Site icon cerpensastragrup

Pulang sebelum Kenyang (Cerpen Taufiq Agung Nugroho)

Sumber ilustrasi: Unsplash.

Seekor anjing tua menunggu di depan rumah kosong, hingga rasa lapar tak lagi soal perut—melainkan kenangan yang akhirnya membuatnya kenyang.
*** 
Dagingnya tak lagi merah. Sudah tua. Ditarik-tarik waktu sampai kendur. Ekor cuma dua helai. Kuping seperti daun singkong habis dijilat matahari.

Namanya Golo. Bukan pemberian siapa-siapa. Ia sendiri yang mengaku, dalam diam. Setiap pukul enam pagi, ia duduk. Depan rumah yang catnya copot seperti kulit ketombe. Nomor 17. Jalan yang sudah tiga kali ganti nama. Dulu Jalan Mangga. Lalu Jalan Juang. Sekarang Jalan Tokoh Daerah IV. Tapi Golo tak ikut berganti. Di bawah matahari, tubuhnya menguap pelan. Asap dari punggungnya membentuk wajah. Sekilas. Seperti wajah anak kecil. Lalu hilang.

Golo tidak mati. Pernah dilindas angkot. Kakinya patah, lalu lurus sendiri. Pernah dimandikan preman pakai air keras. Bulunya rontok, lalu tumbuh lagi, tapi salah arah. Ke dalam. Tak ada yang benar-benar menyayanginya. Tapi ia tak pernah pergi.

Karena rumah itu—nomor 17, jendelanya ditutup triplek, gentengnya ompong—satu-satunya tempat yang tahu namanya. Dan mungkin, masih ingat. Setiap malam, suara-suara dari dalam rumah menyelinap ke udara. Bukan hantu. Lebih seperti kenangan yang berdebu. Kadang suara anak kecil.

“Golo, jangan makan sendoknya!“

Kadang suara mangkuk jatuh. Kadang suara seperti daun kering disapu oleh orang mati dua kali. Golo mendengar. Tapi diam. Karena ia bukan manusia. Ia hanya seekor anjing. Dan anjing tidak menafsirkan. Hanya menunggu.

Tahun berganti. Warung Madura buka 24 jam. Jalanan penuh iklan rokok yang tak membuat orang bahagia. Di seberang, anak-anak nongkrong sambil bilang, “Mental health itu penting.” Tapi tak pernah menatap Golo. Mungkin karena Golo tidak punya filter IG. Atau karena tak ada yang suka menatap kematian yang tertunda. Sebab itulah Golo, tubuh yang belum mati, tapi lupa cara hidup.

Orang bilang rumah nomor 17 angker. Pernah ada proyek bangun kos. Tapi mandornya lumpuh. Katanya, “Saya mimpi dikencingi anjing yang bisa bicara bahasa bayi.“ Proyek bubar. Rumah tetap berdiri, malu-malu. Cuma Golo yang setia. Ia tak tahu apa itu angker. Yang ia tahu, dulu ada anak kecil yang memberinya semangkuk nasi. Panas. Dengan telur ceplok setengah matang. Itu satu-satunya rasa yang Golo ingat. Dan satu-satunya cinta yang tak pernah basi. Kalau malam dingin, Golo meringkuk. Tanah di bawahnya menggigil. Ia dengar cacing-cacing berdiskusi soal kematian.

Dan rumah itu … menghela napas. Kadang dari ventilasi. Kadang dari atap. Seolah menahan sesuatu. Malam ini, saat angin seperti bekas omelan ibu kota yang capek sendiri, Golo mendongak. Lalu terdengar suara itu.

“Golo…”

Lirih. Seperti dikirim dari perut rumah. Atau dari lubang waktu. Mata Golo tak berkedip. Bulu punggungnya berdiri, meski tak ada bulu tersisa.
“Golo … ayo pulang…”

Kali ini, suara itu jelas. Dan … hangat. Golo berdiri. Langkah pertamanya berat. Seperti kakinya tenggelam dalam kenangan yang dikeringkan matahari.

Ia menatap pintu. Pintu yang belum terbuka selama 79 tahun, 3 bulan, 16 hari. Sekarang … pintu itu membuka. Bukan terbuka. Tapi membuka. Seperlahan embun belajar jatuh. Seperlahan daun mencoba lupa. Golo berdiri, masih di ambang. Napasnya terhenti, dada tetap naik-turun. Seperti mesin tua menyala meski bahan bakarnya tinggal ingatan.

