Site icon cerpensastragrup

Serigala-Serigala Menyerbu Kota (Cerpen Sulfiza Ariska)

Sumber Ilustrasi: Unsplash/Philipp Pilz.

Di kotaku, banyak serigala berkeliaran. Tak jarang, aku menjumpai serigala yang menyamar menjadi manusia atau manusia yang tiba-tiba menjelma serigala. Membuat siapa pun sulit membedakan antara serigala dan manusia sejati.
…

Suatu hari, ibuku membawa serigala ke rumah kami. Matanya yang berwarna merah saga—menatapku penuh nafsu. Lidahnya terjuntai liar. Air liurnya—beraroma bangkai—menetes-netes setiap melihatku. Serigala itu tidak dibuatkan sebuah kandang, tapi tidur di kamar Ibu. Padahal, sejak ayah kabur dengan seorang perempuan malam di bawah umur, aku dan Ibu terbiasa tidur bersama. Bersama-sama, kami melewati malam-malam yang ganjil—terkadang mengerikan—di kota yang diramaikan serigala.

Sebagai ganti lagu nina bobo, Ibu menceritakan dongeng dengan menempatkan diriku sebagai tokoh utamanya. Maka, aku telah berulang kali menjelma tokoh-tokoh utama dalam dongeng-dongeng diceritakan Ibu. Aku pernah menjadi Timun Mas, Hang Tuah, Roro Mendut, Ken Dedes, Athena, Dewi Sinta, hingga Nyi Roro Kidul. Dongeng-dongeng tersebut ampuh menumbuhkan keberanian dan menghalau ketakutan di sanubariku. Tidak pernah melintas dalam bayanganku, Ibu menjadikan seekor serigala sebagai pengganti diriku—di kamar tidur yang selama ini kami tempati bersama.

“Kamu sudah besar,” tutur Ibu sewaktu mengusirku dari kamar tidur tersebut.
“Sudah saatnya kamu tidur sendiri.”
“Tapi, Bu.”

“Sudah. Sudah. Jangan cengeng, Djenar. Apakah kau ingin selamanya tidur di bawah ketiak Ibu? Bila kau tidak bisa tidur sendiri, bagaimana kau bisa mandiri?”

Ibu memang telah menata sebuah ruang di rumah kami yang sempurna untuk dijadikan kamarku. Tidak sekadar bersih, rapi, wangi, dan mewah; Ibu telah menyewa pelukis untuk menambahkan lukisan pohon-pohon sakura tiga dimensi di dinding dan lantainya. Dedaunan berwarna kuning, merah, dan oranye—seolah berhamburan di dalam kamarku. Antik, unik, dan berkelas. Membuatku seolah-olah berada di Kyoto ketika musim gugur datang menyapa. Namun, aku tetap merindukan kamar yang dihangatkan dongeng-dongeng: kamar ibu.
***

Aku memang penyayang binatang. Tetapi, aku tidak perlu waktu lama untuk cepat membenci Serigala. Bagaimana tidak? Binatang keparat itu senang melihatku susah. Bila Ibu tidak di rumah, ia selalu tidur di kamarku dan mengacaukannya. Buku-buku akan bertebaran di lantai. Pensil dan penggaris minggat ke bawah ranjang. Air liurnya—lebih memuakkan daripada lendir bekicot—melumuri seprai. Tak jarang, serigala mencakar-cakar tubuhku, sehingga meninggalkan jejak luka yang tidak bisa raib dikikis kuku-kuku waktu. Kendati demikian, Ibu tidak pernah percaya pada laporanku. Alih-alih Ibu lebih percaya pada binatang buas daripada anaknya sendiri.

“Tidak mungkin serigala melukaimu!” bantah Ibu setiap kulaporkan perbuatan Serigala. “Kamarmu berantakan karena kamu malas membenahinya. Tubuhmu yang penuh luka cakar karena kau cakari sendiri,” tambah Ibu dengan nada penuh tuduhan.

