Aku ingin menceritakan kisahku. Kisah yang tidak sempat kutulis dengan jemariku sendiri. Melainkan kutitipkan pada imajinasi seorang gadis yang tidak bisa tidur, sebab Ayah dan Ibunya tengah berselisih paham di ruang tengah. Bahkan waktu telah menunjukkan lebih dari dini hari. Cerita ini kuselipkan pada ingatannya sebab aku telah berada pada dimensi lain dari semesta ini. Tarik nafas sejenak dan minumlah air agar tenang. Sebab, cerita ini akan sulit dipercaya kebenarannya meski gadis ini merangkainya dengan diksi sederhana. Pun juga memang tidak kubebankan gadis ini menulis ceritaku sedemikian rupa agar kalian terkesan. Jika kalian rasa diri kalian sudah siap, maka beginilah ceritaku.
…
Cerita ini dimulai pada suatu hari di mana aku menghabiskan akhir pekan sendirian di pantai. Tak jauh letaknya dari rumah. Pantai ini tempat yang sepi sebab jarang disentuh. Hari itu, aku berkemah di sana. Kudirikan tendaku tak jauh dari bibir pantai. Kemudian saat langit mulai kuning, aku berjalan menyusuri bibir pantai. Kubasahi langkahku dengan air laut yang mulai sejuk dengan pasir yang kasar tapi lembut.
Kurasakan angin menyapu kulitku. Sesekali aku diam, menatap laut yang terlihat begitu tenang dan damai. Ombak yang tidak besar dan burung yang berterbangan, seolah ini lukisan hidup dari tuhan yang harus aku kagumi. Begitu langit mulai jingga dan keemas-emasan, setelah surutnya ombak menyapu pinggiran pantai, kulihat sesuatu berkilau menancap di antara hamparan pasir yang tertinggal. Langkahku mendekati benda itu. Benda yang entah mengapa bisa berada di tempat yang jarang terjamah oleh makhluk bernama manusia.
Aku memegangnya, sebab penasaran dengan benda hitam dengan permata yang berkilau-kilau ini. Kemudian tanganku menariknya keluar hingga ia dekat dengan mataku. Hari itu, baru temui sebilah pisau dengan gagang yang berkilauan dan mata yang sangat indah. Aku menggenggamnya, dan seolah menggenggam jemari seseorang, kurasakan genggaman ini begitu pas di tanganku. Seolah mata pisau ini memiliki mulut yang berbicara kepadaku dengan rayu. Aku tersenyum senang karenanya.
Kemudian kubawa pisau indah ini. Sambil duduk dipeluk hangatnya api unggun, kutatap dan kutimang-timang pisau ini. Anggaplah aku gila sebab aku menggilai sebilah pisau yang menurutku sangat indah ini. Kupegang dan sesekali kuusap mata pisau ini dengan sayang. Aku tidak pernah tahu apa itu cinta, kecuali dari novel roman picisan yang kubaca. Tapi, jika cinta itu benar adanya, mungkinkah aku sedang jatuh cinta dengan sebilah pisau yang indah ini?
Malam semakin larut dan api melumat kayu hingga menjadi abu. Kini tendaku remang-remang karena hanya bercahayakan bulan yang tampak begitu bulat sempurna. Aku merebahkan tubuhku di dalam tenda yang atapnya aku buka sedikit. Sambil memandang bulan, aku meletakkan pisauku ini di dada. Makin lama mataku makin sayup. Semilir angin dan suara debur ombak seolah membentuk paduan suara dan menyanyikan lagu tidur. Malam itu aku lelap dengan senyum hingga terbuai dalam bunga tidur.
Esoknya aku terbangun, bukan karena sinar mentari yang menyapa. Melainkan perih pada kulitku. Aku tidak kuasa untuk berdiam melanjutkan tidurku seperti yang biasa aku lakukan jika Ayah dan Ibu bertengkar, bahkan mentari belum bangun dari tidurnya.
Sebab perih yang menjadi, aku terbangun. Darah menetes dari pergelangan tanganku. Tidak hanya satu atau dua, melainkan empat sayatan. Bahkan dua di antaranya telah kering tertutup darah yang membeku. Aku mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Dan pertanyaanku terjawab, menyadari pisau indah yang kutemukan kemarin petang terpegang oleh tanganku yang lain. Aku memandang pisau itu lekat-lekat.
“Mengapa tangan ini penuh luka? Apakah ini ulah kau, pisau yang tak tahu diri, bahkan setelah aku mencabutmu dari lembabnya pasir dan dinginnya air laut?”
Tidak kusangka kemudian pisau itu menjawab, pun tak kalah lantang.
“Bodoh! Aku adalah benda mati, salahmu yang memelukku dengan erat di tengah kau terlelap. Kau yang menahan perih sayatanku untuk mendekap indahnya rupaku, bukankah kau juga yang sedemikian kesepian hingga memelukku seorang diri di pantai ini?”
Aku kaget hingga melempar pisau itu. Kemudian kupegang pelan luka yang masih basah, menahan darah yang keluar agar tidak terus mengucur sambil meringis keperihan. Entahlah, apa aku sebenarnya sudah mati sebab mampu berbicara dengan benda mati.
“Kenapa? Berubah pikirankah engkau setelah merasakan sakit sebab sayatan itu?” tanyanya masih berbicara. Aku memeluk tubuhku.
“Kau boleh pergi, tinggalkan aku di sini dan obati lukamu hingga sembuh. Tapi aku yang benda mati ini akan tetap tinggal di sini. Toh, aku tak memiliki kaki untuk berjalan. Maka aku tak akan ke mana-mana. Tinggalkan saja dan biarkan aku mengering hingga berkarat bersama waktu,” katanya lagi, sungguh pisau yang kejam lagi maha angkuh tapi puitis.
