Di sebuah kota, berdiri perpustakaan bergaya futuristik yang unik. Desainnya sederhana dan terletak indah di antara taman bunga dan hamparan sawah, menciptakan suasana damai bagi para pengunjung setianya. Sirkulasi udara yang mendukung dan suasana yang membangun berhasil menarik perhatian banyak orang.
…
Setiap harinya ada saja pengunjung baruーwalaupun hanya 1 sampai 5 orang. Mereka hanya sekedar berfoto atau membuka tutup buku, lalu keesokannya tidak tampak lagi. Di sisi lain, beberapa pengunjung akan awet datang secara rutin untuk menyelami judul-judul buku yang beragam. Yang membuat terkesan, pemilik perpustakaan hafal dengan para pengunjung setianya. Pemilik adalah seorang nenek yang masih tampak segar dan energik.
Perpustakaan di pinggir sawah itu, tampak damai dan sejuk dipandang. Bangunan itu menyimpan ratusan buku di sepanjang era. Pengunjung setia pasti akan tahu bahwa deretan buku di dalam puluhan rak merupakan kumpulan buku sang nenek dan mendiang suaminya semasa mereka hidup berdua. Buku fiksi dan non-fiksi cukup lengkap, mulai dari sejarah dunia, novel berbagai genre, geografi, hingga koran-koran tua. Beberapa buku langka pun dipinjamkan secara cuma-cuma. Bayangkan, berapa banyak buku yang mereka koleksi sampai sukses membuka perpustakaan kecil.
Di situlah sang nenek menghabiskan masa tuanya, berkumpul bersama buku dan para pecinta literasi. Memberikan akses bebas kepada penikmat lembaran aksara. Namun, suatu hari nenek itu tidak pernah terlihat lagi. Senyumnya yang selalu menyambut hangat para pengunjung, kini tidak terlukis di sana. Bayangannya yang membaca buku juga tidak pernah dikenali lagi.
***
Ini ketiga kalinya Dea, salah-satu pengunjung setia, menanyakan keberadaan buku Perennial. Jawaban dari penjaga pun tidak ubah. Kini, perpustakaan dijaga oleh cucu sang nenek. Dia seorang pria yang jarang membuka mulut dan lebih sibuk dengan laptop atau buku.
“Saat ini bukunya masih dipinjam, De,” jawab Bima.
“Aku butuh buku itu untuk pekerjaanku,” keluh Dea, dengan nada frustasi.
“Silakan coba datang lagi lain hari, siapa tahu bukunya sudah ada.”
“Aku bosan selalu diberi jawaban seperti itu.” Dea mendengus. “Aku minta tolong, kalau buku itu sudah kembali, tahan buku itu agar aku bisa pinjam.”
“Aku sudah dua minggu menunggu buku itu, Mas. Seharusnya kamu simpan bukunya untuk aku. Hanya ini tempat harapanku. Ayolah, bantu aku!” Dea tidak menyempatkan Bima bersuara. Dia tahu, Bima akan hanya tersenyum atau tertawa sambil mengangguk. Benar saja, Bima tersenyum dan tertawa kecil.
“Aku usahakan, ya. Buku itu memang banyak yang mencari untuk referensi. Jadi, siapa cepat, dia dapat.”
“Tolong, ya.” Dea tampak pasrah, memilih pergi ke bagian rak buku, mulai meneliti judul buku di sana.
“Perpustakaan ini tidak beres semenjak nenek tidak menjaga. Nenek di mana? Ada apa sih sebenarnya?” Dea mendumel dalam diam.
Karena Dea datang ketika perpustakaan hampir tutup, dia harus bergegas memilih buku yang akan dipinjam. Setelah berhasil menemukan buku yang cocok menurutnya, ia segera membereskan barang-barangnya di meja. Sebelum beranjak dari sana, ia menempelkan secarik kertas di atas meja. Isi dari kertas itu:
XHR QXER AF JXKX YRHR FQR
AXQXKF XHR
Julius Caesar went to Arab: FM
***
Keesokannya, Dea datang menjelang 10 menit perpustakaan akan ditutup. Kali ini dia tidak datang sendiri; ada Lia, seorang perempuan yang sebaya dengannya. Ini kedua kalinya Lia berkunjung, sekitar satu bulan yang lalu bersama Dea. Mereka langsung masuk begitu saja dan memilih deretan bangku paling belakang.
