Adalah kesungguhan saat aku bicara bahwa aku akan mengingatmu juga di kehidupan selanjutnya.
…
Pertama kali aku mencintaimu adalah di kehidupanku yang kali ini. Entah kehidupanku yang keberapa sebab aku terlalu lelah untuk mengingat berapa kali aku bangkit dengan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya. Di sini, kita adalah pasangan suami istri. Sangat natural untuk tertarik padamu sebab kamu pantas untuk dicintai.
“Apakah aku terlihat cantik?” katamu, suatu sore setelah kamu baru saja selesai menjalani terapi. Aku memandang wajahmu yang masih pucat pasi. Sambil tersenyum, aku mengangguk berkali-kali.
“Meski di kepalaku tidak tersisa rambut lagi?” kamu mengerling. Ada harapan di ujung matamu yang bersinar bagai mentari.
“Kamu selalu cantik.” Jawabku, sambil mengelus kepalamu yang tertutup topi. Kamu tampak puas dengan jawabanku.
“Kalau saja, aku bisa memindahkan semua rasa sakitmu kepadaku…” Perlahan, aku membawa kedua tanganmu dalam genggamanku, kuusap permukaannya yang tampak kurus sebab pengobatan menggerogoti tiap inci tubuhmu. Kamu terkekeh.
“Jangan begitu, aku tidak ingin kamu merasakan sakit seperti aku. Kalau saja kita bisa, aku ingin Tuhan mengangkat penyakit ini dan kita hidup bahagia selamanya.” Jawabmu, pada akhirnya. Aku tersenyum sambil membantumu pindah ke atas ranjang rumah sakit. Ketika tubuhmu yang ringkih sudah beristirahat sempurna, aku mulai mengeluarkan rangkaian bunga untuk kuberikan padamu sebab kamu menyukai hal-hal cantik seperti ini. Saat melihat rangkaian bunga yang aku siapkan, kamu sempat mendengus, tapi kemudian tertawa.
“Apa ini? Kenapa bunganya kecil sekali?” lesung pipimu tampak cantik saat kamu tertawa. Kamu mulai meraba-raba bunga yang kuberikan. Warna bunganya biru muda, cantik dan kecil seperti dirimu.
“Aku pikir, kamu akan memberiku Mawar putih, atau bunga Matahari.” Katamu lagi.
“Bunga-bunga yang kamu sebutkan terlalu biasa untukmu yang luar biasa.” Jawabanku dihadiahkan pukulan ringan darimu pada lengan kananku. Aku tertawa. Kamu juga ikut tertawa.
“Nama bunga ini adalah Forget-Me-Not, memberikan bunga ini kepadamu berarti aku tidak akan melupakanmu. Aku ingin mengingatmu bahkan di kehidupanku yang selanjutnya juga…” aku mulai bicara setelah tawa kita mereda.
“Memangnya kehidupan selanjutnya itu ada?” Katamu, kembali tertawa sebab menganggap ucapanku lebih mirip seperti omong kosong atau gombalan murahan. Aku memang tidak pernah menceritakan kepadamu bahwa aku dapat mengingat kehidupanku yang lalu-lalu.
“Kalaupun tidak ada, aku tetap tidak ingin melupakanmu. Kuharap kamu juga…” Jawabku, pada akhirnya. Keheningan terperangkap pada udara di sekitar kita.
“Kamu tahu? Kadang aku berpikir bahwa aku lelah dengan penyakit ini. Rumah sakit dan kemoterapi membuatku lelah, kamu juga pasti lelah. Aku berpikir apakah sudah saatnya aku pergi saja?” Kamu mulai bicara. Tenggorokanku tercekat. Aku ingin membuka suara, tetapi kamu dengan cepat menyela.
“Tapi aku takut kamu akan melupakanku kalau aku pergi. Hari ini, kamu memberikan bunga ini dan aku cukup lega ketika kamu bicara bahwa kamu tidak akan melupakanku.”
Kamu tersenyum sambil menunjuk rangkaian bunga biru muda yang berada di pelukanmu. Aku dapat merasakan air mata berlomba-lomba untuk memenuhi kelopak mataku. Sambil menggeleng, aku merapikan selimut yang menutup sebagian tubuhmu.
