Kau selalu terbangun pukul dua dini hari. Dan seperti biasa kau mendengar suara itu lagi. Suara derit pintu yang dibuka perlahan. Suara dari seseorang yang teramat jarang menyahut ocehan-ocehanmu tentang beras yang sudah habis. Atau gamis mana yang harus kau pakai di acara khitanan anak iparmu. Apalagi tentang desas-desus pernikahan kedua suamimu dengan perempuan lain di desa sebelah. Suara itu tak pernah hadir. Hanya muncul pukul dua dini hari. Seperti saat ini.
***
“Masak mi, sana!” perintah suara itu agak nyaring supaya kau lekas bangun. Matamu masih enggan terbuka. Tapi kau langsung ke dapur, mendidihkan air sampai bergelembung. Kau membuka lemari, mengambil sebungkus indomi rasa kari yang belum pernah dicoba suamimu. Kau letakkan mi kuning pucat itu ke dalam panci yang menggelegak.
“Jangan lupa telurnya dua!” teriak suamimu saat hendak mengambil handuk ke kamar mandi.
“Iya!” Sahutmu agak keras. Takut tak terdengar.
“Kau membentakku?” Suara itu meninggi.
Hening. Jika kau lanjutkan maka akan terjadi perang.
Seperti hari-hari sebelumnya. Bulan-bulan sebelumnya. Tahun-tahun sebelumnya.
“Kok diam? Bisu?”
Kau tahu saat ini suamimu bukan sedang bertanya. Tapi memastikan, kau masih patuh atau tidak. Lalu kau dengar suara pintu kamar mandi ditinju dari dalam.
“Ti, tidak,” jawabmu sehalus mungkin. Tapi jari-jarimu masih memotong bawang dengan kasar. Dengan arah potong yang tidak presisi, sehingga salah satu bawangmu terjatuh ke atas lantai. Ketika mengambil bawang, matamu melirik ke botol insektisida di kolong kompor. Kau semprotkan sedikit ke kuah mi yang kental. Kau aduk-aduk sampai tercampur merata.
Setelah mandi, suamimu duduk di ruang televisi, menonton pertandingan piala dunia. Agak ragu kau suguhkan semangkuk mi yang masih berasap itu. Kau mengembus-embus uapnya, takut aroma pembasmi kecoanya tercium suamimu. Sesuap, dua suap, kau perhatikan suamimu masih lahap menyantap mi kari itu. Namun di suapan ketiga ia berteriak.
“Sudah kubilang telurnya dua, setengah matang! Bukan yang matang! Kau mulai tidak patuh ya, sekarang? Siapa yang suka telur matang? Selingkuhanmu?“
Kau menggeleng. Jari-jarimu gemetar.
“Sini saya buatkan lagi,” tawarmu.
“Nah.” Laki-laki bertato naga itu mendorong mangkuk mi di atas meja pakai kaki. Sampai-sampai kuahnya tumpah dan mi kuning kuah kari itu bercerai-berai di atas lantai. Pun begitu kau masih memungutinya dengan patuh. Mengelap setiap tetesnya dengan cairan sabun rasa lemon.
***
Malam berikutnya. Pukul dua dini hari selanjutnya. Kau dengar bunyi derit pintu lagi. Suara tapak sepatu pentofel di depan teras. Hempasan tubuh suamimu di atas ranjang pegas. Dan guncangan di bahu kiri pertanda kau harus ke dapur, lagi.
“Masak mi sana!”
Perintah itu membuat telingamu berdengung. Kau sudah terlalu lelah untuk memasak. Sedari matahari belum merangkak ke langit kau sudah mengurus rumah tangga. Mertuamu suka datang tiba-tiba. Dan setiap kali dia datang, dia menilai semuanya.
“Ikan asinmu keasinan. Sambal terasimu kok rasa udang. Aduh, dapurmu ini loh, licinnya kayak kulit belut!”
Sejak itu kau rajin bersih-bersih. Biar dapurmu kesat. Biar mertuamu diam. Tapi setelahnya kau semakin dianggap tidak mengerjakan apa-apa. Dan karena mertuamu masih tak senang, suamimu pun jadi tukang jagal. Bukan hanya jatah bulananmu yang dipotong. Waktu tidurmu juga dipotong.
