Anda membunuh Hendra Kusuma ketika pertanyaan-pertanyaan itu meluap dan melampaui batas yang bisa Anda tahan.
***
Anda membunuhnya bukan karena benci, bukan karena marah, dan bukan pula karena perasaan yang bisa diberi nama dengan mudah. Semuanya bermula dari banyaknya pertanyaan yang telah bertahun-tahun Anda simpan sendirian tanpa pernah menemukan jawabannya, pertanyaan yang terdengar sederhana tetapi terasa mematikan setiap kali melintas di kepala. Hingga pada malam itu, sebelum Anda sempat memahami apa yang bergolak di dada, sebelum sempat memikirkan akibatnya, tangan Anda telah lebih dulu bergerak dan melahirkan sebuah tragedi yang tidak pernah Anda rencanakan.
Saya ingin menelusuri pertanyaan-pertanyaan itu bersama Anda, dari awal, dari sebelum semuanya berubah menjadi seperti sekarang. Anda perlu memahami bahwa apa yang terjadi pada malam Rabu di lantai dua perpustakaan daerah itu bukan kegilaan mendadak, bukan sekadar impuls, dan bukan kecelakaan yang bisa diceritakan ulang dengan versi yang lebih nyaman.
Itu adalah ujung dari garis panjang yang telah Anda tarik selama bertahun-tahun, sedikit demi sedikit, tanpa benar-benar sadar ke mana arahnya.
Pertanyaan pertama muncul ketika Anda masih cukup muda untuk percaya bahwa setiap pertanyaan besar pasti memiliki jawaban yang setara besarnya. Anda bertanya apakah keberadaan saya memiliki makna yang tidak perlu dibuktikan kepada siapa pun? Bukan dengan nada dramatis dan bukan dengan air mata, melainkan dengan rasa ingin tahu yang jujur, sambil menatap langit-langit kamar di malam yang terlalu sunyi.
Anda mengira jawabannya akan datang seiring waktu, seiring pengalaman, dan seiring Anda bertambah usia. Anda juga mengira orang-orang dewasa yang tampak tenang itu telah menemukannya, dan Anda hanya perlu menunggu giliran sampai berada di posisi yang sama. Namun, jawaban itu tak pernah datang. Bukan karena tersembunyi di tempat yang belum Anda jangkau, melainkan karena semesta memang tidak pernah menjawab siapa pun, tidak untuk Anda, tidak untuk siapa saja, dan Anda menyadarinya jauh lebih lambat daripada yang seharusnya.
Waktu terus berjalan, dan pertanyaan-pertanyaan lain berdatangan mengikuti hari-hari yang berlalu. Bukan satu, bukan pula sesekali, melainkan terus-menerus silih berganti, seolah setiap jawaban yang gagal Anda temukan hanya membuka ruang yang lebih luas bagi pertanyaan berikutnya untuk menetap.
Pertanyaan demi pertanyaan datang perlahan, satu per satu, menumpuk di ruang yang tak terlihat. Karena kedatangannya begitu halus, Anda tidak menyadari berapa banyak yang telah terkumpul, sampai suatu pagi Anda bangun dan menyadari bahwa kepala Anda telah penuh. Tak ada lagi ruang bagi hal-hal lain, tak ada ruang untuk harapan kecil yang dulu masih bisa Anda genggam, tak ada ruang untuk percaya bahwa hari ini mungkin akan berbeda dari kemarin.
Pikiran Anda pun dipenuhi pertanyaan-pertanyaan itu, dan Anda berusaha menjawabnya. Tentu saja Anda mencoba. Anda membaca buku-buku yang menjanjikan ketenangan, berbicara dengan orang-orang yang dipercaya, tetapi kata-kata selalu terasa tidak tepat di ujung lidah sehingga yang keluar bukan kalimat yang sebenarnya ingin Anda ucapkan.
Anda mengisi setiap celah waktu dengan rutinitas dan kesibukan agar tak ada ruang bagi pertanyaan-pertanyaan itu berbicara. Anda bahkan mencoba percaya pada hal-hal yang katanya berhasil bagi orang lain, bersyukur, bergerak, berhenti berpikir. Semuanya sudah Anda tempuh, tetapi tak satu pun yang bertahan lama. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menemukan jalannya dan kembali mengisi kepala Anda.
