Site icon cerpensastragrup

Mak Comblang Itu Bernama Buah Hutan Kalimantan (Cerpen Kaekaha)

Sumber Ilustrasi: Sebagian Durian Khas Hutan Kalimantan | Hanif Wicaksono.

Nama lengkapnya Purwanto, tapi semua orang di Unit Layanan Kesehatan Pembantu (Pustu) di pedalaman Balangan, Kalimantan Selatan itu memanggilnya Mas Pur! Terdengar akrab, sederhana, dan njawani.
***

Baru dua minggu Mas Pur bertugas. Dari Mlirip, kampung halamannya di pinggiran Kabupaten Sidoarjo, ia yang terbiasa melihat sawah, padi menguning, dan suara kereta api lewat, kini ditemani kepakan sayap burung enggang, jalan tanah yang licin setiap habis hujan dan harum khas rimba Kalimantan yang misterius. Tapi bagi Mas Pur, tidak ada yang lebih aneh dan misterius selain serakan buah-buahan asing di tengah jalan, setiap kali melintasi kampung-kampung di bibir hutan itu, terutama di pagi hari. Semua buah itu tergeletak begitu saja tidak ada yang menyentuh, apalagi memungutnya!

Ada yang bulat dengan kulit berwarna ungu pekat, ada juga yang lonjong beraroma harum seperti parfum mahal di mal Sidoarjo, terus ada yang seperti labu mini dan yang paling membuat terpesona adalah beragam buah mirip durian tapi daging buahnya warna-warni dengan aroma yang tak kalah harum.

“Di Jawa, ini buah mahal!” Gumamnya sambil menyingkirkan beberapa buah agar tidak terlindas motor trail dinasnya, selain agar tidak terpeleset, siapa tahu ada orang atau binatang yang nanti mau memakannya, biar nggak mubazir!

Pagi itu, Mas Pur menuju Pimping Hulu, kampung tradisional berjarak sekitar 5 kilometer dari tempat kerja sekaligus tempat tinggalnya itu. Pasalnya, menjelang Maghrib semalam ada utusan pangulu yang melapor, putri sidin kabarnya sudah beberapa hari demam tinggi.

Buah Kasturi Hutan
(Mangifera casturi) | @kaekaha!.

Tiba di rumah panggung, Mas Pur melihat gadis muda duduk berselimut sarung, wajahnya pucat, rambut hitam panjang tergerai. Ayah gadis itu, Pangulu Rudin menyambut Mas Pur dengan ramah.

“Ini anak saya, Aina,” kata si bapak yang sebelumnya memperkenalkan diri dengan ramah, sambil menyalami Mas Pur dengan penuh kehangatan.

Mas Pur segera memeriksa suhu tubuh, mendengar keluhan, lalu memberi obat dan instruksi perawatan kepada si gadis yang sesekali menatapnya dengan sendu tapi tetap berusaha untuk tersenyum semanis mungkin.

“Terima kasih, Pak Dokter,” ujarnya lirih.

“Saya bukan dokter, Mas Pur saja!” jawabnya salah tingkah mendapati tatapan gadis bermata jeli itu. Pertemuan pertama itu singkat, tapi tatapan Aina menetap lama di benak Mas Pur, lebih lama malah dari aroma hutan hujan Kalimantan yang menempel di jaket parasutnya.
***
Bersyukur, kesehatan Aina segera membaik dan gegara pertanyaan Mas Pur kepada Abah Rudin tentang buah-buahan di jalanan itu, sebagai ucapan terima kasih, Abah Rudin meminta Rimba adik Aina memandu Mas Pur keliling kampung untuk melihat buah-buahan hutan kampung Pimping Hulu.

Buah Kalangkala
(Litsea garciae)|@kaekaha!.

“Ini namanya lahung,” kata Rimba sambil menunjuk buah mirip durian tapi berkulit merah menyala.

“Kalau ini pampakin, durian oranye yang wangi sekali. Nah, kalau itu yang seperti mangga tapi kecil-kecil, namanya kasturi.” Jelas Rimba lagi.

“Kenapa dibiarkan berserakan? Kenapa tidak dimanfaatkan?” tanya Mas Pur.