Sementara itu, populasi serigala terus meledak di kotaku. Manusia semakin terdesak. Sebagian manusia yang tersisa, telah semakin mirip serigala, termasuk guru dan teman-teman sekolahku. Meskipun masih bertubuh manusia, sifat mereka sangat mirip dengan serigala. Aku curiga, mereka beramai-ramai menjelma serigala dan berpesta setiap bulan purnama menjelajahi langit kota.
***

Hubungan Ibu dengan Serigala semakin erat. Bila berlibur ke luar negeri atau dinas ke luar kota, Ibu selalu mengajak serigala. Pada kolega-koleganya, Ibu tidak malu-malu mengakui serigala sebagai pasangan hidupnya.

“Usia serigala baru tujuh belas tahun, tapi ia sudah pintar membuat wanita merasa berharga,” tutur Ibu dengan nada bangga pada teman-teman wanitanya yang kebanyakan single parent.

Kira-kira sembilan purnama serigala berada di rumahku, sesuatu yang kucemaskan terjadi sudah: Ibu tidak hanya sekadar sayang pada hewan peliharaannya, melainkan telah menganggapnya segala-galanya dan melupakan diriku. Ibu tidak lagi memberiku uang jajan dan biaya sekolah. Tidak jarang, Ibu dan serigala bisa berminggu-minggu bepergian, membiarkan perutku kosong dan asap di dapur berhenti mengepul.

Dari koleksi gantungan kunci yang selalu mereka beli di negeri-negeri yang telah mereka jelajahi, aku dapat mengetahui Ibu—bersama Serigala—telah berpetualang ala backpaker ke Ubud, Pulau Komodo, Borobudur, Toraja, Bantimurung, Nusa Lembongan, Dieng, Bromo, Raja Ampat, dan berbagai negeri-negeri eksotis beriklim tropis. Membuat kebencian dalam dadaku pada serigala, menjelma amarah dan dendam. Ia tidak hanya merampas ranjang dan kamar yang aku cintai, melainkan ia telah merampas satu-satunya keluarga yang kumiliki: Ibu.

Agar nafasku tetap berhembus dan kebencian terhadap Serigala terus bertumbuh di hatiku, sepulang sekolah, aku menyalur hobi memasak di beberapa rumah makan cepat saji. Setiap api amarah dan dendam berkobar buas, aku membayangkan memasak serigala. Saat memotong daging, aku membayangkan memutilasi organ-organ tubuh serigala. Ketika mengiris-iris wortel menjadi kepingan-kepingan pipih, aku membayangkan mengiris-iris lidah Serigala. Di kala memblender untuk menyiapkan jus buah, aku membayangkan bola mata Serigala yang berputar-putar dilumat baling-baling mesin blender. Sewaktu mencicipi cita rasa masakan, aku memimpikan menikmati kelezatan serpihan-serpihan jantung Serigala.

Sementara itu, Ibu telah berhenti kerja dan menjadi backpaker penuh waktu. Bersama Serigala, ia terus menjelajahi ceruk-ceruk dunia. Mereka sempat sebulan hidup bersama suku Dani di Papua dan tersesat di Hutan Amazon. Pernah pula ditawan suku Indian di Meksiko. Tidak jarang ditahan dan diancam hukuman mati karena melintasi daerah-daerah yang tidak tercantum dalam paspor mereka. Pengalaman Ibu sebagai pengacara khusus hukum Internasional, membuat mereka selalu lolos dari lobang jarum.

Untuk mengabadikan pengalaman sebagai backpaker, Ibu menulis buku-buku travelling. Buku-buku tersebut pun mengalir deras dari tangannya. Dalam waktu singkat, buku-buku itu diterbitkan dalam semua bahasa dan menghuni rak best-seller ratusan toko buku terkemuka di dunia. Pundi-pundi uang Ibu semakin menggemuk. Tetapi, ia tetap lupa membiayai hidupku. Semua uangnya tercurah untuk serigala. 

