Site icon cerpensastragrup

Sepotong Kisah dari Mbah Yai (Cerpen Ardila Chaka)

Sumber ilustrasi: Shutterstock.

Mbah Yai bilang aku harus kuat seperti ibu dan sabar seperti bapak. Nasihat Mbah Yai akan dibungkusnya dengan sebuah kisah yang sudah kudengar ratusan kali. Meski begitu, aku tak pernah bosan mendengarnya.
…

“Ibumu itu kuat sekali. Dulu, ibumu satu-satunya wanita yang kerjanya laju lintas provinsi. Tiap pagi dia nyegat bus persis jam empat Subuh. Telat sebentar saja, ibumu pasti ketinggalan bus. Padahal, bus itu lewatnya tiap tiga jam sekali. Pernah sekali waktu, pas ibumu sedang hamil kamu usia delapan bulan, ibumu telat satu menit. Cuma satu menit, Nduk, tapi busnya sudah jalan. Ibumu ndak mau nyerah. Dia kejar bus itu sambil teriak-teriak, ‘Aku ketinggalan, Pak. Tunggu!’. Penumpang paling belakang yang lihat ibumu lari-lari kepayahan akhirnya ngomong ke kondektur untuk berhenti. Pas ibumu baru duduk, ketubannya pecah. Perutnya kram luar biasa. Penumpang yang lain sudah kalang kabur, panik luar biasa. Ibumu senyum saja sambil atur napas. Lahirlah kamu di atas bus, Nduk.”

Aku senantiasa takjub kala mendengar cerita itu. Mulutku tak akan henti mengucap takbir atas kuasa Allah yang menjadikan ibuku wanita terkuat di muka bumi versiku. Mbah Yai akan merespons kekagumanku dengan mengelus pucuk kepalaku sebanyak tiga kali. Selalu dengan jumlah yang sama, tak pernah kurang apalagi lebih. Setelah itu, sepotong kisah ibuku akan Mbah Yai lanjutkan dengan cerita tentang betapa luasnya kesabaran bapakku.

“Kalau bapakmu itu… sabaaaar sekaliii…. Mbah Yai saja tidak akan bisa sesabar bapakmu. Orangnya memang pendiam. Jarang ngomong. Dalam sehari omongannya bisa dihitung jari. Bahkan, sama ibumu yang istrinya sendiri pun, bapakmu irit sekali bicaranya. Orang-orang sampai mengira kalau bapakmu itu bisu.”

Mbah Yai terkekeh kecil. Mungkin teringat sesuatu kala bercerita tentang bapakku.

“Suatu hari, bapakmu ini bikin geger orang satu rumah karena ngomong panjang lebar. Tahu apa yang bikin bapakmu bisa ngomong panjang lebar?”

Aku tersenyum tipis. “Bapak menceritakan tentang angan-angannya kalau aku sudah lahir, kan, Mbah?”

Mbah Yai kembali menghadiahiku dengan usapan lembut sebanyak tiga kali di pucuk kepalaku.

“Betul, Nduk. Ibumu baru pulang dari bidan desa, habis periksa kenapa ndak menstruasi sudah dua bulan. Ternyata ibumu hamil kamu. Bapakmu senang sekali. Mereka nunggu kamu itu lama, Nduk. Hampir tujuh tahun. Makanya, pas bapakmu tahu ibumu hamil, bapakmu sampai sujud syukur. Habis itu, bapakmu duduk terus langsung ngajak ibumu berangan-angan, ‘Dik, anak ini laki-laki atau perempuan, ya? Kalau laki-laki pasti tampan kaya aku, kalau perempuan pasti ayu kaya kamu, Dik. Iya to? Rasa-rasanya, aku sudah ndak sabar lihat anak ini lahir. Pingin tak gendong keliling desa sambil pamer kalau ini loh anakku.’.

Mbah Yai menjeda sebentar ceritanya. Napasnya tampak tersengal-sengal. Segera kusodorkan segelas air putih yang sejak tadi tergeletak di atas nakas. Mbah Yai meneguknya sampai habis.

“Nah, sabarnya bapakmu itu ya waktu ibumu hamil. Ada saja tingkah ibumu yang buat orang lain ngelus dada, tapi bapakmu tetap tenang. Pernah malam-malam, ibumu minta minum air kelapa yang harus diambil langsung dari pohonnya. Bapakmu dibangunin, dibilangin ngidam begitu, ya langsung manjat pohon.”

Mbah Yai kembali menjeda ceritanya dengan senyuman. Angannya tampaknya melambung jauh ke kejadian masa itu. Aku pun turut membayangkan, bagaimana jika aku yang di posisi bapak. Mungkin aku akan tetap tidur atau keluar kamar untuk berpindah tempat tidur.

“Pas kandungan tujuh bulan, bapakmu kena tipu sama temannya. Bapakmu mau jual sawah, temannya yang jualin, eh uangnya dibawa kabur. Pas temannya ini ditangkap polisi, dia sujud-sujud minta ampun sama bapakmu. Katanya terpaksa karena butuh buat biaya buat anaknya berangkat ke Taiwan. Sabarnya bapakmu, dimaafin itu temannya, ndak jadi dipenjara. Ibumu marah banget waktu itu. Uang ibumu baru habis buat acara tujuh bulanan besar-besaran. Uang bapakmu juga baru buat beli rumah ini, sedangkan waktu lahiran sudah dekat. Lihat ibumu marah-marah, Mbah ndak tega sama bapakmu. Mbah tawarkan uang Mbah buat dipakai beli perlengkapan bayi. Bapakmu nolak. Ibumu tambah murka, tapi bapakmu diam saja. Untungnya, ibumu juga kuat bertahan walaupun belum ada gambaran jalan keluar dari bapakmu.”

