Site icon cerpensastragrup

Di Bawah Atap Lobo (Cerpen Taufiq Agung Nugroho)

Sumber ilustrasi: dimensiindonesia.com.

Di bawah atap Lobo yang tak pernah berbohong, satu cinta lama membuka luka, dan kampung Pipikoro pun dipaksa memilih antara adat atau ampunan.
***

Angin turun pelan dari lereng. Membawa bau fermentasi biji kakao yang nyaris busuk. Bau air bambu yang pecah di batu. Bau rumah yang terlalu lama menyimpan diam.

Todi Pampow menyalakan api lebih pagi dari biasanya. Tangannya gemetar saat menyulut sabut kelapa. Di sampingnya, Nani mengulek cabai tanpa suara. Batu dan tangan, saling membentur. Lamat-lamat. Seperti dua hati yang sudah lama tak bicara. Mereka sudah menikah dua belas musim panen. Dan Todi tahu, keheningan juga bisa mengeluarkan suara.

Kampung belum benar-benar bangun ketika kabut masih menggantung di dahan-dahan kakao. Air menetes dari pucuk daun seperti rahasia yang tak sengaja dibisikkan. Dari kejauhan, suara tetua terdengar.

“Lando Mangiwa sudah pulang.“
Todi tidak menoleh. Tidak bertanya. Tidak apa-apa. Hanya memanggul keranjang tonda ke kebun. Tapi langkahnya lebih berat dari biasanya.

Pulang, kata mereka. Tapi bagi Todi, Lando tak pernah pergi cukup jauh untuk disebut pulang. Dulu mereka bertiga. Satu kampung. Satu kebun. Satu lopo. Todi. Nani. Lando. Dan dulu, Nani bukan miliknya.

Lando kembali seperti hujan bulan tiga. Tak terlalu deras, tapi basahnya bisa meresap sampai ke sumsum. Orang-orang menyambutnya. Lelaki dulu yang gagah, kini lebih tenang. Rambutnya beruban sedikit. Tapi matanya belum tua. Itu yang membuat Todi tidak tenang. Ia lihat Lando menatap ke arah dapur. Sekilas. Tapi cukup tajam untuk menembus dinding rumah.

Hari-hari jadi lebih sunyi. Tapi bukan karena sepi. Nani mulai pulang lambat. Alasan selalu ada, daun kakao diserang virus, tanah becek, atau keranjang tondonya tertinggal. Todi tidak bertanya. Tapi matanya merekam. Hatinya menghitung. Dan malam-malamnya tidak pernah lagi penuh tidur. Ia mulai sering duduk di beranda. Mendengar malam. Sampai satu malam, langkah terdengar pelan-pelan. Satu pasang. Ringan. Tapi nyata. Menuju kebun. Dan Todi tidak membuka pintu. Karena ia tahu, kadang diam lebih keras dari teriakan.

Lobo dibuka hari Selasa, saat kabut belum sempat benar-benar mengangkat dirinya dari akar-akar pohon. Angin berhenti di pinggir kampung. Burung-burung diam di dahan. Bahkan suara bambu pancuran hanya menetes perlahan, seperti menunggu aba-aba dari langit.

Hari itu sunyi. Tapi sunyinya bukan karena tak ada suara. Melainkan karena terlalu banyak yang tidak dikatakan. Langit muram. Awan menggantung rendah di atas bukit-bukit. Kampung seperti menyusut. Warna-warna kehilangan keberaniannya. Yang putih jadi abu. Yang hijau seperti berdebu.

Todi berjalan pelan ke arah Lobo. Langkahnya tidak berat. Tapi dunia di sekitarnya terasa seperti menahan napas. Di belakangnya, tiga tetua adat berjalan berbaris. Mereka tidak saling bicara. Tongkat-tongkat kayu di tangan mereka hanya mengetuk tanah. Satu-satu. Seperti hitungan waktu yang tak bisa dibantah. Lando Mangiwa datang paling akhir. Sendirian. Tanpa suara. Hanya jejak kakinya di tanah basah yang memberi tahu bahwa ia belum hilang.

