Site icon cerpensastragrup

Roseanne (Cerpen Novitasari Setyawan)

Sumber ilustrasi: pxfuel.com.

Senja keemasan di dermaga. Raga yang tak lagi muda berjalan terhuyung mendekati kursi yang seluruh permukaannya nyaris tertutup karat. Tangan keriputnya memegangi sang istri yang mati, membawanya duduk menghadap gelombang tenang samudera. Pria itu membelai istrinya dengan cinta yang tetap sama selama puluhan warsa. Sekalipun istrinya bukan wanita dan bukan manusia.
***

Cinta adalah cinta, begitulah rasa yang terus berbunga dalam benak dan jiwa kelelakian Andreas. Saban hari menuju petang, ia akan bersanding dengan istrinya di tepi dermaga lalu pulang ketika langit membuta.

Andreas selalu memperkenalkan istrinya pada orang-orang yang singgah atau sekadar menyapanya hingga mereka semua berakhir takjub. Kini siapa pun yang kerap berlalu-lalang ketika senja tiba tentu mengerti jika kakek renta itu tengah bercinta dengan istri terkasihnya, sebuah syal merah yang memesona. Andreas menamainya Roseanne. Kehangatan dan kelembutan Roseanne terus menumbuhkan asmara yang tiada gugurnya. Hanya cinta dan cinta yang kian mekar begitu semerbaknya tanpa melayu.

Andreas lelaki setia yang tak akan meninggalkan Roseanne atau membiarkannya terjamah cinta dari orang lain. Pernah suatu ketika: angin kencang berhembus di kota, dengan lancangnya ia merenggut Roseanne yang melingkar anggun di leher suaminya. Angin mengajak Roseanne menari-nari di udara dan mencampakkannya pada sebuah ranting pohon oak yang tinggi. Di bawah, Andreas berteriak cemas sembari berusaha memanjat, “Istriku! Istriku, bertahanlah!”

Dua pemuda menarik Andreas untuk turun dan menawarkan bantuan, namun pria itu menepis—menolak mentah-mentah aksi mereka sebagai pahlawan.

“Jangan kurang ajar! Dia istriku. Hanya aku yang berhak menolongnya. Kalian berdosa jika menyentuh istriku!”

Sentimental Andreas memicu orang-orang di sekitarnya keheranan. Ia memaki siapa pun yang berusaha menolong lantas mengusirnya dengan kasar. Kemudian, seluruh manusia di sana akhirnya tak peduli lagi. Membiarkan lelaki tua yang bebal itu memanjat. Sesekali mencibir kesombongannya dan mengatainya gila karena syal merah itu sebagai belahan jiwa. Segelintir orang juga tak segan-segan mengutuknya agar terkena sial.

Sekalipun badannya bergetar, Andreas tetap berusaha menggapai dahan tertinggi pohon oak yang menyandera istrinya. Ia kesulitan bergerak namun tetap memaksa untuk naik sejengkal demi sejengkal hingga tubuhnya yang renta berhasil menjemput Roseanne. Dicumbu dan dipeluknya syal merah itu dengan kasih paling tulus yang ia miliki. Saking girangnya, Andreas lupa bahwa ia tengah bertengger di atas pohon. Ia tergelincir dan terjun menghantam tanah, mengakibatkan lengan kirinya patah.

Atas kejadian ini tanpa hilang sedikit pun cintanya, pria itu berkata, “Tak mengapa, hanya tanganku yang patah. Yang penting kudapatkan lagi dia. Jika sampai aku kehilangan Rose, maka hatiku yang patah dan aku bisa gila.”

Kesetiaan Andreas pada Roseanne tak habis pada hari itu saja. Suatu senja di dermaga, ketika udara begitu dingin menguliti dan salju turun perlahan, seorang tunawisma mendekatinya.

“Bolehkah aku meminjam syalmu? Kulihat kau tak memakainya,” ucap wanita yang sedikit lebih muda dari Andreas. Bibirnya nyaris membiru dan ia menggigil hebat.

“Aku kedinginan tanpa mantel ataupun pakaian hangat. Aku hanya memakai selapis baju yang bahkan belum kuganti berminggu-minggu.”

Andreas langsung meraih Roseanne sang syal merah dengan wajah tak senang. “Dia istriku, tak ada yang boleh mendapatkan kehangatan darinya selain aku.”

“Tapi karena kau kedinginan, kau boleh memakai ini saja.”