“Jangan bicara yang tidak-tidak. Sekarang, mari kita tidur saja.” Kataku, sambil mengecup keningmu. Malam itu, kamu tertidur dengan serangkai Forget-Me-Not dalam dekapanmu. Keesokan harinya, ragamu masih ada di sampingku, tetapi jiwamu telah menjemput tenang.
“Aku sungguh-sungguh bahwa aku tidak akan melupakanmu di kehidupanku yang selanjutnya…” Setitik air akhirnya terjun bebas dari mataku ketika kukecup telapak tanganmu, untuk terakhir kalinya di kehidupan ini.
…
Aku masih tetap ingin mengingatmu karena ingin memastikan bahwa di kehidupan kali ini, kamu akan sehat dan bahagia. Tetapi di hidup baruku sekarang, aku belum pernah bertemu denganmu. Apakah kamu tidak dibangkitkan kembali? Aku memikirkan itu sambil melamun ketika kerincing lonceng menandakan ada pengunjung masuk ke kafe tempat aku menjadi barista.
Seorang perempuan melangkah masuk dan berjalan lurus ke arahku. Wajah yang familiar. Senyum yang familiar, lesung pipi yang sama. Itu kamu! Euforia hampir membuatku tidak bisa mengendalikan diri untuk segera berlari dan memelukmu. Aku cepat-cepat berpura-pura melakukan sesuatu di balik meja pesan.
“Apakah kamu punya sesuatu yang aman diminum untuk seseorang yang sedang hamil?”
Aku hampir tersedak. Ketika aku mengangkat wajah untuk menatapmu, kamu tersenyum sambil mengelus perutmu yang tampak sedikit membesar. Oh, kamu sudah menikah. Kenyataan merenggut euforia pertemuan denganmu setelah sekian lama. Aku seperti terlempar ke suatu dunia lain yang dipenuhi bayang-bayang tentang kita di kehidupan sebelumnya. Kamu tidak mengingatku.
“Sesuatu seperti teh kamomil, apakah kamu memilikinya?” tanyamu lagi, agak sedikit heran sebab barista yang seharusnya mencatat pesananmu terlihat membeku. Kesadaran dengan cepat mengembalikanku ke dunia yang kali ini kita tinggali.
“Ya, ada. Apakah Anda mau satu?” aku bertanya.
Kamu mengangguk. Aku menyelesaikan tagihanmu dan kamu menyelesaikan pembayaran sebelum akhirnya memilih tempat duduk di pojok ruangan. Beberapa saat kemudian, aku mengantar pesananmu dan sepotong kue keju-stroberi yang aku ingat kamu sukai di kehidupan kita sebelumnya.
“Oh, ini bukan kamomil?” Kamu bertanya saat menyadari bukan teh kamomil yang aku suguhkan di hadapanmu.
“Saya minta maaf karena ternyata persediaan kamomil kami habis. Kami berikan ganti teh dengan bunga Forget-Me-Not jika Anda tidak keberatan.” Jawabku. Kamu yang tampak menimbang-nimbang membuat jantungku berdetak tak karuan.
“Apakah Anda keberatan?” tanyaku lagi setelah beberapa saat tidak ada jawaban sebab kamu tenggelam dalam lamunan.
“Oh? Ya, tidak apa-apa. Warna birunya cantik. Aku tadi hanya berpikir seperti memiliki sesuatu untuk kuingat dengan bunga biru ini.” Tawamu menguar. Tawa yang masih sama namun kali ini menyayat hatiku. Sesuatu yang harusnya kamu ingat itu mungkin aku. Aku tersenyum dan menurunkan sepotong kue keju-stroberi ke atas mejamu.
“Aku tidak merasa memesan ini, apakah kalian salah melihat pesanan?” kamu keheranan.
“Bonus untuk ibu hamil pertama yang datang ke toko kami pekan ini.” Jawabku sambil tersenyum. Kamu tertawa lagi, sambil mengucapkan terima kasih, kamu berkata bahwa kamu menyukai kue keju-stroberi dan menyebutkan betapa kamu heran bahwa seakan toko kami mengetahui.
Bukan toko kami, tapi aku yang mengingatnya. Kataku, dalam hati.