Lobo berdiri di tengah kampung. Tiang-tiangnya hitam oleh asap dan umur. Atap rumbia membentuk lengkung seperti punggung seseorang yang terlalu sering menanggung beban. Di dalam Lobo, suasana dingin. Tapi bukan dingin biasa. Bukan karena angin. Tapi dingin yang tumbuh dari dalam kayu. Dari tanah. Dari mata yang saling menghindar.

Orang-orang duduk di luar, membentuk setengah lingkar. Tak ada yang berbisik. Tak ada yang meludah. Anak-anak tidak dibiarkan mendekat. Perempuan-perempuan menunduk, menggenggam tangan mereka sendiri. Karena hari itu, kata-kata akan dilucuti. Dan kebenaran akan ditelanjangi di depan semua orang.

Todi duduk di sisi timur. Tempat untuk yang mengadu. Pak Set Tonta berdiri di tengah. Tangan tuanya menggenggam sirih pinang. Di sebelah kirinya, Lando Mangiwa menunduk. Di kanan, Nani duduk bersila, pandangannya kosong, seperti menatap sesuatu yang sudah tak ada.

Suara Pak Set Tonta terdengar seperti batang tua yang patah. “Benarkah kalian … telah menodai rumah orang lain?”

Angin berhenti tepat saat kalimat itu jatuh ke lantai Lobo. Tak ada jawaban. Hanya dengus pelan dari kerumunan di luar. Seekor anjing menggonggong pelan di ujung kampung. Lalu diam lagi. Todi tidak bergerak. Tapi jari-jarinya menggenggam lututnya terlalu kuat.

Lando membuka mulut. Menutupnya lagi. Seperti sedang mencoba mencicipi rasa dari lidahnya sendiri. Akhirnya, dengan suara seperti ranting digesek batu, ia berkata.
“Iya … saya akui.”

Pak Set Tonta mengangguk pelan. Tatapannya berpindah ke Nani. Nani tidak menjawab. Tidak bicara. Tidak bergetar. Tapi ia mengangguk. Sekali. Kecil. Dan itu cukup. Karena di bawah atap Lobo, anggukan bisa lebih nyaring dari jerit. Dan diam bisa lebih kejam dari fitnah.

Suasana di dalam Lobo menegang. Bau tanah basah naik dari sela papan. Bau sirih dari mulut Pak Set Tonta bercampur dengan bau tubuh yang belum mandi sejak pagi. Bau rasa malu yang menggantung. Berat. Menempel seperti asap. Pak Set Tonta mulai berbicara. Tiap kalimat seperti batu yang dijatuhkan ke air tenang.

“Lando Mangiwa, karena kau telah mencemari kehormatan rumah tangga orang lain, kau dinyatakan tidak layak lagi tinggal di tanah Pipikoro. Kau akan diusir secara adat, dan tidak boleh kembali. Sebelum tiga matahari lewat, kau harus menyerahkan satu kerbau dan dua babi jantan.”

Lando menunduk. Tak membantah.

“Nani, atas pengkhianatanmu pada ikatan rumah, maka seluruh hartamu diserahkan kepada Todi Pampow. Kebun, perhiasan, hasil panen, dan alat rumah tangga. Kau tidak bisa lagi menuntut bagian dari rumah yang telah kau tinggalkan.”

Nani tidak menangis. Tapi matanya seperti danau kecil yang retak di permukaannya. Tak pecah. Tapi tak lagi utuh. Pak Set Tonta melempar sirih ke lantai. Gema daun kering menyentuh papan terdengar seperti lonceng pemakaman.

Lando berdiri. Perlahan. Kakinya gemetar. Tapi wajahnya tetap. Ia melangkah turun dari Lobo. Tak ada yang menoleh. Tak ada yang menyapa. Nani menyusul. Langkahnya lebih pelan. Tapi arahnya jelas, bukan ke rumah. Bukan ke Todi. Tapi ke arah sungai, di mana bayangan selalu patah sebelum sampai ke permukaan. Todi tetap duduk. Kakinya diam. Tapi dadanya seolah tak muat untuk jantung yang berdetak terlalu keras.

