Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup yang menuntut kompromi luar biasa besar.
***
…dan bulan Juni selalu membawa atmosfer berbeda bagi Jakarta, karena pada Senin, 22 Juni atau beberapa hari yang lalu, kota ini resmi menginjak usia 499 tahun, hampir 5 abad!
Sebuah angka yang menandakan kematangan, sekaligus beban sejarah yang tidak ringan. Bagi saya, berbicara tentang Jakarta hari ini, tidak bisa lepas dari kenangan Jakarta sebagai ruang romansa, perjumpaan hangat, sekaligus tempat di mana batas kesabaran, ketekunan dan kegigihan seorang anak manusia pernah diuji hingga ke titik nadir, beberapa dekade silam.
Menua di Jalan, Lelah yang Mengakar Sejak Akhir 90-an
Memori saya tentang kota ini berakar kuat sejak akhir 90-an. Itu adalah masa di mana bertarung dengan kemacetan terasa jauh lebih brutal. Belum ada MRT yang senyap di bawah tanah, dan Transjakarta baru saja memulai langkah awalnya yang tertatih.
Hari-hari sebagai perantau saat itu habis di dalam kepungan asap knalpot, terjebak di tengah lautan kendaraan yang mengular tanpa kepastian. Menatap lampu merah yang terasa abadi di bawah terik Jakarta yang membakar, saya merasakan sendiri bagaimana waktu menguap sia-sia begitu saja! Saat itulah gundah dan gelisah selalu datang setiap kali menyadari waktu-waktu berharga yang seharusnya bisa saya manfaatkan lebih produktif, justru habis dirampas macet jalanan.
Di sini, frasa “menua di jalan” bukan lagi sekadar gurauan urban, melainkan realitas pahit. Kelelahan mental dan fisik yang menumpuk itulah yang akhirnya menuntun saya pada sebuah keputusan besar, saya memilih untuk “tereliminasi” dan meninggalkan gemerlap Jakarta demi mendapatkan kembali kewarasan dan kedaulatan waktu saya.
Sisi Keras Ibu Kota: Kenyataan di Siang Bolong
Jakarta era itu tidak hanya menguji mental lewat kemacetan, tetapi juga lewat dinamika jalanannya yang keras dan penuh tipu daya. Salah satu memori paling pahit adalah sebuah peristiwa kriminalitas “nggak masuk akal” yang saya alami di siang bolong, di depan banyak orang di sebuah halte bus kota. Siang itu semua berjalan biasa saja, sampai sebuah taktik kejahatan jalanan yang sangat terorganisir menimpa saya.
Berdua dengan teman dan berada di sekitar banyak orang, tiba-tiba ada seorang asing yang memegang kaki saya dan menggerak-gerakkannya dengan agresif. Efek kejutnya instan. Konsentrasi saya buyar, fokus saya teralihkan sepenuhnya pada orang asing itu, mengira ada sesuatu yang gawat tengah terjadi. Hanya butuh waktu beberapa detik dalam kondisi panik dan terkejut itu untuk membuat kesadaran saya runtuh. Saat saya tersadar dari rasa kaget, dompet di saku belakang celana saya sudah melayang.
Ternyata, aksi memegang kaki itu hanyalah sebuah distraksi psikologis yang dirancang secara matang. Di saat yang sama, kawanan mereka yang ada di belakang saya, berperan sebagai eksekutor dengan memanfaatkan kelengahan saya, juga kekagetan orang-orang di sekitar saya, termasuk teman saya untuk menyikat dompet. Kejadian itu menjadi tamparan keras di awal kedewasaan saya, menegaskan hukum tua ibu kota, lengah sedikit, Anda menjadi mangsa di siang bolong.
Saksi Mata Transformasi, Kembali ke Jakarta Selama Dekade 2010-2020
Namun, Jakarta memiliki magnet yang sulit ditolak. Meski dulu pernah memilih untuk “tereliminasi” , tapi takdir beberapa kali membawa saya kembali ke ibu kota untuk berbagai urusan. Baik urusan pekerjaan, hingga beberapa kali harus ngantor beberapa saat di sepanjang rentang waktu 2010 hingga 2020 dan juga urusan berliterasi yang memang menjadi hobi. Salah satunya yang tidak akan pernah terlupakan adalah saat bersama 34 blogger dan penulis dari seluruh propinsi di Indonesia diundang Kemenpora dalam rangkaian event Writingthon Asian Games 2018.
Beberapa hari di Jakarta, selain diajak melihat secara langsung detail pembangunan infrastruktur dan lingkungan ibu kota, kami juga wajib menulis dan menerbitkannya dalam bentuk buku, sebagai kenang-kenangan Asian Games dan endingnya adalah kita diajak menyaksikan langsung kemegahan acara pembukaan Asian Games 2018.
