Site icon cerpensastragrup

Suara-Suara Ingin Kulupa (Cerpen Devi Aviana Putri)

Sumber Ilustrasi: bbc via titiknol.co.id.

Lagi dan lagi, suara bising itu terus mengganggu pikirannya. Nada-nada dari mulut pahit mereka seakan selalu lalu-lalang dalam benaknya. Padahal, sudah sekian tahun berlalu. Tetap saja, bising itu tak mereda, volumenya masih sama. Niat Nala melanjutkan naskahnya jadi terjeda. “Ah, kenapa mereka selalu muncul? Kenapa mereka selalu berisik dan terus ganggu aku?” teriak Nala di depan meja belajarnya.
…

Nala Oktavia adalah gadis berusia 24 tahun yang kini telah menjadi penulis novel yang bisa dibilang cukup terkenal. Beberapa karya novel cetaknya bahkan mejeng di toko-toko buku besar. Sudah bisa dibilang penulis yang sukses, tetapi sampai saat ini ia selalu punya masalah besar. Bayang-bayang akan masa lalunya yang kurang bahkan sangat tidak bersahabat terus menghantuinya. Setiap saat, suara-suara dari masa lalunya mendadak menggaduh dalam pikirannya. Tiap berisik itu datang, gadis itu jadi teringat Nala SMA, si gadis gendut yang culun, penakut, pendiam, tak berani melawan, dan selalu jadi sasaran empuk perundungan.

“Heh, gendut! Hari ini udah makan berapa piring? Kerjain tugas aku, nih. Nanti aku upah bakso kantin satu mangkok, kalo perlu sama panci-pancinya sekalian, haha. Cepetan, keburu guru masuk!”

“Cemen banget, sih. Sama kucing aja takut. Kayaknya sama hewan apa pun juga dia takut, deh. Mau itu kecoa, laba-laba, burung, jangan-jangan sama semut mati aja dia juga takut, tuh.”

Kalimat demi kalimat yang menemani masa SMA-nya selama tiga tahun, sialnya selalu terdengar lagi dalam pikirannya. Mungkin ini yang namanya trauma, membekas dan terbawa sampai bila-bila. Tentu saja, verbal pahit itu begitu jelas, sudah mendarah daging dalam dirinya bertahun-tahun. Olokan demi olokan, ejekan bertubi-tubi, seakan tak ada yang berpihak padanya di sekolah selain para gurunya. Dulu, pernah Nala coba membantah, menyuarakan lelahnya jadi objek perundungan. Namun, tetap saja hasilnya tak menyenangkan.

“Sampe kapan mau ejek aku? Kalian gak pernah puas? Apa salah aku selama ini? Apa aku pernah ganggu kalian? Apa salahnya kalo aku gendut? Aku juga pengin punya teman dan sekolah dengan tenang,” seru Nala di tengah rasa kesalnya.

“Eh-eh, si gendut marah, tuh.”
“Nal, tau gak apa salah kamu? Kamu itu selalu ngalangin pandangan kami, lihat kamu ada di kelas tiap hari itu bikin mata sakit. Hahaha.”

Bahkan, cinta pertamanya berakhir tragis. Nala dulu menyukai siswa laki-laki dari kelas sebelah. Sebagai perempuan yang pendiam dan pemalu, Nala tentu tak berani menyatakan lebih dulu. Ia hanya selalu memandangi siswa bernama Jerry itu dari kejauhan. Terkadang, menunjukkan perhatian dengan meninggalkan sebotol minuman favorit dan jajanan kesukaan Jerry di mejanya, tanpa sepengetahuan siapa pun. Selalu terselip ‘sticky note’ bertuliskan ucapan penyemangat di samping pemberian Nala. Namun, suatu hari ada teman Jerry yang mengetahui kalau Nala menyukai Jerry. Tentu saja Jerry langsung menemui Nala kala itu.

“Heh, mending kamu berhenti, deh. Aku tuh sama sekali gak minat dapet perhatian kamu. Ya kali aku mau pacaran sama cewek culun segede galon kayak kamu! Ngaca dulu sebelum suka sama orang!” ucap Jerry di depan Nala dan teman-teman mereka.

Gelak tawa langsung bersahutan, Nala sangat merasa dipermalukan. Ia hanya bisa menangis dan berlari ke toilet sekolah.

