Karl terbangun dari tidurnya yang panjang, bukan tidur, lebih tepatnya ia pingsan. Hal yang pertama kali dia lihat saat membuka mata hanyalah kegelapan, lambat laun Karl beradaptasi pada gelapnya ruangan sekitar, ia baru menyadari bahwa tempat ia terbangun dipenuhi dengan puing-puing bangunan yang dulunya berdiri kokoh tinggi di langit-langit, sebuah serpihan bangunan ornamen berbentuk sayap burung yang masih bisa dikenali, sebuah karya seni hasil dari kolaborasi seorang arsitektur dan seniman terkenal yang dibayar mahal demi membuat sebuah lambang seni yang bisa dibanggakan sebuah negara kepada dunia atas betapa majunya peradaban mereka. Kini serpihan karya itu hanya bertumpuk bersama pecahan bangunan lainnya di atas permukaan dasar tanah, tempat di mana Karl terjepit berada.
…
Situasinya sangat buruk, Karl dipenuhi dengan luka di sekujur tubuhnya. Tidak adanya sumber cahaya juga menandakan betapa buruk dan tipisnya udara di dalam sana. Karl sadar bahwa ia harus meminta pertolongan, entah siapa dan kapan pertolongan akan datang, Karl berusaha untuk optimis bahwa ia akan selamat dari dalam sana.
“Tolong … tolong….”
Suara minta tolong ia dengungkan dengan suara pelan dan parau akibat tenggorokannya yang kering dan dehidrasi. Sepuluh menit, lima belas menit, entah sudah berapa lama waktu berjalan di luar sana, Karl sama sekali tidak tahu. Dingin dan gelapnya tempat di mana ia terjebak di dalam reruntuhan membuat Karl buta akan kehadiran waktu. Apakah saat ini sudah siang? Apakah sudah malam? Atau barangkali saat ini musim salju dan ia bertumpuk jauh di bawah pegunungan salju? Jika iya, maka tidak akan ada harapan lagi bagi Karl untuk selamat dari tempat ini.
Berguling-guling di dalam kegelapan demi menggerakkan tubuhnya yang kacau. Nafas Karl pun semakin lama semakin berat. Sepertinya kandungan oksigen semakin tipis membuat Karl kesulitan untuk berpikir jernih dan mencari bantuan. Ia hanya tiduran di sana, memandang potongan kepala burung dari bekas karya seni yang seharusnya menjadi ornamen pada gedung hotel tempat ia menginap.
Karl pun bertanya-tanya, kenapa ia harus terbangun di dalam reruntuhan ini jika pada akhirnya ia tidak bisa terselamatkan? Kenapa ia tidak pergi saja ke alam lain tanpa tahu apa pun? Begitu banyak pikiran berkecamuk bagi Karl menyesali keadaannya saat ini.
Lamunan dan bayangan mengenai kematian pun terbesit di benaknya.
“Hei burung, jika aku mati, ke manakah aku akan pergi?”
Karl bertanya pada kepala burung itu, meski dalam hati saja karena Karl sudah tidak punya tenaga untuk berbicara sama sekali. Karl pun ingat, ia lahir dan besar di keluarga yang tidak percaya akan adanya kehidupan setelah kematian dan kini ajarannya itu membuat Karl bertanya-tanya.
“Jika seperti itu, bukankah kehidupanku selama ini sia-sia saja? Untuk apa keluarga kami selalu membayar asuransi kesehatan yang mahal jika ia bahkan tidak bisa menyelamatkan aku dari tempat ini? Bukankah sia-sia membayar asuransi begitu mahal jika kematian adalah akhir dari segalanya?”
Segala pikiran akan kematian terus berputar dalam pikiran. Ia ingat saat ibunya diam-diam berdoa pada patung pria berjenggot dengan sorban di pundak dan kedua tangan terlentang ke samping saat dirinya terkena demam parah dan dirawat di rumah sakit meski ayah tidak percaya pada Tuhan dan segala macam yang berbau ghaib.
Tujuh hari penuh Karl dirawat di rumah sakit, setiap hari pula ia menjumpai ibunya yang berdoa di depan patung itu. Sebelum patung pria berjenggot itu hancur berkeping-keping setelah ketahuan oleh ayah dan pertengkaran yang tidak ingin Karl lihat pun terjadi di depan matanya.
Hingga Karl dewasa, dia sama sekali tidak bersentuhan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan dan hal-hal ghaib. Profesornya di fakultas Sains selalu mengatakan, “Hal-hal ghaib selalu bisa dijelaskan dengan Fisika dan Sains.” Begitulah bagaimana Karl tumbuh dewasa dan meniti karir sebagai seorang ilmuwan yang membawa peradaban manusia jauh berkembang pesat.
Masih teringat di benak Karl bagaimana dunia di atas tanah tempat manusia berpijak. Robot-robot Artificial Intelligence buatan berada di mana-mana di sepanjang jalan manusia berjalan. Di trotoar jalanan, ada robot AI yang bertugas membersihkan sampah, jika kamu berjalan ke dalam mall, pelayanan pelanggan akan berjalan otomatis tanpa menggunakan satu pun tenaga kerja manusia dan bahkan pemilik toko, butik maupun gerai bisa menggerakkan bisnis secara autopilot tanpa khawatir akan masalah yang sering timbul dari manusia seperti protes masalah upah tenaga kerja maupun pencarian karyawan.
Tak heran, industri pariwisata dan hiburan sangat berkembang pesat akibat luangnya waktu yang dimiliki manusia. Mereka semua bepergian ke penjuru dunia, sementara di saat yang bersamaan, uang cash rutin ditransfer dalam rekening mereka membuat hidup begitu nyaman.
