“Dok, maaf.. ehmm. Anu, jenazahnya sudah tiba.. di.. di.. di Ruang Otopsi..”
***
Suara staf di ujung telepon itu terdengar berbeda dari biasanya. Terasa lebih berat dan bergetar, sampai-sampai jadi gagap dan mengulang kata. Seakan tak kuasa menahan sebuah beban yang menggunung di kepala.
Semua ini terjadi karena sebuah tanda tanya besar dalam kasus kematian kali ini. Sebuah tragedi gila yang tak pernah sekalipun Arga temukan dalam 10 tahun karirnya sebagai Dokter Forensik. Dr. Arga Atmadja, sang dokter muda dengan karir mentereng, kini melangkahkan kakinya ke dalam ruang otopsi jenazah. Sementara luar sana, sayup-sayup terdengar riuh manusia dan bunyi shutter kamera tiada henti. Nampaknya banyak wartawan yang tak sabar menanti berita terkini.
Arga sedikit terhenyak saat melihat kondisi jenazah itu. Kondisinya jelas mengenaskan, dengan bentuk yang tak lagi utuh serta beberapa beberapa bagian yang hitam legam, hangus terbakar. Terdapat sebuah lubang besar di perutnya.
Kepalanya terpisah, dan sebagian organ dalamnya hilang entah ke mana. Sungguh, jenazah ini tak lagi berbentuk rupa. Tapi bukan itu yang membuatnya mengerikan. Karena sebagai dokter forensik, tentu menerima jenazah dengan kondisi seperti ini bukanlah hal baru baginya. Rasanya ada banyak jenazah lain yang jauh lebih mengerikan. Entah itu korban pembuhuhan, mutilasi, hingga kecelakaan kerja ekstrim. Semuanya sudah pernah Arga tangani. Namun cerita di balik jenazah inilah, yang kelak membuat batinnya bergidik. Bahkan Arga sempat terdiam, lalu sedikit terisak kala membacanya. Semua informasi yang ia dapatkan dari Laporan Kronologi Kejadian oleh Kepolisian.
***
Jenazah ini bernama Raka Drumadi, siswa Sekolah Menengah kelas 12 dari SMK Gunung Lawu. Ia dikenal sebagai sebagai anak yang pendiam, dicap agak aneh, dan tak memiliki banyak teman. Belakangan diketahui bahwa Raka ini broken home. Orang tuanya bercerai, lalu Bapaknya kabur entah ke mana. Mungkin karena tak kuasa menahan depresi, Ibunya lantas memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. Hal ini memaksa Raka jadi hidup seorang diri, dan hanya bisa makan minum dari belas kasih tetangga sana-sini.
Semenjak itu, sikapnya jadi semakin aneh. Lebih senang menyendiri, berdiam di salah satu sudut sekolah yang sepi. Terkadang, sembari tertawa dan berbicara sendiri. Murid-murid lain pun tak ada yang mau menemaninya, menganggapnya sudah kehilangan separuh kewarasannya. Hingga hari itu, tepat di jam istirahat sekolah. Raka tiba-tiba duduk di tengah-tengah lapangan, mengenakan ranselnya sembari berteriak-teriak ke seluruh penjuru.
“HEY KALIAN SEMUA!!!…”, ucapnya sepenuh tenaga.
Murid-murid yang sedang duduk bersantai di depan kelas, tak banyak yang menggubrisnya. Hanya melihatnya dengan sinis, sembari tertawa tipis melihat kelakuan anehnya. “Lihat tuh, apa lagi dah kelakuan bocah aneh satu itu?”
Mendengar suara-suara sumbang itu, Raka tersenyum. Senyum yang aneh, dengan raut wajah menyeringai. Dan tak lama berselang, ia berdiri tegap sembari meregangkan kedua tangannya. Mulutnya mulai bersenandung. Senandung lantunan jawa yang membuat siapa pun merinding saat mendengarnya.
“Meelu kula… Oh, melu kula.. Tumimbal Lahir, Barengi.”
“Meelu kula… Oh, melu kula.. Tumimbal Lahir, Barengi.”
“Meelu kula… Oh, melu kula.. Tumimbal Lahir, Barengi.”