Dalam dekade itulah, saya menjadi saksi mata, bagaimana kota Jakarta terus berbenah secara masif dari dalam. Saya menyaksikan langsung metamorfosis yang nyata. Wajah brutal jalanan perlahan melunak dengan hadirnya integrasi transportasi publik yang lebih manusiawi. Berjalan di trotoar yang mulai dilebarkan, menatap riak air kolam di Bundaran Hotel Indonesia di tengah kepungan gedung pencakar langit, hingga merasakan kereta MRT meluncur senyap di bawah tanah, memberikan perasaan ganjil sekaligus kagum. Jakarta yang dulu memaksa saya “tereliminasi”, kini sedang berproses menjadi kota global yang modern.
Ruang Ketiga, Oase Baru di Balik Gemerlap Mal
Sebagai orang yang kembali berkunjung, saya melihat bagaimana dinamika sosial warga Jakarta juga ikut bergeser. Bagi masyarakat urban, mal atau pusat perbelanjaan selama puluhan tahun telah menjadi “ruang ketiga” yang tak tergantikan sebagai tempat melepas penat setelah jam kerja, berburu kuliner, hingga menjadi saksi pertemuan hangat dengan teman-teman lama. Riuh rendah obrolan di kedai kopi dan aroma khas pendingin ruangan di pusat perbelanjaan adalah bagian dari DNA keseharian Jakarta yang saya lihat dan rasakan sendiri geliatnya.
Namun, di sela-sela “kunjungan kerja” itu, saya juga melihat pemandangan baru yang menyegarkan! Jakarta mulai memberikan hak warganya atas ruang terbuka hijau. Taman-taman kota, seperti Lapangan Banteng yang megah hingga Tebet Eco Park, kini menjadi alternatif baru untuk berinteraksi.
Di sana, kita melihat wajah Jakarta yang lebih inklusif, di mana warga lintas kelas sosial bisa melepas penat di bawah keteduhan pepohonan. Namun, sebagai seorang penikmat sajian tradisi dan budaya Nusantara, saya melihat masih ada ruang kosong yang belum terisi di oase-oase hijau ini, karena pembangunan estetika taman kota yang bergaya modern minimalis ini kerap kali masih melupakan identitas kulturalnya.
Di tengah gempuran modernitas kota global, ekspresi tradisi dan kebudayaan, terutama entitas budaya Betawi yang sejak lama memang menjadi trademark Jakarta, sepertinya masih belum juga menjadi ruh dari pembangunan Jakarta. Tradisi dan budaya, dalam konteks ini tentu Budaya Betawi masih terpinggirkan, masih sekedar tempelan saja bagi hingar-bingar pembangunan kota. “Panggung” mereka tak lebih dari momen-momen yang bersifat seremonial saja.
Harapan untuk Jakarta di Usia 499
Melihat perkembangan Jakarta hingga tahun 2026 ini, dari jarak aman tempat saya tinggal sekarang di Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas, doa dan harapan terbaik tetap saya sematkan di hari jadinya yang ke-499.
…dan mengangkat tema “Harapan untuk Jakarta”, tentu saja ada poin-poin krusial yang saya harapkan, ke depannya terus membaik secara substansial, yaitu:
Pertama, mengintegrasikan ruang terbuka hijau dengan ruang budaya.
Ini adalah usulan nyata untuk Jakarta ke depan. Pembangunan ruang terbuka hijau yang saat ini sedang gencar-gencarnya digenjot oleh pemerintah Jakarta, seharusnya tidak sekadar menjadi tempat duduk santai atau berolahraga saja.
Jakarta harus berani mengintegrasikannya sebagai ruang kebudayaan hidup (living culture space). Bayangkan jika di sudut-sudut taman kota disediakan panggung terbuka yang ramah untuk pertunjukan seni tradisional, pameran wastra, hingga ruang lokakarya kuliner Nusantara secara berkala. Menghidupkan tradisi di dalam keteduhan taman akan membuat warga kota tidak kehilangan akar kulturalnya di tengah kepungan beton global.
Kedua, keamanan publik yang cerdas dan humanis.
Harapan besar agar ruang publik Jakarta benar-benar aman bagi siapa saja. Kejahatan jalanan dengan modus komplotan manipulatif, seperti yang saya alami di masa lalu, harus bisa dikikis habis. Di era digital ini, optimalisasi sistem pengawasan kota (CCTV) dan respons cepat aparat harus memastikan warga dan pendatang bisa melangkah dengan tenang, tanpa diliputi rasa curiga berlebih.
Ketiga, efisiensi mobilitas yang memanusiawikan waktu.
Transformasi transportasi yang masif hari ini harus terus didorong hingga ke wilayah-wilayah penyangga Jakarta. Targetnya jelas, jangan biarkan generasi hari ini harus mengulangi pengalaman masa lalu kami yang harus habis dan “menua di jalan”. Jakarta harus mampu memberikan efisiensi waktu agar warganya memiliki kehidupan yang lebih seimbang antara pekerjaan, keluarga, dan kesehatan mental.
Selamat ulang tahun ke-499, Jakarta. Teruslah berbenah tanpa kehilangan jati diri. Tetaplah menjadi tempat di mana mimpi-mimpi dirajut, dan semoga kenyamanan, keamanan, serta keluhuran budaya senantiasa melingkupi setiap langkah warganya di jalananmu. (BDJ29626)
Artikel merupakan Juara I Lomba Menulis Artikel Harapan untuk Jakarta.