Aku diam menatapnya. Sekelebat muncul dalam ingatanku, pantulan wajahku kala menatap mata pisau itu yang tadinya begitu indah berkilau, namun kini seolah memiliki wajah sinis yang suka menghujat. Ke mana pisau indah yang kutemukan tempo petang?
Kalian yang membaca tulisan ini pasti mulai risih dan tidak percaya. Mengira aku dusta dengan cerita pisau yang bisa berbicara. Ikuti saja cerita ini hingga akhir, tapi jangan kecewa. Sebab si bodoh aku, yang masih meringis menahan perih dan sedikit terisak oleh tangis malah membawa pisau itu turut pulang. Memasukkan pisau angkuh itu ke dalam tas kecil yang selalu kubawa ke mana-mana.
“Lihatlah si bodoh itu, ia membawaku ke mana-mana, padahal aku tidak menginginkannya.”
Ia bahkan terang-terangan menyebutku si bodoh. Dan si bodoh aku? Tentu saja membiarkannya. Seolah pisau egois dan sombong ini adalah elemen penting yang harus ada di sisiku. Meyakinkan akal sehatku bahwa pisau inilah satu-satunya yang mampu menyelamatkanku dari begal, rampok atau pemuda mabuk di ujung gang yang bisa saja aku temui jika sial. Bisa pula pisau ini melindungiku dari Ayah yang selalu memukulku setelah ia bertengkar dengan Ibu, entah karena apa. Si bodoh aku, malah berteman dan membiarkannya makin besar kepala dengan cerita-cerita cengengku tentang keluarga. Memang dasar bodoh dan tidak waras.
Waktu berjalan, sudah jarang aku dengar pisau sombong itu berbicara. Tidak pula saat aku meninggalkannya di dapur atau di dalam kulkas dengan semangka yang biasa aku jadikan kudapan setelah makan malam. Kukira waktu meluluhkan kesombongannya atau menyembuhkan kegilaanku, hingga dia patuh pada tuan yang telah membawanya ke sini.
Sampai pada suatu malam, di tengah tidurku yang lelap, aku dibangunkan oleh cahaya dari pintu kamarku yang terbuka. Begitu kubuka mata, aku lihat wajah ibu penuh lebam menutupi wajah cantiknya. Ia duduk di pinggir ranjangku. Kulihat ia tersenyum meski darah segar masih menetes dari bibirnya yang sobek. Air matanya menetes hingga mengenai tanganku. Kemudian ibu memegang erat kedua tanganku dengan satu tangannya.
Aku menatapnya, kukuatkan keinginannya yang telah aku ketahui melalui apa yang ia perlihatkan dari tangannya yang lain. Kuberikan senyum terbaikku meski sebilah pisau menancap sempurna pada dada kananku. Kulepaskan satu tanganku dari genggamannya dengan pelan. Bukan, bukan untuk melawannya atau melepaskan apa yang menancap ini.
Namun aku menyeka air matanya. Meskipun air mataku juga mulai terjatuh. Dia mencabut benda yang telah dihunjamkannya tepat di dadaku itu.
Aku melihat pisau yang dulu kutemukan gagah menancap di luasnya hamparan pasir pantai bersimbah darah. Pisau itu menusukku, lewat tangan ibu yang dulu pernah menggendongku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Mata pisau itu kini tak lagi berkilauan. Mata pisau itu kembali tertawa. Kali ini lebih keras dari yang biasa ia lakukan di dalam tasku. Sebab aku kehilangan daya atas tubuhku sendiri dan hilang kesadaran. Waktu berhenti dan berdetak mundur tanda masaku telah habis dan usai.
Ibu beranjak, kemudian menyelimutiku dan meletakkan pisau angkuh ini tepat di tangan kiriku. Yah, ia memang begitu baik meninggalkanku dengan pisau ini. Ia tahu aku mencintai pisau ini. Meskipun aku akui sejak ia melukaiku dan mengatai aku bodoh, aku mulai membencinya. Sebab ia adalah sebilah pisau dan aku adalah seonggok daging yang mampu dilukainya. Pisau itu maha kejam, pula aku maha bodoh dan Tuhan tidak selalu melindungiku.
Bagaimana kisahku? Tragis, bukan? Sayangnya, gadis yang telah menulis cerita ini harus segera tidur. Sebab, esok ia harus pergi menenangkan diri setelah apa yang telah dilaluinya hari ini. Entahlah gadis ini hendak ke mana, namun pantai akan selalu menjadi tempat yang bagus, bukan? (*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 9 Juni 2024
Tentang Cerpenis
Sheyla
Nama saya Sheyla. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini saya adalah seorang karyawan swasta dengan banyak waktu senggang. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang diri saya. Suatu hari, saya melihat sebuah file berisi harta karun tulisan-tulisan saya semasa kuliah. Tentu sayang sekali jika hanya menjadi sampah alih-alih karya sastra. Kemudian, kerinduan saya akan menulis tiba-tiba tergugah. Semoga media ini adalah wadah yang tepat, ya. Selamat membaca! Ig: @heyyochilla
Testimoni Sheyla
Tidak disangka tidak diduga. Dari iseng melihat file tulisan lama, ternyata bertemu media yang tepat agar tulisan tersebut tidak sia-sia. Matur nuwun sanget kepada @cerpen_sastra yang tidak hanya menjadi wadah untuk anak-anak (maksudnya tulisan) saya, tapi juga menyalakan kembali gairah menulis saya yang sudah sekian lama padam.
Ke depannya, semoga ruang ini terus berkembang dan menjadi wadah bagi banyak seniman yang ingin berkreasi terutama di bidang penulisan. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih dan semoga senantiasa sukses selalu!

