Site icon cerpensastragrup

Kodel (Cerpen Syifa Dwi Maharani)

Sumber ilustrasi: Cangkang tak bertuan (karya: Syifa Dwi Maharani)

“Kodel! Pergi kau!” usir wanita paruh baya itu dengan tubuh yang menahan gerak pintu.
***
Bibirnya yang pecah-pecah meluncurkan makian tanpa rem. Seolah ia sengaja meninggalkan otaknya di suatu laci sebelum mulai memaki.

Si tua Kodel terus merungut, merajuk pada rumput di tepi jalan. Kakinya diseret tanpa arah. Kanan, kiri, oleng, sebelum akhirnya menabrak batu lalu tersungkur. Kulit tangan dan lututnya seketika memerah. Ia bangkit kembali dengan susah payah. Dari mulutnya menyembur makian berbau binatang, persis seperti Romlah, janda beranak dua yang gemar memarahinya karena berkeliaran di sekitar rumahnya. Romlah selalu menuduh Kodel ingin mencuri, berteriak maling, atau sekadar melemparkan makian padanya.

Orang-orang di sana sudah tak mau ambil pusing. Jika terdengar suara melengking mirip tikus kejepit, pastilah itu Romlah sedang beraksi. Di Desa Talok, hanya dia yang memiliki suara sebesar itu untuk memarahi kakek-kakek tua renta seperti Kodel.

“Kau! Ini salahmu! Mana mungkin aku diusir jika bukan karena kau!” tuduh Kodel pada batu yang meringkuk tak berdaya di tanah. “Harusnya aku masih berbaring di dalam. Hangat, tidak kotor seperti ini!”

Tak ada yang mengerti mengapa Kodel berjalan tanpa selembar benang pun. Ke mana perginya pakaian hangatnya? Ada yang bilang dibawa setan, dicuri monyet, atau Kodel sendiri yang sengaja menyembunyikannya.

Di tengah-tengah kemarahannya yang belum surut, matanya menangkap seekor siput berjalan lambat di atas batu. Tenang, nyaman di balik cangkang hangat. Kodel tidak terima. Bagaimana bisa seekor siput begitu damai menikmati kehangatan di dalam rumahnya, sementara ia menggigil kedinginan di malam hari dan terpanggang di siang hari.

Tanpa pikir panjang, tumitnya menghantam cangkang itu. Krak. Lendir berbaur pecahan cangkang berceceran. Rumah siput itu hancur seketika. Kodel mengangkat kakinya perlahan, tidak peduli perih serpihan tajam yang menancap di kulitnya. Ada kepuasan aneh membuncah di dadanya yang keriput. Adil, pikirnya. Kita harus sama-sama kedinginan dan kepanasan. Mana boleh hanya Kodel seorang yang menelan penderitaan ini. Namun, sebelum tawanya pecah, ia melihat gerakan kecil di antara retakan. Masih hangat.

Tubuhnya membeku seketika. Rasa dingin menyergapnya. Ia teringat, mungkin putranya bisa membantunya. Ya, putranya yang sehangat ini. Putranya, Peto. Peto adalah anak yang selalu membanggakan. Tidak pernah sekalipun Peto membuat Kodel kecewa. Perawakannya mirip ibunya, matanya setajam ayahnya, dan senyumnya semanis gulali di malam minggu.

Kodel akhirnya kembali sadar. Mungkin, putranya tahu ke mana hilangnya pakaian berbulu lembut miliknya. Hanya Peto yang bersedia membantunya, bukan Romlah, warga, maupun siput. Maka bergegaslah kakinya melangkah, melayang bersama khayalan tentang nyamannya kain yang kelak melekat kembali di tubuhnya.

Serpihan cangkang siput tadi seolah menempel erat di kakinya, menghalangi langkah menemui Peto. Kodel menggerutu marah. Siput itu sangat serakah, masih ingin menahan langkahnya yang rapuh. Apakah cangkang besar tadi belum cukup? Mulut Kodel komat-kamit merapalkan sumpah serapah di sepanjang jalan desa yang berdebu.