Tanpa terasa, air mataku selalu jatuh setiap sampai di bagian ini. Bapak dan ibu menjadi dua insan yang saling menguatkan. Kepercayaan mereka sudah sampai di tahap maksimal. Itu sebabnya badai apapun yang datang, mereka tetap kokoh berdua. Ah, romantisnya.

Mbah Yai menggenggam erat tanganku, “Tapi, Nduk….”

Aku mendesah panjang. Kuhapus jejak-jejak air mata yang terasa mengaburkan pandangan. Kepalaku pun lunglai di pangkuan Mbah Yai. Kupikir Mbah Yai akan berhenti kala melihat responsku yang langsung lesu. Namun, Mbah Yai tetaplah Mbah Yai. Beliau tidak akan berhenti bercerita sebelum cerita itu sendiri usai.

“Sampai sekarang Mbah Yai tetap tidak punya jawaban. Kenapa tiba-tiba saja, di suatu pagi saat umurmu dua bulan, bapak dan ibumu sama-sama menghilang? Entah sejak kapan mereka pergi. Entah mereka pergi sendiri-sendiri atau pergi berdua. Mbah Yai tidak pernah tahu. Pagi itu, Mbah Yai mendengar tangisanmu dari dalam kamar. Mbah Yai biarkan karena biasanya ada bapak dan ibumu yang sigap menenangkan. Namun, sampai setengah jam, kamu tetap meraung-raung. Mbah Yai penasaran. Mbah Yai buka pintu kamar bapak dan ibumu. Yang Mbah Yai lihat cuma kamu sendirian di ranjang. Di meja kamar, ada secarik kertas yang ditulis oleh ibumu. Tulisannya, ‘Nitip Ratih nggih, Mbah’. Hanya itu, Nduk.”

“Mbah ndak pernah dengar bapak dan ibumu cekcok. Mbah selalu melihat bapak dan ibumu itu harmonis, apalagi setelah kamu lahir. Mereka sangat sayang sama kamu, tetapi kenapa mereka tiba-tiba meninggalkan kamu? Mbah Yai ndak tahu, Nduk. Mbah Yai minta maaf sama kamu, Nduk. Harusnya kamu bisa tumbuh besar bersama bapak dan ibumu, bukan sama Mbah Yai. Mbah….”

Mbah Yai tak melanjutkan kisahnya. Air matanya lebih dulu bercucuran. Kedua telapak tangan keriputnya digunakan untuk menutupi luka yang terlukis di bola matanya.

Aku belum pernah melihat ini sebelumnya. Kerapuhan Mbah Yai yang selama tujuh belas tahun ini sudah membersamaiku dengan penuh kasih sayang. Aku bangkit dan merangsek ke pelukan Mbah Yai. Kami berderai air mata bersama. Jika Mbah Yai menangis karena bapak dan ibuku, aku sendiri bingung menangis karena apa.

Ingin menangisi bapak dan ibuku, tetapi aku tak pernah benar-benar mengenal mereka di kehidupan nyata. Aku hanya mengenal mereka di kisah yang selalu didongengkan Mbah Yai.

“Mbah Yai ndak pernah tahu, apakah sekarang bapak dan ibumu masih hidup apa sudah mati. Mbah Yai sebenarnya pingin tahu kabar mereka, tetapi Mbah Yai juga rasa-rasanya ndak sanggup. Kalau mereka masih hidup, kenapa mereka tidak pernah berkeinginan untuk melihat putrinya yang sudah jadi gadis baik ini. Tapi Nduk….”

Mbah Yai mengambil napas panjang. “Mungkin lebih baik kalau mereka sudah mati. Biar kamu ndak terluka jika ternyata mereka memang tak menginginkanmu.” (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 18 Februari 2024

Cerpenis

Ardila Chaka
Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Seorang pencinta sastra kelahiran Purworejo, Jawa Tengah. Beberapa karyanya sudah pernah diterbitkan, salah satunya yaitu novel Kasta, Kita, Kata-Kata. IG @ardilachaka.

Testimoni Ardila Chaka

Cerpen Sepotong Kisah dari Mbah Yai lahir dari keinginan untuk kembali produktif setelah vakum cukup lama. Dengan berbagai pertimbangan, saya memilih Cerpen Sastra sebagai wadahnya. Tidak berharap banyak, target awal saya adalah masuk nominasi, mengingat ini kali pertama saya mengirimkan karya di sini. Namun ternyata, kisah sederhana Mbah Yai terpilih sebagai pemenang.

Terima kasih banyak untuk Cerpen Sastra yang telah menghadirkan wadah bagi para cerpenis untuk tetap eksis. Proses cepat, kurasi ketat, itulah Cerpen Sastra. Panjang umur untuk Cerpen Sastra dan semoga terus melaju. Aamiin.

Exit mobile version