“Ah, sial! Kapan suara mereka bisa bener-bener lenyap? Aku pengin bisa lupain semuanya!” gerutu Nala.
***

Ketika Nala pergi ke sebuah kantor penerbitan untuk membicarakan kerja sama terkait novel cetak terbarunya yang akan segera terbit, gadis itu justru tak sengaja bertemu dengan Jerry. Ternyata, Jerry bekerja sebagai salah satu pegawai di kantor itu.

“Eh, tunggu. Kayak gak asing. Astaga, kamu Nala si culun gendut itu, kan? Kita dulu satu SMA. Masih ingetkah?”

“Hahh, ya. Aku belum lupa, kok, Jerry. Jadi, kamu sekarang kerja di sini?”
“Ya. Penampilan kamu sekarang lumayan, tapi tetep aja masih gak kurusan. Denger-denger kamu sekarang jadi penulis, ya?”

“Iya, aku baru bahas kontrak naskah sama penerbit ini. Dan, ya, aku banyak berubah sekarang. Hidup itu dinamis, kan. Perubahan itu harus.”
“Selamat. Tapi, meski karier kamu udah cukup bagus sekarang, sorry, aku tetep gak tertarik sama kamu. Coba aja kamu bisa agak langsing.”

Nala memilih berlalu, angkat kaki dari hadapan Jerry. Sudah bertahun lamanya, pria itu tetap saja menyebalkan dan menyakitkan. Padahal, Nala sudah banyak berubah  sekarang. Gadis itu lebih memperhatikan penampilannya. Sedikit demi sedikit mengurangi level pendiamnya, berusaha jadi lebih berani. Tak diam saja bila ada yang merendahkannya. Namun, untuk masalah postur tubuh, Nala memutuskan menerima apa adanya. Ia tak mau memaksa dirinya diet ketat sampai berakhir di rumah sakit seperti dahulu. Buatnya, yang terpenting ia sehat.

Bukan hanya dalam pikirannya, berisik itu pun terpampang di grup chat SMA-nya. Dalam grup itu, seluruh siswa kelas Nala tergabung. Niatnya agar tetap bisa menjalin komunikasi meski mereka sekarang sudah punya kehidupan masing-masing usai masa SMA bertahun lalu. Namun, tetap saja mereka tak berubah. Awalnya, Nala sempat keluar dari grup itu, tetapi ia tetap dimasukkan lagi. Demi rasa menghargai teman, Nala tetap tergabung. Ya, walau tak jarang chat di sana menyakiti hatinya. Itu sebabnya, Nala tak pernah muncul merespons chat di grup itu.

Reuni kemarin seru banget, ya.
Sayang gak bisa full team.

Eh, mau sampe kapan pun gak akan full lah. Orang si culun gak pernah mau ikutan dateng tiap kita ngadain kumpul.
Udah gak culun, tapi tetep aja masih gendut.
Makanya dia bisanya jadi penulis, mana mungkin jadi model?

Model bantal-guling bisa kali.
Nal-Nal Ndut, muncul dong.

Membaca chat di grup SMA-nya selalu membuat Nala malas dan merusak mood-nya.

“Sayang, kenapa? Kamu, kok, kelihatan bete gitu?”
“Hansen, kamu di sini?”

“Ya, aku baru selesai ketemu rekan kerja di deket sini, terus jadi pengin mampir ke rumah kamu, deh. Kangen.”

Hansen adalah kekasih Nala. Hansen lebih tua dua tahun dari Nala. Mereka sudah menjalin hubungan kurang lebih setahun belakangan. Hansen selalu mengerti Nala. Pria itu memang tak pernah mempermasalahkan fisik dan penampilan Nala. Setidaknya, sekarang ini Nala merasa lebih beruntung karena ada Hansen di sisinya. Hansen bahkan sudah tahu perihal Nala yang sering jadi objek perundungan dan bahan ejekan di sekolah dulu, dari cerita Nala.

“Han, mereka gak berhenti ganggu aku. Gak di pikiran aku, gak di grup chat, suara berisik mereka selalu ada. Aku capek, Han. Kenapa mereka gak berubah juga? Apa sih salah aku?”

“Nal, kamu gak salah, Sayang. Mereka aja yang kurang kerjaan. Mereka hanya bagian masa lalu kamu, kan. Abaikan aja. Kita hidup buat masa sekarang dan masa depan, gak perlu pusingin mereka.”