Di luar, angin mulai bergerak lagi. Daun-daun kakao gemetar. Tapi bukan karena takut. Karena mereka tahu, yang patah hari ini bukan hanya satu janji. Tapi satu kehidupan. Dan atap Lobo, yang sedari pagi menunduk rendah, sekarang seperti menahan tangis yang tidak sempat dijelaskan. Hujan turun pelan. Seperti air mata yang tidak jadi tumpah. Kampung kembali seperti biasa. Tapi tidak benar-benar biasa.

Todi menghunus parang. Memangkas ranting. Menjemur biji kakao. Tapi jiwanya tak lagi tinggal di tubuhnya. Nani pergi malam itu. Tidak pamit. Tidak marah. Tidak bicara. Orang-orang melihat bayangannya menuju arah sungai.

Todi membuka lemari keesokan harinya. Baju Nani masih tergantung. Rapi. Wangi. Tapi sepi tak bisa disetrika. Lando pergi lebih dulu. Tinggalkan kerbau dan dua babi di pelataran Lobo. Tak ada peluk. Tak ada lambaian. Ia hanya berjalan. Seperti orang yang akhirnya sadar, tidak semua pulang berarti kembali.

Todi kini sendiri. Tapi bukan itu yang membuatnya lebih sunyi. Yang paling sunyi adalah pertanyaan yang tak pernah bisa ditanyakan.
“Sejak kapan aku mulai kalah dari diam?”

Suatu sore, ia duduk di dalam Lobo. Sendirian. Tak ada sidang. Tak ada putusan. Tak ada dosa yang perlu
diadili. Hanya ia, dan atap rumbia yang menunduk pelan. Todi memejamkan mata. Di dadanya, Lobo bergema. Seperti suara terakhir yang belum sempat disampaikan.

Dan di kampung itu, orang-orang mulai percaya. Yang tertinggal di belakang Lobo bukan hanya keputusan. Tapi sisa-sisa hati yang tak bisa dibagi.(*)

Catatan: Lobo adalah bangunan adat khas masyarakat Kulawi di wilayah Pegunungan Sigi, Sulawesi Tengah, termasuk Kecamatan Pipikoro. Bentuknya panggung terbuka, berdiri di atas tiang-tiang kayu besar, dengan atap rumbia melengkung rendah. Tidak berdinding, agar semua yang terjadi di dalamnya bisa disaksikan terbuka.

Fungsi utama Lobo adalah sebagai pusat musyawarah dan sidang adat—tempat di mana keputusan-keputusan besar komunitas dibicarakan dan disahkan. Di sinilah perselisihan diselesaikan, hukum adat ditegakkan, dan nilai-nilai leluhur dijaga.(*)

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXVI.

Tentang Cerpenis
Taufiq Agung Nugroho
Mengelola dan aktif menulis di blog mbahcarik.id. Seorang bapak-bapak berkumis pada umumnya yang kebetulan berprofesi sebagai Asisten Peneliti lepas di beberapa lembaga penelitian. IG: @upik_nugroho

Testimoni Taufiq Agung Nugroho

Terima kasih saya panjatkan kepada Allah, Sang Pencipta Alam Semesta, serta kepada penyelenggara dan juri Sayembara Cerpen Pulpen XXVI yang telah memberikan kesempatan kepada para Kompasianer untuk mengekspresikan imajinasi mereka. Cerpen “Di Bawah Atap Lobo” saya tulis saat bermalam di Desa Peana, Pipikoro, Sigi. Kebetulan, tepat di depan rumah tempat saya menginap, berdiri bangunan adat Lobo yang sayangnya tidak terawat.

Rasa penasaran mendorong saya mencari tahu fungsi bangunan itu, juga menggali kebudayaan unik yang dimiliki Pipikoro. Dengan memadukan informasi yang saya dapatkan dan sebuah premis sederhana, Alhamdulillah, lahirlah cerpen “Di Bawah Atap Lobo.”

Semoga cerita ini dapat menginspirasi pembaca untuk bersama-sama melestarikan kekayaan budaya Nusantara. Sekali lagi, terima kasih sebesar-besarnya.

Exit mobile version