Site icon cerpensastragrup

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Proses Syuting Bersama Tim Produksi dari TRANS 7 di Galeri dan Workshop @pernikbanua | @kaekaha!

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan para pahlawan dalam memaknainya!
***
Padahal, kita perlu aksi nyata dan strategis agar nilai-nilai kemerdekaan yang sejatinya hidup dalam denyut nadi kehidupan sehari-hari kita, bisa teraktualisasi secara nyata pada kesadaran untuk berbakti, berkarya, dan memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitar.

Bagi saya yang “secara sistem” sudah dianggap cacat oleh negara karena kelainan buta warna saya, hingga kenyataan ini begitu membelenggu hak-hak kemerdekaan saya sebagai warga negara, mungkin cara saya menghayati kemerdekaan menjadi sedikit berbeda! Obsesi di kepala saya sederhana saja, tidak pernah jauh-jauh dari usaha dan upaya menumbuhkan “kemerdekaan”! Kebebasan untuk bertumbuh dan berkembang semandiri mungkin dengan menggali dan mengasah potensi diri semaksimal mungkin. Salah satunya dengan terus berkarya, berkarya, dan berkarya, mengubah hal sederhana menjadi karya yang bermanfaat, bernilai strategis dan menginspirasi sesama dan salah satunya juga, melalui usaha kreatif kerajinan tangan dari triplek.

Jam Dinding dan Poster Wajah dari Plywood | @pernikbanua

Kerajinan Tangan dari Triplek
Kisah keterlibatan saya dalam dunia kerajinan tangan ini bermula dari kenangan masa kecil yang amat membekas di Sekolah Dasar dulu. Saat itu, Pak Hasan, guru SD saya, memperkenalkan keunikan prakarya mainan bongkar pasang (puzzle) berbahan triplek atau kayu lapis berbentuk mobil-mobilan dan masjid. Siapa sangka, berawal dari tugas sekolah yang sederhana itu, benih kekaguman saya terhadap seni merancang dan memotong kayu lapis mulai tertanam. Saya jatuh hati pada proses mengubah lembaran kayu datar menjadi bentuk tiga dimensi yang berkarakter.

Berpuluh tahun kemudian, di sela-sela rutinitas pekerjaan utama saya, minat tersebut menemukan jalannya kembali. Saya mendirikan studio kreatif yang sering disapa rekan-rekan sebagai rumah produksi Pernik Banua. Nama “Banua” berasal dari bahasa Banjar, yang merujuk pada konteks tanah kelahiran, kampung halaman yang senantiasa menjadi pijakan dan sumber inspirasi karya-karya kreatif saya.

Ruang Workshop Sekaligus Galeri Mini Pernik Banua | @kaekaha!

Di studio kecil ini, seusai ngantor, saya kembali memegang alat, memutar otak, dan menyempurnakan desain-desain mainan bongkar pasang berbahan triplek.

Pada awal perjalanannya, saya berupaya memanfaatkan limbah triplek bekas pakai. Niat awalnya adalah mengusung semangat efisiensi dan memanfaatkan kembali bahan limbah. Namun, tantangan teknis muncul. Spesifikasi dimensi, ketebalan, dan bentuk triplek bekas sangat tidak seragam, hingga sulit untuk menghasilkan produk yang presisi dan sesuai dengan standar pesanan yang semuanya custom dan demi menjaga kualitas, akhirnya saya beralih menggunakan triplek baru. Setiap ada waktu luang, saya manfaatkan sepenuhnya untuk meresapi proses desain hingga mengeksekusinya menjadi produk kerajinan yang bertahap makin beragam.

Menikmati Proses Kreatif
Secara perlahan, proses kreatif ini berkembang menjadi ruang peristirahatan sekaligus laboratorium imajinasi di tengah kesibukan harian.

Secara perlahan saya mulai merambah ke pembuatan pernak-pernik yang lebih komersil, hingga lahir berbagai karya seperti gantungan kunci, jam dinding artistik, seni kaligrafi, siluet wajah, wadah tisu, toples, hingga beraneka ragam miniatur unik.

Awalnya, tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk menjadikan karya-karya ini sebagai ladang bisnis, apalagi bisa berskala nasional. Semua produk hasil desain tersebut sekadar saya pajang di galeri kecil pribadi yang memanfaatkan sebagian teras depan rumah. Niatnya murni hanya untuk hiasan dan kepuasan batin. Namun, dorongan kuat datang dari teman-teman dekat, sahabat, dan kolega yang melihat potensi besar dari detail karya saya. Mereka menyarankan agar produk Pernik Banua diperkenalkan ke khalayak luas melalui media sosial.

Atas desakan hangat tersebut, saya mulai mengunggah foto-foto produk ke Facebook dan kemudian Instagram. Respons yang datang sungguh di luar dugaan. Circle pertemanan dan publik memberikan apresiasi yang sangat positif. Pesanan demi pesanan mulai berdatangan. Walau pada mulanya secara kuantitas belum tergolong masif, tapi setiap rupiah yang terhasilkan terasa begitu berharga karena lahir dari peluh keringat dan dedikasi atas karya sendiri. Ini yang namanya merdeka!

Sesaat Setelah Syuting Seharian dengan Kru dari TRANS 7 yang Rela Terbang ke Banjarmasin | @kaekaha!