“Hansen … aku juga maunya lupa sama masa buruk itu. Tapi, perkataan mereka gak pernah berhenti muncul di pikiran aku. Suara-suara itu terus ganggu.”

“Mungkin itu dampak karena kamu terlalu tertekan sama perlakuan dan ucapan mereka dulu. Sayang, biar kamu gak terus kepikiran mereka, mending kita jalan-jalan aja, yuk!”
***

Suatu hari, Nala tengah duduk di sebuah bangku taman. Gadis itu sedang menunggu Hansen karena mereka janjian bertemu di sana. Tiba-tiba, kepala Nala kembali pusing. Suara berisik itu datang lagi. Telinga Nala semakin pengang oleh suara yang bahkan sumbernya tak kasat mata itu. Seketika, Nala berteriak.

“Cukup, jangan ganggu aku lagi! Aku pengin lupain omongan kalian semua!”

Setelah berteriak, Nala menangis. Kini, ia bahkan jadi pusat perhatian orang-orang di taman yang menatapnya aneh. Nala merasa malu. Ia berlari ke arah jalan besar. Karena tak memperhatikan kanan-kiri, gadis itu tak sempat menghindar begitu ada sebuah mobil yang melaju kencang lewat ke arahnya.

Bruukk
Nala tergeletak, bersimbah darah.

Sehari usai kejadian kecelakaan itu, Nala baru membuka matanya. Gadis itu bingung melihat sekelilingnya. Mungkin ia tak ingat mengapa bisa sampai ada di rumah sakit seperti sekarang. Kepalanya terasa sakit. Di sana, Hansen berdiri di hadapannya. Pria itu amat bersyukur kekasihnya bisa terselamatkan dan kini sudah bangun.

“Nala, kamu udah bangun, Sayang. Syukurlah,” ucap Hansen.
“Kamu siapa?”

Sebelumnya, Nala memang ingin lupa, lupa semua omongan, olokan, ejekan, segala verbal pahit yang ditujukan padanya sedari masa remajanya.

Nala hanya ingin suara-suara berisik itu lenyap dan mudah ia lupakan. Namun, takdir kini justru membuatnya melupakan segalanya, bukan hanya suara-suara pengganggu itu, tetapi juga termasuk Hansen—pria yang begitu menyayanginya. Nala mengalami amnesia akibat benturan keras di kepalanya saat kecelakaan kemarin terjadi. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 9 Juli 2023

Cerpenis

Devi Aviana Putri
Penulis 6 novel solo dan aktif menulis novel di platform online. Seorang introver yang suka menulis puisi, cerpen, dan novel. Juga seorang penulis buku antologi puisi solo yang sudah terbit cetak. Gemar meramaikan event-event menulis. Pencinta kopi, senja, dan kisah bergenre romansa ini bisa dihubungi melalui Instagram: @via_viana97.

Testimoni Devi Aviana Putri
Selasa, 11 Juli 2023

Saya baru-baru ini mengetahui @cerpen_sastra karena salah satu unggahan cerpennya lewat di laman IG saya. Begitu melihat unggahan lain, saya tertarik ikut mencoba mengirim naskah cerpen untuk Sayembara Cerpen Minggu. Terlebih, tema tidak ditentukan. Ini seperti kesempatan yang sayang dilewatkan.

Ternyata, cerpen pertama yang saya kirim terpilih tayang di @cerpen_sastra. Menurut saya, masih jarang ada yang seperti @cerpen_sastra, bisa menjadi wadah berkarya sekaligus memberi apresiasi yang tidak tanggung-tanggung. Dengan penayangan cerpen di IG, tentu karya penulis bisa menjangkau lebih banyak pembaca.

Apalagi, di era sekarang, penggunaan IG sudah seperti makanan sehari-hari dan penggunanya pun bukan hanya hitungan jari. Adanya sistem sayembara seperti ini juga bisa memicu semangat lebih banyak penulis, baik pemula maupun yang mahir di bidangnya, untuk terus berkarya, menciptakan cerpen-cerpen yang lebih baik. Semoga @cerpen_sastra bisa lebih berkembang dan menjangkau lebih banyak penikmat cerpen dari seluruh penjuru Tanah Air.

Exit mobile version