Site icon cerpensastragrup

Surat dari Djakarta (Cerpen Muhammad Tegar Ramadhan)

Sumber ilustrasi: Shutterstock.com via Kompas.com.

Merdeka. Kata itu yang Lien dengar berulang-ulang menembus jendela kamarnya. Orang terlihat berlalu-lalang di sepanjang jalan. Tangan mengepal dan terangkat. Di antara gerombolan itu, Lien ingin Genta ada di antaranya. Tapi Lien tahu harapan yang sudah redup itu hanya untuk menghiburnya sesaat.
***
Lien kembali menata barang-barangnya ke dalam koper. Lemari menyisakan aroma kapur barus. Kasur tandus tanpa seprai. Jendela menganga tanpa tirai. Pandangan Lien kemudian berhenti kepada tumpukan kertas di meja. Surat-suratnya dengan Genta.
***
Rasanya seperti baru kemarin Lien bertemu dengan pemuda itu di salah satu pesta beberapa tahun lalu. Di antara tamu-tamu yang sebagian besar pengusaha, pejabat, dan bangsawan, kehadiran remaja sebaya Lien begitu kering. Mencari sedikit kesejukan, Lien menuju taman. Di situlah, di depan gemerisik air mancur, seorang pemuda berkulit sawo matang dengan kemeja putihnya dan bawahan berupa kain batik sedang berdiri.

“Goedenavond, mevrouw,” sapanya.

“Selamat siang,” balas Lien. “Aku tidak keberatan menggunakan bahasa Melayu.”

Alisnya terangkat. Lalu, pemuda itu mengenalkan diri sebagai Genta. Seorang putra kedua dari keluarga bangsawan Jawa. Sedangkan Lien menceritakan kelahirannya di Hindia Belanda walau berdarah Belanda. Merasa percakapan di pesta terlalu singkat dan masih banyak yang ingin disampaikan, mereka memutuskan untuk bertukar surat. Dengan pena, Lien bercerita tentang masa kecilnya di mana kematian sang ibu setelah melahirkannya, membuat dia lekat bersama seorang pengasuh dari suku Sunda yang sering mendongengkan legenda sebuah gunung yang berasal dari kapal raksasa yang dijungkirbalikan.

Dari situ, Lien mulai tertarik dengan tanah Hindia Belanda. Setiap sebelum tidur, Lien beserta pengasuhnya mengarungi kisah nusantara. Tentang makanan sehari-hari mereka, Tuhan apa yang mereka percaya, atau bagaimana mereka bisa menaklukan hutan dan lautan di masa kerajaan yang lampau.

Lien juga menyelam lebih dalam ke pemuda bernama Genta. Pemuda itu ternyata kerap menuliskan tentang perhatiannya pada kemalangan bangsanya. Seperti tentang anak-anak yang tidak bisa ada dalam kelas karena sibuk di sawah. Atau tentang orang yang harus kelaparan meski kayanya hasil bumi negeri ini. Lewat surat-surat Genta, Lien mendapatkan kenyataan bahwa negeri ini tidak hanya bunga dan matahari. Sedangkan untuk Genta, pikiran dan perasaan akhirnya bisa tercurahkan. Uniknya, pada seorang gadis Belanda yang haus pengatahuan tentang bangsanya yang semakin membuatnya tertarik.
***
Tahun berlalu sampai di suatu pagi ayah Lien tergesa-gesa mengenakan kemeja dan jasnya. Sarapan belum tersentuh. Lien mencuri pandang pada selembaran kertas yang baru saja dilempar ke atas meja makan. Bataviaasch Nieuwsblad. Surat Kabar Batavia. September 1939. Jerman Menyerang Polandia. Kurang dari satu tahun, Mei 1940, Jerman berhasil menerobos Belanda. Lien begitu naif merasa berita tahun lalu bisa ditepis seperti lalat yang singgah.

Kabar itu bukan berupa lalat, melainkan ular yang melilit. Ayah Lien kerap mengelus rambutnya, semuanya akan baik-baik saja, katanya walau dengan kantung mata yang menghitam.

