Site icon cerpensastragrup

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Sumber ilustrasi: Pinterest.

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur putih di atas lantai kayu ek menandakan posisi terakhir Johga Tortan, sang maestro lukis yang karyanya selalu dinanti kolektor dunia dengan nilai fantastis.
***
Namun, bukan mayat Johga yang membuat inspektur Barmo memijat pelipisnya sejak satu jam lalu. Pandangan inspektur Barmo tertuju pada kanvas raksasa berukuran dua kali tiga meter yang disandarkan pada easel kayu mahoni. Lukisan berjudul Dara Padang Rumput itu baru dua hari lalu ditaksir tujuh miliar rupiah. Hari ini, harganya nol. Lukisan itu hancur. Terdapat seekor kucing sphynx mendekam ke sudut ruangan (satu-satunya area dekat celah ventilasi) sedang menjilati cakar depannya.

“Hewan bodoh,” dengkus Barmo sambil menyilangkan lengan. “Pemiliknya mati tertusuk, dia malah asyik mencakari lukisan. Insting binatang memang payah.“

Dama tidak menyahut. Pria yang mengenakan sarung tangan nitril biru itu adalah seorang restorator seni forensik yang sering dipanggil kepolisian untuk kasus-kasus pemalsuan atau vandalisme benda bersejarah. Ia melangkah melewati garis polisi, lalu menghadap kanvas yang sudah terkoyak-koyak. Mata Dama yang terbingkai kacamata menyipit. Tangannya mengeluarkan kaca pembesar berlampu LED dari dalam koper peralatannya. Ia mendekatkan wajah ke permukaan kanvas.

“Kucing tidak pernah panik tanpa alasan.” Suara Dama nyaris tenggelam oleh deru pendingin ruangan. “Mereka tidak akan melompat ke easel setinggi itu hanya untuk merusak karya seni demi kesenangan.”

“Anda mau bilang kucing botak itu punya dendam pribadi pada lukisan lanskap?” cemooh Barmo.

Dama menggeser kaca pembesarnya dari kiri ke kanan, terus-menerus mengikuti alur robekan di atas kanvas dengan teliti. “Bukan dendam…. Ketertarikan. Coba Anda perhatikan pola kerusakannya secara objektif.“

Barmo melangkah maju dengan gerakan terpaksa. “Katakan saja apa yang ingin Anda katakan. Saya tidak sepintar Anda untuk memperhatikan pola lukisan yang sudah hancur.“

“Tidak semua hancur,” ralat Dama tegas. Ujung telunjuknya yang berbalut sarung tangan menunjuk bagian atas kanvas. “Lukisan ini … menggambarkan langit biru, matahari kuning, dan gadis bergaun putih. Lihat, kucing Johga hanya mencakar bagian padang rumput. Langit, matahari, dan gadis itu utuh. Apakah ini kebetulan?”

“Bisa saja kucing itu memang hanya mampu merusak bagian bawah.“

Usai mendengar jawaban dari inspektur Barmo, Dama menghela napas pelan. Dama berbalik, mendekati sphynx yang menatapnya dengan pupil vertikal. Ia berjongkok dan meraih kaki depan kucing itu. Terdapat gumpalan cat minyak kering pada sela-sela kukunya. Semuanya hijau, persis warna padang rumput di lukisan Johga Tortan.

“Ini bukan vandalisme acak,” Dama berdiri dan kembali menilik kanvas, “ini proses ekskavasi.”

“Eks-kavasi?” Barmo menaikkan alisnya. “Anda sedang berbicara tentang seni atau situs purbakala?“

“Keduanya sering serupa,” ungkap Dama seraya merogoh koper peralatannya lagi.

Dama mengeluarkan lampu UV portabel dan pelarut kimia. “Johga Tortan penganut aliran klasik. Beliau melukis menggunakan teknik impasto[1]. Sebelum impasto dituang, maestro selalu membuat underpainting, sketsa awal di lapisan paling bawah kanvas.”
Dama mematikan lampu utama studio. Ruangan dibungkus remang. Ia menyapukan lampu UV ke atas kanvas. Pendaran ultraviolet menyinari permukaan cat hingga muncul beragam rona.

“Polisi menduga Johga ditusuk saat melukis?”

