Site icon cerpensastragrup

Suanggi (Cerpen Mariemon Simon Setiawan)

Sumber Ilustrasi: Shutterstock via Kompas.

“Pernah dengar suanggi yang tabrak tower TVRI?” tanya Ama Laka.
***

“Pernah, Bapak.” “Iyaa, Bapak. Katanya dia baru pulang dari Konferensi Suanggi di China. Apa itu benar?” jawab Pice setengah berteriak, sembari mendekatkan kepalanya berusaha mendengar suara Ama Laka yang sedang mengendarai motor.

“Iya, benar. Semacam PBB-nya para suanggi. Anggotanya ada di seluruh dunia. Kami di Waiubeng sini sudah terkenal dengan suangginya.”

“Memangnya di sini orang bebas pakai ilmu hitam?”

“Ssttt, semua orang tahu siapa-siapa yang pakai, tapi orang diam saja.” Pice mengernyitkan dahinya. Pertanyaan yang sama sekali tak terjawab.

“Kita sebenarnya bisa tahu lewat mereka punya ciri-ciri. Tapi ada yang pintar sembunyikan…” Ama Laka menyambung, tetapi Pice enggan mendengar lagi. Ia sudah berusaha untuk bersikap tenang dan tidak terganggu dengan pembahasan soal suanggi ini. Namun, pikirannya tetap tak bisa diajak kompromi. Ia masih trauma.
***
“Dasar anak suanggi!” bentak Ruben.

“Jangan main dengan dia. Dia anak suanggi. Bapaknya tukang makan orang,” hardiknya lagi.

Wajah Pice memerah. Ia pun memilih menepi, padahal baru saja tiba di pantai untuk ikut bermain bola bersama teman-temannya. Biasanya, ia tidak memedulikannya. Tak pernah sekalipun ia tersinggung atas umpatan-umpatan menyakitkan tersebut karena ia percaya bahwa bapaknya bukanlah suanggi. Baru kali ia merasa malu. Namun, setelah musibah tenggelamnya sampan Om Bertus dua bulan lalu, Pice menjadi ragu. Yah, ia ragu pada bapaknya sendiri. Keraguan itu muncul lantaran mendengar desas-desus kecurigaan atas bapaknya yang selalu selamat dari musibah di laut.

Om Moat, ayah Pice, dalam dua tahun terakhir, telah mengalami empat kali kecelakaan saat sedang mencari ikan di laut. Om Dani menjadi korban pertama. Malam itu ia bersama Om Moat sedang mencari ikan. Tiba-tiba saja perahu oleng, sampan terbalik. Om Dani tenggelam dan ditemukan tewas, sementara Om Moat ditemukan pingsan di pinggir pantai. Apa yang dialami Om Dani sama persis dengan yang dialami Nong Berno. Bedanya, Nong Berno baru ditemukan keesokan harinya setelah peristiwa naas tersebut.

Selanjutnya, nama Om Daud menambah daftar para korban. Kronologinya sama. Bedanya, Om Daud tidak pernah ditemukan lagi jenazahnya, dan Om Moat berenang sendiri ke pantai. Dan dua bulan lalu, kejadian yang sama terjadi lagi. Bedanya, jenazah Om Bertus ditemukan di pantai dengan tubuh penuh luka. Sementara Om Moat yang lagi-lagi berenang ke pantai, tak ada lecet sedikit pun.

Semua cerita yang tersebar itu tentunya berasal dari Om Moat, toh hanya dia seorang yang menjadi saksi. Sendirian selamat dalam empat musibah, sementara orang yang bersamanya semuanya mati, siapa yang tidak ragu? Kata orang, yang beruntung seperti itu hanya suanggi.
***
Motor Ama Laka melaju cepat, membelah suasana desa di sebelah barat perbatasan kota Waiubeng yang beranjak sepi. Senja sore itu tampak cantik. Pice mengamatinya. Merahnya merona, merekah. Tiba-tiba senja itu berubah menjadi lidah-lidah api yang menjilat-jilat langit. Kobarannya membesar. Asap hitam membumbung tinggi. Senja sore itu membawanya pada senja terkelam yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya, lima tahun yang lalu.
***
Pice duduk sendirian di pinggir pantai. Senja sore itu tampak cantik. Merahnya merona, merekah.

“Jangan pernah percaya orang lain omong. Bapak bukan orang jahat seperti yang mereka bilang.” Om Moat tiba-tiba saja sudah berdiri di depan Pice. Ia mengangguk kepalanya, mengajak Pice untuk mendorong perahu ke laut.

