Site icon cerpensastragrup

Sepeda Onthel PNS (Cerpen Nansa)

Sumber Ilustrasi: Jatimsmart.id.

Dahulu, menjadi guru adalah cita-cita yang keren. Namun, pasaran. Berlomba-lomba anak kecil ingin menjadi tokoh guru, bukan tenaga pendidik. Bila sedari kecil sudah ramai mendengar jikalau guru merupakan pekerjaan mulia, anak kecil ingin ikut-ikutan seperti tokoh serupa. Meskipun mereka tidak mengenal bagaimana dedikasi terwujudnya kata mulia. Sekarang aku tahu, mengapa kata mulia tersohor sekali menjadi kata beken yang tersemat bersamaan dengan profesi guru.
…

Dilihat-lihat, Pak Jum, guru Pendidikan Pancasila yang sudah 32 tahun mengabdi sebagai guru itu, terakhir kali mengganti sepeda motor trondol bututnya dengan sepeda onthel hijau lumutnya ini sekitar dua bulan lalu. Terang Pak Jum dengan senyum jumawanya saat menginjakkan kaki di konblok parkiran belakang kelas empat itu, “Sepeda itu lebih ramah lingkungan. Dan kantong celana.”

Tak sengaja aku tertawa remeh dan mulut sedikit busukku ini menyeletuk, “Karena motornya harus dijual supaya dapat membeli bensin, kan? Atau membayar SPP anak.”

Gurauan sarkasku tadi pagi hanya ditanggapi Pak Jum dengan tawa. Pak Jum tampak tidak sakit hati, tetapi perasaanku jadi tidak baik-baik saja setelah mengatakannya, selama pelajaran berlangsung.

Ketika jam istirahat kedua, aku menghentikan langkah Pak Jum. Tepatnya di halaman sekolah, di bawah pohon ketepeng, aku duduk di pagar pohon bersemen, dan Pak Jum berdiri tak jauh di depanku. Aku menggugurkan rasa gengsi setinggi langitku, “Pak. Maaf.” Suaraku sedikit gemetar dan terjeda-jeda. Pak Jum sempat kali bergeming. Mungkin kebingungan dengan kata maaf yang ajaib sekali kulontarkan di siang bolong seperti ini. Terlebih dengan pandangan menunduk dan suara yang merendah, tidak mencerminkan sosokku sekali. Sebelumnya, bahkan lebih dari lima menit Pak Jum menunggu aku bicara. Sementara saat itu juga, aku sedang sibuk mengumpulkan keberanian menyiapkan bagaimana kata yang harus kuucapkan, selain terang-terangan berkata maaf.

Sialannya, kegugupan menyerangku hingga debar jantungku seperti ditubruk-tubruk gajah. Dan semakin bertambah ketika aku mendengar suara sepatu butut milik Pak Jum, semakin samar ditelan jarak. Pak Jum berlalu.

Meninggalkan aku yang ditimpa penyesalan besar. Seharusnya aku tidak menjadi anak nakal. Seharusnya aku tidak durhaka kepada orang tua. Pak Jum bukan orang yang berhati batu. Dikenal sebagai sosok guru yang humoris dan pandai merangkul anak didiknya, hingga sering kali membuatku merasa cemburu akan perlakuannya pada murid-muridnya itu. Kini tanpa sepatah kata Pak Jum meninggalkanku tanpa sudi bersuara. Artinya, Pak Jum benar kecewa dan marah. Pasti aku tampak tidak ada etika. Ini semua karena ucapanku, yang sebenarnya hanya bermaksud sebagai gurauan semata. Ah, aku si humor cupu ini.

Berkali-kali aku merutuk. Menjambak rambut, frustasi. Mataku tiba-tiba terasa pedih, bukan karena terlalu lama bermain gawai. Air mataku rupanya berlinangan di pelupuk mata. Ah, aku benar-benar sedih sekali. Bahkan rasanya, ingusku sedikit lagi akan menodai bibirku. Aku membenci menangis. Menangis hanya hal memalukan. “Dan—” Suara Pak Jum tidak salah lagi baru saja menyebut namaku. Terburu-buru kuseka kasar ingusku dengan kemeja sekolah putih hari Selasa-ku. Kuusap cepat linangan air mataku pula, begitu tiba-tiba sosok yang baru saja hendak kutangisi duduk di sebelahku.