Perlahan-lahan, aku belajar melepaskan ketergantunganku pada Ibu. Berbekal hobi memasak, aku mengadu peruntungan sebagai chef. Pucuk dicinta ulam pun tiba—keahlianku tersebut bisa kuandalkan untuk mandiri dan mapan. Meski tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, aku berhasil menjadi chef profesional. Berkali-kali diriku memenangkan kompetisi memasak dan menerima beasiswa kursus memasak di sekolah-sekolah kuliner ternama.
***

Suatu malam, aku pulang dengan kelelahan yang membengkak di seluruh sendi. Celemek kerja pun belum kulepaskan. Di dalam saku celemek itu terselip sebilah pisau perak kesayanganku. Baru saja diriku menghempaskan tubuh di atas sofa, tiba-tiba serigala telah menerkam dan menindihku.

“Di mana ibuku?” tanyaku tajam.
“Ibumu sibuk menulis,” lolong serigala itu. “Ia telah mengabaikan diriku. Tak apa. Aku telah bosan dengan tubuhnya telah tinggal ampas.”

Selanjutnya, serigala menerkam diriku. Tubuhku tidak berdaya terpenjara dalam lengan-lengannya yang kasar dan kekar. Membuat dadaku tertekan dan diriku sesak nafas. Namun, ketika selarik kesadaran berkelabat dalam diriku, sebuah lolongan panjang tergelincir dari lidah serigala—serupa intan membelah kaca.

Darah segarnya memerciki tubuhku. Selanjutnya, ratusan sayatan panjang merobek-robek tubuh Serigala. Nadinya masih berdenyut ketika jantungnya terpisah dari seluruh jaring-jaring pembuluh darah yang tertanam dalam dirinya. Saat Serigala menggelepar-gelepar bertarung dengan maut, aku mengeluarkan berbagai piranti memasak. Malam ini aku akan mewujudkan impianku yang telah lama tertanam dalam otakku: memasak serigala.

Di saat memotong-motong daging serigala, aku baru menyadari ribuan helai bulu-bulu kasar—seperti yang dimiliki serigala—telah merimbun di punggung tangan dan cakar setajam pisau perak—berlumur darah—mencuat di ujung jemariku. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 2 Juli 2023

Cerpenis

Sulfiza Ariska
Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012. Merupakan penulis emerging Indonesia dalam Ubud Writers and Readers Festival ke-11 di Bali. Meraih beberapa penghargaan seperti Pemuda Berprestasi Tingkat Nasional Penghargaan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dalam Puncak Nasional Hari Sumpah Pemuda ke-82 di Surakarta 28 Oktober 2010, Tangguh Award Badan Nasional Penanggulangan Bencana 2018, dll. IG: @sulfiza_

Testimoni Sulfiza Ariska
Selasa, 4 Juli 2023

Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk publikasi karya melalui @cerpen_sastra. Karya saya bisa menyapa banyak pembaca di seluruh penjuru negeri dalam rentang waktu relatif singkat. Bagi saya, sebagai penulis, momentum di mana karya menemukan pembaca, merupakan karunia yang sangat berharga dan berarti.

Para penulis, terutama penulis pemula, sebaiknya tidak melewatkan kesempatan untuk mengirimkan atau mengupayakan publikasi karya melalui @cerpen_sastra. Kekuatan media sosial memiliki daya luar biasa. Melalui media sosial (@cerpen_sastra), Anda bisa membangun eksistensi sebagai penulis dalam rentang waktu cepat.

Itu sebuah pencapaian yang sulit untuk diraih penulis dua dekade lalu atau ketika saya mengawali karir sebagai penulis. Besar harapan agar @cerpen_sastra bertumbuh sehingga membentuk platform khusus, membangun komunitas yang lebih solid, menyelenggarakan event literasi bersifat luring, dan penerbitan karya-karya terbaik ke dalam bentuk cetak. Mari merayakan sastra melalui @cerpen_sastra. Merayakan persatuan kita: Bahasa Indonesia!

Exit mobile version