Suasana di ruang sidang mulai menegang. Seorang pemuda tengah duduk di atas kursi kayu di tengah-tengah ruangan. Pemuda itu berpenampilan rapi—kemeja putih dengan lengan panjang, celana panjang berwarna hitam, dan sepatu pantofel hitam.
***
Pemuda itu bernama Eric. Ia teramat muda untuk digolongkan sebagai terdakwa atas kasus pembunuhan. Kursi merah ditarik dari tempatnya, saat ia menoleh di hadapannya, seorang hakim tengah menatapnya. Tatapannya begitu dingin. Hakim itu mengenakan jubah warna hitam yang menjuntai hingga ke bawah. Mantel tebal berlapis bulu kelinci. Dan di area lengannya terdapat desain lonceng. Hakim utama itu didampingi oleh dua hakim lainnya yang tengah menenteng berkas-berkas yang berisi persoalan perkara ini.
Eric belum pernah menghadapi persoalan seperti ini sebelumnya. Persoalan seperti ini terlalu ambigu baginya. Karena hal mendasar yang ia pahami hanya “hidup tanpa melihat masa lalu”. Baginya, masa lalu hanya sebuah beban. Memori yang ia miliki tidak diprogram untuk mendukung hal-hal seperti itu. Seiring berjalannya waktu, matahari beranjak naik. Meski kerai jendela tertutup rapat, cahaya matahari tetap masuk menerobos ke ruang sidang.
Semua jendela ditutup. Orang-orang di dalam ruangan mulai merasa tidak nyaman karena udara semakin panas. Tak lama kemudian, sebuah lonceng dalam ruangan itu berbunyi. Pemeriksaan akan segera dimulai. Hakim mulai melontarkan beberapa pertanyaan kepada Eric. Nadanya lembut dan tenang, bagai seorang ayah yang tengah menanyakan apa saja yang telah dialami anaknya di sekolah.
Sang Hakim menanyakan identitas Eric terlebih dahulu. Hal paling mendasar yang akan dilakukan oleh hakim saat melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa. Setelahnya, hakim mulai menguraikan tindakan apa saja yang dilakukan oleh Eric hingga menyeretnya ke ruang sidang ini.
“Apa benar begitu, Tuan Eric,” ucap sang hakim dengan nada lembut, bahkan terbilang ramah. Eric menunduk tanpa keluar satu patah kata pun dari mulutnya.
“Bagaimana kesaksian Anda, Tuan Eric?” sang hakim mengulangi pertanyaannya.
“Iya,” jawab Eric singkat.
Penuntut segera meminta kesaksian Eric atas izin dari hakim ketua.
“Apakah benar Anda melakukan tindak kejahatan itu secara sadar?” ucap penuntut dengan suara yang tergesa-gesa.
“Benar.”
“Apakah hal yang mendasari Anda melakukan hal sekeji itu?”
“Tidak ada,” Eric kembali menjawab dengan nada datar, seolah tidak terjadi apa pun.
Seisi ruangan semakin menegang. Orang-orang di dalam ruangan merasa tidak percaya atas apa yang telah diucapkan oleh Eric. Perkataan yang datar. Raut wajah tanpa ekspresi sedikit pun. Bahkan Eric terlihat tidak mengalami situasi ketegangan yang tengah dialami oleh orang-orang yang berada dalam ruangan tersebut.
“Anda tidak merasa bersalah sedikit pun setelah melakukan penembakan terhadap seorang anak kecil?” suaranya parau, terdengar sedikit isak tangis dari penuntut.
Eric merasa bingung atas pertanyaan yang dilontarkan oleh penuntut. Ia merasa segala hal yang berkaitan dengan perasaan merupakan kesalahan. Produk kognitifnya tidak bisa memproses hal-hal semacam itu.
“Tidak,” ujar Eric dengan raut wajah datar. Raut wajah penuntut mulai tidak teratur. Ledakan emosi yang ditahan olehnya mulai meluap-luap, bagai bom waktu yang akan meledak setelah waktu habis.
“Bahkan kamu tidak merasa bersalah sedikit pun?” penuntut mengulangi pertanyaannya, dengan perasaan yang tak karuan dan emosi yang tengah meluap-luap. Eric tidak bisa memberikan pernyataan sedikit pun. Hakim mulai bersuara agar seisi ruangan kembali tenang.
Hakim mulai mengetukkan palunya beberapa kali. Suara kayu yang saling berbenturan itu menggema ke seluruh ruangan, memaksa semua orang untuk kembali diam. Napas para pengunjung sidang terdengar berat. Keringat mulai membasahi pelipis mereka akibat udara panas yang terjebak di dalam ruangan.