Kau bangkit dari tempat tidur. Langkahmu gontai. Tapi kau tetap mendidihkan air. Matamu menangkap kecoa terbalik yang terkapar di dekat tabung gas. Kau yang tadinya lesu entah mengapa jadi bersemangat. Kau mengambil blender dan mengingat-ngingat kembali resep yang pernah diajarkan ibumu dulu sebelum diceraikan ayahmu.
Resep Indomi Rasa Duka
Bahan :
1. 3 butir bawang dendam. Kau ingat-ingat kembali tiga hal yang paling membuat hatimu bernanah karena suamimu. Kau masih menimbang-nimbang. Apakah saat dia ketahuan menipu uang dari hasil menjual sawahmu. Atau saat dia menamparmu di hadapan orang-orang karena berjalan terlalu lambat ketika kau tengah bunting tua. Atau saat dia diam-diam nikah siri dengan janda muda di kampung sebelah.
2. 2 biji cabai cemburu. Rasa itu sering kali muncul saat kau melihat sosial media teman-temanmu diratukan oleh suaminya. Atau saat mertuamu memelas minta modal nikah adik iparmu yang dikasih begitu saja. Padahal jika itu kau, membeli bedak tanpa izinnya saja sudah disangka koruptor.
3. 2 butir telur harapan. Namun begitu, setiap kali pulang ke rumah, kau punya harapan suamimu akan berubah. Kau masih berharap dia ingat ulang tahunmu dan membelikanmu sesuatu sebagai hadiah, bahkan seporsi bakso pun akan menyenangkanmu.
4. Sepotong daging kecoa yang telah dicincang. Kau ingat betul kata-kata ibumu dulu, “Kita adalah apa yang kita makan.” Dan kau ingin suamimu menjadi kecoa. Agar bisa kau pijak dengan mudah.
5. Sebungkus bumbu pertengkaran rumah tangga dari sananya.
6. Daun bawang penutup aib. Kau sering menaburkan daun bawang agar tetangga-tetanggamu percaya rumah tangga kalian baik-baik saja. Agar lurah mereka masih dihormati dan disegani masyarakat.
Langkah Pembuatan:
1. Kau panaskan minyak di dalam wajan. Lalu kau masukkan 3 butir bawang dendam, 2 biji cabai cemburu dan sepotong daging kecoa yang telah dihaluskan. Aduk-aduk sampai dendammu tercampur merata.
2. Tuangkan 500 ml air putih. Setelah menggelegak, kau masukkan mi kuning pucat itu sampai lentur. Selentur telapak tangannya yang mendarat di pipi ketika kau salah bicara.
3. Selanjutnya kau pecahkan dua butir telur harapan. Harapan-harapan itu mendidih di dalam wajan sampai setengah matang. Layaknya selera suamimu. Selalu setengah-setengah dalam memenuhi permintaanmu.
4. Kau menyobek bumbu pertengkaran rumah tangga dan menuangkannya ke dalam wajan. Pelan-pelan bumbu itu meresap ke dalam kuah indomie. Supaya kau ingat masih ada yang tidak beres dalam pernikahanmu.
5. Setelah masak, kau tuangkan mi ke dalam mangkuk kaca bergambar ayam jago. Lalu kau iris sepotong daun bawang untuk menyamarkan bau dendammu.
Kau lihat mulut suamimu menyeruput mi dengan begitu lahap. Seolah tak pernah makan setahun. Mungkinkah cacahan daging kecoa tadi terasa begitu lezat? Dan seperti biasa, suamimu akan selalu berada di depan layar kaca sampai mangkuknya kosong. Tapi tetap tak terjadi apa-apa. Kenapa? Apa yang kurang dari resep semalam? Pikiranmu seperti gulungan topan, kalut.
***
Pukul dua dini hari berikutnya. Kau terbangun lagi. Tercium aroma keringat suamimu yang bau kelenjar rusa jantan. Dengan sigap kau langsung ke dapur. Berulang kali. Seumur hidup. Namun ketika kau menyalakan kompor gas, kompornya tidak menyala. Gasmu habis. Siapa yang jualan gas tengah malam begini? Pikirmu gusar. Kau mulai panik. Suamimu akan menyalahkanmu. Lagipula bagaimana kau akan melenyapkannya jika tak ada yang kau sajikan.