Di tengah kepenuhan yang tak kunjung surut itulah, Anda mulai mengenal Hendra Kusuma.
Ia tak melakukan sesuatu yang istimewa, dan justru itu yang terasa ganjil. Ia hanya duduk di sudut perpustakaan setiap Rabu sore, membaca dengan cara yang membuat Anda tak mampu berhenti memerhatikannya. Bukan karena cara membacanya luar biasa, melainkan karena cara ia duduk seolah tak sedang berperang dengan apa pun, seolah ia tak pernah bertanya apakah hidupnya bermakna. Punggungnya tidak tegang. Ia hanya ada di sana dengan bukunya, tampak cukup tanpa perlu alasan mengapa dan bagaimana.
Anda mengamatinya dari kejauhan, hingga suatu sore ia menoleh dan berkata pelan, “Perpustakaannya nyaman, ya.“
Anda tidak menjawab. Namun pertanyaan-pertanyaan di kepala Anda mendadak muncul kembali, lebih keras dan lebih menyakitkan, membawa semua pertanyaan yang selama ini Anda simpan rapat. Pertanyaan itu berbunyi: apakah hidup ini memang tidak pernah cukup, atau hanya hidup saya yang seperti ini? Untuk meredamnya, Anda berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, pekerja yang lebih keras, dan teman yang lebih hadir. Anda bahkan mencoba tidak banyak menginginkan dan mensyukuri hal-hal kecil seperti yang selalu dianjurkan. Tetapi tidak ada yang berubah. Pertanyaan Anda tetap ada di kepala, Hendra Kusuma tetap tampak seperti seseorang yang tak memikul beban serupa, dan jarak di antara kalian berdua terasa seperti lebar yang tidak bisa diukur jumlahnya.
Rabu demi Rabu berlalu. Anda selalu duduk di sisi yang berhadapan dengan Hendra Kusuma, mengamati dari balik halaman buku yang tak sungguh-sungguh dibaca. Mendadak. Sesuatu dalam diri Anda membengkak.
Bukan benci dan bukan pula iri yang mudah diberi nama, melainkan sesuatu yang lebih dalam, semacam luka-luka yang menganga setiap kali melihat seseorang yang tampak hidup tanpa beban yang sama. Dan malam Rabu itu menjadi puncaknya. Perpustakaan telah lama lengang, langkah terakhir pengunjung telah lama menghilang, dan hanya Hendra yang masih duduk di kursinya, setenang biasa, dengan buku di tangan dan lampu kuning menyinari wajahnya.
Anda berdiri di belakangnya lebih lama dari yang seharusnya. Tangan Anda dingin, bukan karena perasaan takut, melainkan karena pertanyaan itu datang kembali, lebih keras, dan mendesak dari dalam seperti sesuatu yang terlalu lama ditahan.
Anda tidak berencana. Tubuh Anda bergerak sebelum pikiran sempat mencegah, kedua tangan Anda melingkar ke lehernya, dan Hendra Kusuma tidak sempat bersuara.
Anda membunuhnya dengan tangan kosong. Anda mencekiknya. Anda bahkan tidak merasakan takut. Yang Anda rasakan hanyalah pertanyaan yang berubah menjadi tindakan: kalau saya tidak bisa menemukan jawabannya, mungkin saya bisa menghapus pembandingnya.
Itu logika yang patah. Kini Anda menyadarinya, empat hari sesudahnya, di kamar yang sama dengan keheningan yang serupa namun jauh lebih berat. Pertanyaan-pertanyaan itu tetap ada, utuh, dan tak berkurang. Hanya saja kini muncul satu pertanyaan baru yang datang tiba-tiba, lebih menekan, dan tak mampu Anda jawab: apa yang telah saya lakukan, dan mengapa saya tetap tidak menemukan jawaban yang saya cari?
Dalam pertanyaan baru itulah Anda mulai memahami bahwa apa yang Anda kejar barangkali memang tak pernah ada. Bukan dalam ketenangan Hendra Kusuma, dan bukan pula dalam tindakan-tindakan gila. Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu bukan pintu menuju jawaban, melainkan cermin yang memantulkan wajah seseorang yang harus memilih bagaimana ia hidup, meski tak ada jaminan bahwa hidupnya akan bermakna.