Atau begitulah yang Karl cita-citakan saat menjadi bagian dari pengembangan teknologi dan evolusi peradaban manusia. Hingga Karl sadar bahwa, bahkan jika teknologi sangat maju dan begitu nyaman, semua akan sia-sia dan menjadi malapetaka apabila berada di tangan yang salah.
Di saat divisi tempat Karl bekerja yang bernama SSR V1 membuat berbagai inovasi teknologi dan pengembangan AI untuk dan demi kesejahteraan umat manusia. Jauh di bawah sana, sekelompok ilmuwan gelap yang menyebut diri mereka WAR VI dengan masif dan brutal merancang berbagai robot perang yang canggih yang sangat mustahil untuk dilawan oleh negara lain bahkan dengan penemuan termutakhir dari negara saingan dagang negeri Paman Robert tersebut miliki.
Saat pertama kali Karl mengetahui organisasi berbahaya ini, ia langsung menghadap perdana menteri dan menyatakan protes bahaya akan memiliki robot perang berbasis AI di dunia dan menjelaskan bahwa AI harusnya digunakan untuk membantu kehidupan manusia bukannya dijadikan senjata perang.
Terdiam di sana, sosok perdana menteri dengan ringannya mengatakan, “Karl, robot perang juga membantu prajurit tentara agar tidak perlu mengalami yang namanya kematian di medan perang, bukankah itu cita-citamu? Demi umat manusia dan kedamaian?”
Karl sangat tahu, ia tahu itu. Tapi, dibandingkan kematian puluhan atau ratusan prajurit. Robot perang berbasis AI jauh mengancam milyaran umat manusia, belum lagi, potensi mereka lepas kendali dan menguasai peradaban manusia jauh lebih besar. Tapi, tak sempat ia menjelaskan semua itu, Karl dibawa oleh sekelompok tentara berbadan besar dan ia pun dikurung dalam hotel pusat kota, dan begitulah bagaimana ia berada terakhir kali sejauh Karl ingat saat ini dalam reruntuhan.
Menutup mata, Karl pun akhirnya berhasil mengingat kembali apa yang terjadi sebelum ia berakhir di dalam sini. Karl menarik nafas sebanyak-banyaknya demi mempertahankan kesadaran.
Dengan berbekal ingatan yang ada, Karl pun menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi hingga bangunan pencakar langit runtuh tak tersisa seperti ini, barangkali perang nuklir telah terjadi atau senjata atom yang negara ini kontrol meledak akibat malfungsi? Jika seperti itu, seharusnya robot AI yang ada di kota mampu bertahan karena mereka dirancang untuk mampu menahan ledakan nuklir maupun radiasinya. Tapi, jika dipikirkan lagi, jika nuklir benar-benar diledakkan maka secara teori tubuh Karl saat ini seharusnya wajar untuk tidak berbentuk lagi. Namun, sejauh ia menyentuh tubuhnya secara langsung, ia dapati hanya luka ringan dan bukan luka yang disebabkan oleh nuklir yang ia dapati.
Karl pun bingung apa yang terjadi, apa mungkin bencana ini disebabkan gempa berkekuatan dahsyat yang konon diramalkan oleh peramal terkenal dari wilayah timur yang percaya hal-hal ghaib? Tidak mungkin, bahkan para ilmuwan, peneliti dan profesor di negaranya sudah melakukan riset dan tidak ditemukan akan adanya potensi bencana gempa besar seperti yang negeri timur ramalkan sehingga mayoritas dari mereka menganggap ramalan itu hanyalah halusinasi dan ilusi belaka.
Bertahan di dalam gelapnya reruntuhan, Karl tidak bisa tidak berhenti berpikir dan menganalisis kejadian tersebut meski kondisinya kini di ujung tanduk. Karl pun juga penasaran, apakah setelah Karl mati dia akan bertemu Tuhan seperti yang orang-orang di negeri timur percayai? Apakah dia dapat bertemu sosok legenda seperti malaikat juga? Jika iya, dia sangat ingin bertanya mengenai banyak hal, barangkali kematian akan menjadi jawaban akan beribu pertanyaan mengenai misteri dan hal-hal ghaib yang mayoritas negeri timur percayai, barangkali juga ini yang namanya kiamat dan akhir dunia?
Kalau iya, maka Karl sangat beruntung karena dia dapat menyadari hal-hal semacam ini sesaat ia menemui ajal, Karl merasa sangat beruntung karena ia dapat menyiapkan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan dan malaikat-Nya, memuaskan keingintahuan Karl yang belum terjawab selama hidup di dunia dan sebagai ilmuwan.(*)
Cerpen Minggu, 26 Mei 2024
Tentang Cerpenis
Robby Cahya Al Ikhsani
IG: @safabird
Testimoni Robby Cahya Al Ikhsani
Ini merupakan kedua kalinya saya mengirimkan cerpen untuk diikutsertakan pada lomba cerpen mingguan di laman akun sosial media Cerpen Sastra. Senang rasanya bisa memenangkan lomba di tengah banyaknya karya peserta lain yang saya yakin juga tidak kalah bagus-bagus dan menarik.
Karya dan inspirasi ini muncul begitu saja dalam imajinasi kala saya selesai membaca sebuah karya sastra klasik berjudul “Sepotong Senja Untuk Pacarku” yang berhasil memberi saya imajinasi liar dan sudut pandang baru dalam sebuah cerpen.
Terima kasih banyak kepada media Cerpen Sastra yang telah memberi wadah untuk para penulis cerpen dan tetap semangat kepada para peserta lainnya. Salam sejahtera.