“—loh, menangis?” begitu kalimat pertama yang keluar dari bibir Pak Jum. Namun, rupanya penyakit gengsi setinggi langitku kumat. Aku memberi jarak antara dudukku dengan Pak Jum. Membelakanginya. Sekarang, presensi guru 57 tahun itu terhalang oleh pohon ketepeng ini.

“Maafkan Bapak, Bapak belum bisa beri apa-apa, Bapak cuma baru bisa beri ini. Es lilin.”

Tiba-tiba aku menyambar, tanpa terduga, “Madan enggak mempermasalahkan es lilin! MADAN YANG MAAF!” Entah mengapa aku justru berakhir menjadi seemosional ini. Pada akhirnya, bukan kelegaan yang aku dapatkan, melainkan penyesalan yang jauh lebih bertubi-tubi lagi. Bahuku yang biasa kutegapkan kini merosot lemah. Kepalaku turut tertunduk dalam-dalam. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Pak Jum sekarang. Namun, aku yakin Pak Jum sangat kecewa, pastinya. Atau, justru bersedih hati.

“Bapak itu sudah kebal menghadapi gurauan, apalagi dari anak-anak murid Bapak, Dan. Lagi pun, kamu ini gengsi aja, kan, ajak Bapak bercanda, padahal Bapak itu mengerti. Apalagi candaanmu tadi. Bapak tidak marah, orang candaanmu memang lucu. Makanya Bapak tertawa. Tetapi, ekhem! Sebagai guru yang adil, alangkah baiknya, pesan Pak Jum ini, kalau Madan mulai belajar lebih banyak lagi dalam mengontrol sikap, wicara, dan perilaku. Nanti Bapak beri kisi-kisinya, ya. Sekarang Bapak izin taruh di samping Madan es lilinnya. Awas loh esnya digigitin semut kalau dicuekin lama-lama!” Pak Jum sedikit berteriak.

“Dan, olahraganya yang hati-hati! Kalau panas, gerah, jangan cuci muka! Gosong. Ke kantin aja ambil es lagi! Bapak traktir!” imbuh Pak Jum yang segera pergi dengan sisa-sisa kekeh tawanya sendiri, tepat bel masuk pelajaran berbunyi.

Wajahku yang baru saja jadi terlihat oleh Pak Jum, segera membuang muka. Tiga buah es lilin rasa kacang kedelai dalam bungkus plastik itu benar aku temukan tergeletak di sebelah kiriku. Dan Pak Jum mungkin hanya manusia biasa yang dianugerahi sabar seluas samudra, serta perannya menjadi seorang guru adalah luar biasa.

Mampu menjadi bijaksana, mampu menjadi berhumor dangkal, ataupun menjadi teman berbincang yang apa adanya. Tidak heran apabila Pak Jum menyabet gelar sebagai guru termenyenangkan dan memiliki banyak penggemar. Bahkan salah satu penggemarnya adalah sobat karibku yang jarang absensi mengekoriku. Duduk di depan pohon ketepeng, menikmati es lilin yang baru saja kami ambil dari ibu kantin, lagi-lagi, meskipun siang sudah menjelang sore. Bedanya, sobatku itu membayarnya dengan selembar uang abu, sedangkan aku dengan cengiran tak berdosaku.

“Menunggu anak-anak perempuan selesai dijelaskan materi tari itu membosankan. Apa tidak bisa Bu Nawang memberi materi langsung satu kelas? Apa karena yang satu materinya lemah gemulai, dan yang satu gagah perkasa jadi tidak bisa disatukan? Padahal, kan, bisa dibedakan pencontohannya. Atau paling tidak, kita dulu, lah. Masa’ apa-apa anak perempuan dulu? Pilih kasih.”

Terlalu berisik sobatku bernama Nian itu mengeluh. Aku tidak menggubrisnya. Es lilin di kedua tanganku jauh lebih menggoda untuk segera dihabiskan. Tetapi, satu hal yang membuatku menggubris keluhannya, “Bu Sekar lebih enak mengajar tari. Tidak pilih kasih.” 

