Site icon cerpensastragrup

Cerita Empat Puluh Hari (Cerpen Feiren Dina)

Sumber ilustrasi: Cemetery by gustavo_belemmi (pixabay).

Aliong bukanlah orang yang percaya akan cerita mistis selama hidupnya. Cerita mistis baginya hanya takhayul belaka. Memang sewaktu kecil, dia percaya cerita-cerita mistis dari Akong, tetapi seiring dewasa, cerita itu tidak berlaku lagi padanya. Namun, ada satu cerita membekas di benaknya. Cerita mengenai arwah belum sadar akan kematiannya dan menjalankan hari layaknya orang hidup, lalu mereka sadar akan kematiannya sendiri dengan hati gundah tetapi berusaha ikhlas dan memutuskan kembali ke alam baka.
*** 
Cerita macam itu tidak masuk dalam logika Aliong. Justru dia menganggap tidak mungkin para arwah tidak sadar kalau mereka sudah mati. Seharusnya, mereka sudah memperkirakan kematian mereka sendiri dan mau tidak mau siap menghadapi itu.

Entah sudah berapa kali, Aliong mendengar cerita itu terlontar dari mulut Akong. Bukan tiga atau empat kali saja, tetapi nyaris hampir tiap minggu, cerita itu pasti akan terdengar dan ditujukan pada beberapa cucu dan cicitnya yang masih kecil. Apalagi seiring usia Akong bertambah tua, cerita itu makin sering terlontar dari mulutnya.

Namun kenyataannya, Akong sudah memprediksi nasibnya sendiri. Gilirannya menjadi salah satu manusia yang dipanggil untuk menghuni alam baka oleh para dewa. Kematiannya bukan sesuatu mengejutkan, karena usianya memang hampir seabad dan beberapa penyakit orang tua sudah menggerogoti tubuhnya.

“Koko, nanti Akong kembali lagi nggak ke rumah? Kan kata Akong, orang mati bakal balik ke rumah selama empat puluh hari,” pertanyaan yang terlontar dari Afung—salah satu cucu Akong yang masih kecil—mengejutkan Aliong. Suasana duka sedang hangatnya karena Akong baru saja masuk ke liang lahat dan ditambah pertanyaan polos tetapi menyelekit seperti itu, bukan kombinasi yang bagus.

“Nggak, itu cuma cerita. Kenapa kamu percaya gitu?”

“Yha, siapa tau, itu benaran terjadi? Akong ‘kan nggak pernah nggak bohong.”

Aliong segera mengayunkan salah satu tangannya dan membalas, “Hus, udah, udah. Nggak mungkin itu. Udah yuk, kita fokus ke lain aja.”

Sekali lagi, Aliong selalu menyetel otaknya untuk menepis semua cerita tak berlogis di otaknya, merasa cerita-cerita Akong hanya takhayul. Lagian, mana mungkin, orang mati akan kembali ke rumah mereka dan tinggal layaknya orang hidup selama empat puluh hari. Seharusnya, tiga hari sudah cukup menyadarkan mereka akan kematian mereka sendiri.

Pada minggu pertama dan kedua, suasana duka lebih terasa dengan keheningan dan kehilangan. Biasanya, Akong sering bangun pada pagi hari dan memulai hari dengan menyeduh kopi serta menyediakan roti srikaya, kini sudah tidak ada lagi. Suara nyanyian dari lagu-lagu Mandarin juga tak terdengar dari speaker kesayangannya, karena pendengar tetapnya sudah tidak bisa menyentuh speaker itu lagi. Bagaimanapun, inilah kehidupan. Aliong sadar jika garis kehidupan tak bisa diganggu gugat.
***
Aliong menyadari keanehan terjadi di rumahnya pada minggu ketiga. Itu dimulai dari malam hari. Setiap dia bergadang untuk mengerjakan tugas kuliah, ada suara langkah kaki beralas sendal rumah. Suara langkah itu terasa pelan dan hati-hati seakan takut jika tubuhnya yang sudah rintih akan oleng. Kebiasaan jalan itu terasa familiar untuk Aliong, tetapi tidak dihiraukannya dan berpikir kalau dia mulai stres akan tugasnya sebagai mahasiswa.

Keanehan seperti itu bukan dari langkah kaki hati-hati saja, tetapi ada lebih aneh lagi. Aliong pernah tak sengaja mencium aroma dupa tiap pulang ke rumah pada sore hari. Aroma dupa itu masih baru dan pekat seakan berasal dari seseorang yang baru saja sembahyang. Padahal di rumah ini, kebanyakan mereka bukanlah orang yang religius untuk melaksanakan doa tiap waktunya, kecuali Akong dulu. Ah, tetapi mana mungkin itu Akong, ‘kan?

Puncak semua keanehan ini berasal dari suara lantunan lagu Mandarin yang sedikit aneh dan tersetel di malam hari. Suara speaker-nya menjadi agak statis, tetapi Aliong bisa mendengar jelas kalau rata-rata lagu Mandarin itu dinyanyikan oleh penyanyi laki-laki. Suara mereka juga rata-rata hampir sama dengan suara Akong, tiap dia berkaraoke di siang hari. Di saat itulah, otak Aliong mulai mempertanyakan apa yang terjadi sebenarnya.

