Bram memandang lembar salinan ijazah yang hampir lusuh di tangannya. Entah sudah berapa ratus kali dia membawa salinan ijazah ini berkeliling tempat demi memperoleh pekerjaan. Hasilnya nihil. Dia hanya mampu menggantungkan asa di langit-langit kamarnya. Entah sampai kapan.
***
Ada kekecewaan, amarah, penyesalan yang singgah di hatinya. Dia kecewa menghadapi kenyataan betapa sulitnya mencari pekerjaan di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini. Jiwanya berontak karena dirinya yang dulu menjadi aktivis di kampus dan mendapat nilai cum laude, hanya bisa menelan pil pahit saat harus mengalah oleh para pelamar yang punya orang dalam.
Menyesal? Ya, dia menyesal karena sudah menolak anjuran ayah untuk mengambil fakultas keguruan semata dirinya tak mau menjadi guru. Padahal ayah dan ibunya mengabdi sebagai tenaga pendidik dan mampu membiayai semua kebutuhan dia dan kedua adiknya. Penyesalan yang tak berguna.
Bram tak paham mengapa dirinya enggan menjadi guru. Dia sering melihat orang tuanya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari beberapa orang tua. Mereka sering disudutkan karena memarahi anak-anak yang bermasalah. Kadang Bram suka iba jika orang tuanya didatangi para orang tua dengan alasan tak menerima anaknya ditegur. Sejak saat itu Bram bertekad tak mau menjadi guru.
“Zrrrnggg!” Bunyi telepon seluler miliknya memecahkan lamunan. Kertas yang dipegangnya hampir saja terjatuh.
“”Zrrrngggni,!” suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih kencang.
Bram melihat ponselnya dan ada sebuah notifikasi tertulis dalam pesan. “Apakah Anda sedang mengalami kesulitan keuangan? Apakah Anda juga sedang sulit mencari pekerjaan? Silakan klik tautan di bawah ini. Dijamin Anda akan terlepas dari masalah.“
Bram tak menghiraukan isi pesan itu. Baginya pesan itu hanya godaan setan yang membujuk agar mengikuti jalannya. Bram kembali memandang langit-langit kamarnya dan mencoba mengatur strategi agar memperoleh pekerjaan dengan cepat. Mungkin lebih tepatnya dia melamun.
Tiba-tiba lampu ponselnya menyala dan menampilkan pemberitahuan: Dream Mart — Semua Mimpi Bisa Dibeli. Di bawahnya ada pilihan absurd: Pekerjaan Impian, Kekayaan Instan, Cinta Sejati, Ketenaran Abadi. Hati kecil Bram berperang antara penasaran, kebutuhan, dan kesadaran. Nuraninya berkata, “Mustahil! Mana ada hidup dibuat instan hanya satu kali klik!” Namun, sisi hatinya yang lain membujuk dan menggodanya, “Coba saja! Siapa tahu benar.“
Rasa penasaran menyeretnya seperti magnet, kebutuhan hidup menjeratnya seperti rantai, sedangkan nuraninya berusaha menepis di tengah notifikasi ponsel. Di layar kecil itu, tampak asa yang menggoda daripada dunia di sekitarnya, dunia yang setiap hari mencemoohnya karena ijazah tinggi tanpa pekerjaan, dan mimpi besar tanpa modal. Bram merasa dia berada di pinggir jurang, antara logika dan keputusasaan yang menjeratnya. Namun, jemarinya terlanjur memijit tombol “login”.
Secepat itu pula sapaan lembut dari aplikasi itu menyapanya: “Selamat datang di Dream Mart—tempat mimpi Anda menjadi kenyataan.“
“Barangkali inilah jalan pintas yang tak pernah diajarkan di mata kuliah apa pun di dunia ini,” lirih Bram meyakinkan hatinya agar melanjutkan proses. Bram memandangi layar ponsel yang memantulkan wajahnya dan menyiratkan harapan. Dia membayangkan dirinya akan dihargai, dihormati dan disanjung jika dia memiliki semuanya. Bram memandang baris-baris menu yang berada di aplikasi: pekerjaan impian, kekayaan instan, cinta sejati, ketenaran abadi. Bram memijit salah satu menu “kekayaan abadi“.
