Site icon cerpensastragrup

Setelah Seloko (Cerpen Mareza Sutan AJ)

Sumber ilustrasi: Pixabay.

Embuskan napasmu lagi. Semoga lebih baik. Kau adalah orang yang benar-benar tahu cara mengobati dirimu sendiri, meski terus terjadi berulang kali.
…

Sebenarnya kau tahu, Badrun, hari belum benar-benar petang sebelum kau pulang ke rumah kecil di tepi Batanghari. Buru-buru langkah kaki beranjak, menjauh dari suara musik Melayu, meninggalkan orang-orang yang masih menunggu pesta selesai.

Pagi tadi, menjelang matahari naik, tutur yang begitu indah itu terdengar lagi. Orang-orang kampung sudah kenal nian dengan suaramu. Tutur seloko yang kau sampaikan, sudah yang paling-paling tak bisa terungkapkan dengan kata-kata.

Bukan sekali-dua kali perempuan – entah dari kampung ini, kampung tetangga, atau sekadar berkunjung untuk menyaksikan prosesi adat pernikahan – terpesona dengan cara kau bicara.

Kamera-kamera menyorot ke arahmu. Banyak hadirin terkesima. Gambar atau videomu bisa saja viral, menyebar di dunia maya, dan jangan hitung berapa orang yang akan mengagumi orang yang melestarikan adat sepertimu.

Sejak kecil kau dikenal bijak. Belajar berseloko dari orang-orang nan didulukan selangkah ditinggikan seranting, duduk bersila di bawah atap Kajanglako.

Benar, seloko adalah tradisi lisan khas Jambi yang menjadi warisan turun-temurun. Benar juga, seloko acap ditampilkan dalam prosesi upacara, termasuk perkawinan. Tapi, seloko yang kau sampaikan selalu menyiratkan hal yang berbeda. Kau benar-benar bertuah, tanpa harus ada orang yang mengerti tuah apa yang melekat pada dirimu.

Sudah selaiknya orang-orang cerdik pandai sepertimu hadir sebagai penyambung lidah. Saling berbalas kata-kata sakti di hadapan khalayak – termasuk juga pasangan yang akan menikah atau perwakilannya – menjadi hal yang lumrah bagimu, bukan?

Jadi, cobalah kau pikirkan lagi matang-matang, di usiamu yang sudah kepala tiga itu. Sudah saatnya pula kau membina rumah tangga, seperti kata orang-orang di kampung: sudah berbuah pohon semantung di belukar, masak pulalah itu namanya. Sudah waktunya, Badrun.

Banyak bunga-bunga telah mekar, elok pula rupanya. Yang terpenting, hendak pula mereka dipinang oleh pria sepertimu. Kau tampan, berpendidikan, cukup mapan, apa lagi? Satu lagi, kau pandai berbicara.

Sejatinya, tidak mengherankan jika orang-orang pandai bertutur kata menjadi perhatian. Bukankah suara adalah hal yang paling mudah untuk didengarkan? Semakin pandai semakin diajar, semakin tahu semakin disapa. Jadi, Badrun, sebenarnya kau tinggal bilang saja apa yang kau inginkan. Ingin beristri, misalnya, sampaikan pada perempuan yang kau sukai. Orang-orang seperti kau ini, seharusnya tinggal tepuk dado tanyo selero.

Sejak kecil kau dikenal sebagai anak yang cerdas di kampung ini. Sampai sekarang pun, semua yang kau sampaikan adalah emas. Kecik sakti gedang betuah itu sebenarnya ada pada dirimu. Kurang baik apa lagi kau ini!

Ah, orang-orang cerdas sepertimu tidak seharusnya menjalani hidup dengan menyedihkan. Ya, meski sebenarnya sebagian manusia sadar, kecerdasan bukan segalanya untuk mendapatkan hidup enak. Nasib tak ada yang tahu, bukan?

Kau tidak bergegas melepas teluk belanga yang kau kenakan. Bukan waktunya mengganti pakaian pada saat-saat seperti itu, demikian barangkali yang ada di pikiranmu. Kau akan terus mengenakannya, bahkan hingga menjelang magrib.

Suara air di sungai terdengar telinga. Kau akan menikmati semua suasana itu, menghabiskan waktumu sampai azan magrib terdengar dari masjid dekat rumah. Nikmatilah waktumu.

Jadi, di rumahmu yang berada di tepi Sungai Batanghari itu, kau akan duduk di teras belakang. Ada atap kecil di atasnya, dan bangku tempat kau biasa duduk yang berdempet dengan dinding kayu rumahmu. Pandanglah sungai itu seperti biasa, sebagaimana kau memandang kehidupan ini. Entahlah, apa kau akan berpikir air yang mengalir sampai ke muara akan kembali ke hulu?

Lupakan! Kau akan memahami isi pikiranmu sendiri. Sendirian. Beberapa nelayan akan mendayung sampannya – mencari ikan-ikan kecil yang mudik ke tepian, atau melempar jaring di tengah – dan kau tak menghiraukannya. Kau akan menyelami pikiranmu sendiri; membayangkan jika saja begini, maka akan seperti ini.

Kau akan selalu tersenyum membayangkan kebahagiaan orang-orang di pesta-pesta pernikahan. Kau ingat saat nasihat-nasihat akan tersampaikan. Hadirin akan mendengarkan dengan saksama, sebagian manggut-manggut. Seloko lebih dari sekadar kata-kata.