Ini kali pertama Dea duduk di bangku deretan paling belakang. Tak disangka pemandangan di sana lebih menawan. Hamparan sawah terbentang dengan beberapa rumah di kejauhan. Di sebuah tengah lapang, dua tim saling berebut bola. Benda itu berpindah dari satu kaki ke kaki lain, mengalir bebas seperti angin di antara mereka. Mata Dea mengekori setiap pergerakan bola.
“De, aku takut. Dia pasti marah karena buku itu baru dikembalikan sekarang,” bisik Lia.
Dea melirik jam arloji yang melingkari pergelangan tangannya.
“Tenang saja. Justru dia yang seharusnya takut, dia berbohong ke aku, Lia.”
“De, itu urusan dia tentang rahasia buku Perennial.”
“Tenang, Lia. Semua akan baik-baik saja kok. Mas Bima itu kelihatan datar banget hidupnya. Laptop. Buku. Laptop lagi. Buku lagi.”
Lia mengetuk-ngetuk tumitnya ke lantai. Sosok yang ia tunggu tak juga tiba, membuat pemandangan di depannya seolah hanya ruang kosong. Kini Dea terpikat dengan seseorang yang tengah melukis di tepi lapangan seorang diri. “Orang itu melukis apa, ya?” gumam Dea. Sedangkan, Lia berusaha menyingkirkan kegugupannya, matanya berkelana menelusuri setiap sudut ruangan.
Setelah menunggu 30 menit, terdengar derap langkah mendekat. Sosok yang ditunggu-tunggu muncul dari balik rak buku. Bima duduk di kursi depan Dea, dia hanya melirik Lia sekilas. Dea tersenyum kecil, matanya berkilat.
“Aku sudah tahu Mas Bima bakal datang. Syukurlah kamu lihat pesan itu.” Dea bertepuk tangan ringan.
“Sebelum pulang, aku selalu memeriksa ruangan … Aku gak mau ada hal buruk terjadi lagi.” katanya datar. Lalu ia menoleh ke Dea, menelusuri ekspresinya.
“Kamu gak main-main soal sandi kemarin, kan?”
“Kamu kira sandi itu buat main-main? Julius Caesar menciptakan sandi bukan untuk main-main,” titah Dea. “Selain itu, kamu bohong, ya. Buku itu bukan sedang dipinjam, tapi hilang. Iya, kan?” serang Dea tanpa basa-basi lagi.
Bima yang sedari tadi terpaku ke arah luar jendela, kini tatapannya kembali ke Dea. Seulas senyum samar muncul di bibirnya.
“Kenapa gak jujur sih, Mas? Mas Bima menggantungkan aku. Kalau memang hilang, aku bisa cari di tempat lain.”
“Kamu terlalu berharap ke tempat kecil ini, De. Bukan salahku dan itu hak kami merahasiakan soal buku yang hilang,” jawab Bima dingin.
“Yang penting, aku membawa buku Perennial kembali.”
“Gimana kamu bisa tahu pencurinya?”
“Aku gak sengaja melihat buku itu di rumah Lia. Syukurnya dia mengaku dan meminta aku menemaninya ke sini.”
Lia menunduk sambil memutar-mutar ujung bajunya, tampak gelisah. Dea menginjak sepatu Lia. Lia tersentak. “Sekitar satu bulan yang lalu, aku pernah datang ke sini dan menemukan buku Perennial, aku tahu buku ini bagus dan susah ditemukan di perpustakaan kota kecil, perpustakaan daerah saja tidak ada. Bukunya sudah tidak diproduksi dan susah mencari di pasar loak. Jadi, ….” Lia mendengar Bima membuang kasar nafasnya. “TaーTapi, buku ini kembali.” Lia merogoh tasnya dan mengeluarkan buku Perennial. Mata Bima berbinar dan tampak lega. Buku itu benar-benar kembali, bukan wacana dari teka-teki sandi.
Bima dengan teliti memeriksa keaslian bukunya, bisa jadi buku yang diserahkan berupa cetakan palsu.
“Aku salut kamu sadar dan mau mengakui kesalahan. Tapi, kami punya aturan kepada peminjam yang terlambat mengembalikan buku, bahkan berniat mencuri.” Buku itu ditutup kembali dan dipegang erat.