Andreas menanggalkan mantel yang ia kenakan dan menyodorkannya pada si tunawisma. Wanita berambut ikal itu menerimanya lantas pergi bersama ucapan terima kasih dan rasa syukur tiada henti. Doa-doa terus ia rapalkan untuk lelaki mulia yang baru saja menolongnya.

Senja kala itu dilewati Andreas dengan tegar di tepi dermaga. Cuaca dingin menampar-nampar tubuhnya yang ringkih tanpa pakaian hangat ataupun mantel. Hanya kemeja tipis dan usang melekat di badannya, tapi setidaknya ada Roseanne, syal merah yang tetap menghangatkan hatinya. Ia bisa saja pulang dan menghidupkan perapian, namun Andreas adalah pria yang setia. Ia tak ingin melewatkan satu pun hari tanpa senja di dermaga bersama Rosseane. Terkasihnya.

Andreas begitu mencintai Rosseane dalam bentuk syal merah selama puluhan warsa. Ia tak berpaling bahkan ketika banyak wanita berusaha menggoda atau benda-benda lain yang mahal dan berharga disodorkan padanya. Ia hanya mau Rosseane dalam wujud syal merah.

Sekali lagi Andreas adalah pria setia, tak hanya pada syal merah itu tetapi pada wanita yang merajutnya. Wanita yang kepadanya telah Andreas tumpahkan segala rasa cinta yang beraneka tanpa tersisa.

Wanita itu mati, namun wujudnya dalam bentuk syal merah menjadi penawar rindu paling mujarab bagi Andreas. Dan senja di dermaga adalah kenangan terakhir dalam ingatan mereka, sebelum Roseanne berlayar ke Rotterdam bersama rindu yang mengapung di dada keduanya.

Berhari-hari pria yang didera kerinduan itu menanti kabar wanitanya. Roseanne berjanji akan mengirim surat setibanya ia di Belanda. Sayangnya, kapal yang Roseanne naiki sama sekali tak pernah sampai pada tujuan. Harian New York memuat berita kapal tersebut karam dihantam badai dan tak satu pun selamat darinya. Seketika Andreas menempati puncak dukanya. Ia dikungkung kepedihan sekian purnama hingga sebuah syal merah dalam lemari ia temukan.

Syal merah yang dirajut dengan cinta oleh istrinya. Hangat dan sedikit menutup lukanya. Selanjutnya, Andreas menobatkan syal itu sebagai jiwa Rosseane yang wujudnya masih bisa memeluk dan memberi pria itu kebahagiaan.

Hari ini, senja keemasan di dermaga. Tepat lima puluh tahun kepergian Roseanne tercinta, Andreas masih terduduk di atas kursi berkarat dengan syal merah melingkar di lehernya.

“Rose, sayangku. Aku merasakan kehangatanmu.” Kedua susut bibir pria itu tertarik, menampilkan senyum paling bahagia dari sosok paling setia. Andreas menatap lekat matahari yang kini benar-benar telah tergelincir. Senyumnya mereda dan matanya mulai memejam. Tenang. Maka di kemudian hari, tak ada lagi lelaki yang duduk di tepi dermaga di kala senja dengan sebuah syal merahnya. (*)

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXV.

Tentang Cerpenis
Novitasari Setyawan
Senang menulis dan eksplorasi tentang seni. IG: @nnnov.ta

Testimoni Novitasari Setyawan

Alhamdulillah, yang paling utama, terima kasih kepada Allah SWT. Terima kasih kepada dewan juri dan panitia Sayembara Cerpen Pulpen XXV. Terima kasih tiada tara untuk seluruh manusia pilihan Tuhan yang senantiasa mendukung dan menjadi inspirasi saya dalam berkarya.

Cerita pendek berjudul ‘Roseanne’ adalah satu di antara begitu banyaknya ide yang bergentayangan dalam pikiran dan meronta-ronta ingin ditulis menjadi kisah yang romantis. Pada akhirnya, ide ini dipilih karena saya ingin menyajikan arti cinta sejati dan takhtanya yang tak akan sirna dari jiwa manusia setia.

Menjadi salah satu pemenang dalam Sayembara Cerpen Pulpen XXV tentu merupakan pengalaman yang sangat luar biasa. Saya akan terus berproses dan bertumbuh dengan menulis kisah-kisah berharga lainnya. Sekali lagi, terima kasih atas segala apresiasi yang telah diberikan.

Exit mobile version