Sesaat kemudian, tiba-tiba Raka mengambil sebuah benda dari dalam ranselnya. Benda yang berbentuk pipih, agak memanjang. ASTAGA! Sebuah bom pipa! Sontak seluruh murid pun panik, berlarian menjauh tak menentu arah. Namun terlambat, karena Raka telah menarik benda itu ke tengah-tengah dadanya. Dan yang terjadi berikutnya, adalah sebuah ledakan dahsyat yang mengguncang lapangan sekolah.
“DUAAAAAARRRRRR….”
Dentuman disertai kobaran api raksasa menyebar ke udara, disertai debu-debu lapangan yang menyebar seperti kabut. Gelombang kejut tersebar dalam milidetik, menyebabkan kaca-kaca sekolah pecah dan beberapa benda asing terlontar ke seluruh penjuru. Sejumlah murid pun jatuh pingsan di tepat lokasi.
Sementara mereka yang masih sadar, nasibnya tak lebih baik. Mereka merasakan dengungan kencang, efek dari dentuman suara yang memekakkan telinga. Dan di kala debu nan tebal itu hilang dari pandangan, mereka semua menemukan pemandangan yang sungguh traumatis. Tubuh Raka nampak hancur dan mengenaskan.
Beberapa bagian tubuhnya terpental, termasuk kepalanya, yang saking jauhnya sampai tersangkut di genteng ruangan guru. Keadaan pun langsung chaos, sangat mencekam. Ratusan murid langsung dilarikan ke rumah sakit karena terkena serpihan. Sementara sebagian lagi segera dibawa ke psikolog karena rasa trauma mendalam yang mereka alami. SMK Gunung Lawu pun disegel, kegiatan belajar dihentikan hingga waktu yang tak ditentukan.
Arga hanya bisa menahan kengeriannya kala membaca semua detil cerita itu. Sembari melakukan proses otopsi, batin Arga terus bertanya-tanya dalam hati, “Apa yang jadi sebab semua kegilaan ini? Mengapa anak kemarin sore macam ini sampai nekat melakukan bom bunuh diri?”
Awalnya proses otopsi berjalan dengan lancar. Mulai dari pengambilan sampel DNA, odontologi, sidik jari hingga radiografi. Namun saat Arga memeriksa area leher belakang jenazah, tiba-tiba matanya memicing tajam. Mendadak ia menemukan sebuah tanda hitam yang sedari tadi rasanya tak ada. Sebuah bekas luka gosong, yang membentuk tulisan. “Melu kula“
Di saat bersamaan, tiba-tiba ia mendengar sebuah bisikan kecil di telinganya.
“Tumimbal lahir barengi..“
Arga melompat terkejut. Pisau bedah terjatuh dari tangannya. Namun saat ia mengecek sisi kanan kirinya, tak ada siapa-siapa. Dan yang membuatnya kian merinding, kini tulisan di leher belakang itu lenyap entah ke mana. Bulu kuduk Arga pun berdiri sempurna. Ia mempercepat proses otopsi, lalu mendatangi rombongan wartawan yang telah lama menanti. Malam harinya, Arga tak bisa tidur. Ia terus terbayang bisikan yang ia dengar, dan mencoba menerka apa maksud serta artinya. Akhirnya sampai jam 11 malam pun, mata dan jemarinya masih sibuk dengan layar komputernya. Sayangnya, tak banyak petunjuk yang ditemukan. Hanya nama ‘Sekte Tumimbal Siji’ yang terselip di beberapa forum internet, tanpa ada penjelasan lebih mendetil.
Arga hampir menyerah, saat tiba-tiba smartphone-nya berdering.
KRRIIIING…
Nama ‘Rhema’ muncul di dalam layar.
“Halooo Arga… Jadi, apa aja yang udah lo tau seputar Sekte Tumimbal Siji?“ ucap perempuan itu tanpa berbasa-basi.
“Hahaha.. lo itu emang selalu 10 langkah di depan ya…, jawab Arga dengan hangat.
“Well, tell me everything then…”
Rhema ini rekan Arga sejak lama. Belasan tahun berteman dan bekerja di bidang yang sama, membuat Arga tahu betul betapa cerdas dan berdedikasinya Rhema dalam pekerjaannya ini. Apa pun yang ia selidiki, Rhema pasti mengetahuinya lebih dulu.
