Site icon cerpensastragrup

Ada Silet di Kerongkonganku, Tetapi Aku Harus Makan (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Sumber ilustrasi: Pixabay.

Di Rumah Aman Jaya Bangkit yang tua dan sejuk, Rina melangkah hati-hati menghindari retakan lantai menuju ruang kerjanya yang lengang. Setiap pagi, Bu Ida, kepala rumah aman, selalu menyambutnya dengan senyum dan sebungkus nasi uduk kesukaannya. “Sarapan dulu, Bu Rina. Nanti lemas. Hari ini ada klien baru,” ucapnya lembut. Belum sempat Rina menyantap sarapannya, klien pertama telah tiba. Seorang perempuan lusuh dengan nada datar menceritakan, suaminya kerap menyiksanya menggunakan sundutan rokok. Rina mendengarkan kisah itu dengan tegang, dan tepat saat klien itu menumpahkan kepedihannya, ia kembali merasakan dingin ujung logam. Sebilah silet baru tumbuh di kerongkongannya, seperti yang selalu terjadi setiap kali ia menampung penderitaan kliennya.
***
Rina paham betul pola misterius ini, perutnya tak boleh kosong lebih dari dua jam atau silet-silet di kerongkongannya akan mengiris lehernya dari dalam. Ia pernah nekat menahan lapar seharian hingga terkapar bersimbah darah, tetapi Bu Ida hanya merawatnya sebagai pasien kelelahan parah tanpa melihat benda asing apa pun. Meskipun begitu, Rina tahu kebenarannya; silet-silet itu telah merambat naik dan nyaris mencapai pangkal otaknya, sebuah titik fatal yang mengancam akal dan ingatannya, bukannya merenggut nyawanya.

Usai konseling, Rina bergegas ke dapur menyuap nasi uduk dinginnya; ia meringis pedih saat aliran makanan menggeser silet-silet di kerongkongannya, membuat butiran nasi terasa bak kerikil tajam yang menorehkan luka baru. Meski harus menelan darah segar dan menahan mual akibat pekatnya rasa logam, Rina tetap memaksakan diri mengunyah karena tak punya pilihan. “Dihabiskan ya, Bu. Sayang lho kalau bersisa … rasanya tetap enak, kan?” sapa Bu Ida dari ambang pintu, “Enak, Bu Ida. Saya cuma agak sariawan,” jawab Rina, memaksakan seulas senyum meski urat lehernya menegang menahan perih. Bu Ida mengangguk dengan senyum ramahnya, namun tatapan lekatnya menyiratkan bahwa ia mengetahui kebenarannya.

Menjelang siang, klien kedua datang dengan tangan gemetar dan terus menggaruk punggung tangannya hingga kulitnya mengelupas. Ia menceritakan anak lelakinya kerap membenturkan kepala sang ibu jika tak diberi uang rokok. Tepat ketika ibu itu mengakhiri kisahnya dengan isakan, sebilah silet baru mendadak tumbuh di kerongkongan Rina. Sepanjang satu jam sesi tersebut, Rina terus mencatat dengan tangan bergetar seraya berkeringat dingin, sementara silet-silet di kerongkongannya mengeluarkan dengungan bak lalat yang terperangkap di dalam botol, yang hanya bisa didengarnya sendiri. 

Selepas kliennya pergi, Rina bergegas menyuapkan porsi besar nasi uduk sambil berurai air mata. Setiap tegukan terasa bagai menelan pecahan beling yang menyebarkan sakit tajam dari kerongkongan hingga ke ujung jemarinya. Meski begitu, ia terus melahapnya sebab ia memang tidak bisa berhenti. Siklus itu terus berulang ketika klien menumpahkan kisahnya dan sebilah silet baru kembali tumbuh. Kini, enam atau tujuh silet bersarang di lehernya; setiap kali menelan ludah menyisakan perih luar biasa hingga suaranya kian serak. Kendati demikian, Rina menolak berhenti dan tetap menjadi muara bagi kepedihan para perempuan teraniaya.

Suatu sore, seorang klien tua berkebaya dengan aroma tajam minyak gosok datang menceritakan masalah keluarganya. Tatapannya lurus tak berkedip, seketika menjalarkan hawa dingin di punggung Rina. Ia menunduk dan suaranya bergetar pelan, “Saya tidak lari dari suami saya…”; setelah hening sejenak, bisiknya kian lirih, “…saya lari dari anak saya.” Rina menyimak saksama saat perempuan itu melanjutkan, “Anak saya meracuni saya pelan-pelan lewat minuman saya. Saya tetap meminumnya karena ia anak saya sendiri, sampai akhirnya mulut saya mengeluarkan darah.” Tiba-tiba bau minyak gosok yang menyengat memenuhi ruangan dan menyeret kesadaran Rina pada penglihatan tentang sepasang tangan anak yang meracuni minuman ibunya. “Siapa … siapa nama anak Ibu?” tanya Rina dengan suara bergetar. Seolah terhenti oleh waktu, perempuan tua itu tertahan jawabannya, “Namanya…”

Rina kaku saat empat silet baru sekaligus muncul di kerongkongannya, membuatnya kehilangan hitungan pasti. Benda-benda tajam itu menggeliat seolah bernyawa, merobek lehernya bagai gergaji berkarat yang menggerogoti daging dari dalam. Tak sanggup menahan sakitnya, Rina memekik keras dan terjerembab dari kursinya.

“Bu Rina? Bu Rina kenapa?” tegur Bu Ida dari ambang pintu, memecah keheningan dengan semangkuk nasi uduk. Rina mendongak, mendapati kursi di hadapannya telah kosong tanpa jejak, lalu bertanya kebingungan seraya merangkak bangun, “Siapa perempuan tadi? Ke mana dia?”

