Site icon cerpensastragrup

Cinta yang Tak Benar-Benar Pergi (Cerpen Ika Ayra)

Sumber Ilustrasi: rosemvry.tumblr.com.

Aku mulai mengerti mengapa kita belum dikaruniai seorang anak selama lima tahun ini. Bukan soal kau sedang tidak ingin melakukannya karena serangan gerd yang muncul sepanjang minggu, atau hal-hal lainnya, tetapi karena sebuah makam di belakang rumah kita.
…

Pernikahan kita seharusnya tidak pernah ada. Karena dengan demikian kau menjadi menderita karena terus menyimpan rahasia ini. Aku benar-benar terkejut saat suatu sore mengikutimu dari belakang. Setelah hampir seharian kau hanya mengurung diri di kamar, akhirnya kau keluar menuju pintu belakang.

Mulanya aku mengira kau akan memetik beberapa bunga yang tumbuh di sana dan meletakkannya di meja seperti biasa. Aku tidak keberatan meski kadang bau mereka mengganggu selera makanku. Mungkin kau akan merasa bahagia karenanya, bukan? Dan pada akhirnya bau itu akan hilang dengan sendirinya.

Dugaanku salah tentang kau pergi memetik bunga. Kau terduduk cukup lama di sana sambil berbicara pada seseorang. Entahlah, karena memang tak terlihat siapa-siapa. Aku juga sulit mendengar apa yang kau katakan dari tempatku mengintai.

Aku terus mengamati sambil menduga-duga apa yang sebenarnya kau lakukan. Mungkin kau sedang menggunakan earphone dan menelepon seseorang? Atau kau justru semacam berhalusinasi.

Tidak, jangan. Kau memang sering tampak murung belakangan ini. Tapi tidak mungkin! Aku bertambah penasaran tetapi aku menahan diriku. Daripada menanyakan sesuatu yang tampak aneh, akan lebih baik jika kuselidiki sendiri.

Hari berikutnya, sebelum kau terbangun aku lebih dulu memeriksa tempat itu. Sayangnya aku tak menemukan petunjuk apa pun. Saat bekerja aku tak sabar menunggu jam istirahat makan siang dan memeriksa rekaman kamera pengintai yang menyorot halaman belakang rumah kita.

Aku sangat heran selama ini kau sangat sering melakukannya. Kau duduk di titik yang sama. Sepertinya kau juga berdoa saat membelai tanah yang ditumbuhi rumput liar. Sesekali raut wajahmu tampak begitu emosional. Sayang, apakah kau benar-benar harus melakukan ini semua? Tetapi apa alasannya?
…

Pagi itu kau bangun lebih cepat dari biasanya. Kau membangunkanku juga karena katamu ini akan menjadi hari yang sibuk. Terus terang sejak kejadian itu aku menjadi sulit tidur. Kepalaku dipenuhi berbagai prasangka tentang sesuatu yang buruk.

Sebelum ke kamar mandi aku mengamati kau merias diri di depan cermin. Wajah yang sempurna meski kau tinggal menambahkan riasan tipis dan lipstik merah kesukaanmu. Aku begitu mencintaimu tetapi aku tidak tahu apakah kau sudah merasa bahagia dengan cinta itu? Apakah aku sudah menjadi pasangan seperti yang kau harapkan yang akan membuatmu takut kehilanganku?

“Hey, kenapa melamun? Papa dan mama akan segera datang untuk merayakan anniversary mereka. Kita akan memasak daging panggang kesukaanmu dan kau yang membuat acar…“

Aku terperanjat.
“Tentu, Sayang…,” kataku dan berlalu.

Aku turut senang melihat hari ini kau banyak tertawa. Mamamu memang sangat pandai menyenangkan hati putrinya. Tuan dan Nyonya Hamilton memang orang tua yang hebat. Lihat saja, untuk menantu sepertiku mereka repot-repot membawa puding leci paling enak yang tidak dijual di luaran sana.

Keduanya selalu memperlakukan spesial orang-orang yang mereka sayangi. Juga selalu mementingkan siapa saja di dekatnya. Great! Ini adalah prinsip kebijaksanaan menurut Socrates.

“Apa yang kau pikirkan?” bisik ayah mertua yang kemudian mengajakku melihat-lihat halaman belakang.
Aku berjalan di belakangnya sambil membawakan beberapa peralatan berkebun.

Biasanya ayah mertua akan merapikan beberapa tanaman dan bertanya manakah tanaman yang mulai mendapat gangguan hama? Setiap musuh tanaman pasti ada solusinya. Tuan Hamilton berpesan jangan menunggu tanaman itu mati secara perlahan.

“Halo, Rein. Semoga kau tenang di sana,” bisik ayah mertua saat berjongkok di tanah.
“Siapa yang Anda maksudkan, Tuan?” tanyaku penasaran.

Sepasang mata tuanya segera menatapku dalam-dalam, lalu berjalan pelan menuju bangku kayu.

“Apakah Anna tidak pernah mengatakannya?”
Aku menatap serius, lalu menggeleng pelan.

“Anna pernah bertunangan dengan Rein. Mereka hampir menikah jika kecelakaan itu tidak merenggutnya dari putri kami.“

“Tragis sekali.“
“Ya. Dan Anna meminta Rein dimakamkan di sini agar dia mudah menziarahinya.”
Aku menutup wajahku penuh penyesalan.

Pasti sulit sekali menjadi seperti dirimu. Kau harus bangkit melanjutkan hidupmu sementara impian itu sudah hancur. Kau memulai cinta yang baru denganku dengan sisa-sisa kekuatanmu. Kau berusaha menyembunyikannya dariku agar aku tidak terluka. Kau berkorban sebesar itu dan aku tak menyadarinya.

Aku tidak akan menyalahkan jika cintamu kepada Rein tidak benar-benar pergi dari hatimu, Sayang.
“Rest in peace, Rein…“ (*)

Kota Kayu, 28 Juli 2023

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen IV.
Cerpen telah tayang di Kompasiana.

Cerpenis

Ayra Amirah.
Suka membaca cerpen terjemahan. Seorang istri dan ibu dari tiga putri. Menulis cerpen dan artikel parenting di Kompasiana sejak 2020. IG: @ika_ayraamirah

Testimoni Ika Ayra

Alhamdulillah, saya seperti mendapat kejutan manis saat mengetahui masuk sebagai nominasi pemenang sayembara cerpen Pulpen IV. Saya bertanya kepada putri sulung kami yang masih usia remaja: bagaimana kalau ibu menang?

Akhirnya saya mengabaikan saja, sampai esok harinya benar-benar mendapat tautan IG Pulpen yang menyebutkan saya sebagai pemenang kedua. Yang membuat saya bahagia adalah Pulpen merupakan komunitas baru yang diperhitungkan.

Sudah banyak cerpenis kenamaan turut bergabung. Dan sekarang Pulpen memilih cerpen saya. Terima kasih banyak Pak Y. Edward Horas S., pendiri Pulpen dan Cerpen_Sastra; terima kasih juga Juri yang juga Pak Pical Gadi atas kemurahannya. Maju terus Pulpen!


Exit mobile version