Tiga hari sudah aku nggak doyan makan apa pun. Setiap si Bambang, Budi dan juga si Bagus, sahabat-sahabatku memancing selera makanku, bahkan sampai menyuapiku makanan-makanan enak favoritku seperti soto daging “Jombangan”, Rawon “Suroboyoan”, sampai tahu campur juga soto ayam khas Lamongan yang sedepnya nggak ketulungan itu, semuanya aku muntahkan!
***
Tadi malam! Bu Haji Udin, ibu kosku yang sudah seperti ibuku sendiri itu, sepulang dari Bangkalan juga membawakanku oleh-oleh Bebek Sinjay, kuliner kesukaanku. Sayang, ini juga tidak membantu! Bahkan baru mencium baunya saja, kepalaku langsung pusing!
Kata Mas Bayu, mantri puskesmas yang di kamar sebelah, aku stres dan asam lambungku meresponnya hingga over dosis!
“Gus, kita bawa Bintang ke ustad Burhan aja yuk! Kasihan seperti ini terus.” Bambang, sahabatku sekampung itu mencoba memberi solusi untuk keadaanku yang tidak juga membaik meskipun sudah minum obat dan dirawat Mas Bayu.
“Kok ke Ustad Burhan!? Memangnya dibawa ke sana, si-Nina bisa balik lagi?” Si Budi sahabatku yang paling pragmatis ini selalu mempunyai cara berbeda untuk menyelesaikan masalah!
“Lha terus, yok opo iki!?” Giliran si Bagus bertanya.
“Kita bawa ke Bi’ Ikah aja gimana?” Ide pragmatis Budi keluar lagi.
“Bi’ Ikah sopo?” tanya Bagus lagi.
“Itu, dukun lintrik di kampung sebelah.” Jawab Si Budi, enteng saja!
Mendengar jawaban si Budi, tidak hanya Bagus dan Bambang saja yang terkejut dan melongo berbarengan, aku yang lemas pun juga ikutan melongo dibuatnya!
“Lintrik!?” tanya Bambang dan Budi hampir berbarengan.
“Lintrik pelet!?” tanyaku mempertegas.
“Syaratnya gampang kok! Bi’ Ikah hanya perlu foto Nina, sama duit 20 ribu saja, dijamin dia akan nangis bombay tergila-gila lagi sama Bintang!” Budi berusaha meyakinkan idenya untuk mengembalikan kehidupanku yang menurutnya sedang tidak baik-baik saja, gara-gara Nina!
Ya, Nina kekasihku, eh mantan kekasihku yang tidak ada angin dan tak ada hujan tiba-tiba minta bubaran!
Konon, menurut Briana, teman sekelas si Budi yang juga teman sekosan si Nina, mantanku itu lagi bermain api dengan anak ibu kosnya yang baru saja lulus dari luar negeri.
“Aaaaah pantas saja!” Gumamku dalam hati. Nggak ada alasan untuk mikir panjang lagi, aku terima saja ide si Budi, mengembalikan Nina ke pelukanku dengan lintrik!
Ya, dengan lintrik! Ilmu pengasihan kuno yang konon akan melibatkan setan sekuburan untuk membuat Nina kembali bertekuk lutut, bahkan tergila-gila yang segila-gilanya kepadaku. Puaaaaaaaas! Tahu aja setan-setan itu yang kumau!
Karenanya, meski badanku masih lemas, menanggung pening dan perut yang masih saja mual, aku tetap bergegas mencari foto-foto Nina di tumpukan baju dalam lemari untuk kubawa ke Bi’ Ikah nanti malam.
Adzan Isya baru saja membahana di angkasa, tapi lingkungan rumah Bi’Ikah di ujung kampung ini sudah serasa di tengah malam, sunyi senyap dan hanya menyisakan sesekali derik serangga di kejauhan yang bikin bulu kuduk suka berdiri sendiri.
Di ruangan praktik khususnya, kami berempat plus Bi’ Ikah, terlibat langsung detik-detik ritual yang sebelumnya hanya kulihat dalam film dan sinetron-sinetron itu.
Bi’ Ikah terus melafalkan mantra-mantra asing yang hanya samar terdengar, saat jari-jari di kedua tangannya memainkan kartu-kartu ceki itu. Sambil sesekali memeriksa pesan yang muncul dari lembar-lembar kartu yang terjatuh di meja, sorot tajam mata Bi’ Ikah tidak lepas dari menatap foto Nina. “Ah, kok jadi serem ya!?”
Sepulang dari Bi’Ikah, kami tidak langsung pulang ke kos-kosan. Budi mengajak kami bertiga refreshing dulu, cangkru’an dulu di warung Cak Badar, kedai langganan kita berempat yang lokasinya hanya sepelemparan batu saja dari kosan kita, ngopi!
Budi mentraktir kami angsle panas atau susu putih hangat campur madu, dua menu malam andalan warungnya Cak Badar yang katanya baik untuk menghangatkan perut, sekaligus menetralisir asam lambungku. Waaah sedaaaaap betul ini!
Tapi belum lagi aku menikmati angsle panasku, tiba-tiba datang si Hasan anaknya ibu kos yang katanya sudah mencariku ke mana-mana sedari tadi.
“Mas Bintang, disuruh pulang ibu sekarang! Ada Mbak Nina di kosan!” ujar Hasan.
Mendengar ucapan Hasan, kami berempat hanya bisa saling pandang dan segera bergegas pulang menuju kosan, kecuali Budi.
“Tok cer!“ teriak Budi sambil mengacungkan jempolnya.
Begitu melihat kami datang, Bu haji Udin langsung menjewer kupingku dan menjauh dari teman-temanku.
“Habis kau apakan Nina, bisa gila begitu!?” bisik beliau.
“Memangnya kenapa, Bu Haji!?“ tanyaku, penasaran juga.
“Nina telanjang bulat di kamar tamu, ngigau kamu! Kenapa begitu …?“ tanya Bu haji, masih dengan menjewer telingaku. (*)
Banjarmasin nan Bungas!
090724
Cerpen merupakan Juara III Sayembara Cerpen Pulpen XV, Special Event: KONGSI.
Cerpen telah tayang di Kompasiana.
Tentang Cerpenis
Kartika E.H.
Testimoni Kartika E.H.
Ternyata menulis cerpen fiksi itu sensasinya benar-benar luar biasa! Saya bisa merasakan bagaimana menjadi “tuhan” bagi berbagai karakter tokoh yang juga saya reka dan ciptakan sendiri. Benar-benar luar biasa asyiknya jadi cerpenis itu!
Kerennya, sebagai “tuhan” saya harus bisa menjadikan semua karakter itu hidup senatural mungkin agar cerita juga berjalan rasional alias masuk akal, setidaknya menurut keumuman dan itu perlu riset lho, nggak boleh sembarangan! Sebab, kita hanya tuhan dengan “t” kecil saja, bukan Tuhan yang sebenarnya!
Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, Tuhan kita yang sebenarnya, melalui tangan dingin Mbak Shyants Eleftheria sebagai juri, karya saya mendapat apresiasi luar biasa dari Pulpen yang diampu oleh sosok visioner dan militan, Mas Horas Simanjuntak, kandidat paling tepat untuk Kompasianer of the Year 2024. Maju terus ya Pulpen. Terima kasih ya!