“Tenang. Saya minta semua pihak menjaga ketertiban ruang sidang,” ucap hakim ketua dengan nada tegas. Hakim ketua menghela napas panjang sebelum kembali berbicara.
“Sidang akan ditunda sementara hingga pukul empat sore.”
“Yang Mulia …,” penuntut mencoba menyela.
“Anda membutuhkan waktu untuk menenangkan diri,” potong hakim dengan nada lebih rendah. “Dan pengadilan bukan tempat untuk meluapkan emosi.”
Palu diketukkan sekali lagi. Sidang dihentikan.
***
Sore hari, ruang sidang kembali dipenuhi orang-orang. Kali ini jumlah pengunjung bertambah lebih banyak dibanding sebelumnya. Kasus penembakan terhadap seorang anak kecil telah menyebar ke seluruh penjuru kota. Semua orang ingin melihat seperti apa wajah pelaku yang dianggap tidak memiliki hati nurani itu. Eric kembali duduk di kursinya. Tetap diam. Tetap tanpa ekspresi.
Pemeriksaan dilanjutkan dengan pemanggilan saksi-saksi. Saksi pertama adalah seorang perempuan tua bernama Helena, pemilik toko roti di dekat apartemen Eric. Tubuhnya membungkuk saat berjalan menuju kursi saksi.
“Eric anak yang baik,” ucapnya pelan. “Dia sering membantu saya mengangkat tepung dan membersihkan toko.”
Penuntut segera berdiri.
“Tapi dia telah membunuh seorang anak!”
Helena terlihat terkejut mendengar bentakan itu.
“Saya … saya tidak tahu soal itu. Tapi selama saya mengenalnya, dia tidak pernah menyakiti siapa pun.”
Saksi berikutnya adalah seorang pria muda penjaga perpustakaan. Ia menjelaskan bahwa Eric hampir setiap malam datang untuk membaca buku sendirian di sudut ruangan.
“Dia memang sulit berbaur,” ujarnya. “Tapi dia sopan. Kadang dia membantu menyusun ulang buku tanpa diminta.”
“Apakah Anda pernah melihat terdakwa menunjukkan emosi?” tanya penuntut.
Pria itu terdiam sejenak.
“Tidak pernah. Tapi saya kira memang sifatnya seperti itu.”
Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ruangan. Beberapa orang mulai saling memandang. Perlahan muncul keraguan kecil di benak mereka. Bagaimana mungkin seseorang yang dikenal baik bisa melakukan pembunuhan tanpa alasan? Namun penuntut tidak ingin menerima hal itu.
“Semua kesaksian ini tidak mengubah fakta bahwa seorang anak telah mati!” suaranya menggema memenuhi ruangan. “Terdakwa mengaku melakukan penembakan itu secara sadar. Ia bahkan tidak memiliki penyesalan sedikit pun!”
Penuntut menoleh ke arah hakim.
“Saya menuntut hukuman mati.”
Ruangan kembali hening. Beberapa orang menundukkan kepala. Sebagian lainnya menatap Eric dengan rasa takut yang sulit dijelaskan. Hakim ketua mulai membuka berkas di hadapannya. Dua hakim lain terlihat saling berdiskusi dengan suara pelan. Keputusan tampaknya akan segera dibacakan. Eric tetap diam. Seolah hidup dan mati bukan sesuatu yang penting baginya. Hakim ketua merapikan kacamatanya sebelum mulai berbicara.
“Dengan mempertimbangkan seluruh kesaksian dan pengakuan terdakwa, maka pengadilan …”
“Mohon tunggu!”
Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari pintu belakang ruang sidang. Semua kepala menoleh bersamaan. Seorang pria tinggi mengenakan mantel abu-abu berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah koper hitam. Napasnya terdengar berat seperti seseorang yang berlari terburu-buru.
“Ada kesaksian yang belum disampaikan.”
Petugas segera mencoba menghentikannya, namun pria itu mengangkat sebuah kartu identitas ke udara. Wajah hakim ketua berubah sedikit tegang saat membaca lambang pada kartu tersebut.
“Siapa Anda?” tanya hakim.
“Richards.”
Pria itu berjalan perlahan menuju tengah ruangan.
“Saya berasal dari divisi pengembangan kognitif Neurotech.”