“Tidak ada perempuan lain, Bu. Sudah dua jam Ibu duduk sendirian dan tidak menyahut saat dipanggil,” jelas Bu Ida keheranan. Kalimat Bu Ida menyadarkannya bahwa ia tak makan selama dua jam, memicu silet di kerongkongannya memberontak hebat. Rina menyadari adanya noda hitam di atas kursi yang kosong, ketika Bu Ida menyodorkan nasi uduk seraya berkata, “Makan, Bu. Ibu harus makan.” Dengan tangan bergetar, Rina kembali menyuapkan nasi uduk; rasa sakitnya kini menjelma bak puluhan jarum panas di setiap kunyahan. Dengan air mata yang membasahi makanannya dalam tangis bisu, ia tetap memaksakan diri untuk terus menelan segalanya.

Malamnya, Rina berdiri di depan cermin kamarnya dan membuka mulut lebar-lebar. Dengan seberkas cahaya senter kecil yang disorotkan ke dalam, ia menangkap kilatan-kilatan kecil dari belasan bilah silet yang hampir berkarat di kedalaman kerongkongannya.

Benda-benda tajam itu tersangkut di dinding leher yang telah penuh luka sayatan; beberapa bilah sudah bengkok dan yang lainnya masih mengilap, tetapi seluruhnya mengarah ke tujuan yang sama. Ujung-ujung silet itu menunjuk lurus ke atas, tepat ke pangkal otaknya, tempat ingatannya disimpan.

Dalam pantulan cermin, tepat dari balik bahunya, Rina melihat bayangan sang ibu. Perempuan tua dengan mulut bersimbah darah itu tidak menyiratkan amarah, hanya menatap Rina dengan mata yang begitu lelah, sama persis seperti dulu. Pada masa itu Rina dihadapkan pada pilihan sulit antara mengejar karier bergengsi di rumah sakit ternama di luar negeri atau tetap tinggal merawat ibunya yang sakit keras, sayangnya ia memilih yang pertama. Seharusnya Rina bisa merawat perempuan itu hingga ujung hayatnya, tetapi sebuah kejadian mengerikan mengubah segalanya.

“Kamu harus terus makan, anakku, karena kalau kamu berhenti, kamu akan lupa apa yang kamu lakukan,” bisik bayangan ibunya. Bayangan itu melanjutkan, “Ibu takkan pernah meninggalkanmu selama kamu masih ingat dan terus menelan lukanya.” Mendengar bisikan itu, Rina seketika mematikan senter di tangannya dan berbalik cepat, tetapi di belakangnya hanya ada kesunyian; tak seorang pun berdiri di sana.

Di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, sebungkus nasi uduk selalu tersaji hangat, mengepulkan asap tipis, entah siapa yang mengantarnya. Pemandangan itu berulang setiap hari tanpa pernah absen. Setiap kali Rina meraih gagang sendok dan menyuapkan isi mangkuk ke dalam mulutnya, silet-silet di kerongkongannya menyambut setiap suapan dengan irisan luka baru, dan ia hanya bisa menangis dalam diam.

Pagi berikutnya, rutinitas itu terulang lagi. Bu Ida datang seperti biasa, membawakan sebungkus nasi uduk dan meletakkannya perlahan di meja kerja Rina sambil mengingatkan, “Sarapan dulu, Bu Rina. Nanti lemas. Hari ini ada klien baru.”

Rina mengangguk pelan, menyuapkan makanan itu, dan seketika rasa pekat logam bercampur anyir darah menyergap indra pengecapnya; ia justru tersenyum getir, bukan karena siksaan telah memudar, melainkan karena ia mulai mengingat sebelum melupakannya kembali. Bilah-bilah silet yang bersarang di kerongkongannya kini menjadi satu-satunya yang paling setia, sebab benda-benda tajam itu tidak pernah berbohong tentang apa yang telah ia perbuat di masa hidupnya.

Dalam setiap tegukan yang menyakitkan, kematian adalah berkah yang paling ia nantikan, namun ia sadar bahwa dirinya tak boleh berhenti mengunyah dan menelan, karena silet di kerongkongan itu menjadi jalan tengah untuk merawat ingatan sekaligus menjalani penebusan dosa hingga pengampunan membuka pintunya.

Selama ia terus makan dan menahan sakit tak terperi, bayangan ibunya akan tetap hidup dalam siksaan itu sebagai balasan atas pengkhianatan dan kekejamannya terhadap sang ibu di masa lalu.

Rumah aman ini, para klien yang malang, dan Bu Ida dengan senyum hangatnya adalah kepingan-kepingan yang tercipta setelah kematian Rina. Sebuah dimensi penghakiman yang menjelma ruang penyiksaan tanpa akhir, menjebak jiwanya dalam siklus penderitaan berulang. Di dalam semestanya, Rina mengemban tiga peran menyakitkan sekaligus, sebagai terapis yang mendengarkan, saksi yang melihat, sekaligus terpidana yang menjalani hukuman.(*)

Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXXV.

Testimoni Gema Surya Hendrawan

Merupakan suatu kehormatan yang luar biasa bagi saya bisa menjadi pemenang dalam Sayembara Cerpen Pulpen XXXV. Melalui ‘Ada Silet di Kerongkonganku, Tetapi Aku Harus Makan’, saya bermaksud menyampaikan sebuah perenungan bahwa cepat atau lambat, hukum karma dari setiap perbuatan pasti akan menuai balasannya.

Diakui oleh juri sekelas Kak Tia Sulaksono membuktikan bahwa pesan moral tersebut berhasil tersampaikan. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada penyelenggara dan dewan juri atas apresiasinya.

Exit mobile version