Hal yang bisa membuat Lien sedikit lupa dengan kegemparan ini adalah surat-surat Genta. Tapi takdir harus lebih kejam lagi. Seperti roda gigi di mana satu roda mempengaruhi roda lain. Rangkaian peristiwa tidak terkontrol hingga berputar ke arah yang semakin buruk ketika salah satu sekutu Jerman, Jepang, masuk ke Hindia Belanda.

Annelien sayang. Ini mungkin surat terakhir yang bisa kutulis. Sekarang waktu yang sulit untuk negeri ini dan aku ingin ambil bagian untuk membantu mengubahnya. Penuh kasih, Genta.

Itulah kalimat yang Lien dapat dari Genta di surat terakhirnya. Bulan pun berlalu.
***
Batavia berubah menjadi Djakarta TokubetsuShi, Kota Istimewa Djakarta. Warga terusir barisan resimen serdadu yang menduduki sepanjang jalan. Kantor dagang ayahnya tutup karena perbatasan antarnegara terlampau berbahaya oleh perang-perang dari Laut Jawa hingga Laut Baltik di Eropa yang tidak memungkinkan kapal dagang lewat.

Ayah Lien memanggilnya suatu malam ke ruang kerja. Lembaran-lembaran berkas yang biasanya menghiasi meja sekarang diganti oleh beberapa botol bir. Kantung mata pria itu semakin hitam dan berat. Ini adalah kali kedua Lien melihat ayahnya seperti itu semenjak kematian ibunya.

“Annelien, siang ini kantor Ayah, beserta semua gudang di pelabuhan, diambil alih oleh Jepang. Dengan sedikit keberuntungan, Ayah bisa mengamankan beberapa aset. Kita akan mengungsi.”

Itulah kenyataan yang harus ditelan oleh Lien. Bahwa dunianya sudah pecah. Bumi Hindia Belanda yang membuat matanya berbinar sudah ditelan perang. Bahwa hubungannya dengan Genta akan berakhir. Lien berbaring dengan mata basah di kamarnya hingga tengah malam.

Tiba-tiba ada ketukan di kaca. Di balik jendela, sembunyi dalam gelap malam, Lien bisa melihat suatu sosok. Teriakan hampir terpecah sampai bayangan itu berbisik. “Lien, goedenavond, ini Genta.”

Lien mendekatkan lampu pijar minyak ke jendela. Sosok itu memperlihatkan kulit sawo matangnya dalam temaram lampu. Sekarang pemuda itu tidak mengenakan jas putih necis lagi, alih-alih kemeja lusuh coklat dengan celana dengan warna selaras.

“O mijn God! Aku kira kau hantu! Aku merindukanmu,” seru Lien.

“Aku juga, Lien.”

“Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak mengirimkan surat lagi?”

“Kau tahu aku tidak bisa. Aku sekarang ikut gerakan bawah tanah. Kami menyadap radio dan Amerika sekarang memukul mundur kekuatan Nippon di Pasifik. Tidak lama lagi negeri ini terbebas.”

“Syukurlah, jadi apakah nanti semua sedia kala lagi di Hindia Belanda?”

“Tidak semudah itu.” Genta termenung. Mulutnya hendak berujar, namun sedikit gemetar. “Sebenarnya aku ke sini ingin menyampaikan hal lain.”

“Dan itu?”

“Lien, ikut aku.”

Lien tertegun.

“Hindia Belanda tidak akan ada lagi. Negeri ini akan kita panggil Indonesia. Aku dan para kawanku sudah bergerak untuk revolusi. Kami membuat negara baru dan aku harap kita bisa bersama di sana.”

“Ini terlalu tiba-tiba.”

“Selain itu, aku tahu betapa kau mencintai tanah air ini. Aku tahu kau berbeda dari yang lain. Meski kau berdarah Belanda, jiwamu berada di sini.”

Keheningan kembali mengitari mereka.