Udara dari dalam rumah keluar. Bukan bau busuk. Tapi seperti bau mimpi basi. Lembap. Hangat. Berisik. Suara sandal jepit di keramik. Suara sendok mengaduk teh. Suara anak kecil menyanyi lagu yang sudah tak diajarkan.

“Pelangi-pelangi, alangkah indahmu…”

Tapi suaranya salah nada. Seperti belajar dari burung gagak. Langkah Golo masuk. Lantai rumah bukan lantai. Tapi air. Air padat. Tidak basah. Langkahnya memercikkan gema. Yang menggema ke dalam dada.

Di dinding, tergantung pigura. Bukan foto. Tapi bayangan anak kecil. Umur enam tahun. Rambut duri landak. Senyum gingsul. Matanya menghadap Golo. Matanya bilang, “Aku ingat kamu.“ Langit di luar mendung. Tapi tak hujan. Langit di dalam rumah juga mendung. Yang diam, seperti sedang menahan sesuatu yang tak jadi turun.

Golo duduk di ruang tengah. Menjilat kakinya. Darah. Luka lama yang terbuka. Bukan karena ingin sembuh. Tapi ingin diingat. Dari dapur, aroma keluar. Nasi panas. Telur ceplok. Tapi tak ada kompor. Tak ada manusia. Hanya suara piring dikeluarkan dari rak.

“Golo, sini … makan.”
Suara itu bukan dari mulut. Tapi dari jendela. Jendela yang dipaku. Tapi suara itu tetap keluar. Golo mendekat. Di pojok, ada meja. Di atasnya, tumpukan kertas. Semua kosong. Tapi bau kenangan. Halaman keempat, ada jejak air mata. Halaman keenam, bekas tangan kecil. Masih lengket. Halaman kesepuluh, kosong. Tapi kosong yang berat. Seperti seseorang pernah menulis, lalu dihapus oleh waktu. Golo mengelilingi rumah.

Setiap kamar berisi sunyi yang keras kepala. Di kamar belakang, ia menemukan cermin. Dan di sana, untuk pertama kali sejak bisa ingat, ia melihat dirinya. Bukan anjing tua kurap. Di cermin, ia anak kecil.
Enam tahun. Rambut duri landak. Sama seperti di pigura. Anak itu menggonggong. Tapi bukan suara anjing. Suara anak kecil.

“Aku, Golo.”

Dan Golo—yang di dunia nyata masih menjilat luka—mengerti. Bahwa ia bukan anjing. Tapi sesuatu yang ditinggal. Yang menunggu terlalu lama. Hingga tubuhnya berubah jadi penunggu. Langit bergemuruh. Tapi bukan petir. Langit bicara.

“Apa kau sudah kenyang?” Golo menatap ke atas. Atap rumah hilang. Langit penuh, padat, nyaris tumpah.

“Apa kau sudah bisa pulang?” Tapi Golo tak menjawab. Ia duduk. Tubuhnya mengecil. Luka-lukanya menutup. Ia menggonggong. Tapi bukan gonggongan. Lebih seperti suara bayi menangis. Rumah bergetar pelan. Dinding merekah. Lantai mengelupas. Bukan runtuh. Tapi berubah. Menjadi tanah lapang. Dan di tengahnya, seorang anak kecil duduk, mengaduk nasi di mangkuk.

“Golo, sini. Sebelum dingin.“
Golo berjalan. Tapi kali ini tubuhnya ringan. Tidak tua. Tidak luka. Langkahnya tak berbekas. Dan saat sampai di depan anak itu, ia tidak menjilat, tidak melolong, tidak menggonggong. Ia hanya duduk. Seperti duduk pertama kali. Di dunia yang belum dibikin terburu-buru.

“Sini, makan.” Dan Golo tahu. Ia tak akan kenyang. Tapi ia akan pulang. Golo makan. Perlahan. Sendok demi sendok. Tapi tak ada sendok. Hanya tangan kecil menggumpalkan nasi, menyuapkannya ke mulut sendiri. Mata Golo menatap. Mata anak itu menunduk. Mata langit tertutup awan. Tak ada yang bicara. Tapi semuanya saling mengerti. Nasi tak punya rasa. Tapi punya suhu. Hangat. Hangat seperti dada ibu saat belum jadi kenangan.

