Site icon cerpensastragrup

Isat: Wanita Penerang dan Penggerak Desa (Artikel Meliana Aryuni)

Foto guru dan siswa SD Kelas Jauh SD 200/1 Jati Mulyo/dokpri.

Wanita bertubuh mungil, berkulit cokelat, berjilbab hitam, tersenyum pada saya, lalu ia menghampiri saya di kamar. Senyumnya masih sama, meskipun usianya kini memasuki 50 tahun. Suara khasnya dengan huruf ‘r’ yang nyangkut entah di mana membuat saya cepat mengenalinya. Ya, hampir 2 tahun saya tidak bertemu dengannya.
***
Kali ini saya akan mengisahkan perjuangan wanita yang dipanggil Isat itu kepada teman-teman semua. Isat adalah panggilan untuknya. Nama aslinya Merry Eva Rita. Dia adalah saudara bungsu ayah. Menurut saya kisah perjuangan dan pengabdian Isat ini pantas diabadikan. Sosok yang tadinya selalu tinggal di kota, lalu setelah menikah Isat merantau mengikuti sang suami bekerja dari satu daerah ke daerah lain. Hingga akhirnya Isat memutuskan untuk tinggal dan menetap di sebuah desa di provinsi Jambi. Di sanalah perubahan kehidupannya terjadi.

Isat termasuk wanita yang tangguh dan inspiratif bagi saya. Pendidikan terakhir Isat adalah D-1 dari sebuah lembaga komputer, tetapi sumbangsihnya cukup besar bagi masyarakat di desanya. Dari tangan dan kemampuannya dalam bergaul, beberapa fasilitas dan sekolah kini ada di sana.

Perjuangan Isat bermula pada tahun 2012 ketika Isat dan mang Rimbai (sebutan untuk suami Isat) memutuskan untuk menetap di suatu tempat. Awalnya banyak keluarga yang menentang Isat untuk tinggal di Dusun 6 Tanjung Mandiri Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, kampung Simpur, Kabupaten Batanghari, Jambi. Kondisi jalanan yang rusak, akses ke kota sulit membuat kehidupan di sana tampak memprihatinkan.

Penerangan dengan Panel Surya

Panel surya/dokpri.

Tahun pertama di sana hanya ada 5 kepala keluarga, termasuk Isat. Semuanya tinggal terpencar di lahan konsesi PT Restorasi Ekosistem. Perusahaan diberikan hak mengelola lahan sebesar 40 ribu hektar oleh pemerintah dan hanya sedikit yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Mang Rimbai menjadi kuli gesek dan bersih-bersih kebun di sana. Isat dan beberapa penduduk di sana menggarap kebun sawit, karet, padi, dan sayur.

Di sana juga ada masyarakat asli yang disebut Suku Anak Dalam (SAD). Meskipun tempat tinggal Isat dan masyarakat adat ini cukup jauh jaraknya, yaitu sekitar 3-4 km, tetapi keberadaan SAD ini tidak bisa lepas dari kehidupan desa ini. Isat tinggal berdampingan dengan mereka di sana. Lahan yang didiami oleh 5 kepala keluarga hanya menggunakan lampu duduk sebagai penerangan. Selama 8 bulan, Isat dan keluarga tinggal di pondok beratapkan terpal. Keadaan itu tidak melemahkan Isat. Bahkan tekad Isat bertambah kuat.

“Aku harus kuat dan harus bertahan biar tidak diremehkan oleh orang yang tidak senang padaku. Akan aku buktikan bahwa aku berhasil dan ada yang bisa dibanggakan,” tekad Isat.

Setelah beberapa lama tinggal di sana, Isat berinisiatif untuk menggunakan panel surya sebagai sumber listrik alternatif di sana. Isat rela ke Palembang berkeliling untuk membeli panel surya. Panel surya itu akhirnya bisa dimanfaatkan oleh warga yang ada sampai sekarang. Dengan tegangan 200, panel surya ini sudah bisa menyalakan 10 lampu dan menyalakan TV LCD. Dalam keadaan tertentu, warga menggunakan genset yang akan dimatikan bila malam sudah larut.