Nama itu membuat beberapa orang langsung berbisik pelan. Sebuah perusahaan teknologi besar yang selama ini dikenal mengembangkan kecerdasan buatan untuk kepentingan militer. Richards menatap Eric cukup lama sebelum akhirnya berbicara lagi.
“Terdakwa tidak sepenuhnya memahami konsep emosi manusia.”
Penuntut langsung berdiri.
“Apa maksud Anda?”
Richards terdiam sesaat, seolah memilih kata yang tepat.
“Karena Eric bukan manusia biasa.”
Ruangan mendadak sunyi. Tak ada suara sedikit pun. Bahkan suara napas terasa menghilang.
“Eric merupakan humanoid generasi ketiga yang dikembangkan untuk meniru perilaku manusia. Ia dirancang agar mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial.” Richards menunduk sebentar. “Namun beberapa bulan terakhir kondisinya menjadi tidak stabil.”
Wajah para pengunjung berubah pucat. Seseorang menjatuhkan gelas minumnya hingga pecah di lantai. Penuntut mundur perlahan dengan wajah tidak percaya.
“Itu … tidak mungkin.”
“Unit Eric seharusnya sudah dinonaktifkan minggu lalu,” lanjut Richards. “Tetapi ia melarikan diri sebelum proses penghentian dilakukan.”
Tatapan semua orang kini tertuju pada Eric. Pemuda itu masih duduk diam di kursinya. Tanpa rasa takut. Tanpa kegelisahan. Tanpa emosi. Hakim ketua terlihat gemetar hebat. Tangannya mencengkeram meja sidang kuat-kuat.
“Jadi … selama ini …,” bibirnya bergetar. “Yang saya adili …”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh hakim ketua tiba-tiba roboh ke samping.
“Yang Mulia!”
Ruangan langsung ricuh. Para petugas berlari menghampiri meja hakim. Sebagian pengunjung panik dan berusaha keluar dari ruang sidang. Suara kursi berjatuhan memenuhi ruangan.
Di tengah kekacauan itu, Eric hanya memandangi tubuh hakim yang tak sadarkan diri. Lalu perlahan ia menoleh ke arah Richards. Tatapan keduanya bertemu dalam diam. Palu sidang jatuh dari meja hakim dan menggelinding ke lantai. Sidang ditunda hingga esok hari. Dan untuk pertama kalinya, nama Richards tercatat sebagai terdakwa berikutnya.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 10 Mei 2026.
Tentang Cerpenis
Syahreal MadridhoMahasiswa sastra di Universitas Negeri Surabaya. Aktif sebagai penulis saat ini. Ia dilahirkan di Bandung, tetapi memilih tinggal di Surabaya karena kebutuhan akademiknya. IG: @mdrdhsyahril
Testimoni Syahreal Madridho
Saya mengangkat isu kriminalitas dalam cerpen ini karena saya merasa kasus pembunuhan, kekerasan, dan berbagai tindak kejahatan lainnya masih sangat dekat dengan kehidupan di sekitar kita. Dari keresahan itu, saya mencoba membangun sebuah cerita yang tidak hanya berfokus pada proses persidangan, tetapi juga menyisipkan plot twist di akhir cerita bahwa Eric sebenarnya bukan manusia biasa, melainkan humanoid ciptaan Richard.
Bagi saya, hal tersebut merupakan bentuk analogi sekaligus kritik terhadap para pelaku pembunuhan yang seolah kehilangan hati nurani ketika melakukan tindakannya. Saya mencoba membayangkan, jika seseorang sudah tidak lagi memiliki rasa empati ataupun penyesalan, lalu apa perbedaannya dengan sebuah humanoid yang sejak awal memang dirancang tanpa perasaan?
Melalui cerpen ini, saya berharap dapat menjadikannya sebagai langkah awal untuk terus menghadirkan karya-karya lain yang bisa dibaca oleh khalayak luas. Saya juga sangat bersyukur karena cerita ini dapat sampai pada tahap apresiasi. Terima kasih saya ucapkan kepada Cerpen Sastra dan Pak Horas selaku redaktur Cerpen Sastra yang telah memberikan ruang bagi para penulis untuk menerbitkan karya mereka agar dapat dibaca lebih banyak orang. Selain itu, terima kasih juga kepada teman-teman pembaca yang selalu memberi dukungan selama proses menulis berlangsung. Bagi saya, menulis bukan sekadar menyelesaikan sebuah cerita, tetapi juga menghadirkan ruang bagi kegelisahan dan pertanyaan agar tetap hidup setelah cerita selesai dibaca.

