Kekeringan terjadi di mana-mana. Keempat penjuru arah mata angin negeri ini tak menyisakan lahan yang hijau. Tanah ini tidak lain adalah lautan pasir kuning seperti Sahara yang dialihkan ke negeri ini. Langit pun enggan menghujani dengan memberi pembeda di antara keduanya, siksaan bagi sang penguasa dan ujian bagi orang-orang yang terdzolimi. Tanah kerontang itu diubah menjadi beton-beton pencakar-pencakar yang menantang langit. Gunung-gunung kehilangan hunian pohon di punggungnya, lautan disulap menjadi daratan yang ditunggangi rumah inap yang tak kalah tinggi. Sungai-sungai kehilangan fungsi mengalirkan air ke sawah-sawah sebab ia mengalir di antara paralon-paralon besar yang rutenya naik ke atas bangunan beton kota. Gubuk warga diratakan, lahan sepetak tak bersurat itu dicabut paksa untuk dimiliki sang penguasa. Tanah yang dimiliki tanpa surat oleh rakyat adalah haram. Padahal, leluhur mereka yang paling tahu, bukan tentang siapa pemiliknya tapi bagaimana cara alam bisa bekerja dan masih mau bersahabat dengan tenang dan menyejukkan. Namun, tak ada kesempatan untuk membela diri di tengah kerontang dengan tenggorokan yang ikut tercekik serta kulit yang kian terbakar.
,,,
Ada sepetak tanah milik Ibu di ladang yang tak jauh dari rumah. Hanya ladang itu satu-satunya yang kumiliki sebab rumah pun sudah menjadi kayu rapuh yang hancur layaknya bubur. Sejak rumahku dirubuhkan, sejak setumpuk uang disodorkan di wajahku, tak serupiah pun kuambil uangnya sebab aku tak pernah menjual rumah. Memang sejak kapan aku menjual rumah itu? Aku tak pernah memasang baliho bahwa rumahku akan dijual.
“Ladang kita akan diratakan, cepat atau lambat mesin-mesin besar itu akan datang dengan sendirinya ke sini.” Ibu menunjuk-nunjuk lahan kosong yang rata itu hingga hanya segunduk ladang Ibu yang tersisa dari tanah lainnya.
“Kita harus bergegas menyelamatkan hasil panen kita satu-satunya, Bu. Kita terpaksa panen kentang sebelum waktunya.” Aku bergegas, mencabuti umbi-umbian ke dalam gerobak di sebelah Ibu.
Dan benar saja. Mesin-mesin besar itu datang lalu berdiri tak jauh dari gerobak Ibu. Kami memutuskan pergi, bukan aku kalah, namun pergi menjelajah ke negeri lain mungkin lebih baik daripada terjajah di tanah sendiri.
“Kita tak pernah mengira jika kami akan kehausan di tanah sendiri.”
“Tak ada cara lain selain mengungsi ke daerah yang lebih layak,” putus ibu mendorong gerobak yang penuh dengan umbi-umbian itu.
***
Berjuta-juta kilo bahkan mungkin lebih dari itu, aku dan Ibu menjelajahi tanah air ini, barangkali ada sisa tanah yang layak untuk dihuni. Tiap warga yang terlewati kutawarkan umbi-umbian dalam gerobakku, namun tak satu pun dari mereka mau membeli sebab tak memiliki uang atau barang-barang yang cukup untuk ditukar. Hingga akhirnya kubagi, tiap-tiap kepala keluarga mendapatkan satu umbi meski tak cukup untuk membuat mereka kenyang.
Perjalananku berakhir di puncak paling tinggi dan tebing curam seperti ujung dunia dan masih terlihat ada secercah harapan untuk hidup.
Ibu yang kini kulit sawo matangnya berubah gelap karena terbakar matahari memejamkan mata di dinding bebatuan dan belum mengeluarkan suara karena dehidrasi. Aku memberinya sebutir kentang lalu dimakannya mentah-mentah, tak peduli rasanya bagaimana asalkan dapat mengisi perut yang semakin tipis dan hampir menyatu dengan punggung. Tak pernah terdengar Ibu mengeluh, berbeda denganku yang terus memaki para penguasa itu.