“Kita tidak pernah tahu, kapan manusia mati. Bapak juga tidak mengerti, kenapa Tuhan masih memelihara bapak. Tapi kenapa banyak orang yang tuduh bapak suanggi?” Om Moat lalu membuat tanda salib di perahunya, kemudian di dahinya. Itu kebiasaannya sebelum pergi melaut.

Pice menatap wajah bapaknya. Wajah tuanya sungguh menyiratkan hidup seorang duda pekerja keras yang harus memenuhi kebutuhan dua orang anaknya. Pice meraih tangan bapaknya. “Bapak, tolong jujur.”

Ia tak mengalihkan pandangannya sedikit pun ke tempat lain. Mata bapaknya terlihat letih. “Bapak suanggi ka?”

Om Moat terkejut. Matanya berkaca-kaca.
***
Setelah makan malam, Pice bersama Ama Laka dan istrinya masih mengelilingi meja makan, menikmati tuak dan babi panggang. Kata Ama Laka, ini perjamuan untuk Pice yang ber-KKN dan tinggal di rumahnya.

“Kalian berapa saudara?” tanya Ama Laka setelah meneguk segelas tuak.

“Dua, Bapa. Saya dengan adik perempuan saya.”

“Sudah kelas berapa dia?”

Pice terdiam. Babi panggang yang sedang ia kunyah tidak lagi enak. “Harusnya sekarang dia kelas 3 SMA.”

“Maksudnya?” Pene, istri Ama Laka keheranan.

“Adik saya sudah meninggal. Lima tahun yang lalu.”

Suasana ruang makan tiba-tiba canggung. Ama Laka terlihat salah tingkah.

“Aduh, maaf.” Ama Laka terlihat salah tingkah. “Tapi orang tua masih sehat-sehat to?” tanyanya lagi.
Pice terdiam. Pene melototi suaminya, sengaja memberi kode agar tidak bertanya soal keluarga lagi. Pice melirik keduanya satu per satu. Tuak di tangannya belum juga ia minum.

“Sudah meninggal juga, Pak. Mama sudah meninggal waktu saya masih kecil. Bapak meninggal sama-sama dengan ade.”

“Hahh? Meninggal ken…?” Ama Laka terkejut. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya.

“Heh, Laka. Stop! Kau jangan tanya-tanya yang begitu. Ade Pice sudah tidak nyaman itu.” Pene membentak suaminya, sembari melemparkan potongan kecil daging ke arah suaminya. Ia merasa tidak enak hati atas sikap suaminya barusan.

“Ade Pice, bapak dengan mama minta maaf e. Bapak …”

Pice memaksakan senyum. Ia tidak memedulikan lagi apa yang dibicarakan Pene. Pice mengamati babi panggang di atas meja. Sejak tadi, ia belum menyentuhnya sedikit pun. Aroma daging yang semula harum itu tiba-tiba saja berubah. Bau gosong menyengat menusuk hidungnya. Pice seketika mual.
***
“Kau juga tidak percaya bapak?” tanya Om Moat. Pice terdiam begitu melihat wajah tua yang sudah sendirian membesarkannya selama separuh hidupnya itu. Raut wajahnya kecewa. “Nina sudah tidak percaya bapak. Sekarang kau juga?” Om Moat melayangkan pandangannya ke laut lepas. Ia berusaha tegar, meski debur ombak seakan menertawainya, “Kalau anak- anakmu saja tidak percaya, kau berharap pada siapa?”

“Selama ini saya yakin bapak bukan suanggi. Tapi kenapa…”

“Ajal manusia itu tidak ada yang tahu, Pice. Kita bisa mati celaka, tapi kita juga bisa selamat dari musibah,” potong Om Moat.

“Tapi empat kali bapak selamat, sementara yang lain mati, apa tidak mencurigakan?”

Om Moat menatap wajah puteranya. Matanya memerah. Marah dan kecewa bercampur aduk. Air matanya mulai jatuh tidak karuan.

“Anak kurang ajar!” Om Moat menarik baju puteranya. Nadanya meninggi. “Kau tau, setiap kali kecelakaan, saya berusaha supaya tidak mati! Saya berusaha berenang, gelap gulita, lawan arus. Hanya demi kau dengan Nina! Demi kamu dua! Saya harus tetap hidup supaya tetap urus kamu dua! Kau tidak pikir sampai di situ kaa?”

