Aku bergegas pulang ke rumah hanya untuk mengambil topi. Panas terik tak boleh menghalangi untuk bermain layangan. Aku adalah anak perempuan berusia sepuluh tahun dan hobi bermain layangan.
…
Tempat bermain layangan adalah di lapangan nan luas, walau panas tapi angin bertiup cukup kencang di sana dan meliuk-liuklah layang-layang terbawa angin. Di palasa, beranda pada rumah panggung kayu khas Kerinci, aku bertemu Tino. Dalam bahasa Kerinci, sebutan Tino sama dengan nenek. Tino sedang bersugi tembakau, beliau terkekeh melihat diriku memakai topi.
“Kau mirip Nippon,” ujar Tino.
“Nippon, apa itu Tino?” balasku.
“Mainlah kau dulu, nanti malam kita bakunun,” sahut Tino.
Bakunun adalah mendongeng atau bercerita dalam masyarakat Kerinci, kata kunun berasal dari kata konon artinya cerita, bakunun sangat diminati anak-anak zaman dahulu yang minim hiburan. Aku segera berlari kembali ke lapangan untuk bermain dan patuh dengan aturan yakni harus pulang sebelum magrib. Setelah mandi dan makan malam, aku segera menemui Tino guna menagih janji.
Tino sedang duduk bersila sambil menggulung selembar sirih bersama gambir dan diberi kapur, mengunyahnya kadang bersama pinang atau tanpa pinang.
“Ayo No, ceritakan padaku tentang Nippon dan mengapa aku dibilang mirip Nippon,” bujukku.
“Matamu sipit dan memakai topi sehingga mirip Nippon,” gurau Tino.
Tino mulai bercerita, Nippon adalah sebutan untuk Jepang pada zaman penjajahan Jepang. Masa penjajahan Belanda sampai tahun 1942 dan dilanjutkan dengan penjajahan Jepang dari tahun 1942 hingga 1945, Tino pernah merasai hidup dalam zaman penjajahan tersebut.
Hidup di zaman penjajahan itu tidak enak, tidak memiliki kemerdekaan dan semua bukan menjadi hak milik bangsa kita tapi milik bangsa penjajah. Kita seperti menumpang di negeri sendiri.
“Kalau menurut Tino, enak dijajah Belanda atau Jepang?” tanyaku.
“Tidak enak dua-duanya, bangsa manakah yang mau dijajah?” ujar Tino.
Tino lanjut bercerita, kalau zaman Belanda hasil bumi dirampas, kalaupun dibeli dengan harga yang murah dan hasilnya diperuntukkan untuk negeri Belanda. Namun Jepang lain lagi, hasil bumi dirampas kemudian dibuang ke laut agar penduduk pribumi kelaparan. Kadang kita harus makan singkong karena tidak punya beras lagi. Duh benar-benar tidak bisa dibayangkan kondisi ketika zaman penjajahan.
“Negeri kita dianugerahi dengan kekayaan alam dan bangsa penjajah mengambilnya untuk kemajuan negeri mereka,” suara Tino bergetar.
Penduduk pribumi di zaman penjajahan Belanda, diwajibkan kerja paksa atau kerja rodi untuk membuat jalan, jembatan, pelabuhan, benteng pertahanan dan bekerja di perkebunan, semua ini tentu saja untuk keuntungan penjajah. Penduduk pribumi tidak menerima upah, kalaupun ada upah sangat kecil dan dikorupsi. Dalam pelaksanaan kerja rodi, pekerja mengalami kekerasan dan kadang juga mengalami kelaparan.
“Apakah ada saudara kita yang meninggal dunia, No?” tanyaku.
“Saudara laki-laki Tino ada yang masih bujang tapi sudah ikut kerja rodi dan meninggal dunia,” suara Tino lirih.
Di zaman penjajahan Jepang, juga ada kerja paksa yang disebut romusha. Sama halnya dengan kerja rodi, penduduk pribumi mengalami kelaparan, penyiksaan, sakit dan banyak yang meninggal dunia.
Tino juga berkisah, bahwa para gadis disembunyikan jauh di ladang-ladang agar tidak dibawa penjajah. Setiap kaum penjajah akan masuk kampung, kaum laki-laki dan perempuan akan mengungsi jauh ke hutan atau ladang-ladang yang jauh dari pemukiman.
“Bagaimana cara kita mengusir penjajah dari negeri kita?” tanyaku dengan semangat.
Bangsa kita berjuang bersama-sama dengan persenjataan yang sederhana melawan penjajah dengan persenjataan modern. Dengan hanya bersenjatakan bambu runcing, keris dan pedang. Bambu runcing walau sederhana, tapi menakutkan bagi penjajah. Bambu runcing adalah senjata hening yang mematikan.
Dengan perang gerilya, bersembunyi di hutan-hutan dan kemudian menyerang berusaha mengusir penjajah. Kita harus menghargai jasa pahlawan yang telah membebaskan kita hingga memperoleh kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia diperjuangkan dengan darah, air mata, jiwa dan raga segenap rakyat Indonesia.
“Kalian, generasi muda harus belajar dengan sungguh-sungguh supaya berguna bagi bangsa kita dan begitulah cara kalian menghargai jasa pahlawan,” tutur Tino.
“Perjuangan yang tak mudah dan banyak pahlawan yang berguguran,” suara Tino tersendat.
Tino kemudian merebahkan diri dan mulai bersenandung kecil, lagu Kimigayo. Beliau sedang mengenang masa-masa yang sangat sulit di waktu lampau.
Kimigayo wa
Chiyo ni, yachiyo ni
Semoga kekuasaan Yang Mulia
Berlanjut selama seribu, delapan ribu generasi
Air matanya mengalir di sudut mata dan jatuh perlahan. Aku menyeka air matanya dan mencoba menjenguk masa lampau dalam khayal yang menakutkan. Zaman telah bertukar, zaman dalam kemerdekaan. Banyak hal yang bisa anak-anak, remaja dan kita semua lakukan dalam mengisi kemerdekaan.
Membangun Indonesia menjadi lebih maju dalam kedaulatan sepenuhnya milik bangsa sendiri. Sepotong cerita merdeka dari nenek menjadi gambaran bahwa bangsa Indonesia bak berlian yang susah diperoleh dan harus dijaga tetap bersinar cemerlang sepanjang masa. (*)
SungePnoh, 31 Juli 2023
Cerpen merupakan Pemenang Sayembara Cerpen Pulpen V.
Cerpen telah tayang di Kompasiana.
Cerpenis
Fatmi Sunarya
Perempuan kelahiran Kerinci dan mulai menulis di Kompasiana sejak Agustus 2019. Penulis sederhana yang menyukai menulis puisi dan artikel sosial budaya. Salam Inspirasiana.
Testimoni Fatmi Sunarya
Siapa bilang menulis fiksi bak menulis di jalan sunyi. Menulis fiksi adalah menulis di jalan abadi. Sebagai penulis cerpen pemula, saya ingin mengeksplorasi diri dalam menulis cerpen. Dan Pulpen yang menjadi wadah penulis cerpen kali ini memberi kesempatan menulis cerpen anak bertema perjuangan.
Event yang diadakan oleh Pulpen dan Inspirasiana yang mengusung cerpen anak tema perjuangan patut diapresiasi, anak-anak juga butuh bacaan yang mengingatkan tentang kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh segenap rakyat Indonesia.
Yuk menulis cerpen bersama Pulpen, kalam tak akan patah. Semoga Pulpen ke depannya semakin sukses dengan menghadirkan cerpen berbagai tema. Salam.