Beberapa warga melirik dan berbisik di balik punggungnya. Ada yang menatapnya dengan pandangan sedingin es. Kodel mendengus. Ia tahu mereka iri. Rumahnya sangat besar, mewah, dan megah, tidak seperti gubuk-gubuk reyot milik orang desa. Biarlah sekarang ia telanjang, sebentar lagi ia akan sampai di istananya yang hangat. Di sana ada Peto yang sudah menantinya di balik pintu. Sesekali warga mencoba menegurnya, tetapi Kodel bungkam. Baginya, mereka hanya mencari celah untuk menghinanya karena tidak berpakaian. Biarkan saja mereka menunggu, pikir Kodel angkuh.

“Pakaian lebih penting. Aku baru akan bicara dengan mereka kalau penampilanku sudah sempurna kembali, seperti dulu saat aku masih dihormati dan dipuja.”

Baru setengah jalan, kakinya terperosok ke dalam lubang jalan yang rusak. Kakinya berakhir keseleo hebat.

“Ah! Sakit!” Kodel melolong keras, mirip kucing garong yang kalah bertarung di tengah gelapnya malam.

Seandainya Peto ada di sini, semua kesengsaraan ini tidak akan terjadi. Kalimat itu ia rapalkan berulang kali seperti mantra penolak bala. Peto pasti langsung memapahnya, tidak seperti makhluk berkepala dua di sekelilingnya yang tampak baik di luar tapi busuk di dalam. Bau kebusukan mereka bahkan tercium sampai ke ujung tong sampah depan halaman Romlah. Kodel tahu betul kebusukan mereka. Itulah mengapa ia tak pernah ragu menunjukkan taringnya sejak dulu. Menunjukkan taring adalah satu-satunya cara bertahan hidup di tengah kepungan binatang-binatang ini.

“Mbah, gak apa-apa? Sini saya ban-“

“Apa urusanmu! Pergi sana kau!” usir Kodel tanpa ampun, walaupun tangannya masih memegangi kakinya yang terluka.

“Pantas saja kau kehilangan pakaianmu, kau saja begitu. Masih seperti dulu, sadarlah…”

“Peduli apa kau, hah?!”

Kodel menatap kepergian pria muda dengan kumis tipis licin itu, Jali namanya. Seorang pria biasa saja, sudah berumur, tetapi masih belum bisa memiliki istri. Tebal sekali mukanya berani memberi nasihat. Hidup Jali sendiri berantakan, persis seperti ibunya yang gemar memicu keributan di desa. Mana sudi Kodel mendengar nasihat dari orang seperti itu.

Semakin dipikirkan, mungkin ini memang salahnya sendiri. Harusnya ia pergi saja seperti saran putra kesayangannya. Desa suram ini hanya membawa kesialan. Ia yakin pakaian hangatnya hilang karena dicuri warga desa di sini. Pikiran itu semakin membesar seiring matanya memandang jalanan rusak. Ini semua salah Yanto, si tua bangka kepala desa terpilih itu. Kerjaannya hanya mengurus burung. Bangun tidur melihat burung, siang bermain burung, sore burung bersiul, dan malam hari membawanya masuk. Terus saja seperti itu tanpa henti.

Tak pernah Kodel lupakan detik-detik kekalahannya dalam pemilihan kepala desa. Susah payah ia membangun citra baik, tetapi yang didapat malah Yanto si pecinta burung. Mungkin warga desa memang sudah gila karena tidak tahu mana yang berkualitas baik. Jika orang seperti Yanto dengan modal burung saja bisa jadi pemimpin, lalu apa alasan orang sepertinya gagal. Pakaiannya saat itu bahkan lebih cerah bersinar dibandingkan kaos oblong abu-abu milik Yanto. Mereka semua benar-benar sudah gila.

