Site icon cerpensastragrup

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Sumber ilustrasi: Favor_of_God via Kompas.

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang dusun mendadak hilang akal karena seorang perempuan ke luar dari rumahnya.
***
Bukanlah perempuan lazim. Bukan pula perempuan ajaib yang keluar dari sebuah dongeng. Melainkan perempuan maling suami. Seminggu yang lalu, seorang perempuan melaporkan kepada kepala dusun bahwasanya suaminya enggan pulang. Anak-anaknya sampai kena demam, mencari bapaknya yang tertangkap basah saling menelanjangi diri bersama perempuan lain.

Bermodal bedak dan gincu perempuan maling nekat menampakkan wajahnya. Tak hanya mahir melorotkan celana suami orang. Ia juga lihai mendurhakai adat. Meninggalkan dusun demi menginjakkan kaki ke kota. Berpamit ia untuk kuliah. Berkhotbah hendak mengubah dusun yang dikatainya suram. Tetapi sekonyong-konyong ia pulang membawa petaka. Sejak saat itu, kuliah menjadi entitas sakral. Pamali dilisankan. Haram untuk ditunaikan.

“Hei, apa buku-buku itu mengajarimu cara memuaskan laki-laki?” ujar perjaka tua—setelah melempar sebutir kerikil agar nyangkut di belahan bokong perempuan maling yang dibiarkan terbuka. Tampaknya hal itu sedikit membasahi dahaga seksualnya.

Alangkah baiknya bila perempuan itu mati mendekam di kamarnya sendiri. Tetapi ia lebih memilih binasa di mulut manusia lain. Setiap tubuhnya bergerak mata-mata di depannya mendelik. Memelototi ujung rambut pirangnya. Hingga kuku kakinya yang merah. Sundal, ia dijuluki. Ranum lekuk tubuhnya memikat berahi. Jemari kaki para laki-laki basah oleh air liurnya sendiri. Sementara perempuan lain mulai mengoyak daging si maling dengan geram. Begitulah siklus kehidupan di dalam dusun. Tubuh perempuan-perempuan terkutuk mudah sekali tanggal. Sebab tak ada lagi adat yang sudi menopangnya. Pada akhirnya mereka harus menyerahkan tubuhnya kepada orang-orang dusun. Dengan kebesaran hatinya, mereka rela menodai mulutnya demi menghancurkan kewirangan yang kelak akan menjadi bala untuk dusun.

“Perempuan jika sudah mengenal dunia luar. Hilang moral dan aturan,” ujar Eyang Kakung dengan wajah tabahnya. Seakan sudah kenyang oleh pemandangan tragis di depannya.

“Tentu kau ndak begitu, Nduk. Kau akan menjadi harapan dusun ini. Perlu kau tahu, orang-orang yang tersesat dalam kehidupan. Bukan orang yang miskin ilmu. Justru karena mereka terlalu banyak belajar hal yang tak perlu.”
***
Di ujung lorong yang dihimpit dinding kayu, tubuh Eyang Kakung menghilang ditelan gelap. Begitu dengan aroma kemenyan dari asap kereteknya. Langkah kakinya pun perlahan surut menjadi sepi yang dingin. Aku buru-buru memasuki kamar. Pintu terkunci rapat. Lampu dipadamkan. Radio cantel kupaksa bungkam. Bersamaan dengan itu tanganku copot begitu saja. Tanpa memar, tanpa sakit ia tergeletak menindih lantai.

Jika ditarik ke belakang. Segalanya dimulai dari alas tempe goreng yang hinggap di atas meja makan. Karenanya dadaku terbelah. Kemudian hatiku melompat saat mataku terperangkap pada serangkaian huruf-huruf buram di atas kertas berminyak itu. Demi keselamatanku. Hendakku merobeknya. Meremas dan melemparkannya ke dalam tungku yang mengandung bara. Tetapi rupanya tubuhku punyai kehendak sendiri. Tanganku senantiasa memajankan lembaran-lembaran itu di depan mata. Bibirku tak henti-hentinya merapalkan kata. Kepalaku jadi pening. Tiada hari tanpa memeram rasa takut.

Sebab waktu akan menguak sejatiku. Laiknya pagi akan datang. Yang hidup akan mati. Suatu saat nanti akan diketahui bahwasanya diriku adalah perempuan terkutuk.
***
Malam ini, alunan gendhing memenuhi penjuru dusun. Ripuh langkahku memijak kaki lelaki cabul yang sibuk menyumpal duit recehnya ke dalam kemben para ledhek. Eyang Kakung berjalan di depanku. Bibir keringnya mengerut bisu. Di antara sekumpulan tamu, ia menarik kursi. Menuntunku duduk di sisinya.