“Kalian tahu, semenjak buku ini hilang, nenekku sering melamun. Setiap sore dia melukis di mana saja asalkan dekat dengan rumah.”
Dea dan Lia melihat ke arah Bima memandang. Orang yang sedang melukis di tepi lapangan, dikerumuni bocah-bocah.
“Itu nenek?” tanya Dea. Bima mengangguk.
“Kalian tahu kenapa nenek melukis?” Bima bergantian menatap Dea dan Lia. Lia menggeleng.
“Apa ada hubungannya dengan Perennial?” tanya Dea.
“Kenapa Perennial?” tanya Bima.
“Jelas nenek sedih karena bukunya hilang.” Dea tampak berpikir. “Di bab 29, penulis buku Perennial semasa hidupnya menumpahkan kesedihannya dengan melukis di luar. Mungkin nenek sedang mengenang bukunya yang hilang,” jawab Dea.
Bima mengangguk dan terus melihat neneknya dari kejauhan. “Bagi nenek, Perennial punya makna lebih. Perennial adalah hadiah pertama dari kakek untuk nenek.”
Sunyi mengisi ruangan. Bima masih memandang kosong ke luar, tampak tenggelam dalam pikirannya. Dea dan Lia menatap buku Perennial di tangan Bima.
“Mungkin ini agak berlebihan.” Lia meletakkan secarik kartu ucapan dari saku bajunya. “Ini kartu permintaan maaf. Aku harap kamu dapat memahaminya dan menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.”
Bima membaca kartu ucapan itu, yang berisi:
PERMOHONAN MAAF DARI
lia
Di sini aku ingin meminta maaf. Entah apa yang membuatku nekat mencuri buku perennial. Aku akan menerima konsekuensinya.
Bima mengangkat sebelah alisnya.
“Teka-teki lagi,” gumam Bima.
“Aku harap kamu paham maksudnya. Konsekuensi untuk pelaku,” ujar Lia. “Aku gak mengaku apa pun sejak awal.”
Bima mengangguk dan tertawa masam. Dia melihat neneknya sudah tidak ada di tepi lapangan. Bima kemudian melirik Dea, yang dengan santai menggaruk kepalanya, tampak tak bersalah sedikit pun. “Dasar Dea!” batin Bima, antara kesal dan kagum. (*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 24 November 2024.
Tentang Cerpenis
Felita Sukanti
Seorang mahasiswa Kimia yang suka menulis cerpen dan artikel. Karya lainnya dapat ditemukan di cerpenmu.com, Pronesiata, dan Medium. IG: @felita.nti.
Testimoni Felita Sukanti
Setelah hampir dua tahun tidak menulis cerpen, saya memutuskan menulis lagi di tahun 2024. Sebelum karya saya terpilih, saya gagal tiga kali di Cerpen Sastra. Bahkan saya berpikir bahwa mungkin saya tidak cocok menjadi penulis cerpen. Melihat latar belakang pemenang sebelumnya, buat saya makin ciut, pendidikan saya bukan sastra dan tidak bergabung di komunitas menulis. Namun, saya coba tetap enjoy menulis satu cerpen tiap bulan. Di percobaan cerpen keempat, akhirnya karya saya terpilih.
“Sandi untuk Perennial” sebenarnya adalah draft yang terkubur. Lalu saya coba menyelesaikannya dengan ditambah bumbu inspirasi dari anime “Zankyou no Terror”. Ini pertama kalinya saya menyisipkan misteri ke dalam alur. Biasanya, saya menulis dengan genre science, slice of life, dan romance.
Dari kegagalan yang saya alami, saya mengevaluasi karya saya dengan membaca sambil menikmati karya terpilih di minggu-minggu sebelumnya. Ternyata selain memberikan ruang untuk berkarya, Cerpen Sastra juga menyediakan ruang untuk belajar. Saya dapat belajar banyak dari kumpulan karya di Cerpen Sastra dan postingan tip menulis cerpen yang baik dari Kak Horas. Satu hal lagi, saya mendapat relasi baru setelah karya saya di-publish. Ini akan menjadi pengalaman terbaik saya di tahun 2024. Terima kasih banyak, Cerpen Sastra! Maju terus untuk Cerpen Sastra!

