Site icon cerpensastragrup

Sepasang Kambing Hitam (Cerpen Rani Febrina Putri)

Sumber Ilustrasi: Unsplash.com/Julian.

Seragam putih biru masih melekat, lengket bercampur keringat di siang yang terik kala itu. Aku dan Budi cengengesan di depan seekor kambing hitam yang sedang mengunyah rumput dengan lahapnya. 
…

Pak RT menjual kambing itu dengan harga cukup murah, khusus untuk kami, si bocah ingusan yang bercita-cita ingin kurban di hari raya Iduladha. Mungkin perlu beberapa tahun lagi, menunggu si kambing hitam itu dewasa dan siap umurnya untuk disembelih. Pak RT memberi harga murah karena terkagum-kagum dengan tekad kami yang begitu kuat untuk usia kami yang masih belia ini. Aku dan Budi sudah menabung cukup lama untuk membeli “Syukur”, nama yang akhirnya kami berikan pada si kambing setelah melalui perdebatan.

“Aku mau beri nama dia Marcel,” celetuk Budi bersemangat.
“Heh, jangan macam-macamlah. Panggil saja dia Slamet,” aku menimpali tak mau kalah.
“Antonio saja kalau begitu.”
“Syukur saja deh.”
“Syukur?“

“Mbeekk…,” terdengar si kambing hitam bersuara setelah dari tadi sibuk mengunyah. Aku, Budi, dan Pak RT saling berpandangan, lalu mengangguk mantap. Menyepakati nama Syukur tanpa banyak ba-bi-bu lagi. Begitulah akhir dari persahabatanku dengan Budi yang masih baik-baik saja, bahkan lebih dari baik. Kami berteman sudah sejak lahir. Rumah kami hanya berjarak lima langkah. 

Walaupun satu langkah itu dihitung satu langkah gajah. Namun tetap saja rumah kami berada pada RT yang sama. Kami lahir hanya berjeda enam jam. Aku dilahirkan dini hari, sedangkan ia lahir ketika matahari menyambut bumi. Masa kecil kami dari batita, balita, hingga masuk taman kanak-kanak amatlah bahagia.

Mulai dari belajar merangkak, berjalan, berbicara, hingga bernyanyi dan berhitung, kami selalu bersama. Bak api dengan asap, tak terpisahkan. Masa sekolah dasar menjadi masa paling menyenangkan. Setiap pulang sekolah kami tak pernah absen untuk berjemur di bawah terik mentari hingga senja mendesak kami pulang.

Kulit kami hitam legam akibat bermain bola dan layang-layang, mandi di sungai, main lumpur di sawah, bersepeda, hingga berlomba mencari belalang di lapangan desa bersama teman-teman lainnya. Hingga tiba hari paling kami nantikan. Kami baru beberapa bulan menjadi siswa SMP, memasuki masa peralihan dari anak-anak menuju remaja. Aku belum terkontaminasi kenakalan-kenakalan remaja.

Sedangkan Budi terjerumus juga pada akhirnya. Hal itu dimulai setelah kami menyandang hak milik atas Syukur, anakan kambing hitam yang masih ingusan. Tepat setelah kami membeli kambing tersebut, aku hampir kecelakaan, namun justru Budi yang berakhir pincang.

Saat berjalan pulang sambil menggiring Syukur menggunakan seutas tali, aku bersenandung riang menyusuri jalan setapak menuju rumahku. Syukur akan dipelihara di rumahku, bersama dengan kambing-kambing lain milik kakek yang berkandang di belakang rumah. 

Budi sedang membeli es cekek (es yang dijual menggunakan plastik dan sedotan, memegangnya dengan cara dicekik dengan genggaman tangan) di seberang jalan. Aku terus berjalan lambat sambil sesekali menengok ke belakang, memastikan Budi tidak tertinggal terlalu jauh. Namun tiba-tiba Syukur yang berada di sisi kiriku memberontak ke tengah jalan setapak. 

Sialnya lagi, aku hilang kendali karena sedang menengok ke arah Budi. Hal itu bersamaan dengan munculnya sepeda motor dari belakang Budi menuju ke arahku dengan kecepatan tinggi. Aku menutup mata karena hampir terserempet bersama dengan Syukur. Namun saat aku membuka mata, tubuhku justru terjerembab di rerumputan pinggir jalan.