Layar ponselnya berpendar lembut, menampilkan kalimat yang seolah menatap balik ke matanya.
“Terima kasih telah memilih Kekayaan Abadi. Anda tetap berada di link yang akan kami kirimkan selama sepuluh menit, maka saldo Anda akan bertambah. Mohon tunggu, semesta sedang menyesuaikan keberuntunganmu.“ Kemudian Bram menerima link yang harus dia tonton selama sepuluh menit tanpa jeda. Begitu terus yang dia lakukan sepanjang hari ini.
Puluhan link sudah dia tonton. Kemudian notifikasi muncul di ponselnya. Di sana tertera angka saldo rekening yang terus bertambah, seperti air mengalir di sungai.
Sepanjang malam Bram tak sepicing pun memejamkan mata. Dia tak ingin melewatkan kesempatan rupiah demi rupiah memenuhi rekeningnya. Pundi-pundi uang yang selama ini sulit dicari, kini dapat diperolehnya dengan mudah. Bahkan ketika suara azan Subuh terdengar dari Masjid Al Islah–masjid komplek yang tak jauh dari rumahnya. Mentari yang diam-diam menyelinap di balik jendela pun tak dihiraukannya.
“Bram! Bukakan pintu!” suara Ibu terdengar dari balik pintu, “Sejak kemarin kamu tak keluar kamar. Ayo bangun, mandi dan sarapan.“
Hening. Tak ada jawaban kecuali suara-suara ‘ting’ sebagai tanda notifikasi masuk.
“Ibu buatkan nasi goreng kesukaanmu. Ayo makan dulu,” panggil ibu dengan lirih.
Bram masih duduk di pojok kamar, punggungnya menempel ke dinding. Rambutnya kusut, mata merahnya tak berkedip. Di tangannya, ponsel menyala menampilkan ikon Dream Mart yang terus berputar, seolah sedang memproses transaksi tak berujung.
“Sabar, Bu. Aku sedang berusaha untuk menjadi milyader agar hidupku berubah,” lirih Bram, seolah bukan menjawab panggilan ibunya, melainkan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ibunya menarik gerendel pintu dan berusaha untuk membukanya. Namun, dia tak berhasil.
“Sebentar Bu. Sabar. Jangan ganggu aku. Sebentar lagi aku bisa membahagiakan Ibu. Kita akan membeli rumah baru dan mobil mewah!” teriak Bram dari dalam kamar.
Beberapa detik kemudian, notifikasi baru masuk, “Anda ingin cepat kaya, silakan mainkan game ini.“
Sertamerta Bram memijit tombol mulai dan asyik memainkan game online yang menawarkan hadiah yang menggiurkan tersebut. Tiga jam berlalu, Bram masih berkutat dengan ponselnya. Dia tak mempedulikan perutnya yang lapar, matanya yang merah atau tubuhnya yang sudah lusuh karena sehari semalam dia tak beranjak dari kasurnya.
Lalu kembali notifikasi e-money miliknya berbunyi nyaring: ting! Saldo rekeningnya benar-benar bertambah. Bukan banyak, tapi cukup untuk membuat logika terengah-engah. Bram sudah kehilangan akal. Dia lupa makan, lupa tidur, lupa dunia. Sudah sehari semalam dia hanya menatap layar, menunggu notifikasi baru seolah sedang menunggu wahyu. Dia menunggu keajaiban-keajaiban kecil berdatangan: undian belanja online yang tak pernah ia ikuti tiba-tiba dimenangkannya, dompet digitalnya selalu berisi cashback.
Saat melihat anaknya tak keluar kamar juga, Bapak mendobrak pintu kamar anaknya itu. Sang Ibu gemetar tubuhnya. Dia tahu ada sesuatu yang terjadi pada Bram—anak sulungnya. Anak yang dibanggakannya karena kecerdasannya kini sedang memandangi ponsel sambil sesekali teriak.
“Ibu … lihat aku kaya! Aku bisa beli rumah sekarang!“ teriak Bram sambil menunjukkan e-money miliknya.
“Bram, kamu kenapa, Nak?” isaknya sambil memeluk Bram seraya meneteskan air matanya.