“Baiklah,” putus Genta. “Nippon semakin memperketat pertahanan di Djakarta. Jika keputusanmu sudah bulat, temui aku di taman di mana kita pertama bertemu. Aku hanya punya waktu satu minggu.”

Pemuda itu kemudian meninggalkan cahaya lampur pijar. Dia menjadi bayangan yang makin jauh ditelan malam.

“Lien, Ik hou van je,” bisik bayangan itu dalam kegelapan.
***
Lien tidak bisa melewati ambang pintu rumahnya ketika melihat ayahnya yang tenggelam dalam air mata dan minuman. Keraguan itu bertahan sampai ketika suatu pagi kabar terbawa dari mulut ke mulut bahwa tentara Jepang telah melakukan penyapuan pada pergerakan-pergerakan subversif.

Lutut Lien yang seperti dihantam godam tergopoh menyusuri jalanan Djakarta. Gedung tempat pesta dahulu telah diduduki beberapa orang berseragam kampetai, polisi rahasia Jepang! Di baliknya, di tengah taman, sosok pemuda yang seharusnya sedang menanti nihil.

Masih ada beberapa hari sampai tenggat satu minggu yang Genta berikan habis. Esoknya, Lien datang kembali. Dan esoknya lagi. Dan esoknya lagi. Taman tetap sepi. Sambil menitikan air mata, Lien teringat kata-kata terakhir yang dia dengar dari pemuda itu. Ikhouvan je. Aku mencintaimu.
***
Lien duduk di sebuah meja di dapur bersama ayahnya yang sibuk mengkurasi surat-surat. Angin Amsterdam tidak seperti Djakarta yang hangat. Dia dingin menusuk tulang. Jerman telah takluk, dan sudah satu tahun sejak Belanda tidak lagi di bawah cengkeraman pendudukan. Ayah Lien memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.

Pandangan Lien tertuju pada sukacita di tengah jalan. Lagu-lagu disenandungkan. Dua orang teman bersulang segelas bir. Sepasang kekasih mesra di suatu pojokan. Tapi pikiran Lien ada di belahan dunia yang lain. Di mana Genta?

Lien mencari pemuda itu lewat berbagai sisa koneksi yang ayahnya sedikit miliki. Pencariannya hanya membawa kabar yang membuat hati semakin getir. Sebagian besar tahanan kabarnya masuk ke dalam kamp-kamp konsentrasi yang tersebar di Jawa. Walau Jepang sudah terusir, tapi butuh berapa lama bagi Lien untuk mencari?

“Annelien, sepertinya surat ini untukmu,” sahut ayahnya. “Terselip di antara surat Ayah tadi pagi.”

Alis mata Lien terkernyit. Sebuah amplop putih tulang masih tersegel. Lien membolak-balikan kertas sambil menerka siapa sang pengirim. Alamat surat itu berasal dari Djakarta. Mata Lien terbuka lebar ketika melihat sebuah inisial “G” di ujung surat dengan goresan yang khas, seperti surat-surat yang masih Lien simpan baik-baik dalam kamarnya. Api harapan kembali berpendar dalam hati Lien.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 12 April 2026.

Tentang Cerpenis
Muhammad Tegar Ramadhan

Saat ini baru memulai perjalanan menulis kembali dan berusaha untuk sabar dan konsisten dalam proses. IG: @radiafineska

Testimoni Muhammad Tegar Ramadhan

Saya memilih latar waktu cerita di akhir kolonialisme Hindia Belanda dengan sedikit narasi konflik global, Perang Dunia 2, salah satu periode sejarah favorit saya, ditambah dengan bumbu romansa. Untuk lebih memperdalam setting, saya juga terapkan sedikit istilah-istilah bahasa Belanda dan Jepang yang menduduki Hindia Belanda dulu.

Untuk penyelenggaraan sayembara, saya juga sangat terkesan bisa tembus untuk dikurasi karena saya mengirimkan cerpen di hari terakhir batas pengumpulan. Dan syukur, selang beberapa jam, nama saya masuk dalam daftar nominasi. Terima kasih untuk tim kurasi yang stand-by sampai titik terakhir.

Exit mobile version