Benar, kau merasa pernikahan adalah kebahagiaan yang pantas untuk dirayakan, bahkan sekecil apapun perayaan itu. Sekali waktu, katamu, pernikahanmu akan menjadi perayaan terbaik dalam hidupmu. Dan, kau hanya terpikir untuk menikah satu kali.

Maka pada setiap perayaan pernikahan yang kau hadiri – entah sebagai tamu atau penyampai seloko – semua tutur baik akan kau sampaikan. Kau akan berbalas kata, saling menyampaikan pesan-pesan baik yang tersirat dalam kalimat-kalimat penuh majas dan makna.

Sudah seharusnya kau hidup bahagia. Berhentilah memandang ke sungai itu. Yang di hulu mengalir ke hilir, yang hilir terus pula ke muara. Semuanya berjalan sesuai takdir. Hanya saja, arus tak selamanya deras; kadang terhambat batu, ranting-ranting, atau apa saja yang menghalanginya sebelum sampai ke lautan lepas.

Kau menghela napas. Jari-jari tangan kananmu menyisir rambut, menyibakkannya ke belakang. Kepalamu tersandar pada dinding rumah, tepat di samping pintu belakang. Mata terpejam beberapa detik. Segalanya teringat lagi.

Entah harus berapa kali orang-orang di sekitarmu menyampaikannya. Tapi tetap saja, meski bersusun jari nan sepuluh, tertunduk pula kepala nan satu, kau belum mampu mengindahkannya. Bahkan jika bunga-bunga yang indah mencoba menyadarkanmu, kau akan tetap hanyut dalam lamunan itu.

Sirih nan sekapur, pinang nan selayang, kembali mengundangmu untuk menziarahi semua kenangan. Yang terjadi setelahnya, kau akan tenggelam.

Suara musik Melayu masih terdengar, meski sangat sayup. Sebenarnya, kau bisa saja berdendang di sana untuk menghibur diri, menikmati suasana ramai yang bisa membantumu melupakan semuanya. Pilihlah hidangan-hidangan yang ada, bahkan tempoyak dan pekasam sekalipun. Duduklah, lalu biarkan semua kenanganmu lenyap.

Tapi tidak, karena kau akan memilih menyelami kenanganmu jauh lebih dalam. Kau akan membiarkan air matamu jatuh, mengamini segenap naluri dengan patuh. Sesak dadamu menahan pilu.

Kau adalah laki-laki yang punya hati besar. Membawa sirih nan sekapur, pinang nan selayang, kau niatkan dengan ketulusan. Hatimu tiada yang tahu, sebab katamu: yang mudo menanggung rindu, yang tuo menanggung ragam. Jadi, kau rasa tak layak dirimu memetik bunga sebelum waktunya tiba. Lah elok-elok bunga ditanam, disiram pagi dengan kasih, disiram petang dengan sayang, disiram malam dengan doa. Kian hari kian mekar.

Embuskan napasmu lagi. Semoga lebih baik. Kau adalah orang yang benar-benar tahu cara mengobati dirimu sendiri, meski terus terjadi berulang kali.

Setelah seloko kau selalu begini. Kesedihanmu tampak, bahkan dari kejauhan. Siapa pun yang bersalah atas keadaanmu, sudah seharusnya bertanggung jawab. Tapi tanggung jawab seperti apa yang bisa dia lakukan setelah apa yang terjadi?

Sekali lagi, orang sepertimu tidak seharusnya menjalani hidup dengan menyedihkan. Menelan pahit, meski tak pernah membuang-buang manis. Pecah tanpa retak, putus tanpa adanya genting. Tiba-tiba harus menanggung hancur berkeping-keping.

Hanya kau yang tahu seberapa luluh lantak perasaanmu. Lah berserak sirih dari nampan, mana lagi hendak dimakan. Hancur pula harap nan di dalam hati.

Badrun, kau benar, bunga-bunga tumbuh dan mekar di taman; tapi nan tumbuh nian di hati, nan seorang itu pula; itu pula dipetik orang. Seharusnya memang nak gedang lemak jangan dibuang, nak cerdik kawan jangan dibuang. Aku yang salah. Maafkanlah, aku terlambat tahu kalau bunga yang kau tanam adalah bunga yang kupetik. (*)

Pematang Gajah, Februari 2024

Tanggal tayang:
Minggu, 3 Maret 2024

Cerpenis:

Mareza Sutan AJ
Penikmat cerita dan aneka bacaan lainnya. IG: @marezasutan

Testimoni Mareza Sutan AJ

Ini adalah kali kedua tulisan saya hadir di @cerpen_sastra. Semoga pembaca suka. Menulisnya pada Rabu malam hingga Kamis dini hari (28-29 Februari 2024), Setelah Seloko menjadi cerita yang saya ketik tanpa menyajikan dialog di dalamnya.

Pak Horas selaku pendiri Cerpen Sastra bilang, kekuatan tiap-tiap nominasi pada sayembara edisi 3 Maret 2024 hampir sama. Maka dari itu, saya juga mengapresiasi karya-karya nominator lain yang, saya yakin, tidak kalah bagusnya.

Terima kasih @cerpen_sastra yang hadir memberikan ruang bagi para penikmat cerita. Semoga kian bertuah.

Exit mobile version