan menyusuinya saat itu juga.

“Salah. Selama ini aku keliru. Anjing iblis ini memang tidak akan pernah akur dengan manusia. Sebab anjing iblis, ya, hanya untuk iblis!”

Ma Ciwis sama sekali tidak mendengar ucapan si dukun yang sekarat, sebab dirinya terlanjur melambung ke masa lampau. Ia tengah berada di kamar mandi. Keguguran. Menampung janinnya yang tak lebih besar dari telapak tangan. Persis tuyul itu. Bedanya, Ma Ciwis bisa merasakan perut janin yang bernapas. Ia menangis haru. Teringat, ia pernah berbicara pada calon bayinya.

“Sujang. Namamu Sujang.“(*)

Cerpen merupakan Juara I Sayembara Pesta Pena 2025.

Tentang Cerpenis
Dali Budaya
IG: @dalibdya

Testimoni Dali Budaya

Saya betul-betul tersedak dan melompat dari kursi ketika mendapati judul cerpen “Sujang” muncul pada pengumuman Juara 1 Pesta Pena 2025. Kabar itu sukses membuat saya tampak macam orang melankolis yang lawak. Saya mengucap syukur berkali-kali dan mengecup layar ponsel sendiri. “Alhamdulillah. Terima kasih, terima kasih.”

Bila dilihat dari kulitnya saja, Sujang memang tampak seperti cerpen yang absurd, nyentrik, dan nyeleneh. Namun, bila dikuliti menembus daging, dapat dilihat bahwa sebetulnya cerpen ini merupakan perwujudan realitas sosial-politik masyarakat. Dalam hal ini, saya menyorot masyarakat desa yang tertindas oleh kekuasaan pemimpin yang serakah. Sengaja saya balut dengan gaya satir bernada kocak supaya tidak tegang-tegang amat, tetapi juga tidak kehilangan ketegasannya.

Saya bersyukur cerita ini memperoleh apresiasi yang besar dari para pembaca. Tentunya, ini semua berkat Pulpen yang telah menjadi rumah bagi saya untuk terus berkembang dan berkarya. Terima kasih, Pulpen. Semoga Pulpen semakin maju, dikenal banyak orang, dan terus menginspirasi.

Exit mobile version