“Ya. Tidak ada tanda perlawanan besar. Korban tidak menghalau serangan. Tangan dan lengannya bersih, lukanya juga tepat di dada. Pembunuhnya pasti seseorang yang dia kenal.“

Dama mengangguk. “Sepertinya Johga Tortan sudah menyiapkan jebakan sejak lama.”

“Jebakan?”

“Johga itu obsesif. Beliau mencampurkan Nepeta cataria atau catnip ke dalam cat hijaunya. Aromanya masih tertinggal di sini,” tutur Dama. “Nepetalactone membuat kucing mengalami euforia. Johga mengaplikasikannya pada bagian padang rumput sebagai umpan.”

“Johga tahu dirinya tidak akan hidup lama untuk mengungkap pembunuhnya.”

Barmo bergeming.

Kini Dama membasahi cotton bud dengan pelarut kimia. Ia mengoleskannya pada impasto hijau yang terkoyak. Cairan itu meresap, melunakkan pengikat minyak dalam cat.

“Kucing tidak melukis dengan menambah warna,” gumam Dama.

Cat hijau beraroma catnip perlahan luruh, mengotori lantai studio. Di bawah sinar UV, lapisan underpainting milik Johga menampakkan wujud aslinya. Di bawah padang rumput yang terkoyak, tidak ada rumput ataupun tanah lapang. Lapisan dasar kanvas itu tergambar sketsa wajah menggunakan arang dan cat ochre. Potret pria dengan tulang pipi tinggi, rambut sebahu, dan tato bulan sabit pada pipi kiri. Di bawah dagu subjek, Johga Tortan menuliskan satu kata dengan huruf-huruf mencolok berwarna merah: “PENCURI”.

“Tuhan…,” bisik Barmo. “Itu … itu wajah Lukas. Pria yang tadi pagi menangis di depan pers, mengaku berada di luar kota saat kejadian….”

“Lukas, manajer galeri Johga.” Dama menatap sphynx yang tertidur. “Sebulan lalu, Johga memintaku mengaudit keaslian lukisannya karena curiga Lukas menukar dengan salinan dari pasar gelap.”

“Lukas mengira Johga tidak berdaya tanpa tahu jebakan yang disiapkan korbannya.”
***
Mulanya, hubungan Johga bersama manajernya itu memang baik. Namun, seiring harga lukisan-lukisan Johga meroket, Lukas berubah. Johga sering mendapati Lukas menyelinap ke studionya dengan alasan ingin memeriksa kondisi karya untuk klien atau galeri. Johga Tortan percaya. Ia berpikir tidak mungkin Lukas yang bertahun-tahun mendampinginya dalam dunia seni akan berkhianat.

Di malam sebelum kematiannya, Johga memergoki laki-laki berpakaian serbahitam dengan wajah tertutup masker hendak mencuri lukisannya. Lantas, Johga berteriak.

“Pencuri! Tolong ada pencuri di sini!“
Laki-laki serbahitam itu terperanjat, lalu lari tunggang-langgang meninggalkan studio.     

Johga Tortan yang masih shock mencoba menguasai diri kembali. Ia tahu, si pencuri tidak akan berhenti. Maka, dengan sisa tenaga, Johga mendekati lukisan yang baru ia tuntaskan kemarin. Tangan lemas Johga menyambar botol kecil yang terselip di balik tumpukan tube cat, diteteskannya minyak atsiri catnip ke dalam palet cat hijau. Gegas, seolah berlomba dengan maut, ia mengambil kuas dan melukis menggunakan cat hijau itu. Tepat saat Johga hampir menyelesaikan pulasan terakhir dengan cat yang tersisa, ia mendadak membeku.

Terdengar suara pintu terbuka, disusul sapaan yang sangat ia kenal. Persis suara Lukas. Johga Tortan pun membalikkan badan cepat.

“Lu—” 

Dan, pisau serta-merta menghunjam dadanya. Kuas dan palet yang dipegangnya terjatuh. Darah terus mengalir. Namun, di ambang ajal, senyum tersungging di bibir Johga.

Lukas mengunci pintu. Napasnya memburu, tangannya gemetar. Ia yakin tidak ada saksi ataupun jejak yang tertinggal. Orang-orang pasti mengira perampokan terjadi; tidak mungkin ada yang mencurigai ini perbuatan manajer setianya. Pula, hewan pasti tidak mengerti apa-apa, pikirnya.