Kejadian-kejadian aneh seperti itu bagaikan pemantik akan keruntuhan pada pikiran logis dari Aliong. Sejak dulu, dia tidak pernah berpikir kalau cerita Akong itu nyata adanya, karena kesan takhayul atau menakuti saja. Namun, perlahan dia mulai percaya kalau itu cerita itu sungguhan ada. Lagi-lagi, otaknya tiba-tiba menepis kuat dan beranggapan itu hanya keparnoannya.

Ada satu hal yang disadari oleh Aliong, yaitu Mama maupun Papa tidak pernah mengunci pintu kamar Akong. Salah satu alis Aliong sedikit terangkat tiap melihat pintu kamar yang terbuka seperti itu.

“Ma. Kok pintu kamarnya nggak pernah dikunci? Nanti kalau ada yang masuk dan ambil barang berharga Akong, gimana?“ Aliong kadang sedikit kesal, karena pemikiran orang tuanya masih agak sama seperti Akong. Sama-sama percaya mistis.

Mama hanya menanggapi pertanyaan Aliong dengan santai, “Ngapain dikunci? Lagian, kamar itu masih didatangi sama Akong kok.”

“Aneh-aneh aja. Akong mana bisa datang ke kamarnya lagi? Udah, Ma, kunci aja pintunya.”

“Hus, jangan ngomong begitu. Kalau Akong tau kamu malah mau kunci kamarnya padahal beliau masih ada, nanti beliau kesal lho.“

Respons Mama justru membuat Aliong sedikit sebal. Bagaimana bisa orang tuanya masih percaya hal seperti ini? Padahal mereka manusia lebih modern. Sayangnya, justru itu membuat Aliong makin parno.
***
Pada malam hari, Aliong merasa haus dan memutuskan untuk pergi ke dapur. Saat menuju dapur, dia mendengar suara orang menggunakan kamar mandi. Pikirnya itu Mama, Papa, atau saudaranya. Jadi tidak hiraukan. Namun, dia tidak sengaja mendengar suara orang yang berusaha membuang air liur secara paksa. Seketika bulu kuduknya langsung bergidik karena kenal suara khas itu.

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka dengan sendirinya dan tidak ada siapa pun di sana. Anehnya, lampu kamar mandi nyala. Padahal biasanya lampu kamar mandi akan dimatikan sebelum semua orang rumah tidur. Di tengah kebingungannya, ada suara pintu lain yang terbuka seakan ada orang yang baru masuk ke dalam kamar Akong. Mengapa Aliong bisa tahu? Soalnya, di lantai satu hanya ada kamar Akong. Sisanya berada di lantai dua.

Rasa penasaran bodoh ini menyerangnya di situasi yang seharusnya bisa kabur, tetapi pandangannya teralihkan ke pintu kamar Akong yang terbuka sedikit dan ada cahaya kuning di balik kamar itu. Aliong mulai mendekatinya sambil berharap itu Mama sedang melepas rindu pada Akong.

Ketika Aliong membuka sedikit pintu kamar Akong, justru ada seseorang sedang berbaring di kasur. Dia menggunakan kaos oblong warna gelap dan celana pendek. Seketika, jantung Aliong berdegup kencang. Sialnya, tubuh itu membelakangi Aliong hingga tidak bisa melihat wajahnya, tetapi lebih baik begitu. Aliong segera melangkah mundur agar keberadaannya tidak diketahui oleh siapa pun. Namun…

“Aliong? Kamu ngapain?”

Suara serak itu terdengar dari pemilik tubuh yang masih berada di posisi yang sama. Tidak ada gerakan sama sekali dari tubuh tersebut.

“Kamu nggak percaya Akong di sini ya? Atau …,” perlahan tubuh itu membalikkan ke posisi melihat pintu, “… kamu udah percaya kalau Akong selama ini di sini?”

Aliong melihat wajah pucat Akong yang menyengir usil, tetapi tidak manusiawi. Cengiran itu biasanya ditunjukkan pada anak-anak nakal dan kemungkinannya, dia adalah salah satu anak nakal itu. Tanpa berpikir panjang, Aliong segera berlari menuju kamar tanpa melihat ke belakang atau kamar Akong lagi. Terdengar suara tawa meledek agak melengking dari kamar Akong.

Sejak saat itu, Aliong mulai percaya akan cerita-cerita mistis dan sebagainya. Mau itu logis atau tidak. Setidaknya, itu bisa membuatnya lebih menghargai cerita itu daripada terkena getahnya. Jika dia bersembahyang kepada Akong, dia akan meminta maaf akan ketidakpercayaannya pada Akong selama hidup.(*)

Cerpen merupakan Juara III Sayembara Cerpen Pulpen XXIV.

Tentang Cerpenis
Feiren Dina
Suka menulis puisi dan cerpen. Sedang coba melakukan eksplorasi menulis.

Testimoni Feiren Dina

Sejujurnya, saya kaget bukan main waktu diumumkan sebagai Juara III untuk lomba sayembara cerpen Pulpen Kompasiana XXIV. Meskipun, waktu itu, saya sudah pasrah tidak masuk ke tiga besar karena sudah merasa cukup masuk ke lima besar.

Kebetulan, saya menulis cerpen ini karena teringat cerita almarhum kakek saya dan kepercayaan di keluarga kami. Apalagi kepercayaan ini terus membekas di pikiran saya hingga akhirnya, saya memutuskan untuk menulisnya dalam bentuk cerpen.

Sekali lagi, terima kasih kepada para panitia Sayembara Cerpen Pulpen XXIV sudah mengadakan sayembara cerpen menarik ini. Semangat terus buat teman-teman!

Exit mobile version