Di bawah gagar mayang yang menjuntai, seorang malaikat memangku perempuan. Kali ini ia memakai setelan kemeja biru dan celana kain. Tak bersayap seperti kabar dari kitab. Bibirnya yang lentur dalam bertutur itu asyik mengunyah pisang. Sesekali menghisap cerutu. Asapnya membumbung sampai ke langit-langit balai. Meski begitu, orang-orang rela meninggalkan ibunya. Demi menyusu kata-kata dari bibir sucinya yang berbau tembakau.

Di atas cawan-cawan teh, namaku memantul dari bibir ke bibir. Dari satu meja ke meja yang lain. Tanpa senonoh disebutnya tubuhku lahan subur yang siap digarap oleh Malaikat. Aku berdecih. Orang-orang dusun gemar sekali membicarakan rok perempuan. Terutama liang basah di antara kakinya.

Brakkkkk!
Cangkir dibanting di atas meja. Pelakunya tak lain ialah tanganku sendiri. Beruntung gemuruh gong menyambar suaranya. Eyang Kakung bacut berdiri. Dituntunnya aku agar bersimpuh di kaki Malaikat. “Berlututlah untuk Malaikat, di sanalah surgamu!“

Aku bergeming. Tak sudi menatap wajah teruk itu. Namun, udara balai begitu pekat oleh asap keretek yang ke luar dari mulut Eyang Kakung. Beserta aroma kekuasaan dari perintahnya yang mutlak. Tubuhku mulai menggigil takut. Dari tempat duduknya, kusaksikan bibir malaikat ikut menderai tawa.

“Apa dia benar-benar malaikat, Eyang? Kenapa malaikat suka sekali mengawini perempuan di bumi?“ ujar bibirku makin kurang ajar. Buru-buru kusumpal ia dengan kue lapis di atas meja.

Mata Eyang Kakung meruncing. Tangannya yang dingin meremas bahuku kuat-kuat. “Malaikat akan membimbingmu agar terlindung dari kedurhakaan!”

“Cuih!” Bibirku meludah. Kue lapis ikut tercecer. “Alasan saja. Jika sama-sama mengejar berahi, apa bedanya dia dengan perempuan maling?”

Orang-orang di perjamuan tersentak kaget. Diriku pun sama kagetnya. Si malaikat hanya mesem kecut. Sementara Eyang Kakung ngungun di tempatnya berdiri. Pucat dengan cepat meluapi wajahnya.

“Kurang ajar!”

Nyaring tamparan hinggap di pipiku. Lantas hidungku mencolot. Nyemplung ke dalam cerek. Mondar-mandir ia di dalamnya—mengubah air teh menjadi merah kental. Tingkah polahnya memancing semua mata untuk memandangiku. Hingga diabaikannya keripik singkong dan lemper di atas meja. Eyang Kakung terbelalak. Tubuhnya bergetar tak karuan.

“Kepala dusun, ternyata selama ini memelihara perempuan terkutuk,” ujar seorang Mbok. “Kau menyembunyikannya karena dia cucumu?”

“Kepala dusun, mulutmu ternyata sama lajaknya dengan perempuan terkutuk!”

“Jangan-jangan kau menyembunyikan yang lain untuk kesenanganmu!”

Orang-orang di dalam perjamuan mulai merongrong. Membuat pria tua itu makin kalap. Matanya menggelap dirasuki amarah. Tanpa melepas pandang dariku, Eyang Kakung meraih belati.

“Andai ndak ketangkap basah. Kau bakalan diam saja, tho?“

“Ndak pantas jadi kepala dusun!”

“Tak sudi aku dusun ini dipimpin sama orang seperti ini!”

Wibawanya lingsir. Dengan wajah dipenuhi ludah orang-orang dusun Eyang Kakung berteriak dan bercakak. “Beraninya kalian mencelaku! Aku ini kepala dusun. Sampai mati pun aku tetap menjadi kepala dusun!”

“Dasar tak tahu malu!”