“Septooo, kau baik-baik saja?” teriak Budi yang lebih terdengar seperti rintihan. Aku panik dan tidak menjawab. Raut muka Budi pucat pasi, seputih beras yang baru digiling. Namun, bagian kaki kirinya tampak berlumuran darah. Aku ngilu melihat ada tonjolan tulang yang keluar dari kulit dan dagingnya.

“Mbeeekk….” Syukur mengembik di seberang jalan, ikut bertanya apakah Budi baik-baik saja. Aku menangis tak tertahan. Ini mirip adegan sinetron yang sering ditonton Ibu dan Nenek setiap malam.

Ternyata, Budi tidak sekadar patah tulang, namun kaki kanannya harus diamputasi. Pengendara motor yang menabrak Budi juga sama parahnya, bahkan cedera cukup serius di bagian tangan, kaki, dan perut. Kecelakaan itu diselesaikan secara kekeluargaan karena si penabrak masih kerabat dengan Budi. Namun masalah tidak sesimpel itu terselesaikan. Persahabatan kami berubah sejak saat itu. Aku yang dihantui rasa bersalah terhadap Budi, dan Budi dihantui bayangannya sendiri yang pincang untuk menjalani sisa hidupnya.

“Aku minta maaf, meski kutahu ini takkan mengubah apapun. Lagian kenapa sih kau harus menolongku segala? Biarkan saja aku yang tertabrak!“
“Kalau kutahu akan separah ini, sampai aku pincang begini, aku juga takkan menolongmu. Lebih baik kau saja yang tertabrak.“

Aku tercengang. Belasan tahun kami berteman, itulah perkataan paling menyakitkan yang terlontar dari mulutnya. Tetapi aku memang munafik untuk bilang kalau aku rela jika aku saja yang pincang. Aku sama-sama ingin selamat dan sehat. 

Begitupun aku berharap untuknya. Awalnya kupikir dia hanya asal bicara karena masih shock dengan keadaannya. Namun ternyata dendam dan rasa sesal yang entah terhadap dirinya sendiri ataupun terhadapku, itu masih ada dan tertanam hingga kami masuk ke sekolah menengah kejuruan.

Budi memang masih bersahabat denganku, dan itu satu-satunya hal yang paling aku syukuri selama ini. Terlepas dari dia membenciku atau tidak, dia tidak pernah meninggalkanku. Bahkan ketika akhirnya aku menyadari bahwa selama ini aku hanya dijadikan kambing hitam untuk setiap kesalahan yang ia perbuat, aku tetap menerima itu sebagai bentuk syukur atas kesetiaannya padaku dan tidak memilih meninggalkanku. Sebab, hanya dia temanku satu-satunya.

Aku hanya tersenyum kecut setiap mengingat bagaimana dia meletakkan puntung rokok yang ia hisap di WC sekolah karena ketahuan guru BP. Dia tak ketahuan, aku yang disalahkan. Dia juga pernah menaruh sebotol ciu di tasku sebelum berangkat sekolah.

“Aku akan minum-minum sepulang sekolah. Kau yang jaga mirasnya, oke?”

Sialnya, hari itu ada razia. Aku dihukum, sementara dia lolos, tetap minum-minum di halaman belakang sekolah dengan santainya. Saat ujian sekolah berlangsung, ia memintaku untuk menuliskan namanya di lembar jawabku, dan dia akan menuliskan namaku di lembar jawabnya.

“Tolong berikan kepintaranmu sedikit untuk sahabatmu ini. Tenang saja, aku takkan merenggut otak brilianmu meskipun kau telah menghilangkan kaki kananku.“

Aku tertohok lagi. Rasa takutku akan nilaiku yang jelek akan kalah dengan rasa bersalahku dan rasa takut kehilangan sosok Budi dalam hidupku. Namun, limpahan kesalahan Budi tidak sampai di situ saja. Hutangnya pada kantin yang dicatat atas namaku. Pekerjaan rumah yang belum ia kerjakan, ia tukar dengan pekerjaan rumahku yang sudah selesai.

