Site icon cerpensastragrup

Makan Pelangi (Cerpen Tia Sulaksono)

Sumber ilustrasi: design Canva.

“Tapi ini gak enak, Ma,” tolak Lula ketika sang mama hendak menuangkan tumis kangkung ke dalam piringnya yang hanya berisi nasi dan sosis.
***

“Coba dicicip sedikit.” Mama Lula tak ingin menyerah.

Awalnya, Lula mengambil kuah saja kemudian sang mama menambahkan sayurannya. Dengan berat hati, Lula mengunyah sedikit kangkung yang seharusnya tampak lezat itu.

“Sawinya pahit,” sungut Lula di lain waktu ketika mamanya mencampurkan potongan sawi ke dalam mi goreng instan kesukaannya.

“Sawi hijau, buncis, brokoli, bayam, kangkung, anggur hijau, dan segala jenis sayur serta buah berwarna hijau itu adalah perisai tubuh dan penguat otak. Lula tetap harus makan sayuran ini agar sehat dan cerdas,” terang mama.

“Lula tidak suka kol, Ma. Warnanya pucat dan rasanya hambar,” keluhnya lagi di lain hari.

“Kubis atau kol itu juga bagus buat tubuh Lula. Makanan berwarna putih seperti kol, duku, sirsak, bermanfaat untuk tulang dan gigi. Coba lihat gigimu banyak yang belum ganti, kan.”

“Mengapa harus ganti, Ma? Gigi Lula tidak bermasalah.“

“Gigi ini dinamakan gigi susu yang akan tanggal atau lepas satu per satu saat seusiamu,” jelas mamanya sambil menunjuk gigi Lula. “Seharusnya sudah banyak yang berganti dengan gigi permanen. Namun, karena kamu tidak mau makanan sehat, gigi permanen milik Lula belum banyak yang tumbuh.“

Lula hanya bisa diam sambil mengunyah pelan sayur kol dalam sup buatan mama. Sesekali matanya melirik gerak-gerik sang mama. Sepertinya Lula akan melakukan sesuatu. Kira-kira apakah itu?

Suara kaki mamanya Lula terdengar menjauh dari ruang makan menuju dapur. Lula bangkit dengan membawa piring makan yang masih penuh dengan nasi dan sayur sup. Ia berjalan ke arah pintu samping sambil berjingkat. Irisan kol, buncis, dan wortel dalam piringnya, sukses berpindah tempat ke atas pot bunga tapak dara. Kelopak tapak dara yang berwarna merah muda itu kini terkena jejak kuah dan potongan sayuran. Di permukaan tanahnya, bercampur dengan rontokkan daun layu, tergeletak lebih banyak lagi irisan wortel, kol, dan buncis. Tak seberapa lama, semut-semut merah pun berkerumun. Lula tersenyum senang dan segera kembali ke meja makan sebelum mamanya mencari.

Begitulah Lula, setiap diberi sayuran, selalu dibuangnya diam-diam. Setiap hari ia hanya ingin makan nasi dengan lauk sosis atau nuget. Jarang sekali makan makanan sehat seperti pepes ikan, ikan goreng, sup ayam, atau sayuran masakan mama lainnya. Bahkan buah pun Lula tak suka.

Kulit Lula tampak kering, pucat, dan rambutnya tipis. Badannya selalu lemas ketika ada pelajaran lari atau senam pagi. Tak jarang pula, Lula kesulitan berpikir saat menjawab pertanyaan dari guru.

Lula merasa iri dengan Mila yang memiliki kulit halus dan bersih. Mila murid baru di sekolahnya yang sejak kelas tiga, sudah menarik perhatiannya. Mila yang berambut hitam lebat, kulit bersih halus, dan pandai bermain lompat tali. Mila juga pandai dalam mata pelajaran. Dia bersaing dengan Tomo dan Arsi untuk menjadi juara kelas. Tahun lalu, ketika kelas empat, Mila berhasil meraih ranking satu. Sedangkan Lula, meski tidak berada dalam barisan murid di ranking bawah, tetapi dia juga tidak berada di barisan dua puluh besar. Sejujurnya, Lula sangat iri pada Mila.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, Lula sering mencoret-coret buku Mila. Beberapa kali pula, ia sembunyikan buku pelajaran Mila hingga Mila sering menangis akibat kehilangan buku atau alat tulisnya.
***
Siang ini, matahari bersinar sangat terik. Seragam olah raga Lula sangat basah. Tanpa menggantinya dengan baju merah putih terlebih dulu, ia berlari menuju gerbang sekolah segera setelah bel istirahat berbunyi. Ia tak sabar untuk membeli es sirup warna-warni.

Ah, lehernya naik turun membayangkan segar dan manisnya es sirup yang biasa dijuluki dengan es cekek oleh teman-temannya — es dalam kemasan plastik dan dibawa dengan menggenggam ujung atasnya seolah mencekik.

Lula menikmati es cekek itu di bawah pohon angsana. Tak lupa ia juga mengudap sosis bakar pedas. Sementara di saku celananya, sudah tersedia permen yang siap ia makan kapan saja. Tentu saja, semua perbuatan itu tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya terutama mamanya. Sang mama selalu berpesan agar Lula tidak jajan sembarangan.