Kucing itu meringkuk ketakutan. Pupil matanya melebar. Tetapi, dalam sekejap ketakutan itu berhenti. Aroma surgawi mengalahkan rasa gentarnya. Ia bangkit. Matanya terpaku pada satu objek: Lukisan berwarna hijau yang begitu memikat. Lekas, diterjangnya kanvas itu. Dicakar-cakar. Satu cakaran. Dua cakaran. Tiga cakaran. Terus-menerus.
***
Dama mematikan lampu UV dan menyalakan kembali lampu utama studio. Kanvas itu kini menjadi mengerikan; separuh atas adalah langit dan gadis yang indah, sementara separuh bawah adalah wajah pembunuh yang mengintip dari balik koyakan cat. Mahakarya yang tak diselesaikan manusia, akan tetapi diakhiri oleh binatang yang dipandu dendam tuannya.

“Sita kanvas ini sebagai barang bukti utama, Inspektur.” Dama melepas sarung tangannya. Bunyi karet memecah kesunyian. “Saya rasa Anda bisa mengirim tim untuk menjemput Lukas sekarang.”

Inspektur Barmo mengangguk tegas, lalu berlari keluar ruangan sambil meneriakkan perintah ke radio komunikasinya.

Sejenak Dama berdiri menatap kanvas kembali, sebelum akhirnya melangkah pelan menghampiri tempat si sphynx meringkuk. Dama berjongkok, mengangkat tubuh polos kucing itu dengan jaket wolnya. Si kucing sempat menggeliat. Namun, aroma catnip yang masih menempel pada pakaian Dama membuatnya kembali tenang dan mendengkur halus. Sambil membopong hewan itu, Dama berjalan ke ambang pintu. Ia mematikan lampu studio dengan siku, membuat ruangan di belakangnya dikuasai gulita.

Dama melangkah keluar. Merapatkan pintu studio. Bunyi klik dari gerendel menyatu dengan suara radio polisi bersahut-sahutan. Ramai. Riuh. Menelan bunyi langkah saat ia menjauh dari ruangan studio.
***
Sejak insiden itu, si sphynx mengalami monofobia yang membuatnya selalu mengikuti Dama ke mana pun, termasuk ruang restorasi. Ruang restorasi itu diisi oleh Dama bersama rekannya bernama Tursin. Biasanya, Dama hanya datang untuk memverifikasi data di layar monitor. Dan, ia tidak memperhatikan ke mana kucing itu pergi juga apa yang dilakukannya. Tursin yang baru masuk membawa berkas-berkas, meletakkan tumpukan itu dengan kasar ke atas meja.

“Sejak kemarin, kucing itu mengganggu konsentrasiku,” celetuk Tursin.  

Dama tetap tidak mengalihkan pandangan dari layar.

“Kenapa?”  

Tursin menghela napas.

“Dia selalu mencakar kanvas yang ada di tempat ini.“(*)

[1] Impasto: teknik menerapkan cat dalam lapisan tebal untuk memberikan tekstur tiga dimensi.

Cerpen merupakan Juara II Pesta Pena 2026.

Tentang Cerpenis
Syavira Dwi Putri Septiani

Pelajar. IG: @anvrarc

Testimoni Syavira Dwi Putri Septiani

Ide menulis ‘Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya?’ bermula dari mama saya yang tiba-tiba bercanda, bertanya gimana kucing bisa melukis pakai kukunya. Dari situ, ide cerita mulai bermunculan. Saya lalu menggabungkan dunia seni lukis, analisis forensik, dan perilaku hewan ke dalam satu jalinan misteri. Saya ingin mengeksplorasi bagaimana kejahatan bisa terungkap bukan dari saksi mata manusia, tetapi melalui insting seekor kucing dan pesan tersembunyi yang ditinggalkan si pelukis. Proses riset mengenai teknik lukis hingga reaksi kimia catnip menjadi tantangan seru tersendiri selama menyusun cerpen.

Terpilih sebagai Juara II di Pesta Pena 2026 tentu menjadi kebanggaan sekaligus dorongan besar bagi saya untuk terus berkarya. Terima kasih kepada Pulpen Kompasiana dan seluruh dewan juri Pesta Pena 2026. Semoga ajang ini terus melahirkan karya-karya sastra yang kreatif, berani, dan menginspirasi.

Exit mobile version