Saat ini, kita hidup di tengah banjir konten dengan judul bombastis, potongan opini, hingga video singkat yang serba cepat dan berisik. Semua serba instan, serba ringkas, tapi biasanya memang serba lewat begitu saja.
***
Ironisnya, semakin banyak konten-konten yang kita konsumsi, tapi justru semakin sedikit yang benar-benar kita pahami detail apalagi esensinya dengan baik. Semua tidak lepas dari cara kita “menikmati” beragam konten yang hadir di gawai dan media-media sosial kita yang sebagian besar, bahkan “menelan” informasinya mentah-mentah daripada benar-benar mencernanya lebih dulu.
Konon, selain karena banjir konten yang memang begitu masif dan berisik, banyak yang menyebut ini sebagai efek domino dari rendahnya minat membaca kita-kita! Apalagi membaca dengan kesadaran penuh, bahkan sekedar dengan duduk manis di kursi! Hingga, ketika melihat orang yang begitu menikmati bacaannya, serasa melihat makhluk gaib dari planet lain!
Wajar jika kemudian, hobi dan aktivitas berliterasi, khususnya membaca juga menulis pelan-pelan (dalam arti yang sebenarnya) yang dulu serasa self healing, sepertinya sekarang mulai terpinggirkan, bahkan dianggap sebagai anomali yang aneh, bahkan mungkin juga nyeleneh!
Di titik inilah, saya merasa aktivitas literasi bukan lagi sekadar hobi semata, tapi kebutuhan! Aktualnya adalah sebagai cara saya diam-diam untuk “kabur” dari dunia yang terlalu pragmatis dan berisiknya mulai mengganggu, setidaknya bagi saya pribadi. Maaf ya, “kabur” yang saya maksud di sini bukan kabur-kaburan selayaknya pengecut loh ya, tapi sebentuk perlawanan di jalur sunyi, personal dan nyaris tak terlihat, sebagai strategi untuk menciptakan jarak ideal dengan “kebisingan” di sekitar saya.
Caranya sederhana saja, yaitu memilih untuk tidak selalu ikut bercepat-cepat dan tidak selalu ikut beramai-ramai, agar kejernihan berpikir tidak gampang goyah oleh trending topic yang usianya terkadang tak sampai sehari semalam. Asyik bukan?
Keberanian untuk Merasa Tidak Nyaman
Salah satu “efek samping” literasi yang paling saya nikmati adalah keberanian untuk merasa tidak nyaman. Kedengarannya aneh ya? Memang sih! Tapi justru di sinilah letak nilainya. Literasi yang mendalam membuat saya tidak terburu-buru menelan satu sudut pandang sebagai kebenaran tunggal.
Karenanya, saya jadi belajar untuk tidak cepat-cepat untuk setuju. Literasi melatih saya untuk bertanya, meragukan, bahkan membongkar ulang keyakinan sendiri. Di tengah budaya yang menuntut kepastian instan, sikap skeptis yang sehat seperti ini mungkin terasa seperti anomali. Namun, dari rasa tidak nyaman itulah lahir pemahaman yang lebih mendalam, bahwa setiap cerita punya sisi lain, setiap argumen punya celah, dan setiap keyakinan layak untuk diuji ulang di “laboratorium” logika.
Ruang “Kabur” yang Menyehatkan
Literasi juga menawarkan ruang untuk “kabur” tanpa harus pergi ke mana-mana. Ini bukan pelarian dalam arti lari dari masalah, melainkan sebuah jeda yang sehat dari realitas yang kadang terasa terlalu padat. Di sela rutinitas yang monoton, membaca dan menyusun serpihan informasi, entah itu melalui kliping atau tulisan reflektif, memberi ruang sunyi yang justru terasa sangat hidup.
Lewat halaman-halaman yang mungkin tampak sederhana, saya bisa masuk ke dalam jalan kehidupan orang lain, memahami sudut pandang yang berbeda, bahkan merasakan emosi yang belum pernah dialami sendiri. Di titik ini, ada semacam penyegaran batin yang sulit dijelaskan. Seolah-olah, setiap kali selesai membaca atau menulis, saya kembali ke dunia nyata dengan “mata baru” yang lebih jernih.
Empati Teknis dan Filter Alami
Manfaat lain yang sering luput dibicarakan adalah bagaimana literasi melatih empati tanpa banyak ceramah! Kita sering berpikir bahwa empati hanya tumbuh dari pengalaman langsung. Padahal, literasi membuka jalan ke sana dengan cara yang sangat teknis.
Saat saya menyelami narasi tentang budaya lokal yang mulai pudar atau sejarah panjang sebuah peradaban, saya dipaksa untuk melihat dunia dari posisi yang bukan milik saya. Dari titik ini, pelan-pelan cara pandang saya terhadap banyak hal menjadi lebih proporsional dan manusiawi. Saya mulai paham bahwa hidup tidak sesederhana penilaian cepat di kolom komentar, karena di baliknya pasti ada latar belakang yang bisa jadi berasa pedih selayaknya luka menganga dan pilihan-pilihan sulit lainnya.
Selain itu, literasi memberi saya “filter alami” yang aktual. Di dunia yang makin berisik dan bising, diam-diam literasi memberi saya kemampuan untuk bisa bersikap lebih tenang, bahkan juga memilih sikap diam dalam arti yang sebenarnya. Tentu bukan diam karena tidak tahu atau tidak paham, tapi diam karena tahu mana yang perlu ditanggapi dan mana yang tidak perlu ditanggapi. Karenanya, saya tidak lagi mudah terpancing oleh keramaian-keramaian kosong!
Apalagi setelah terlalu sering melihat bagaimana sebuah opini bisa sengaja dibentuk, hingga bisa berubah dan diubah sebegitu cepatnya, juga bagaimana sebuah tren bisa datang, lalu pergi seenak jidatnya sendiri-sendiri.
Berdamai dalam Keheningan
Mungkin ini yang paling nyentrik, literasi membuat saya nyaman dengan kesendirian. Di saat banyak orang takut sepi dan selalu mencari distraksi, literasi menawarkan teman dalam keheningan. Dalam sebuah tulisan, ada ribuan suara. Di dalam sebuah buku, ada jutaan perspektif.
Karenanya, kesendirian bagi saya tidak lagi terasa kosong dan hampa, tapi sebuah ekstraksi dari ribuan suara dan jutaan perspektif yang tetap penuh insight sebagai pemicu kreativitas. Pada akhirnya, literasi bukan cuma soal menambah pengetahuan atau memperkaya wawasan saja! Berliterasi adalah proses mekanis yang diam-diam membentuk cara saya berpikir, cara saya merasa, dan cara saya memahami dunia!
Di tengah dunia yang serba cepat tapi sering kali dangkal, hal-hal yang bekerja secara senyap seperti inilah yang justru paling saya, mungkin juga Anda butuhkan untuk tetap menjaga kewarasan. (BDJ3526)
Artikel merupakan Juara II Lomba Menulis Artikel Manfaat Literasi Bagimu.