“Buahnya terlalu banyak, Mas. Kami terbiasa hanya mengambil seperlunya saja untuk dimakan. Mau dijual ke kota terlalu jauh dan ongkosnya mahal! Jadi ya dibiarkan saja, menjadi rejeki babi, tupai dan semut-semut seperti di kaki Mas Pur itu,” jawab Aina dengan anjat di punggung yang separuhnya berisi buah Maritam, tiba-tiba ada di samping Rimba sambil menunjuk kaki Mas Pur yang dikurung kawanan semut hutan yang terganggu karena makanannya dipegang Mas Pur. Seketika Mas Pur meloncat sambil melempar buah yang sebagian sudah terkoyak itu ke tempatnya semula, sambil memperagakan gestur meminta maaf pada semut-semut yang menyerangnya.

“Aroma Buah Lahung ini kuat dan rasa daging buahnya yang tebal kekuningan itu manis seperti karamel dengan sensasi aroma dan tekstur unik seperti mentega yang lembek, lembut dan berlemak di ujung lidah,” kata Mas Pur setelah mencobanya di hadapan Aina dan Rimba.

“Ini, kalau di Jawa harganya mahal!” tambah Mas Pur.

Aina tersenyum. “Makanya Mas, butuh orang luar yang paham cara menghargai kekayaan alam kita.”

Sejak hari itu, Mas Pur jadi seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Di sela jadwal imunisasi, pemeriksaan ibu hamil, dan kunjungan rumah bersama timnya, ia mengumpulkan buah-buah itu. Ia foto, catat, identifikasi, lalu dikumpulkan bijinya. Setiap kali bertemu buah baru, ia buru-buru mengirim pesan ke Rimba atau Aina dengan smartphone-nya. Kebetulan Aina yang juga kader kesehatan di kampungnya mendapat fasilitas smartphone dari pemerintah.

“Ini apa namanya?”

“Oh itu buah kalangkala dan Keledang, Mas.”

“Yang ini?”

“Rambai.”

“Yang seperti manggis?”

“Itu Kapul!”

Keduanya makin intens berkomunikasi, bahkan juga sering bertemu. Terkadang Aina ikut menemaninya menyusuri tepian hutan di pinggir kampung untuk berburu buah langka lainnya, kalau Rimba sekolah ke Kota. Tapi kalaupun ada, biasanya Rimba memilih untuk menjaga jarak dengan keduanya.

“Mas Pur seperti anak kecil yang sedang jatuh cinta sama hutan,” goda Aina suatu sore.

Mas Pur nyaris menjawab, “Jatuh cinta sama Aina?” tapi ia tahan. Pipi Aina yang memerah sudah cukup membuatnya tergagap.

Buah Lahung|kaltengdaily.com.

Pustu tempat Mas Pur bekerja berdiri di lahan bekas pembukaan ladang lama. Di sanalah Mas Pur mulai menanam biji buah hutan yang dikumpulkannya di polybag dibantu Rimba dan Aina.

“Kenapa Mas Pur repot-repot menanam ini?”

“Kalau hutan hilang, sumber air hilang. Kalau buah langka hilang, dunia juga akan hilang,” jawab Mas Pur.

“Bicara Mas Pur seperti aktivis.”

Mas Pur tersenyum. “Saya hanya anak petani dari Jawa. Di sana, tanah dimanfaatkan seefisien mungkin. Kalau di sini, buah mahal jatuh berserakan. Sayang sekali!”

“Saya suka cara Mas Pur melihat kampung kami!” kata Aina, saat keduanya berdiri di lahan kritis di antara polybag yang berjejer.

“Alhamdulillah!” Tiba-tiba Mas Pur bersujud setelah membaca sesuatu dari smartphone-nya, membuat Aina kebingungan!

“Aina, tulisanku memenangkan lomba artikel pelestarian alam dari Kementerian Lingkungan Hidup yang hadiahnya lahan hibah untuk kebun laboratorium konservasi buah hutan!”

“Mas Pur luar biasa!” teriak Aina spontan sambil memeluk Mas Pur beberapa detik, tapi cukup membuat jantung Mas Pur serasa mau copot!