“Tetapi, hanya meninggalkan materi lalu sibuk sendiri. Datang-datang mengambil nilai. Sedangkan kita hanya belajar teori, bukan praktik dan diberi contoh,” sahutku.

“IYA, CUMA ITU ENAK. KITA BISA RAME! BISA MENGOBROL. Tidak seperti dengan Bu Nawang! Tidak asik.”

Aku diam, tidak menyetujui pendapat Nian. Namun, aku jadi teringat Pak Jum. Apakah Pak Jum juga sering kali disepelekan begitu saja dengan anak-anak muridnya? Karena sebanyak apa pun yang menggemari Pak Jum, jauh lebih banyak anak-anak bandel yang harus Pak Jum hadapi. Dan tidak sekali dua kali, aku mendapati anak muridnya berani melawan.

“Mau berapa lama lagi menjadi seorang guru?” Aku menyeletuk dalam lamunan dan Nian kebingungan. “Menunggu pensiun, pun, menunggu tua. Yang menikmati hasil pensiunan bisa-bisa anak-cucunya. Lalu, dapat apa? Hikmahnya.” Aku berucap dan menjawab sendiri, lesu. “Hikmahnya murid bandel, nakal, dan berani melawan adalah kesabaran setebal kamus bahasa Inggris dan belajar berhemat bulanan yang cair pas-pasan. Lalu, ada anak enam masih membebankan nyawa. Kuliah anak-anaknya dari orang tua PNS bayarnya hampir mencekik leher tanpa dasinya. Padahal beban buat menyiapkan materi sampai gadang pusing kepala.”

“Namanya juga hidup,” ceplos Nian.

“Pantas banyak cobaan dan ujian,” sahutku polos. “Padahal jadi guru yang mendidik anak-anaknya di rumah saja sudah cukup. Enggak perlu jadi guru yang sama-dengan orang tua kedua di sekolahnya anak-anak bandel.”

“Makanya pekerjaan yang mulia! Kan mendidik dan mencerdaskan kehidupan anak bangsa, kalau kata Pak Jum sendiri. Lagi pun, nih, ya, PKN kalau gurunya Pak Jum juara, sih. Mudeng otak secimitku ini kalau yang jelasin Pak Jum. Mantap, deh, pokoknya! JOS GANDOS MARKOTOP-KOTOP!”

“Jelaslah. Bapak aku!”
“Jadi, bisa dong Pak Jum nanti ikut pindah kita habis lulus SD ini!!!” seru Nian bersemangat dan alisnya usil naik turun.     

“BAPAKKU GURU PKN SD, NIAN! BUKAN GURU BAYARAN ATAU JASA GURU KELILING!” (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 26 November 2023

Cerpenis

Nansa
Tertarik dengan bahasa, sastra, dan seni. Menulis adalah kegemarannya. Menjadi penulis besar anonim adalah impiannya. IG: @ka.nansa

Testimoni Nansa
Selasa, 28 November 2023

Kehilangan minat menulis selama dua tahun terakhir menjadi kesulitan tersendiri, ketika isi kepala ingin sekali tetap produktif berkarya. Kebimbangan dan kecemasan karena perasaan yang tidak pernah puas dengan hasil tulisan sendiri, sempat membuat frustasi. Namun, tanpa diduga, selama mengikuti @cerpen_sastra, saya begitu antusias ingin mencoba kembali menulis. Tiga, empat kali ragu mengirim karya, pada akhirnya dengan mencoba-coba, hikmah di baliknya luar biasa. Senang dan syukur ketika cerpen berhasil dimuat, menjadi pengalaman berharga untuk saya yang sebelumnya takut berkarya dan memublikasikan.

Terimakasih @cerpen_sastra telah menjadi media dan wadah dalam mengapresiasi karya sastra dan penulis-penulisnya, baik yang mumpuni maupun yang masih banyak berkecil hati seperti saya. Sukses dan menginspirasi selalu untuk @cerpen_sastra.

Exit mobile version