“Ibu tak usah khawatir. Aku sudah berhasil. Lihat ini!” katanya sambil memperlihatkan layar ponselnya, “Rumah, mobil, sawah, apartemen sudah aku beli di Dream Mart.”
Ibu memandang layar ponsel Bram, tak ada apa-apa selain pantulan wajah Bram yang kurus dan mata yang cekung dan tirus.
“Bram, sadar Nak. Itu hanya ponsel,” ucap ibunya lembut, menahan isak. Bram menggeleng keras, seperti menolak realitas.
“Bukan, Bu! Dunia ini yang salah! Dunia ini lambat, penuh aturan, penuh orang yang munafik! Di sini—di Dream Mart—semua adil! Semua bisa punya mimpi, asal mau beli!“
Ibu terisak dan menutupi mulutnya. Ayah Bram berdiri di belakangnya. Dia menatap pemandangan yang membuat dadanya sesak.
“Sudahlah, Bu,” katanya lirih. “Besok kita bawa dia ke rumah sakit. Mungkin … dia hanya perlu istirahat.“
Malam merangkak pelan. Bram masih duduk di pojok kamarnya seraya memeluk ponsel yang tak lagi menyala. Ayahnya berdiri terpaku di ambang pintu. Perlahan air matanya jatuh di kedua kelopak mata tuanya. Ibunya berusaha menggugah kesadaran Bram, tetapi Bram hanya tersenyum kecil. Matanya menatap layar ponsel.
“Jangan khawatir, Bu … aku sudah beli kebahagiaan versi seumur hidup,” ujarnya sambil tersenyum bahagia.
Dan malam pun menutup rumah itu dalam diam yang panjang. Di luar sana, jutaan manusia lain juga menatap layar mereka, mengejar kekayaan, cinta, dan ketenaran dengan jari yang sama.(*)
Cibadak, 2 November 2026
Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXIX.
Tentang Cerpenis
Nina Sulistiati
Pengajar di SMP N 2 Cibadak, Kab. Sukabumi. Penulis kumpulan cerpen “Asa Di Balik Duka Wanodya”, novel “Serpihan Atma”, kumpulan puisi ”Kulangitkan Asa dan Rasa”, 30 buku antologi bersama dengan berbagai genre di beberapa komunitas. Fb Nina Sulistiati, IG: @nsulistiati
Testimoni Nina Sulistiati
Saya ucapkan terima kasih karena “”Dream Mart” Penjual Mimpi” dapat diterima oleh pembaca dan berhasil meraih Juara I dalam Sayembara Cerpen Pulpen XXIX. Pencapaian ini menjadi dorongan bagi saya untuk terus menulis, belajar, dan menghadirkan cerita-cerita yang lebih bermakna.
Cerpen ini saya tulis, berangkat dari kegelisahan yang sejak lama mengganggu: maraknya tawaran pekerjaan di media sosial yang menjanjikan penghasilan jutaan rupiah dengan cara mudah, instan, dan tanpa kerja keras. Fenomena itu terlihat begitu menggiurkan, tetapi di baliknya tersimpan ironi. Faktanya, mencari pekerjaan sekarang justru semakin sulit dan banyak orang terjebak dalam ilusi kemudahan yang bahkan bisa menyesatkan. Imajinasi saya tentang sebuah tempat bernama Dream Mart, aplikasi penjual mimpi. Saya ingin menggambarkan bagaimana manusia modern begitu mudah terpikat oleh janji manis, tetapi tidak selalu siap menghadapi konsekuensi di balik setiap keinginan. Saya mencoba menghadirkan suasana surealis, tetapi dekat dengan realitas, agar pembaca merasakan ironi serta pesan sosial yang saya sampaikan.
Saya mencoba menyusun cerita yang mudah dicerna. Setiap narasi dan dialog saya susun agar mengajak pembaca merenungkan: apakah mimpi benar-benar bisa dibeli, atau justru kita sendirilah yang harus bertanggung jawab membangunnya? Saya berharap “”Dream Mart” Penjual Mimpi” bukan hanya bacaan, tetapi juga mengajak pembaca untuk lebih berhati-hati terhadap tipu daya dunia maya, serta lebih bijak dalam mengejar impian. Terima kasih kepada semua pembaca, juri, dan teman-teman di komunitas Pulpen Kompasiana.