Persahabatan kami kini hanya berputar-putar pada kisah klise satu pihak dominan yang terus menuduh, melimpahkan kesalahan, memfitnah, mengancam, menindas, bahkan memanfaatkan kecacatannya untuk melemahkan pihak yang tak berdaya. Aku tahu dan sadar betul akan hubungan kami yang seperti ini. Aku bahkan tak benar-benar paham, apakah aku yang salah di sini?

Apakah aku pantas menanggung rasa bersalah padahal aku tidak menabrak Budi saat itu? Bukankah ia sendiri yang memutuskan untuk begitu? Mengapa kesannya semesta menyalahkanku dan terus memposisikanku di pihak yang tertindas?

“Mbeekk….”
Syukur mengembik saat melihatku datang menghampirinya di kandang. Bajuku lusuh dan banyak noda bekas injakan sepatu. Sudut bibirku berdarah, mataku sedikit lebam. Sendi-sendi sekujur tubuhku? Jangan ditanya. Remuk bukan main.

“Lagi-lagi aku pasrah saja menjadi kambing hitam Budi,” ucapku memulai cerita pada Syukur. Syukur belum juga disembelih untuk kurban, karena aku dan Budi tak pernah membahasnya lagi. Aku dan Syukur bak sepasang kambing hitam di kehidupan Budi. Syukur menjadi kambing hitamku, dan aku menjadi kambing hitam Budi.

“Budi bersiul menggoda pacar Bang Wi. Sebelum pacarnya mengadu, Budi sudah lebih dahulu menghampiri Bang Wi karena tahu dia akan diadukan. Dia bilang bahwa siswa kelas 11 A jurusan Teknik Komputer Jaringan yang bernama Septo lah yang menggoda pacar Bang Wi. Lalu, beginilah akhirnya.”

“Mbeekk….”
“Daripada kau yang mati disembelih di Iduladha nanti, apakah sebaiknya aku saja yang mati? Toh kau juga sudah terlalu tua untuk dimasak menjadi gulai.“

Aku sudah lelah menjadi kambing hitam. Sedangkan Syukur masih menikmati hidupnya sebagai kambing hitam. Setidaknya, jika aku yang mati, Syukur akan tetap menjadi sahabat Budi tanpa perlu tersiksa sepertiku. Hal itu sekaligus sebagai penebusan kesalahanku atas kecelakaan empat tahun lalu.

Nyawaku mungkin akan menjadi bayaran hutang budiku atas pertolongan Budi kala itu. Jika aku mati, Budi akan menjadi anak baik lagi. Dia takkan berbuat kesalahan yang akan dilimpahkan padaku. Dia takkan berdosa karena tak lagi mengkambinghitamkan sahabatnya sendiri. (*)

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen VIII.
Cerpen telah tayang di Kompasiana.

Cerpenis

Rani Febrina Putri.
Menyukai dunia cerpen dan puisi. Karyanya “Kesetiaan Doa” dalam buku antologi puisi Dermaga Kesetiaan (2018) dan “Patah Hati Paling Patah” dalam buku antologi puisi Bahana Patah (2019), dimuat bersama karya puluhan penulis lain.

Testimoni Rani Febrina Putri

Awalnya, menulis cerpen hanyalah sepenggal dari hobi saya, namun melalui Pulpen, saya merasa itu menjadi sarana untuk mengutuhkan diri saya. Saya menemukan apa yang saya suka dan diberi wadah di Pulpen ini. Dari yang awalnya hobi, saya ingin menekuninya dengan serius sembari terus menyelam untuk belajar lebih banyak lagi.

Bagi saya, sayembara ini menjadi ajang belajar menulis cerpen sekaligus belajar untuk konsisten, percaya diri, dan pantang menyerah. Sayembara ini rasanya seperti menyihir saya untuk terus mengikutinya. Saya yakin begitu pun dengan peserta-peserta lain yang mengikutinya. Alhamdulillah di sayembara bulan ini, saya mendapat juara 2. Pencapaian tersebut diapresiasi dengan baik oleh Pulpen. Saya berharap sayembara akan terus ada bersama Pulpen agar dapat mengepakkan sayapnya bersama para penulis berbakat.

Exit mobile version