Di luar, malam telah larut. Kota masih bergerak dengan lampu-lampu di gedung yang menyala dan padam bergantian, menandai kehidupan orang-orang yang tak pernah tahu bahwa ada seseorang yang sedang memandangi kedua tangannya yang berdosa, tangan yang baru saja melakukan pembunuhan yang tidak berencana.
Di suatu tempat, keluarga Hendra Kusuma masih mencari jawaban atas misteri kematiannya. Pertanyaan yang Anda ciptakan untuk mereka, pertanyaan yang tak akan pernah terjawab dengan memuaskan. Pertanyaan itu kini menjadi milik mereka selamanya karena pilihan yang Anda buat pada malam Rabu itu.
Anda ingin mengaku, ingin meminta maaf, dan menyerahkan segalanya. Namun Anda takut, bukan hanya takut pada penjara, melainkan pada dampaknya bagi keluarga Anda. Mereka yang tak bersalah akan menanggung malu. Masyarakat akan mencap Anda kriminal, dan pertanyaan-pertanyaan itu akan diarahkan kepada orang-orang yang Anda cintai. Maka Anda memilih diam, karena di penjara pun Anda tetap terbunuh, bukan oleh sesama narapidana, melainkan oleh pertanyaan-pertanyaan baru yang jauh lebih mematikan.
Di hening malam itu, sesuatu mulai tersibak di dalam diri Anda, menuntun mata dan pikiran Anda pada satu kenyataan yang tak bisa dihindari. Benar. Saya adalah Anda.
Saya adalah bagian dalam diri Anda yang sejak awal berusaha menyampaikan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah keliru. Mempertanyakan makna hidup bukanlah sebuah kesalahan, bahkan ketika semesta tidak menyediakan satu pun jawaban. Yang keliru ialah jalan yang Anda pilih ketika beban itu terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Sekali lagi, saya ingin mengaku bahwa saya adalah Anda. Saya adalah sisi Anda yang menyusun kata-kata dan kalimat, saya adalah Anda yang menciptakan jarak antara “saya” yang menulis ini dan “Anda” yang melakukan, dan saya pula yang dengan sengaja membuat jarak itu supaya Anda bisa menuliskan cerita ini hingga benar-benar selesai.(*)
Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXXII.
Tentang Cerpenis
Ael
Aktif menulis dan bergabung dalam komunitas kepenulisan sejak 2020. Cerpennya ‘Di Mana Lagi Manusia Akan Dikuburkan?’ memenangkan Sayembara Cerpen Minggu, 9 Maret 2025, dan ‘Matematika di Mataku’ memenangkan Sayembara Cerpen Minggu, 3 Agustus 2025. IG: @bongsiiik
Testimoni Ael
Untuk cerita saya yang berjudul “Pembunuhan Tidak Berencana” ini, rasanya saya tidak perlu terlalu banyak menjelaskan apa-apa yang ada di dalamnya. Saya justru lebih senang jika pembaca menemukannya sendiri, dengan cara dan perasaan masing-masing. Mungkin setelah membacanya akan ada pertanyaan-pertanyaan yang tertinggal, pesan, atau kesan tertentu yang ikut terbawa. Bagi saya, ruang seperti itulah yang ingin saya hadirkan melalui cerita ini.
Melalui sayembara ini pula saya merasa mendapat kesempatan untuk membagikan cerita tersebut kepada lebih banyak pembaca. Karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kak Y. Edward Horas S., seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Sayembara Cerpen Pulpen XXXII, serta para pembaca yang telah meluangkan waktu membaca karya ini. Apresiasi seperti ini tentu menjadi penyemangat bagi saya untuk terus belajar dan menulis.
Dan di akhir, saya juga ingin berterima kasih kepada diri saya sendiri karena sudah sampai di titik ini. Selama ini saya sering membaca para penulis berterima kasih kepada banyak orang yang berjasa dalam perjalanan mereka, dan itu memang penting. Namun saya juga merasa bahwa diri sendiri pun layak diberi ucapan terima kasih, karena sudah mau berproses, bertahan, dan terus mencoba hingga akhirnya bisa sampai di titik ini.