Tetiba suara motor terdengar di depan teras. Seorang anak laki-laki menghampiri dan menyalam tanganmu. Mata sayunya, hidung bangirnya, garis-garis wajahnya yang simetris benar-benar mirip suamimu. Kau tercekat. “Ampun! Jangan pukul! Jangan! Saya beli gas sekarang!”
“Ibu! ini Dibyo, Sudibyo! Maaf, karena belum sempat ngabarin. Dibyo turun gunung lebih lama satu hari. Jadi sampainya tengah malam.” Anak itu menunduk cemas.
“Dibyo? Tolong belikan gas, Nak. Bapakmu lagi di kamar mandi. Kalau mi-nya belum masak ibu bisa ditendang,” bisikmu ke telinga Dibyo.
“Bapak? Bapak sudah mati Bu! Sudah lebih 40 hari!” tegasnya lantang.
“Ssshh … pelan-pelan, nanti bapakmu marah,” katamu sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirmu.
“Kenapa masih diingat-ingat toh Bu? Bapak udah dikubur. Jangan dibahas lagilah, Dibyo lapar. Ibu masak apa?
Kau melihat Dibyo membuka tudung saji. Spontan ia melemparnya lalu menutup hidung. Seketika tercium aroma belatung yang berenang-renang di kolam mi instan yang lengket dan berbuih.
“Astaga Bu! Kenapa bikin mi instan sebanyak ini tapi tak dimakan? Sudah busuk pula!“
Kau menatap meja bundar yang terbuat dari kayu trembesi itu. Matamu jadi berembun. Kau dan suamimu membelinya 20 tahun lalu, supaya lebih sering makan bersama, katamu.
Penjualnya bilang, energi dari kayu trembesi bagus untuk keharmonisan rumah tangga. Nyatanya setiap kali kau memasak, suamimu tak pernah lagi makan di rumah. Dia hanya makan pukul dua pagi. Waktu sakral di mana hanya pada saat itulah kau melihatnya ada. Sebab lebih dari separuh harinya habis di rumah wanita lain.
Kau melihat kembali tujuh mangkuk mi yang berjejer tak beraturan di sana. Kuahnya telah mengering, berlumut, dan bau asam. Kau menutup hidung. Tapi aroma itu masih tercium. Entah bau mi basi, entah bau duka yang tak mau hilang. Dan entah mengapa kau merasa aroma itu akan selalu tinggal, di wajan, di udara, juga di rongga dadamu.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 21 Juni 2026.
Tentang Cerpenis
Anggi Gayatri PurbaSalah satu cerpen lokalitasnya yang berjudul “Tali Darah Nenek dan Komodo” pernah dimuat di Jawa Pos. Kini, gadis pemuja karya Stephen King ini dalam proses membuat novelnya sendiri. IG: @anggie.gayatrii
Testimoni Anggi Gayatri Purba
Sepertinya karya ini tidak punya latar belakang yang muluk. Saya sempat stres karena berpikir karya sastra yang bagus itu ya karya-karya dengan latar belakang sesuatu yang super. Sampai ditegur oleh sahabat baik saya bahwa menulis saja apa yang kamu ingin tulis—tidak harus persoalan pelik. Lahirlah cerpen sederhana ini. Silakan menginterpretasikan ke mana pun. Anggap saja saya sedang melatih kepekaan sosial kita semua. Sebab, pada dasarnya memang sastra itu sebuah cerminan hidup yang multitafsir, bukan? Orang bebas memaknainya seperti apa.
Saya harap, cerpen ini—apa pun maknanya—mampu jadi penyumbang koleksi karya sastra Indonesia dan membantu menambah semangat minat baca masyarakat. In this economy, Cerpen Sastra lagi-lagi hadir sebagai solusi untuk yang mau baca tanpa mengeluarkan uang. In this era, semoga sastra juga tetap jadi solusi untuk bersuara dalam keindahan bahasanya. Salam hormat untuk Cerpen Sastra yang selalu jadi wadah penulis-penulis Indonesia berkarya. Saya pun terus menemukan cerita baru di setiap sayembara. Tentu, inilah yang memantik saya untuk terus berlatih menjalin fakta dan fiksi.