Seperti biasa, Lula tak pernah memedulikan pesan mamanya. Selain jajan di sekolah, ia diam-diam suka menyembunyikan coklat atau permen di tasnya, kadang pula di bawah bantal tidurnya. Coklat dan permen itu dikudapnya sambil tiduran di atas kasur. Tangan kiri memegang coklat, tangan kanannya sibuk memainkan permainan daring di gawai pintarnya. Jika mama atau papanya masuk ke kamar, dengan cepat Lula menyembuyikan coklat dan gawai di bawah bantal. Lalu ia pura-pura tidur atau belajar.

Saat tengah malam, Lula merasakan perutnya sangat melilit. Dengan setengah mengantuk, ia pergi ke toilet. Namun, ketika hendak merebahkan kembali tubuhnya, kaki, tangan, punggung, serta beberapa area tubuhnya terasa gatal. Lula terbelalak. Tampak semut-semut kecil berjalan di atas kasur, di kulit tangannya, bahkan ada yang sampai wajah.

Seluruh badannya terasa gatal dan bentol. Sementara perutnya semakin melilit tak tertahankan. Lula berusaha berteriak. Suaranya sedikit parau. Akhirnya ia mengambil gawainya lalu menelepon mamanya yang berada di kamar sebelah. Lula tak bisa berkata apa pun. Ia hanya menangis.

Malam itu mama menggosok seluruh badannya dengan minyak kayu putih. Selain untuk mengurangi rasa gatal, juga untuk meringankan sakit perutnya. Sprei kotor terkena noda coklat juga diangkat dan diganti baru. Mama sangat terkejut saat mendapati Lula menyimpan sisa coklat di bawah bantal. Tentu saja mama Lula marah dan tak lupa menasihati Lula panjang lebar.

“La, kenapa sakit perut? Apa Lula terlalu banyak makan coklat?”

“Lula hanya makan sedikit, Ma. Ini sisanya masih banyak.”

“Lalu untuk apa disimpan di bawah bantal? Agar mama dan papa tidak tahu?”

Kembali Lula menangis. Akhirnya Lula mengakui semua bahwa selama ini dia sering jajan es berwarna yang sumber airnya tidak diketahui dengan jelas, yang mungkin saja berpewarna tambahan dan terdapat bahan pengawet tinggi seperti yang sering mama Lula ceritakan. Lula menyesal karena ia abai dengan petuah mamanya.
***
Setelah dua hari sakit perut dan demam, Lula kini mulai ceria lagi. Ia sudah duduk di meja makan untuk sarapan dengan menu capcay sim salabim ala bibi Tini, yang penuh sayuran berwarna-warni seperti pelangi.

“Neng, bibi mau sulap memasukkan pelangi dalam mangkok. Sim salabim!” kata bibi sembari memutar sendok sayur panjang, menirukan gerakan sulap.

Lula juga berpikir nanti jika sudah masuk sekolah, ia akan meminta maaf pada Mila. Ia tak ingin berbuat jahat sebenarnya, ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya.(*)

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXVII.

Tentang Cerpenis
Tia Sulaksono

Buku solo: Petualangan Warna-Warni (kumpulan cerpen anak), Belajar Menjadi Orang Mati (novelet), JERAT KELAM (antologi cerpen horor), dan 17 buku antologi puisi dan cerpen. Cerpen ‘Tledhek Desa Kedungmati’ juara 1 sayembara pulpen Kompasiana XVII. Cerpen ‘Oetari’ juara 1 lomba cerpen Arkaiscreative Publishing. Cerpen ‘6174’ dan ‘Boneka’ juara harapan 2 Geladerikata. ‘Multikultur Budaya Leluhur’ juara 2 lomba menulis bersama Golagong. Cerpen ‘Dunia Belum Kiamat’ juara harapan 2 lomba Epilog Geladerikata. Buku kumcer Jerat Kelam meraih juara 2 Arkaiscreative. Penulis terfavorit versi Ellunar Publisher tahun 2022 dan 2023. Perempuan biasa dari bahan organik tanpa pemanis buatan. Introvert yang hanya ingin dikenal melalui karyanya. Betina misterius dan keras kepala. Jangan panggil bu, karena bukan buibu. Antimainstream yang muak dengan hal template. IG: @tia_sulaksono

Testimoni Tia Sulaksono

Sejujurnya, menulis cerpen anak ini gampang-gampang susah. Gampang karena alur dan bahasanya sederhana. Susahnya, karena sederhana itu, saya harus sangat berhati-hati agar bahasanya mampu dipahami anak-anak dengan menggunakan sudut pandang serta diksi anak-anak.

Cerpen anak terutama dongeng, sebenarnya adalah satu bagian dari hidup. Dulu saat kecil, saya dijejali dengan buku dongeng dari berbagai negeri. Buku itu saya tumpuk di bawah bantal, saya baca hingga ketiduran dan membawa seluruh isi buku ke alam mimpi. Dalam mimpi saya sering menjadi kupu-kupu. Dari situ imajinasi terbentuk secara solid sampai sekarang. Sehingga saat membuat cernak, saya selalu membayangkan saat-saat dimana saya duduk di atas kasur ditemani puluhan buku dongeng dan selimut hangat sembari melihat rintik hujan dari jendela.

Beruntung juga saya diseret Uti Ninik Sirtufi Rahayu masuk Pulpen (terima kasih, Uti), sehingga saya banyak belajar terutama dari hasil karya juri, Kak Jora (terima kasih juga, Kak Jora).

Exit mobile version