Golo tak tahu sudah berapa lama duduk. Tapi setiap kali merasa kenyang, suara dari punggungnya berbisik, “Masih ada.” Dan memang, mangkuk tak pernah kosong. Seperti sedang makan dari waktu itu sendiri. Waktu yang tak habis meski tak diisi. Angin datang. Tapi tak menggoyang daun. Karena di sana, pohon tak ada. Hanya tanah. Hanya langit. Dan satu mangkuk nasi.

Bayangan Golo mulai berubah. Telinga mengecil. Bulu rontok seperti ingatan yang sadar diri. Gigi taring tanggal. Tapi bukan karena umur. Ia mengecil. Tapi bukan menjadi anak-anak. Melainkan menjadi sisa. Sisa dari sesuatu yang pernah dipeluk tapi tak pernah ditanya.

“Kau mau ikut, atau mau tinggal?”

Seseorang mengetuk angin. Tapi dari dalam. Dan suara itu berkata, “Kalau sudah kenyang, pulanglah.”

Golo berdiri. Tapi tak menginjak apa-apa. Tanah menghilang. Langit terbalik. Rumah berubah jadi lubang. Golo melompat masuk. Tapi tak jatuh. Melainkan mengambang. Seperti kenangan yang tak bisa tidur. Ia sampai di depan pagar. Bukan pagar rumah. Tapi pagar suara. Suara yang biasa dipakai orang-orang di ruang tunggu duka. Pelan. Sopan. Tapi tak bisa menyembunyikan.

“Kita semua pernah menyesal.”

Di balik pagar itu, ada perempuan. Duduk menghadap jalan. Tangannya menimang boneka. Tapi bonekanya hidup. Matanya mirip mata Golo. Dan boneka itu menangis. Tapi bukan tangis sedih. Lebih seperti tangis sadar, “Aku pernah ditinggal.”

Golo mengangguk. Perempuan itu mengangguk. Mereka tak menangis. Karena air mata tinggal untuk yang masih harus hidup. Langit mulai pecah. Bukan hujan. Tapi gerimis yang ragu-ragu. Seperti seseorang ingin pamit tapi takut dianggap drama.

Golo melangkah. Tapi kali ini bukan kembali. Bukan pulang. Ia berjalan ke tempat yang tak punya nama. Karena cinta sejati tak perlu alamat. Cukup tahu kapan harus berhenti menunggu. Dan kapan berhenti jadi hantu. Di ujung jalan, angin meniup satu kalimat:

“Sudah kenyang, boleh pulang.”

Dan untuk pertama kalinya—dalam hidup yang terlalu panjang. Golo mengangguk. Lalu hilang. Seperti bisikan di telinga anak-anak yang tertidur setelah lama menangis.(*)

Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXV.

Tentang Cerpenis
Taufiq Agung Nugroho
Mengelola dan aktif menulis di blog mbahcarik.id. Seorang bapak-bapak berkumis pada umumnya yang kebetulan berprofesi sebagai Asisten Peneliti lepas di beberapa lembaga penelitian. IG: @upik_nugroho.

Testimoni Taufiq Agung Nugroho

Pertama-tama, saya panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat-Nya yang luar biasa. Selanjutnya, saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada penyelenggara Sayembara Pulpen XXV yang telah memberikan kesempatan berharga bagi para Kompasianer untuk berkontribusi dalam ajang cerpen ini.

Jujur, saya tidak menyangka cerpen saya yang berjudul “Pulang Sebelum Kenyang” dapat terpilih sebagai pemenang. Awalnya, saya hanya mencoba peruntungan karena menyadari banyaknya Kompasianer lain yang memiliki kemampuan menulis cerpen yang sangat baik dan indah. Namun, sepertinya malaikat rahmat sedang berpihak pada karya saya kali ini.

Besar harapan saya, sayembara cerpen seperti ini dapat terus menjadi motivasi bagi kami para Kompasianer untuk terus meningkatkan kualitas tulisan di masa depan. Selain itu, semoga apresiasi yang diberikan—dalam bentuk apa pun—tidak menjadi “tujuan” dalam menulis. Bagi saya, menulis dengan hati tanpa terbebani oleh “tujuan” adalah cara terbaik untuk menghasilkan karya yang bermakna dan beresonansi dengan pembaca.

Exit mobile version