Langkah Eyang Kakung menjadi limbung. Belati di tangannya bergerak serampangan. Membacok udara. Membelah baki-baki. Lalu merobek perutnya sendiri. Bejat, orang-orang dusun tak acuh. Mereka justru menerjangku. Aku pun berlari. Tetapi, seorang pria datang menyusul. Hidungnya yang besar mengembang dan mengempis. Mengendus seperti anjing menemukan tulang. Cahaya senter miliknya yang bergerak acak kini menelusuri tubuhku.

“Berani-beraninya kau menghina Malaikat! Perempuan terkutuk mati saja di mulutku!”

Pada langkah kesekian, pria itu menarik bajuku. Dua kancing terlepas. Dari mulutnya yang terbuka. Muncul siung-siung runcing yang berkilauan diterpa cahaya purnama. Kakiku terpancang tak bergerak. Nyaliku menciut disungkup hasratnya. Tanganku dipokel. Dilumatnya tanpa ampun. Aku menjerit-jerit. Air mataku tumpah meruah.

“Terlambat jika kau menyesal!” Ia tertawa pongah. “Malaikat sudah tak sudi denganmu!” 

Sebut saja diriku hilang akal. Membayangkan wajah malaikat gadungan itu justru membuat tubuhku diluapi nyeri tak bergentas. Pedih yang kurasakan memberanguskan diri karena jijik disandingkan dengannya. Detik yang tersisa pun terasa lebih baik dari seluruh waktu yang kuhabiskan bersama orang-orang dusun. Maka kuserahkan seluruh tubuhku. Ia sempat terperangah sesaat. Hasrat kebinatangan dari sepasang matanya kian keruh.

“Ubun-ubun. Aku mau ubun-ubun!”

Ia merayah kepalaku. Diganyangnya dengan rakus. Di sela-sela mengunyah ia kembali tertawa. Sesekali merintih aneh. Mirip suara kuda. Namun tiba-tiba kepalaku jatuh menggelinding di atas tanah. Disusul oleh tubuhnya yang menggelepar seperti ikan lepas dari air.

“Wanita sialan! Otakmu rasanya menjijikkan!”

Dalam waktu yang singkat itu. Jasadnya membatu. Matanya melotot nyaris keluar dari liangnya. Pastinya ia tak sanggup menelan kepalaku yang telah diracuni aksara.

Tawa pongahnya pindah menghiasi bibirku. Lalu kuambil kembali kepalaku. Kutiup debu yang menempel. Kupasang jepitnya yang melorot.

Di bawah langit dusun suaraku memantul-mantul. Bertarung dengan laras gamelan. Meski telah kuhidangkan seluruh dagingku, orang-orang dusun enggan datang. Mereka justru bersembunyi di balik pintu rumahnya. Sebagian memilih membunuhi dirinya sendiri setiap melihatku. Aku pun melangkah pergi. Membawa tubuhku yang penuh luka dan darah ini meninggalkan dusun.(*)

Cerpen merupakan Juara I Pesta Pena 2026.

Tentang Cerpenis
Yuli Inersia
IG: @yuli_inersia

Testimoni Yuli Inersia

Cerpen “Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya” begitu berkesan bagi saya, terutama dalam proses penulisan. Bagaimanapun cerita ini lahir pada fase terberat dalam hidup saya. Ide cerita merupakan refleksi pengalaman pribadi dan realita sosial tempat di mana saya tumbuh. Kami terbentuk sebagai manusia homogen yang terjebak pada kemiskinan struktural. Menjadikan pendidikan sebagai salah satu entitas yang diwaspadai–karena dianggap membawa perubahan pada dinamika politik, sosial serta budaya yang kelak akan mengganggu keselarasan yang telah lama dibentuk.

Terpilihnya cerpen ini sebagai juara I Pesta Pena 2026, mengembalikan kepercayaan diri saya setelah bertahun-tahun berhenti menulis. Saya mengucapkan terima kasih yang sangat kepada Pulpen, Kompasiana, serta para juri. Terima kasih juga untuk teman-teman yang berkenan membaca dan mengapresiasi.

Cerpen ini memang bernuansa gelap, vulgar, dan frontal. Begitu cara saya menyampaikan keresahan, emosi, dan luka. Di sisi lain, faktor tersebut terkadang justru menjadi kendala mengapa cerpen ini tak kunjung menemukan versi terbaiknya serta rumah yang ia tuju. Jadi kembali saya ucapkan, terima kasih kepada Pulpen yang bersedia menjadi rumah bagi cerpen “Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya”. Semoga ke depannya, Pulpen menjadi rumah-rumah bagi karya yang lain.

Exit mobile version