Titik Balik dan Magnet Media
Titik balik perjalanan Pernik Banua terjadi ketika sebuah kejutan besar menghampiri, ketika stasiun televisi nasional Trans 7 mengontak saya dan menyatakan ketertarikannya untuk meliput kegiatan serta produk-produk unik Pernik Banua langsung di Banjarmasin. Alhamdulillah.

Proses syuting berlangsung intensif selama satu hari penuh, meliput detail setiap tahapan pengerjaan yang menuntut ketelitian tinggi. Ketika tayangan yang berdurasi beberapa menit itu akhirnya mengudara di layar kaca nasional, dampaknya ternyata sangat luar biasa. Nama Pernik Banua meledak dan dikenal luas oleh masyarakat dari berbagai penjuru tanah air.

Sejak momen penayangan tersebut, Pernik Banua seperti magnet bagi media. Gelombang pesanan makin deras masuk melalui saluran media sosial. Tak hanya itu, tawaran wawancara dan liputan mengalir bertubi-tubi. Hingga berbagai media televisi, stasiun radio, media cetak, hingga portal berita online lokal dan nasional datang bergantian untuk bersilaturahmi dan mengangkat kisah kreatif dari teras rumah ini.

Namun, kepopuleran juga membawa ujian profesionalisme. Karena seluruh karya Pernik Banua dibuat secara manual (handmade) demi mempertahankan detail dan kualitas. Akibatnya, ada saat-saat di mana saya harus mengambil keputusan berat! Menolak pesanan berskala super besar dari instansi pemerintah maupun perusahaan swasta yang meminta tenggat waktu tidak masuk akal.

Pernah suatu ketika, sebuah perusahaan agriculture raksasa memesan ribuan jam dinding bermotif ornamen tradisional khas Kalimantan yang dipadukan dengan logo perusahaan mereka untuk bingkisan Lebaran karyawan. Nilai kontraknya sangat menggiurkan dan sanggup membuat jantung berdebar. Namun, memperhitungkan batasan waktu dan pengerjaan manual yang tidak bisa diburu-buru tanpa mengorbankan kualitas, saya memilih jujur. Pesanan tersebut terpaksa saya tolak dengan memberikan penjelasan teknis yang logis dan transparan.

Prinsip saya sederhana, saya tidak mau mengorbankan kualitas karya saya dan merugikan orang lain! Apalagi, saya yakin yang seyakin-yakinnya, rezeki yang telah ditakdirkan tidak akan pernah tertukar. Terbukti! Kejujuran dan konsistensi saya menjaga kualitas justru mendatangkan pesanan-pesanan lain dengan volume juga limit waktu yang lebih rasional dan menariknya, jika dikalkulasi, hasil dari usaha kreatif di luar jam ngantor ini bahkan pernah melampaui nilai pendapatan dari gaji bulanan saya sebagai karyawan.

…dan salah satu momen yang paling berkesan dan membanggakan adalah ketika datang pesanan khusus dari salah satu petinggi produsen elektronik terkemuka asal Eropa yang beroperasi di Indonesia. Beliau memesan sebuah miniatur pesawat berbahan kayu lapis khas Pernik Banua untuk dijadikan cinderamata resmi dalam kunjungannya ke kantor pusat mereka di Belanda. Bangga banget! Karya lokal buatan tangan dari teras rumah saya, berhasil terbang tinggi menyeberangi benua hingga ke Negeri Kincir Angin.

Miniatur Pesawat dari Bahan Triplek | @pernikbanua

Menghayati Kemerdekaan Lewat Karya
Merenungi kembali perjalanan lahir dan tumbuhnya Pernik Banua, saya makin menyadari makna mendalam dari kemerdekaan. Bagi saya pribadi, menghayati kemerdekaan Indonesia bukan sekadar memperingati momen bersejarah saban bulan Agustus, melainkan bagaimana kita mengisi ruang merdeka ini dengan berkarya, berkarya, dan berkarya sesuai dengan profesi dan kemampuan masing-masing, demi:

1. Kemerdekaan Berpikir dan Berkreasi.
Kemerdekaan memberi kita panggung seluas-luasnya untuk mengeksplorasi potensi diri tanpa batas. Mengubah selembar kayu lapis biasa menjadi produk bernilai seni dan ekonomi adalah wujud kedaulatan berpikir dan berkarya.

2. Kemandirian Ekonomi dan Berbagi Manfaat.
Berdiri di atas kaki sendiri melalui usaha kreatif membuktikan bahwa batas ruang dan waktu kantor tidak membatasi seseorang untuk mandiri secara finansial. Lebih dari itu, karya yang lahir mampu mengangkat kearifan lokal ke panggung nasional bahkan internasional.

3. Menginspirasi Lingkungan Sekitar.
Langkah-langkah kecil yang konsisten, seperti menjaga kualitas, berani jujur, serta terus belajar adalah bentuk bakti nyata kepada negeri. Ketika karya kecil kita mampu memberi inspirasi bagi orang lain untuk ikut bergerak dan berkarya, di situlah nilai kemerdekaan menemukan makna sejatinya.

Terakhir, kita tidak perlu menunggu panggung megah untuk membuktikan kecintaan pada Indonesia. Melalui hal-hal kecil yang ditekuni dengan penuh kesadaran, ketelitian, dan rasa bangga atas identitas bangsa, kita sejatinya telah ikut menjaga api kemerdekaan itu tetap menyala. Dari studio kecil Pernik Banua, saya belajar bahwa kerja keras yang dibalut keikhlasan akan selalu menemukan jalannya untuk menginspirasi Nusantara. (BDJ28826)

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Exit mobile version