Tak bisa dibayangkan bagaimana rakyat adalah tumbal kematian yang dirampas nyawanya untuk pembangunan yang entah mau seperti apa. Aku bisa melihat dari puncak ini, jutaan mayat-mayat bergelimpangan dan membusuk di tanah kuning itu. Lantas jika rakyat musnah, siapa yang akan melayani para penguasa itu nanti? Ah, pikiranku terlalu jauh berpikir sampai-sampai tak menyadari dari bawah sana, seorang prajurit negara berduyun-duyun layaknya ular naga menuju ke puncak ini.
***
Akhirnya kulihat lagi, rombongan negara itu sampai di tempatku. Mereka berdiri dan menatap kami berseri-seri bukan wajah garang yang waktu itu kulihat saat menghancurkan rumah. Apa mereka mau menjajah lagi? Apakah semua itu belum cukup?
Barisan-barisan itu merapat di punggung gunung yang lebarnya cukup untuk dua orang berdiri kemudian menyongsong mendekat ke arahku bersama-sama, ke arah Ibu dan selebihnya mengelilingi gerobak. Tanpa aling-aling, puncak ini bukan habitat yang cocok bagi mereka, dapat dilihat dari mereka memilih berteduh di ceruk-ceruk batu yang menonjol dari tebing.
“Apa benar kalian yang membagi rakyat di bawah sana dengan umbi yang kalian miliki?”
Seseorang bertubuh besar dengan otot di lengan kanan-kirinya itu maju ke hadapanku. Aku mundur hingga tumitku menyentuh bibir jurang yang membuat tubuhku berkeringat dingin dari ujung kepala hingga kaki. Ribuan mata itu terpana pada tiga objek, aku, ibuku dan gerobak.
“I-iya, Tuan.”
“Ha … ha …,” tawa lepas sang prajurit itu memantul di dinding hingga lepas ke jurang curam yang siap melahapku.
“Berapa kamu menjual umbi emas itu, wahai pemuda budiman?”
“Umbi e-emas?” aku tergagap bahkan mulutku terbuka lebar. Aku tak pernah mengerti apa yang mereka maksud tentang umbi emas itu. Lalu, si prajurit itu menuntun pandanganku ke arah gerobak yang isinya penuh dengan kentang.
“Kami akan membelinya!” sahut prajurit yang lainnya hingga teriakan-teriakan itu memenuhi telingaku.
“Di gerobakmu, kami akan membeli umbi emas itu,” terang prajurit yang berdiri dan membawa peti besar itu ke sisi Ibu.
“Itu ken … tang,” terangku dengan tenggorokan tercekat, bersusah payah bahkan seperti anak kecil yang mengeja ketika membaca buku dongeng.
“B-bagaimana Tuan menyebutnya umbi emas?”
“Ini umbi emas,” tegasnya memberi penekanan pada tiap kata. “Kami akan membelinya dengan harga yang kamu mau.”
Aneh. Logikaku terus diserang oleh persepsi yang rancu. Aku mengira mereka sedang memanipulasi dan berusaha menjajah dengan merampas hak-hakku di negeri ini. Tapi, sialnya tak kutemui dusta di sepasang mata itu membuatku terus berperang dalam hati.
Aku menyerahkan kentang itu kepada mereka dan mereka menjejalkan peti yang digotong agar dipeluk Ibu. Tak diserahkan pun gerobakku, mereka akan membawanya secara paksa maka lepaslah tak memiliki apa-apa lagi.
“Terima kasih, berbahagialah dengan kehidupanmu di sini,” teriak seorang prajurit sebelum pergi.