Pice terdiam seribu bahasa. Ia tak tahu harus bilang apa. Om Moat melepaskan tangannya, lalu terduduk lesu di atas pasir.

“Kamu dua adalah alasan supaya saya tetap hidup,” bisiknya lirih.

Pice diam-diam terisak. Dadanya dipenuhi sesal bercampur haru.

Ia lalu melayangkan pandangannya, melihat senja yang indah sore itu. Merahnya merona, merekah. Tiba-tiba senja itu berubah menjadi lidah-lidah api yang menjilat-jilat langit. Kobarannya membesar. Asap hitam membumbung tinggi. Pice terkejut. Seseorang lalu datang memberi tahu, rumah mereka kebakaran. Keduanya berhamburan ke rumah. Hanya ada satu nama di kepala mereka: Nina.

“Nina di dalam. Terjebak.”

Om Moat segera menerobos api. Ia tak peduli lagi kayu-kayu yang mulai jatuh. Ia hanya ingin anaknya tetap hidup. Sementara Pice di luar tidak berdaya. Ia terkulai ke tanah. Samar-samar ia mendengar suara orang-orang di situ. ‘Dia sudah makan orang banyak, wajar rumahnya terbakar.’ ‘Suanggi akhirnya kena karma juga.’ ‘Orang-orang yang dia makan akhirnya balas dendam juga.’ Suara-suara itu terus memutar di kepalanya. Makin lama semakin kencang. Pice menutup telinganya, lalu berteriak-teriak seperti orang gila.

Om Moat tidak keluar lagi. Demikian pun dengan Nina. Aroma pekat daging yang gosong menusuk hidungnya. Pice seketika mual.
***
Pice memuntahkan makan malamnya di kamar mandi. Pandangan matanya mulai kabur. Perutnya masih mual. Mengingat kembali kejadian memilukan itu membuat kepalanya sakit. Tubuhnya dibanjiri keringat. Tiba-tiba, suara-suara itu datang lagi. ‘Dasar suanggi!’ ‘Suanggi pantas mati.’ Suara-suara itu makin terdengar jelas. ‘Keluar kau, suanggi!’

Bukan! Itu suara dari depan rumah. “Ama Laka?!” Pice membatin.

Seketika, Pice teringat kembali pengalamannya lima tahun lalu. Pice memilih berdiam di kamar mandi, sembari menopang tubuhnya yang terkulai di bibir bak. Ia bergidik ngeri, jangan sampai ia kembali mencium aroma daging yang gosong.(*)

Keterangan:
Suanggi: sebutan orang NTT untuk pengguna ilmu hitam yang biasa memakan nyawa orang; sudah menjadi legenda di sana.
Ade: Sapaan orang NTT untuk “Adik”.

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 26 Oktober 2025.

Tentang Cerpenis

Mariemon Simon Setiawan

Lahir di Maumere, NTT. Menaruh minat pada sastra sejak duduk di bangku sekolah menengah. Bergiat dalam komunitas Parextia Film dan Ugu Film yang berbasis di Maumere. IG: @vanhallemonteiro

Testimoni Mariemon Simon Setiawan

Suanggi (pengguna ilmu hitam yang memakan nyawa manusia) barangkali berada di antara mitos dan realita. Bagi orang NTT, cerita tentang suanggi sudah begitu umum. Berbagai penelitian dan dokumenter tentangnya pun bertebaran di berbagai jurnal dan publikasi. Cerpen ini berangkat dari opini-opini tentang suanggi di tengah masyarakat dan pengamatan pribadi penulis. 

Orang yang dituduh suanggi dan keluarganya mudah dijauhi dan dikucilkan dalam pergaulan sosial. Mereka juga dicurigai dan mendapat stigma yang terkadang membuat mereka cukup sulit untuk mendapat tempat di tengah masyarakat. Dampak paling fatal adalah aksi kekerasan. Inilah yang menjadi ironi, terlebih bila orang yang menuduh suanggi sama sekali tidak memiliki bukti dan hanya mengandalkan ‘feeling‘ pribadi. Namun, sejatinya, cerita tentang suanggi masih menyimpan misteri sampai detik ini. Saya senang bisa mengikuti kompetisi dan memenangkannya pada minggu ini. Ini jadi kesempatan saya untuk menyuarakan keunikan, keresahan, dan beragam cerita dari NTT.

Exit mobile version