Tujuh tahun berlalu, desa ini tetap berjalan di tempat tanpa perkembangan. Dan selama tujuh tahun itu pula pakaian Kodel hilang. Kecurigaannya menguat bahwa pakaian mahalnya telah dicuri dan dijual warga desa yang malas bekerja demi membeli sesuap makan. Meskipun begitu, memang apa hubungannya masa depan desa ini dengannya. Dia bukanlah kepala desa karena mereka tidak memilihnya. Maka itu bukan urusannya. Urusannya hanya dengan pakaiannya yang entah dicuri oleh siapa.

Tubuhnya perlahan berjalan sempoyongan, lebih lambat dari sebelumnya. Jika saja bukan karena jalanan rusak yang memakan hak jalannya, mana mungkin kakinya berakhir terluka. Namun tidak apa-apa, putranya pasti akan mengobatinya setelah ini karena hanya putranya yang paling mengerti dirinya. Dengan semangat yang membara, ia membawa tubuhnya yang ringkih dengan susah payah. Tak peduli seberapa sakit setiap langkah kakinya, ia yakin ini semua pantas diperjuangkan.

Perlahan-lahan, terlihatlah rumah mewahnya. Ya, rumahnya dan putra kebanggaannya, Peto. Matanya sudah penuh dengan harapan yang melambung tinggi di awan. Dengan tergesa-gesa ia hendak membuka gerbang besar itu. Namun, anehnya gerbang itu tak kunjung terbuka. Kodel panik. Tak mungkin Peto mengunci gerbang seperti ini. Biasanya gerbang selalu dibiarkan tidak terkunci agar mudah dibuka olehnya. Peto belum pernah berperilaku seperti ini. Tak pernah sekalipun ia mengunci gerbang. Harusnya sekarang ia sudah masuk, menerima pelukan hangat putranya, lalu memakai pakaiannya yang mungkin ada di dalam sana.

Kodel tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia yakin putranya pasti lupa. Tidak mungkin putranya memperlakukan dirinya seperti para warga desa. Ia sangat yakin karena dialah yang paling mengenal putranya.

“Peto! Peto! Buka Peto, ayah sudah pulang! Peto? Peto…” berkali-kali Kodel memanggil, tiada henti ia berteriak.

Perlahan-lahan, tubuh si tua mulai meringsut ke bawah, bersimpuh di tanah penuh kerikil yang selama ini ia maki. Tubuhnya perlahan diterpa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang ringkihnya. Dingin itu tidak peduli jika dirinya sudah tua, sebab angin malam memang tak pernah memandang bulu.

Sepasang mata menatap pilu. Sudah berkali-kali ia dan yang lainnya mencoba membantu, tetapi pada akhirnya takkan digubris oleh si tua keras kepala sepertinya. Bahkan setelah berkali-kali dia kemari, entah bagaimana dia tak melihat sebuah tulisan angka nomor dengan nama Peto. Sampai akhir, Kodel terus saja kelimpungan mencari pakaiannya.(*)

Cerpen merupakan Juara III Pesta Pena 2026.

Tentang Cerpenis
Syifa Dwi Maharani
Si tukang menghayal. IG: @sdtwom

Testimoni Syifa Dwi Maharani

Bagaikan kejatuhan durian runtuh di siang bolong. Kabar tentang cerita kecil saya berhasil mendapatkan posisi ketiga itu sungguh tak terduga. Melihat banyak karya luar biasa dari para penulis yang ikut berpartisipasi dalam Pesta Pena 2026, saya tak berharap apa pun pada awalnya.

Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada pendiri Pulpen, juri-juri yang luar biasa, dan teman-teman penulis yang hebat.

Cangkang tanpa tuan, itulah Kodel. Representasi dari realita dunia yang kejam. Di mana seseorang yang paling dekat denganmu bisa menjadi musuh dalam selimut. Bukan hanya rumah yang hilang, tapi Kodel kehilangan segalanya. Mungkin sampai sekarang ia masih mencari-cari di mana pakaiannya. Jadi, “Apakah kamu pencurinya?”


Exit mobile version