Ketika aku memperhatikanmu yang menyesap teh dari kejauhan, sesosok laki-laki datang ke dalam bangunan kafe tempat aku bekerja. Laki-laki itu menoleh ke kanan dan ke kiri dan merealisasi bahwa seseorang yang dia cari berada di pojokan ruangan. Seseorang yang laki-laki itu cari adalah kamu.
Laki-laki itu berjalan ke arahmu dan kamu memeluknya sekilas ketika menyadari bahwa dia sudah berada di sampingmu. Oh, itu mungkin suamimu. Meskipun rasanya getir, aku senang sebab di kehidupan kali ini, kamu tampak sehat dan bahagia. Meski begitu, aku ingin egois sekali lagi saja.
“Tolong buat dia ingat padaku juga di kehidupan selanjutnya.” Kepada Tuhan, aku meminta.
…
Epilog.
Ada toko bunga paling terkenal di tengah kota. Forget-Me-Not Florist, nama tokonya. Pemiliknya adalah sesosok wanita dengan lesung cantik di kedua pipinya. Pagi itu, seorang laki-laki dengan toga hitam datang ke toko bunga ketika wanita pemilik toko sedang bersenandung sambil merangkai sebuah buket berisi bunga-bunga kecil berwarna biru muda.
“Apakah kamu punya semacam bunga yang cocok untuk foto wisuda?” kata pemuda itu. Wanita pemilik toko tercengang saat mendongak dan menatap wajah si mahasiswa.
“Apakah lebih cocok Mawar putih atau bunga Matahari?” tanya pemuda itu lagi saat tak ada jawaban dari wanita di hadapannya.
“Apakah kamu hendak memberikan buket untuk kekasihmu?” wanita pemilik toko bertanya sambil mulai berdiri untuk memilih bunga-bunga.
“Tidak, aku tidak punya kekasih. Buket bunganya untuk diriku sendiri.” Jawab si mahasiswa.
“Kalau begitu, bagaimana dengan bunga ini? Namanya Forget-Me-Not, melambangkan kesetiaan dan keabadian.” Wanita pemilik toko menunjukkan rangkaian bunga-bunga kecil berwarna biru yang hampir selesai. Pemuda dengan toga hitam itu melirik ke atas meja tempat bunga tersebut tergeletak.
“Meski filosofinya agak berlebihan untuk wisuda, tapi warna bunga itu tampak cantik dan sederhana. Baiklah, tolong rangkaikan satu untukku.” Jawab si pemuda pada akhirnya.
Ketika rangkaian buket bunga sudah sempurna selesai dan si pemuda beranjak pergi, wanita itu memberanikan diri untuk bicara. “Apakah kamu tidak mengingatku?” suara wanita pemilik toko serupa bisikan yang diterbangkan angin. Si pemuda perlahan menoleh.
“Apakah akhirnya kamu mengingatku?” ada getar yang terdengar dari suara si pemuda. Ketika pandangan mereka bertemu lagi dan menemukan kesungguhan dalam masing-masing tatapan, kedua sosok itu sama-sama berlari untuk membawa diri mereka ke dalam seerat-eratnya dekapan.
…
Adalah kesungguhan saat aku bicara bahwa aku akan mengingatmu juga di kehidupan selanjutnya. (*)
Minggu, 21 Januari 2024
Cerpenis
Salma Rihhadatul Aisy
Mahasiswa sastra sekaligus penulis pemula. Cerpennya sudah diterbitkan beberapa kali di antologi cerpen dan beberapa platform menulis. Berdomisili di Tangerang. IG: @meisalma_
Testimoni Salma Rihhadatul Aisy
Cerpen “Suatu Hari Ketika Kamu Mengingatku Lagi” merupakan cerpen pertama saya yang dimuat di Cerpen Sastra. Cerpen ini sekaligus merupakan kali pertama saya mengusung tema fantasi di dalam cerpen. Biasanya, saya menulis cerpen dengan tema-tema realistis.
Saya cukup kaget ketika keluar sebagai pemenang pekan ini karena sempat merasa kecil ketika melihat judul-judul lain yang masuk ke dalam nominasi.
Tentunya, saya sangat bersyukur, senang, dan merasa sangat bangga atas penghargaan ini. Terima kasih kepada Cerpen Sastra karena telah memberikan kesempatan kepada penulis pemula seperti saya😊. Kepada penulis-penulis lain, semangat berkarya!