Alhamdulillah-nya, lahan hibah itu tidak jauh dari Pimping Hulu, bekas pembalakan liar yang dengan bantuan warga kampung akhirnya bisa diberdayakan Mas Pur dengan ditanami bibit-bibit buah hutan yang tumbuh dari biji-bijian yang dikumpulkannya hingga lebih dari ratusan jenis. Kerja keras Mas Pur membuat warga yang awalnya curiga menjadi terkesima! Hutan pohon buah yang perlahan tumbuh rapat itu menjadi kebanggaan kampung, warga, juga satwa-satwa yang menjadikannya “rumah” terbaik, karena sumber air sungai di sekelilingnya yang jernih lagi.

“Mas Pur, benar-benar membuat kampung kami lebih hidup,” ucap Abah Rudin, saat keduanya menikmati seduhan kopi meratus di pondok kebun.

“Saya hanya ingin buah-buah ini tidak punah dan masyarakat bisa sejahtera, Bah!”

Aina yang berada di belakang Abah Rudin tersenyum lembut mendengar jawaban Mas Pur. “Termasuk saya?” tanyanya.

“Bukan termasuk, tapi terutama,” jawab Mas Pur yang membuat Abah Rudin melirik keduanya bergantian dan Aina langsung menunduk.

“Kalau Abah tidak keberatan, saya ingin menyemai masa depan di sini, bersama Aina Bah!” kata Mas Pur.

“Terserah kalian saja!” jawab Abah Rudin tersenyum sambil geleng-geleng kepala meninggalkan keduanya.
***
Dua tahun berlalu. Kebun hibah itu menjadi Laboratorium Hutan Produksi Buah Hutan Kalimantan. Mahasiswa, peneliti, dan wisatawan juga anak-anak sekolah datang setiap pekan. Ekonomi kampung berputar lebih produktif melalui bibit buah hutan yang laris manis, juga dari olahan seperti dodol kuini, selai Lahung, hingga manisan kasturi dan keripik karawila oleh-oleh khas kampung. Pagi itu, di bawah pohon lahung tanaman keduanya, Mas Pur dan Aina duduk menikmati pagi berdua, mengenang awal kisah mereka yang dipertemukan oleh buah hutan Kalimantan.

“Aina mau membantu saya mengurus ini selamanya?”

“Untuk selamanya?” tanya Aina pura-pura bingung.

“Yah, untuk selamanya,” kata Mas Pur lagi yang kali ini dijawab Aina dengan anggukan kepala disertai senyuman semanis Langsat Tanjung. Seketika, hutan buah yang tumbuh lebat dari biji buah-buahan yang pernah berserakan itu menghembuskan angin lembut, seolah memberi restu cinta sepasang anak manusia yang begitu mencintai hutan dan alam lingkungannya, sebuah cinta yang mengajarkan menjaga alam berarti menjaga masa depan.(*) (BDJ61225)

Glosarium Bahasa Banjar/Dayak Meratus:
Anjat: Tas ransel tradisional dari rotan
Pangulu: Kepala Kampung
Sidin: Beliau
Semalam: Kemarin

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXX.

Tentang Cerpenis
Kaekaha

Penikmat buku cerita dan kuliner berkuah kaldu. Menikmati pula kajian sosial budaya khas nusantara. Ingin sekali keliling Indonesia! Email: kaekaha.4277@yahoo.co.id, IG: @kaekaha

Testimoni Kaekaha

Alhamdulillah, ini untuk kedua kalinya, cerpen saya dipilih juri menjadi yang terbaik di event Pulpen XXX, setelah cerpen “Kongsi Dukun Lintrik” mendapat apresiasi dalam ajang KONGSI-Pulpen tahun lalu.

Jujur, sebagai penulis tema-tema humaniora dan budaya, mendapat apresiasi untuk karya cerpen jelas membuat saya semakin penasaran dan tertantang untuk terus menjadi “tuhan” bagi berbagai karakter tokoh yang saya reka dan ciptakan sendiri, hingga lahir karya tentang Mas Pur dan Aina. Karena sensasinya benar-benar luar biasa! Ternyata seasyik itu, ya, jadi cerpenis!

Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, Tuhan kita yang sebenarnya, melalui tangan dingin Bang Pical Gadi sebagai juri, karya saya yang berlatar pelestarian buah-buahan hutan khas Kalimantan akhirnya mendapat apresiasi lebih luar biasa lagi dari Pulpen. Maju terus, ya, Pulpen. Terima kasih, ya!

Exit mobile version