Dan itu adalah hari terakhirku melihat mereka membawa gerobakku dan menyisakan satu umbi ungu. Penasaran, aku membuka peti besar yang mereka berikan dan ketika kubuka isinya tidak lain adalah kepala-kepala manusia yang sudah berubah menjadi warna perak.
“Memang mereka itu biadab!”
***
Aku dan Ibu kelaparan berhari-hari yang mana setiap hari hanya bisa melahap setetes embun yang bersembunyi dari kaum-kaum penguasa lalu selebihnya tak pernah memasukkan apa-apa lagi ke dalam perut. Umbi yang ditanam waktu itu tak bisa tumbuh sedangkan tak ada air untuk menyiram tanaman. Di terik siang itu, kulihat lagi iring-iringan prajurit berduyun-duyun naik ke atas. Persis barisannya hingga prajurit yang kekar itu memulai berbicara padaku.
“Wahai anak muda, kami datang kembali!” prajurit itu menancapkan tombak ke tanah.
“PEMBOHONG!”
“PEMBOHONG!”
Begitulah kiranya seruan-seruan yang dapat kudengar sebelum akhirnya mereka menghujaniku dengan bebatuan dan hantaman pada tiap sudut badanku. Aku menjerit, Ibu menjerit begitu kulihat ia dimasukkan ke dalam kepala-kepala tengkorak itu. Aku berusaha bangkit namun untuk tubuh yang lemah, bagaimana bisa melawan? Tubuhku menjelma kapas yang terkena embun, lapuk dan letoy dan tak bisa kumengerti apa yang mereka bahas. Seluruh tubuhku gemetar, kebas di beberapa bagian dan ngilu bercampur jadi satu.
“Berani-beraninya kamu membohongi kami dengan umbi emas itu.” Prajurit yang berotot besar itu mencekik leher dan setengah tubuhku sudah berada di mulut jurang. “Umbi yang kamu sebut umbi emas itu tidak ada kadar emasnya sama sekali.”
“PENIPU!”
“PENIPU!”
Ia geram sekali padaku namun aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Mataku yang buram dan lebam yang meneteskan darah terbuka perlahan-lahan hingga dapat kulihat bagaimana puasnya mereka melihatku tersiksa dan sengsara. Lamat-lamat ditendangnya wajahku dan terlepas dari tangan-tangan kotor itu. Napasku tersengal dan saat napasku tersisa sedikit, mereka melempariku batu-batu besar dan pasir, menggiringku lalu memberi penghormatan terakhir menuju liang lahat.
Aku berteriak sekencang-kencangnya, jatuh dari jurang ini lebih baik dan membebaskanku dari kejamnya para penguasa itu. Sedangkan, nasib Ibu di atas bagaimana? Aku lebih mengkhawatirkan ibu dibandingkan dengan diriku.
“DASAR SERAKAH. MERAMPAS HAK KAMI LALU MEMFITNAH KAMI!”(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 16 Maret 2025.
Tentang Cerpenis
Ayu Intan
Seorang penulis dan mahasiswa di salah satu universitas di Tasikmalaya. Suka membuat puisi voice over, aroma petrichor, dan ocean blue. IG: @_tan.ayu, wattpad dan wacaku; @lautbiru00__
Testimoni Ayu Intan
Terima kasih banyak kepada Cerpen Sastra yang telah membuka peluang untuk seluruh penulis di Indonesia. Saya sangat senang bahkan tidak menyangka akan terpilih ketika mendapat pemberitahuan bahwa karya saya terpilih menjadi pemenang Sayembara Cerpen Minggu yang berjudul “Umbi Emas”.
Saya tidak menyangka akan menang di Minggu ini, sebab di minggu kemarin-kemarin, karya saya belum lolos, namun setelah belajar dan belajar memperbaiki, akhirnya bisa lolos minggu ini. Sekali lagi, terima kasih telah menjembatani saya dan penulis seluruh Indonesia untuk terus berkarya. Semoga teman-teman yang ikut berpartisipasi lolos juga. Semoga Cerpen Sastra sukses terus dan makin maju.