Berdirinya Sekolah Swadaya

Ruang kelas SD Kelas Jauh SD 200/1 Jati Mulyo/Dokpri.

Di tahun 2021, Isat menjadi pelopor pendirian Paud Harapan Bunda Simpur. Latar belakang berdirinya Paud itu berasal dari anak bungsu Isat sendiri. Jarak sekolah dan rumah yang jauh dan kondisi jalan yang sering hancur membuat anak bungsu Isat jarang bersekolah. Ternyata, bukan hanya Isat yang mengeluh seperti itu, beberapa orang tua siswa pun merasakan hal yang sama. Oleh karena itulah, beberapa wali siswa mempercayakan Isat untuk mendirikan sekolah di sana.

Berdirinya Paud Harapan Bunda Simpur ini murni hasil swadaya warga. Saat itu hanya ada 5 anak. Mereka belajar di balai desa dengan 2 guru, termasuk Isat. Setiap siswa dikenakan SPP 50 ribu. Jika ada 2 anak dalam 1 keluarga yang mau bersekolah, maka anak yang satunya bebas biaya. Alhamdulillah, sekarang besarnya SPP dipangkas menjadi 25 ribu per siswa karena gaji guru sudah diperhitungkan oleh pemerintah daerah.

Paud ini hanya memiliki 3 ruang dengan 38 siswa SD, 4 siswa Paud, dan 4 guru. Satu ruangan untuk Paud, 2 ruangan lagi untuk anak SD Kelas Jauh SD 200/1 Jati Mulyo kelas 1 sampai 4, yang statusnya menginduk dengan sekolah lain. Jadi, satu ruangan ada 2 kelas dengan tingkat yang berbeda. Proses pembelajaran menjadi kurang optimal karenanya. Kata Isat, baru setahun ini ada SMP juga. Pencapaian yang luar biasa dari sebuah desa terpencil, bukan?

Isat pernah diminta untuk kuliah kembali di Universitas Terbuka agar bisa ikut PPPK, tetapi Isat menolak karena umurnya yang sudah tidak muda lagi dan kondisi fisik yang tidak kuat. Bagi Isat, dia lebih baik memajukan anak-anaknya yang masih kuliah dan SMA daripada harus berkuliah lagi. Isat berprinsip, “Yang penting aku sehat dan kampung kami maju. Insya Allah nanti akan ada penerusnya.”

Penerapan prinsip itu Isat jalani dalam kehidupannya. Menjadi kepala sekolah sekaligus guru, tidak menjadikan Isat melepaskan kegiatan bertani dan berdagang. Baginya semua itu dilakukan untuk menyehatkan pikiran, fisik, mental, sekaligus memberi kemanfaatan bagi orang banyak.

Isat menjadi sosok pahlawan wanita berdaya dan mematahkan diskriminasi bahwa wanita tidak bisa berbuat banyak. Terbukti, dari tangan Isat dan dukungan sang suami Dusun 6 Tanjung Mandiri Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, kampung Simpur, Kabupaten Batanghari, Jambi telah menunjukkan kemajuan dari tahun ke tahun. Meskipun Isat menyatakan masih ada kendala dalam pembangunan kelas 5 di tahun ajaran baru SD Kelas Jauh SD 200/1 Jati Mulyo. Semoga Isat diberi kesehatan dan di kemudian hari dan fasilitas sekolah bertambah baik sehingga desa ini menjadi desa percontohan bagi desa-desa yang lain.(*)

Cerpen merupakan Juara II Lomba Menulis Artikel (Ceritakan Sosok dengan Semangat Pahlawan di Sekitarmu).

Tentang Penulis
Meliana Aryuni
IG: @meliirham

Exit mobile version