“Sekte ini bukan sekte sembarangan, Ga. Mereka menggaet orang-orang yang merasa kesepian dan kehilangan arah dalam hidupnya. Untuk melakukan reinkarnasi ke kehidupan berikutnya…,“ kali ini Rhema menjelaskan dengan serius.
“Dalam kepercayaan sekte ini, semakin banyak orang lain tergerak untuk ikut melakukan reinkarnasi, semakin besar juga ganjaran bagi mereka di kehidupan berikutnya.“ Arga menaikkan alisnya.
“Jadi, itu alasannya kenapa Raka mati di tengah keramaian? Dan ‘tumimbal lahir barengi’ itu semacam mantra ajakan mati secepatnya?”
“Yap, benarrr sekali. Tumben nih temen gue rada pinter.“ Rhema tertawa tipis.
Tapi sepersekian detik kemudian, ia melempar tanya.
“Eh, tapi Arga. Lo.. ga kepikiran buat gabung sekte itu kan?”
Arga menjawab dengan nada bercanda. “Entahlah, masuk pertimbangan gue kali, hahahaha.”
Tak lama setelah telpon ditutup. Arga menatap bayangan dirinya di depan kaca. Sosok yang selama ini dikenal sebagai dokter yang sukses dan bertalenta, dengan karir yang mulus. Hidup yang mungkin diimpikan banyak orang. Namun tak banyak yang tau, bahwa sudah lama sekali Arga ini hidup sebatang kara. Ibu Arga meninggal karena stroke, lalu Bapaknya menikah lagi. Arga kecil pun dicampakkan begitu saja, dititip di panti asuhan dan tak pernah dijenguk siapa-siapa hingga kini. Itulah mengapa dadanya sesak saat membaca cerita Raka. Karena sesungguhnya, nasib mereka ini memanglah tak jauh berbeda.
***
Esok harinya, di kantin Rumah Sakit. Arga sedang menyantap nasi rica-rica hangat kala Doni datang menghampirinya. Doni ini semacam lambe turahnya rumah sakit, si paling tahu segala gosip dan desas-desus yang ramai saat ini.
“Sssst.. Arga, ada hot news nih!“ ucap Doni semangat. Arga hanya mengangkat alisnya, ia tetap fokus dengan makanannya.
“Lu tau ga? Ternyata setahun belakangan ini Rhema tuh udah cerai sama suaminya jirrr! Dan yang lebih gilanya lagi, semua anak-anaknya Rhema tuh dibawa kabur sama suaminya!“
PRAKKKK..
Arga terhenyak, sampai sendok makannya pun terlepas dari pegangannya. Ia terkejut setengah mati. Bukan karena cerita Doni, tapi karena nampak di parkiran rumah sakit, Rhema sedang berdiri dengan senyuman aneh dan pisau besar di tangan kanannya. Tak lama kemudian, Rhema mulai bernyanyi.
“Meeeelu kula… Oh, melu kula.. Tumimbal Lahir, Barengi….“(*)
Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXXIII.
Tentang Cerpenis
FajarwalkerContent writer. Micro-travels. Turn short trips into lovable stories. Temui di 𝐠𝐦𝐚𝐢𝐥@𝐟𝐚𝐣𝐚𝐫𝐰𝐚𝐥𝐤𝐞𝐫.𝐜𝐨𝐦, 𝐰𝐰𝐰.𝐟𝐚𝐣𝐚𝐫𝐰𝐚𝐥𝐤𝐞𝐫.𝐜𝐨𝐦, IG: @fajarwalker
Testimoni Fajarwalker
Ini adalah kali pertama saya mengikuti lomba Cerpen dari Pulpen, sangat tertarik karena temanya menantang yakni mystery dan thriller. Jauh dari gaya biasa saya yang santai dan jenaka. Oleh karena itu, proses penyusunan latar serta plot cerita butuh waktu cukup lama. Saya sampai banyak membaca banyak hal seputar isu sekte dan terorisme, demi bisa menggambarkan cerita dengan logis dan adegan gore-nya mendetil. Melelahkan, tapi seru sekali.😁
Untuk penyelenggara, saya apresiasi karena setiap cerita dibahas dan diberi masukan yang membangun. Sehingga bisa dijadikan pembelajaran untuk karya berikutnya. Semoga setelah ini, akan ada tema-tema lain yang tak kalah seru dan menantang.😇

